
Riko mengambil berkas dari tanganku. “Ada apa? Apa yang ingin kau inginkan dariku? Katakan saja apa yang kau pikirkan… jangan berbelit-belit!’’ ucapnya setelah selesai membacanya.
“Ok. Apa yang terbesit di kepalamu saat membacanya?’’ tanyaku padanya yang masih memegang berkas Aiko.
“Kenapa ia bisa selamat? Hanya itu!”
“Kau benar. Nanda ingin kita menanyakan itu padanya? Mengapa ia bisa selamat dari insiden tersebut. Dan Wisnu Pradana... pasti ada sesuatu yang diketahuinya.”
Aku menyalakan mesin mobil setelah Riko menganggukan kepala memberi sinyal kalau ia sudah paham dengan pertanyaan yang kuajukan. Dan kami keluar dari kompleks perkantoran. Riko yang sedari tadi hanya fokus melihat berkas-berkas yang kuberikan seketika berkata, “Misya, bukankah alamat yang tertera di berkasnya berada di Jl. Permata? Mengapa kau melewatkan pemutarannya?”
“...Kita akan pergi ke panti asuhan itu dahulu. Ada sesuatu yang ingin ku pastikan disana!”
Panti Asuhan. Pukul 10.45. Senin, tanggal 09. Enam hari sebelum batas waktu.
“Apa maksudnya ini?” sahut Riko saat kami tiba di depan rumah ku. Kedua matanya mengarah pada seseorang yang keluar dari pintu rumah. “Jangan bilang, kalau kau ingin mengajaknya?” nada suaranya seakan tidak terima dengan kehadiran Nayla dalam penyelidikan.
“Nanda yang menyuruhku.” suara ku berbisik pelan. “Sudahlah, pokoknya kau bersikap biasa saja.. jangan bersikap berlebihan…”
“Apa? Untuk apa Nanda menyuruh hal tidak berguna seperti ini…”
“Nanti akan ku jelaskan... Sudah, sudah. ia sudah datang… santai saja!”
“Nayla,” sahutku setelah ia membuka pintu mobil. Riko yang menyadari kedatangannya langsung berpindah kebelakang.
''Salam kenal saya Nayla.'' Nayla mengulurkan tangannya.
''Saya Riko... rekan kerja Misya!''
''Terima kasih, semoga saya dapat membantu penyelidikan ini," ucap Nayla.
Setelah pembicaraan mereka selesai. Kami berangkat bersama ke panti asuhan sesuai dengan janji ku pada Nayla.
***
Panti Asuhan. Pukul 10.45. Senin, tanggal 09. Enam hari sebelum batas waktu.
"Ehemmm, saya Misya Alexandra. Dan ini rekan saya Riko," suara ku keluar dengan sopan. Kedua matanya sama sekali tidak bergeming menatapku, perlahan ia memperhatikanku dari atas sampai kebawah.
"Ada apa? Saya tidak ingat kalau pernah berurusan dengan polisi," ucap pria yang sudah lanjut usia padaku.
Saat ini aku dan Riko sudah berada di panti asuhan tempat pertama kali aku menjemput Nayla. Pak Yandri selaku keamanan disini langsung mempertemukan kami dengan pak Berend—Pemilik panti. Seperti perkataan Nayla, pria tua ini adalah seorang keturunan Belanda. Rambutnya sudah memutih dan wajahnya sudah terlipat kedalam. Kalau tebakan ku benar, saat ini usianya sekitar 73 tahun.
""Bahkan jika kau menyebutnya mendadak, ini adalah saat pertama kali kita berbicara satu
sama lain. Bukankah pengenalan itu baik?'' bibirku melengkung tipis. ''Mungkin dari nama anda terlebih dahulu atau…. Ya, supaya pembicaraan ini akan terasa lebih hangat," ucapku.
"Bukankah anda sudah mengetahuinya. Lalu, untuk apa lagi basa-basi seperti itu," kata-katanya terdengar berat. Sekalipun ia sudah lama berbaur dengan masyarakat pribumi. Namun, suara khas baratnya sama sekali tidak terangkat. " Apa yang anda inginkan? Katakan saja!" Lanjutnya.
__ADS_1
Aku kembali tersenyum menanggapinya. "Huh… baiklah, apakah televisi itu bisa menyala?" Pandanganku tertuju pada televisi yang menempel di sudut dinding.
"Ya." sahutnya tidak bergeming menatapku.
"Dilihat dari kondisinya… televisi itu sepertinya baru saja dinyalakan… setidaknya, sepuluh atau lima belas menit yang lalu… lebih tepatnya, anda baru saja mematikannya!" Mataku samar-samar menatapnya. Aku tahu kalau ia sedang memikirkan sesuatu.
"Sangat aneh sekali kalau kopi itu ada disana," Riko dan Pak Berend kembali melihat ke sudut dinding melihat segelas kopi yang ku maksud. "Bagaimana mungkin, kopi yang masih panas itu tidak berada di depan anda…"
"Ya, benar. Saya memang baru menonton di meja itu,'' keningnya berkerut dalam. ''Ada apa? jangan bilang kalau televisi itu yang membuat kalian datang kemari?"
"Ya,"sahutku cepat. "Sembilan puluh persen kedatangan kami kemari akan membahas yang ada di televisi itu!"
Ia hanya diam menatap ku serius.
"Riko, bukankah kau mengatakan kalau boxing diadakan setiap hari Sabtu?" Aku membalik badan setengah menghadap Riko yang berdiri di belakang ku.
Riko menganggukan kepala perlahan mencoba memahami pertanyaan yang kuajukan.
"Saya tidak suka dengan acara boxing yang anda maksud itu!" Jawab pak Berend cepat.
"Tidak, tidak begitu. Kita hanya akan membahas acara televisi yang baru saja anda tonton," suaraku terhenti sejenak sambil melihat matanya yang sudah tahu arah pertanyaan yang akan diajukan padanya. "Amelia, Amelia Earhart!"
Kami berdua hanya diam saling menatap. Bibirnya yang terlihat lesu itu pelan terangkat. "Ya. Betul, memang saya baru melihat siaran TV yang menayangkan Amelia Earhart," Ia menarik nafas dalam-dalam. ''Beberapa hari yang lalu saya mendapat laporan dari keamanan panti kalau polisi datang kemari saat kami sedang berlibur. Jadi, anda yang datang kemari saat kejadian yang menimpa salah satu pengurus saya. Apa kaitannya dengan kami?"
"Hmn..., kami kemari hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada anda. Soal Amelia. Dari hasil penyelidikan yang kami lakukan anda termasuk dalam daftar orang-orang yang sering ditemuinya. Jadi, kami harap anda bersedia membantu penyelidikan ini... tanpa menyembunyikan apapun!"
"Bagaimana bisa kalian saling mengenal?''
''Siapa? Amelia? Atau Kirana?''
''Kita bahas satu-persatu... Dimulai dengan Amelia.''
"Mungkin sekitar empat tahun yang lalu... Benar, Amelia belum terkenal seperti sekarang... saat itu ia datang dengan seorang lelaki yang bernama...,'' pria tua ini menahan kata-katanya untuk mengingat.
''Wisnu Pradana maksud anda?" Sambut Riko dari belakang.
''Ya. Benar, mereka berdua langsung menemui saya di tempat ini... sama persis seperti saat ini. Saya berbicara dengan lelaki itu.. tidak banyak yang kami bicarakan. ia hanya ingin menitipkan seorang wanita dan itu adalah Nayla. Hanya itu.''
"Bagaimana dengan Amelia, apakah saat itu anda berbicara dengannya?''
''Ya, ia hanya menyampaikan kalau gadis yang dititipkan itu adalah adiknya sendiri. Tidak banyak yang kami bicarakan. Lagipula mereka hanya ingin menitipkan saja. Hal seperti itu sudah biasa.''
''Lalu bagaimana dengan perjanjian yang kalian lakukan? Apa maksudnya?''
''Oh itu... saya tidak tahu alasannya. Amelia hanya ingin adiknya dibiarkan sendiri... Mulai dari kamar sampai kegiatan yang dilakukannya. Ia meminta agar saya memberikan keistimewaan itu padanya.''
''Bagaimana mungkin anda tidak menanyakan sebabnya?''
__ADS_1
''Anda benar... hanya orang bodoh yang tidak menanyakan alasannya. Tapi, ia hanya menginginkan kalau adiknya diperlakukan seperti itu! Amelia sama sekali tidak memberikan alasan apapun!''
''Mengapa anda menyetujuinya? Bukankah itu terlalu berlebihan kalau sampai mengikat adiknya begitu?''
''Saya rasa tidak perlu lagi saya menjelaskan kalau anda saat ini berada dimana?''
''Maksud anda... hanya karena tempat ini tempat penampungan? Begitu!'' suaranya keluar perlahan-lahan disambung tarikan nafas. ''Ya, tempat ini ada untuk mereka yang terkucilkan! Tempat dimana orang-orang yang berada diluar sana sama sekali tidak memperdulikan keadaan mereka. Jadi, saya hanya memberikan tempat bagi mereka. ada yang salah dengan itu?''
''Tentu, tidak ada yang salah dengan niat baik anda.. yang saya maksud adalah Nayla!''
''Apa yang salah? Kakaknya yang menginginkan seperti itu... Lagipula kakaknya tidak meminta kami untuk menyiksa atau mentelantarkannya. Ia hanya meminta kalau adiknya jangan berhubungan dengan siapapun? Saya merasa tidak ada yang dipermasalahkan disana.''
''Baiklah. Lalu, bagaimana bisa Ibu Kirana bekerja disini?''
''Amelia yang membawanya. Saya tidak ingat waktunya. Amelia ingin kalau Kirana yang akan mengurus Nayla.''
''Kalau begitu boleh kami meminta data-datanya!''
"Data? Formulir nama maksud anda?''
''Ya.''
''Tempat ini akan menerima siapapun selagi mereka ikhlas dan mau berbakti. Saya tidak memperdulikan ia siapa dan dari mana. Selagi ingin dibayar seikhlasnya. Saya pasti akan menerima. Tidak semua orang mau tinggal dan bekerja ditempat seperti ini.''
''Ya, ya... saya tahu itu. Kalau begitu saya ingin mendengar pembicaraan yang selama ini kalian lakukan?''
''Kirana bukan orang yang banyak bicara. Ia juga wanita yang pemalu. Tidak ada yang bisa saya katakan tentangnya.''
''Apa yang dilakukan Amelia setiap datang kemari? Saya tahu kalau beberapa kali ia datang!''
''Ia datang hanya memberikan sumbangan. Tidak ada kepentingan yang lain.''
''Baiklah, sebelum kami pergi... Apa pendapat anda mengenai kejadian yang menimpa Amelia Earhart?''
''Saya tidak menyangka ia sampai bunuh diri. Padahal dilihat dari sifat dan tingkah lakunya ia bukanlah orang yang seperti itu.. Amelia adalah sosok yang baik. Saya sangat tidak menyangka kalau ia sampai berbuat seperti itu.''
''Baiklah,'' aku berdiri dari hadapannya. ''...Saat pertama kali mengantar Nayla kemari apakah Amelia dan pria yang bernama Wisnu Pradana itu terlihat akrab atau bagaimana?''
Pak Berend tampak mengingat-ingat begitu keras. Urat di keningnya terlihat membesar. ''Ya, tampaknya saat pertama kali kemari mereka begitu akrab! Menurut saya mereka memang sudah saling kenal.''
''Terima kasih banyak atas penjelasannya,'' ucapku kemudian pamit.
''Apa yang sebenarnya ingin kau pastikan? Aku rasa pertanyaan-pertanyaan yang kau ajukan tadi tidak ada manfaatnya!'' ujar Riko setelah kami keluar dari panti asuhan. Nayla yang tinggal di mobil masih diam mendengarkan seperti belum tertarik untuk ikut masuk dalam pembicaraan.
''Aku hanya ingin memastikan kalau pikiran liarku salah!''
''Pikiran yang mana?''
__ADS_1
''Dengarkan, entah mengapa aku merasa kalau Wisnu Pradana itu masih hidup!''