SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
PULANG


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 23.39 WIB. Langit malam ini benar-benar berbeda, tampak cerah karena dihiasi oleh bintang-bintang kecil, langit yang indah itu sangat bertolak belakang dengan yang ku alami malam ini, sangat tidak selaras. Hembusan angin terasa semakin kencang setelah aku keluar dari gudang kecil tempat aku bertemu dengan Nanda.


Hanya beberapa saat aku bertemu dengannya, aku memutuskan untuk pergi meninggalkannya, bukan karena bertikai mulut dengannya, ada sesuatu yang ingin ku pastikan terlebih dahulu.


Aku bersama anak buah Hana yang menurut kami namanya juga ditulis oleh Jara di dalam catatan neraka inipun pergi melangkahkan kaki meninggalkan Nanda didalam bangunan tua yang belum diketahui milik siapa. Berjalan diantara hembusan angin yang perlahan mengalir diatas kulit menerobos baju kemeja yang ku kenakan. Aku berusaha menguatkan diri berjalan dibawah kegelapan.


Hari sudah benar-benar malam, sebelum langkah kami semakin jauh dari bangunan tua itu. Aku kembali menatap kebelakang tampak anggota Nanda berlalu lalang di keheningan malam yang terasa mencekam. Apa yang sebenarnya yang ingin mereka lakukan?


Kami terus berjalan menyusuri rumput-rumput belukar yang hanya bersinar flash handphone sampai tiba di sebuah jalan dengan lapisan aspal hitam. Aku mengenali tempat ini, aku telah kembali ke Jalan Amanah, tempat aku berhenti pertama kali. Mataku tersorot ke ujung jalan terlihat Ambulance sedang parkir, sepertinya itu tempat Hana diperiksa oleh timnya Nanda. Dan Riko pasti sedang menunggu disana.


Aku mengurungkan niat untuk pergi kesana karena sedang membayangkan betapa nikmatnya meneguk minuman hangat kemudian jatuh tertidur diatas kasur. Hari ini adalah hari yang sangat berat, aku sampai tidak ingat kapan terakhir kali nya aku duduk dengan tenang. Aku menghela nafas melihat Sersan Radit sudah tepat berada di sebelah ku.


''Senior, tampaknya mobil taksi di ujung sana sedang berhenti... Apa mungkin dia sedang menunggu kita?'' Dia berkata matanya memandang ke ujung bagian jalan yang lain. ''Ya, itu adalah taksi yang membawa ku tadi kemari.'' Jawabku menatapnya.


Dengan suara keras aku berteriak memanggil sambil mengayunkan tangan. Sersan Radit juga ikut berteriak untuk memangilnya. Tak beberapa lama taksi itu berputar kearah kami.


Aku masih memikirkan kejadian aneh yang baru saja terjadi. Ketakutan Nanda itu sangat abnormal apa yang sebenarnya yang dipikirkannya sampai dia menjadi seperti itu.


''Senior, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa bisa anggota Gagak Hitam ikut serta dalam penyelidikan ini? Bukankah mereka bagian divisi khusus? Aku pernah mendengar misi mereka sangat penting untuk menjaga perdamaian, pahlawan dibalik bayangan, walaupun jasa mereka sangat besar, tetapi tidak pernah mendapat penghargaan apalagi ditulis di surat kabar, Senior, ada apa sebenarnya? Tanya Sersan Radit setelah kami berada didalam taksi, raut wajahnya seperti rajutan benang yang kusut. ''Senior, tampaknya anda tidak begitu terkejut saat ia memperkenalkan diri. Apakah anda mengenalnya, senior!''


''Soal itu ya, memang benar... Kelompok itu sangat besar jasanya, berkat pengorbanan mereka kita bisa hidup aman seperti sekarang... Huh... Sebenarnya aku sudah tahu dia adalah anggota dari kelompok Gagak Hitam, namun aku juga belum tahu mengapa mereka sampai ikut-ikutan dalam penyelidikan ini, entahlah...yang jelas tingkah lakunya itu tadi, sungguh sangat aneh.''


''Aneh? Maksud anda selama ini dia tidak seperti itu?''


''Ya, tetapi..'' Tiba-tiba aku terdiam sesaat setelah terpikirkan sesuatu. ''tunggu ada yang ingin ku pastikan padamu dahulu!'' Sersan Radit menoleh menatapku. ''Apakah kau merasakan sesuatu perbedaan pada kapten mu?'' Aku bertanya soal Hana padanya.


''Kapten Hana ya? Jujur saja, aku tidak merasakan perbedaan yang signifikan darinya, maksudku, dia seperti orang yang anda kenal..,'' dia terlihat berpikir sejenak. ''Tapi memang ada yang menggangu ku saat kami masih di Jakarta tadi, Senior!'' Sambungnya setelah diam sejenak.


Aku menyipitkan mata mencoba mencerna perkataan nya dengan serius.'' Ya, lanjut saja.'' Celetuk ku.


''Saya tidak tahu... kalau anda tahu soal ini atau tidak... Tim yang dikomandoi oleh Kapten Hana itu sebenarnya beranggotakan Empat orang, dan setiap orang memiliki tugas-tugas nya masing-masing, tapi... entah mengapa Kapten Hana tidak mengajak Ayala kemari...''


''Ayala? Siapa dia?''

__ADS_1


''Ayala adalah salah satu anggota dari tim forensik yang bertugas di bawah kapten Hana,'' Sersan Radit terdiam sejenak kemudian melanjutkan. '' Sangat aneh sekali bukan? Bisanya Kapten Hana melarang Ayala untuk ikut datang kemari... padahal Ayala adalah yang terpenting dalam tugas ini! Karena hanya dia yang bisa memastikan jasad yang ada di rumah itu!''


''Itulah mengapa kalian hanya datang berempat ya?''


''Ya, Senior. Dua orang yang disuruh keluar tadi itu adalah temanku.''


''Kenapa anda menanyakan itu, senior? Atau anda juga berpikir dari mana Pria itu tahu kalau Kapten Hana ternyata sudah menjadi korban Jara?''


Aku mengangguk kemudian menatapnya.


''Lalu... Apa anda sudah mengetahuinya?''


''Lupakan dulu soal itu...'' Aku berbalik badan kearahnya, ''kalau begitu mengapa kalian membakar jasad Amelia sampai hangus tidak tersisa seperti itu... Padahal kalian belum memastikannya?''


''Aku sudah memberitahu kapten Hana soal itu, tetapi dia tetap bersikeras memberi perintah untuk menyirami jasad Amelia Earhart dengan air keras, senior.''


''Sudah kuduga itu bekas bakaran dari air keras,'' celetuk ku. ''Kalau begitu air keras itu sudah kalian persiapkan ya?''


''Betul senior, seperti yang dikatakan pria anggota Gagak Hitam tadi.. kami diperintahkan untuk menghanguskan jasad itu.''


''Oh ya maaf.... Apakah mas tahu penginapan terdekat daerah sini?''


''Penginapan? Apakah harus hotel? Di depan sini, kira-kira 10 Kilometer lagi ada sebuah rumah penginapan milik sepupu saya, kalau anda berkenan saya bisa menghubunginya untuk mengantarkan kalian, bagaimana?''


''Sebelumnya terima kasih banyak mas, kami akan menginap di hotel PANGERAN saja.'' Sersan Radit menyela sopir taksi itu.


''Pangeran? Anda tahu daerah sini?'' Tanyaku pada Sersan Radit.


''Bukan senior... Sebenarnya Kapten Hana sudah menyiapkan hotel menginap untuk kami.''


''Hana?? Menyiapkan penginapan? Kalau dia yang mengatakan ini bukan sesuatu yang baik, bisa jadi catatan neraka milik Sersan ini ada disana.'' Gumam ku dalam hati.


''Baiklah, saya kira tadi kalian tidak punya tujuan jadi saya hanya menawarkan milik keluarga saya.'' dia menjawab berusaha bersikap kooperatif. ''Kalau ternyata kalian sudah punya tujuan... tidak apa-apa... saya juga tidak ingin terlihat memaksa.''

__ADS_1


''Ti-tidak...tidak. Kami tidak sampai berpikiran seperti itu kok,'' sahut ku tersenyum. ''Tapi, apakah hotel pangeran itu jauh dari sini? butuh berapa menit untuk kesana?''


''Sepertinya tidak senior, jaraknya hanya beberapa Kilometer lagi... Mungkin sekitar 15 menit, karena Hotel itu sudah dibagian kota Jombang.''


''Begitu ya!?'' Aku berpaling menghadap keluar jendela sejenak berpikir.


''Senio...''


''Apakah Hana memberitahu kalian akan menginap di kamar berapa?'' Celah ku memotong nya.


''Ti-Tidak senior, apa ada sesuatu yang terjadi?'' Tanyanya penasaran.


''Hmmn, bisa saja catatan neraka milik mu itu ada disana... tapi itu hanya dugaan saja...''


''Terus... Apa kita akan kesana memastikannya?''


Aku menelengkan kepala sedikit miring dan berkata. ''Apa kau ingin mati sekarang? Bagaimana kalau catatan mu itu benar ada disana! Ti-tidak, aku tidak bisa membayangkan kau mati didepan ku..''


''Benar juga ya, lalu bagaimana, apakah kita akan membiarkan petunjuk itu...''


''Halo, apa kau sudah tahu kalau Hana dan anggotanya akan menginap di daerah sini?'' Aku langsung menelpon Nanda mengacuhkan perkataan Sersan Radit.


''Apa Maksudmu?'' Jawabnya dari telpon.


''Aku merasa kalau catatan itu disembunyikannya disana, bagaimana menurutmu?''


''Sudahlah, kau pergi istirahat saja! Mana mungkin dia menyembunyikan catatan itu disana, dia tidak sebodoh itu!'' Tegasnya lalu menutup panggilan.


''Aneh... Apa salahnya aku memberi saran, mengapa dia marah?'' Aku mendengus resah setelah panggilan tertutup.


''Apakah ada sesuatu yang terjadi?'' Sopir taksi ini kembali bertanya terlihat seperti ingin mencari tahu.'' Tadi saya melihat ada beberapa mobil polisi di dalam sana...? Apa yang terjadi di rumah kosong itu?''


''Ya, itu soal rumah kosong yang ada disana, kepolisian hanya memastikan bangunan itu milik siapa.'' Jawabku, wajah Sersan Radit tampak terkejut dengan apa yang kukatakan. ''Tetapi... mengapa rumah itu diperiksa saya belum bisa mengatakannya kepada anda. Apa anda tahu rumah kosong itu milik siapa?''

__ADS_1


''Ti-Tidak, saya tidak bermaksud apa...'' Jawabnya terbata-bata.


__ADS_2