SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
DATA


__ADS_3

Nama: Wisnu Pradana.


Tempat/Tanggal lahir: Jombang, 13 Juli 1974.


Anak: Elsa Safira.


Ratna Antika.


Eki Apriliya.


Wafat: 12 Maret 2013. Kecelakaan pesawat Seroja.


Keterangan.


Bercerai setelah ketahuan selingkuh dengan asisten pribadinya.


Nama" Aiko Sarwosri.


Tempat/Tanggal lahir: Jepang, 12 Januari 1988.


Alamat: Jakarta pusat.


Pekerjaan saat ini: Resepsionis hotel Hoki Purnama. Jl. Permata. No.2. Jakarta Pusat.


Keterangan.


Dahulu bekerja sebagai asisten pribadi Wisnu Pradana.


Nama: Elsa Mita Maharani.


Tempat/Tanggal lahir: Jakarta, 12 Februari 1980.


Alamat: Jl. Kartama. No.5. Jakarta pusat.


Keterangan.


Mantan istri Wisnu Pradana.


***


"Hei Misya!"seru Riko dari seberang meja.


"Ada apa?"


"Ha? Apakah masih kurang jelas?" Jari telunjuknya mengarah pada amplop yang terletak di hadapan ku.

__ADS_1


Aku menempelkan telapak tangan diatas amplop coklat kemudian menggesernya ke arahnya. "Buka saja, kalau kau ingin tahu!"


"Misya, aku tahu mood mu saat ini tidak baik. Tapi, kau harus tahu jika masalah ini berlarut-larut tidak selesai… huh…," Riko menghembuskan nafas panjang. Kemudian merobek bagian atas amplop. "Kau sendiri yang mengatakan kalau Jara sudah menemuimu. Sebenarnya aku tidak pantas mengatakan ini padamu… Pertama Andi. Lalu Hana. Dan ternyata kau juga sudah bertemu dengannya. Sekarang tinggal aku sendiri yang belum bertemu dengannya. Entahlah, aku merasa itu tidak mungkin…"


"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?" Aku memotong kata-katanya.


"Secermat dan seawas Hana saja sudah menjadi korban… apalagi lah ak…"


"Katakan saja! Tak usah berbelit-belit!"


"Kau sudah berjanji dan menjamin... kalau kita semua akan menangkap Jara bersama!" Suaranya begitu keras memenuhi ruangan. "Tapi, nyatanya. Apa? Pertama Andi! Kita juga tidak tahu apakah Hana akan baik-baik saja. Dan sekarang…"


"Ok! Baik, baiklah," mataku membelalak menatapnya. "Menurutmu, apa yang harus kulakukan? Ha! Apakah selama ini aku terlihat bersantai-santai! Aku sudah melakukan semuanya, Riko!"


Wajahnya begitu murung, amplop yang menempel di tangannya terjatuh ke atas meja. Matanya memberi sinyal tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Melihat itu aku menghembuskan nafas panjang. "Baiklah, maafkan aku. Tidak seharusnya aku bersikap seperti ini. Benar apa yang kau katakan, sepertinya, aku akan mengundurkan diri dari penyelidikan. Aku merasa banyak yang lebih pantas melakukannya…"


"Misya!" Gertakan suaranya begitu lantang.


"Riko, jujur aku tidak tahu ingin melakukan apa lagi…."


"Misya! Kami semua sudah percaya padamu dan mempertaruhkan nyawa dalam penyelidikan ini. Apa kau sadar dengan yang baru saja kau katakan? Apa kau lupa apa yang dilakukan Pembunuh ini terhadap Andi! Ha!"


"Tapi, bisa saja penyelidikan ini akan merenggut nyawam…" tanpa sadar aku berdiri dan kedua tanganku menghentak meja.


Ego dalam diriku seketika turun setelah melihat reaksinya. Aku tidak pernah menduga ia memiliki sifat seperti ini. Selama ini, ia hanya terlihat bergurau dan bertindak kocak untuk mencairkan suasana. Aku benar-benar tidak menyangka nya. Dadaku berdegup begitu kencang sampai memburu menembus kepala. Apa yang sedang kulakukan? Dia benar? Aku sudah berjanji dengan mereka semua. Bagaimana bisa aku berpikir bodoh seperti ini? Setelah diam beberapa saat, aku kembali duduk.


"Baiklah," hembusan nafasku memburu panjang. "Terimakasih, kau sudah mengingatkan."


Dia hanya menatap wajahku. Kemudian kembali duduk.


Aku mengeluarkan beberapa lembar kertas dari amplop yang dititipkan Nanda kepada komandan. Melihat isinya, tanganku langsung merogoh kantong mengambil ponsel. Beberapa detik kemudian, suara Nanda terdengar dari balik ponsel.


"Apa maksudnya ini?"


"Kau menanyakan sesuatu yang sudah sangat jelas… aku tahu kau akan mencari data dan alamat mereka kan? Jadi, Itu akan sangat membantumu, bukan?" sahut Nanda.


"Itu tidak menjawab pertanyaan ku!"


"Oh, baiklah, " suaranya terdengar samar berbisik. "Sebentar lagi aku akan berangkat ke Polandia... Divisi kami akan memetakan wilayah yang akan dihadiri presiden seminggu lagi. Oleh karena itu, aku tidak bisa memastikan kapan aku akan kembali. Paling tidak sampai empat atau lima hari kedepan. Aku akan mengusulkan kepada pimpinan agar mengizinkan ku untuk kembali lebih dahulu. Jadi, sebelum hari itu... aku ingin kau memastikan data-data yang kuberikan itu!"


"Bukankah itu sudah lewat dari masa yang ditentukan pak Bisco?"


"Ayolah Misya Alexandra! Kau mengerti maksudku kan?"


"Tidak! Aku sama sekali tidak mengerti..."

__ADS_1


"Ayolah, detektif hebat sepertimu masih membutuhkan ku? Hahaha.. tidak kusangka," suaranya terdengar merendahkan.


"Cuih..., ada yang masih ingin kau katakan? Sebenarnya saat ini aku sedang sibuk," balasku.


"Hahaha, Ok, maafkan aku," ucapnya kemudian menjelaskan semua yang tercatat dalam lembaran kertas yang ditulisnya. Semuanya. Bahkan lengkap dengan rencananya.


Sebelum menutup panggilan ia mengingatkan sesuatu yang penting. ''Bawa Nayla kemanapun kau pergi.'' Aku sudah menanyakan apa maksudnya dengan mengatakan itu padaku. Namun, ia tetap bersikukuh untuk menceritakan semuanya saat kembali ke Jakarta. Termasuk apa yang terjadi pada Hana. yang jelas kata-katanya itu sesuai dengan dugaan ku. Ternyata, Nanda juga merasakan sesuatu yang aneh dari Nayla.


"Bagaimana?" tanya Riko setelah panggilan tertutup.


"Berkas-berkas yang dititipkan Nanda ternyata berisi daftar nama dan pemilik bangunan tempat Amelia ditemukan saat itu."


''Oh ya?" Riko menghampiri ku kemudian menganalisa nama-nama yang tertulis.


Aku melirik jam yang menempel di dinding, sudah menunjukkan pukul 09.11. "Ayo, aku akan menjelaskan semuanya di mobil."


"Hei, kita mau kemana? Kenapa tiba-tiba terburu-buru."


Aku meraih tas kecil beserta amplop yang berisi data-data. "Sudahlah," suara kursi berbunyi. "Temani aku ke panti asuhan itu dahulu!"


''Jadi, apakah menurutmu nama-nama itu ada kaitannya dengan Jara?'' Riko bertanya padaku dengan suara rendah. Kami sudah berada di mobilku bersiap untuk memeriksa nama-nama yang tertulis pada berkas yang disiapkan Nanda.


''Ya. Aku rasa salah satu dari mereka pasti pernah bertemu dengan Jara. Terutama Wisnu Pradana!''


''Apa yang membuat mu yakin seperti itu? Apakah Karena ia produsernya?''


"Bukan hanya itu.. dari keterangan Nanda, seperti yang kau lihat pada berkasnya ia sudah mati. Kau tahu apa yang aneh disitu? ia diputuskan tewas oleh pengadilan karena jasadnya belum ditemukan sampai sekarang setelah insiden itu."


"Pesawat Seroja ya? Tunggu sebentar, aku tidak mengerti maksudmu?'


''Apakah kau tahu kejadian naas itu?''


"Ya, sekalipun hanya sekilas informasi dari rekan-rekan saja.''


''Kecelakaan pesawat itu terjadi sekitar 2 tahun yang lalu. Sekalipun penyebabnya sudah dipastikan. Mereka kehilangan sinyal saat di udara... Yang mau kita garis bawahi disini adalah... Pesawat itu sedang menuju Singapura. Apa yang akan terlintas dibenakmu saat orang sibuk berangkat ke Singapura? Kau tahu maksudku?''


"Apa? Maksudmu ia sedang berencana untuk liburan?''


''Ya. Ia berencana untuk liburan bersama pasangan barunya.''


"Siapa? Asisten pribadinya itu? Aiko?''


"Ya. Menariknya, Aiko satu-satunya penumpang yang selamat dari kejadian naas itu. Bukan karena ia pertama kali ditemukan... Tapi, karena ia tidak jadi berangkat pada hari itu!''


"Coba perhatikan kembali profil asistennya!" Aku mengeluarkan berkas itu dari tas. Riko kembali terlihat serius membacanya.

__ADS_1


__ADS_2