SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
NOVEL KEDUA


__ADS_3

''Karya pertamanya!'' kejut Riko.


''Jadi, lima novel misteri yang disebutkan dalam video Anggita itu benar?'' sahut ku. Reaksi kami berdua begitu terkejut mendengar fakta yang tidak kami duga.


Nanda mengangguk. ''Lima novel tersebut sudah kami amankan,'' Nanda mengangkat novel Sang Queen tepat di depan wajahnya. ''Kau tadi bertanya apakah kasus mu berkaitan dengan Amelia? Jawabannya ya. Kelima novel yang ditulisnya ibarat sekuel dari cerita pertama....'' Nanda memotong kalimatnya. ''Buku ini bukan buku aslinya, buku ini bercerita tentang pasangan yang mati tragis! Berbeda dengan buku-buku lainnya, buku ini terbit dan dipasarkan secara umum. Aku tidak tahu mereka mencetak ulang atau tidak buku ini. Yang jelas buku ini sudah sangat lama diterbitkan.''


Aku mengambil buku yang baru saja diletakkannya. Sekalipun aku sudah pernah memegangnya, aku kembali memperhatikan cover yang polos tanpa gambar. ''Nama penulisnya tidak ada ya? Bagaimana bisa buku ini diterbitkan!''


''Aku sudah mencari tahu siapa pengirim naskahnya ke penerbit, Erlangga, seorang mahasiswa... editornya mengatakan Erlangga memang tidak ingin namanya ditulis disana, tidak ada salahnya selagi data asli penulis ada pada mereka,'' jawab Nanda.


''Apakah dia masih hidup?'' tanyaku hati-hati.


''Erlangga? Tentu dia membunuhnya, Erlangga ditemukan tewas bunuh diri setelah buku ini sebulan diterbitkan.''


''Sudah kuduga dia pasti membunuhnya, lalu apa kaitannya dengan ku?''


''Karakter utama dalam buku yang kau pegang itu adalah adik kandung dari ibu panti itu.... Kirana!''


Kedua mataku seketika terbelalak mendengarnya. Bagaimana bisa dia tahu sampai sejauh itu. ''Nayla, dia bercerita padamu?''


Nayla mengangguk kemudian bercerita. ''Jauh sebelum buku ini diberikan oleh kak Amelia, ibu Kirana sudah menceritakan kematian tragis adiknya. Dan saat aku membaca buku itu, ceritanya hampir sama hanya nama tokoh dan tempatnya yang berbeda.'' Nayla menarik nafas sejenak. ''Aku akan ceritakan sedikit padamu isi buku itu, adik Bu Kirana yang bernama Hendra ditolak oleh Indri yang akhirnya menjadi pasangan dalam cerita... bukan karena Indri tidak suka. Tetapi, karena orang tuanya tidak suka dia berpasangan dengan Hendra. Hendra yang mengetahui itu memutuskan pergi ke dukun untuk memikatnya, dia merasa orang tuanya akan merestui mereka jika Indri tergila-gula padanya. Seperti yang sudah kau tahu, dukun itu meminta agar Hendra memberikan darah mereka berdua untuk melakukan ritual yang dimintanya, disebut di buku itu... Sipakasih,'' Nayla menghentikan ceritanya. ''Intinya, kedua orang tua Indri tetap menolak hubungan mereka, sekalipun Indri sudah hampir gila karena kutukan itu! Indri yang sudah terlanjur jatuh hati memutuskan bunuh diri jika orang tuanya tetap bersikeras menolak. Hendra yang tidak ingin itu terjadi meminta dukun untuk membatalkan ritual Sipakasih. Dia sudah menerima takdir cinta mereka memang tidak akan bisa disatukan, dukun meminta agar Hendra membakar kertas yang ditanam di pekarangan rumah Indri.... Aku lupa,'' Nayla tiba-tiba tersenyum. ''Saat ritual pertama kali dilakukan Hendra diminta untuk menanam catatan yang ditulis oleh dukun dipekarangan rumah Indri. Untuk menghilangkan Sipakasih, maksdku supaya hati Indri tidak terikat lagi... Dukun itu meminta agar Hendra membakarnya! Namun sayang, saat Hendra pergi kesana, Indri sudah ditemukan tewas gantung diri... Endingnya apa? Hendra juga gantung diri.... Tamat!'' Nanda tersenyum mendengar penjelasan Nayla. Sedangkan aku dan Riko masih tercengang. ''Sekian,'' tutup Nayla.


''Bagaimana? Sudah menemukan jawabannya?'' tanya Nanda.


Aku mengangguk pelan. Aku akhirnya mengerti mengapa malam saat Jara tewas ada kobaran api di depan rumah tua itu.


''Jadi, membatalkan kutukan itu dengan membakarnya?'' tanyaku memastikan.


''Ya, kita lanjutkan buku yang kedua, saat Amelia pertama kali pergi dari rumah memenuhi undangan agensinya, Amelia menabrak wanita ditengah jalan. Wanita itu adalah karakter utama dari buku kedua. Aku sudah menyerahkan bukunya pada atasan,''Nanda memangku dagunya. Dia seakan tahu aku akan menanyakan buku yang dimaksudnya. ''Aku tidak begitu ingat ceritanya, yang jelas itu hanya penyambung untuk buku ketiga.... Amelia Earhart!''

__ADS_1


''Apakah kematian wanita itu karena ditabrak oleh Amelia?''


''Bukan, kematiannya karena pergi ke rumah sakit Tugu Tiga, di buku itu ditulis dia mati karena stres kalah dalam pertandingan catur. Tapi, sebenarnya di bukunya tertulis dia meminum racun yang mematikan. Dokter yang menanganinya ternyata tidak dapat mendeteksi racunnya. Hanya itu! Bukan itu yang penting... setiap korban yang mati karena dibukukan pasti akan muncul tulisan-tulisan aneh pada tubuhnya. Itu yang membedakan antara catatan-catatan lembaran dengan buku. Aku yakin kau sudah mengetahuinya!''


''Ya, saat aku menemui asisten pribadi pak Wisnu, dia berkata seperti itu, apakah Hendra dan Indri juga sama?''


''Seharusnya iya. Tetapi, aku belum memastikanny....''


''Tu-tungu... artinya Jara juga korban dari kutukan buku itu!'' Aku memotong penjelasannya.


''Ya, seperti yang kau lihat pada malam itu! Ditubuhnya penuh dengan tulisan-tulisan aneh kan? Menurut ku itu efek ritual yang dilakukannya! Dan itulah alasan mengapa jasad Amelia Earhart terbakar... sepertinya dia berusaha menyembunyikan aksara aneh itu,'' Nanda berdesis.


''Untuk apa dia menyembunyikan itu?'' Riko bertanya yakin.


''Entahlah, untuk menyembunyikan fakta mungkin... Atau dia memiliki rencana setelahnya siapa yang tahu, maksud ku saat kepolisian tahu ada korban wanita di rumah sakit itu. Aku yakin dia sadar, lambat laun polisi akan memeriksa wanita yang ditabrak Amelia, menurutku dia berusaha menyembunyikan kalau dia bisa mengutuk seseorang menggunakan buku.''


''Artinya, sampai kita bertemu dia tidak tahu kalau sebenarnya kau sudah tahu kalau dia mampu mengutuk dengan buku?''


''Maksudmu dia tidak ada disana?''


''Ya, dia hanya ingin memastikan apakah polisi sudah tahu kutukan selain catatan atau tidak... Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh kepolisian darimu... Karena itu dia menyinggung buku Amelia!''


''Bukankah itu justru membahayakannya!''


''Terkadang kau harus menjuntaikan kaki untuk memastikan hiu,'' jawab Nanda. ''Dia tidak sebodoh itu, Misya. jika seandainya polisi sudah tahu sebenarnya dia mampu mengendalikan seseorang tanpa catatan. Pasti, dia akan merubah rencana selanjutnya. Aku yang meyakini itu hanya tipuan, mengikuti keinginannya. Aku menyuruhmu untuk tidak pergi mencarinya saat di Bali. Kau tahu mengapa?''


''Untuk meyakinkannya bahwa polisi tidak tahu tentang buku itu!''


''Ya, lebih tepatnya untuk mengulur waktu, dia ingin menyampaikan Saat ini aku sedang di Bali.

__ADS_1


Mengetahui hal itu, apakah kepolisian akan diam? Seharusnya kepolisian akan mencari jejaknya disana. Aku yang sedari awal yakin itu hanya tipuan tidak akan pergi mencarinya kesana.''


''Aku tidak begitu mengerti maksudmu... Bagaimana bisa kau menganggap itu tipuan?''


''Bukankah sudah kukatakan triknya dalam memanipulasi, sodorkan sedikit fakta untuk membuatnya menjadi nyata! Dia tidak memberikan buku itu padamu. Dia hanya memberi tahu lokasi Amelia seakan dari buku! Hanya itu. Coba analisa kembali pertemuanmu dengannya!''


''Aku mendapat buku itu dari resepsionis hotel kemudian membacanya...''


''Siapa yang mengirim buku itu?'' sela Nanda ditengah penjelasan ku.


''Katanya dari teman lamaku. Namun, ternyata resepsionis hotel itu adalah Jara!'' Aku diam menunggu tanggapannya.


''Teruskan!''


''Mengetahui isi buku itu, aku langsung mencari Jara, karena aku yakin teman yang dimaksud resepsionis itu adalah Jara. Saat itu aku tidak terpikir Jara menjadi resepsionis hotel itu! Maksudku, dia pasti mengikuti ku. Saat mencarinya... aku istirahat menenangkan diri di cafe disitulah aku bertemu sekalipun tidak melihatnya...''


''Coba langsung pada bagian yang anehnya!''


''Maksudmu, mengapa dia mengambil buku itu kembali?''


''Bukan, saat di cafe karyawannya tidak datang menghampiri bukan?''


''Ya, Jara mengatakan karena dia sudah mengutuk orang-orang di cafe itu!''


''Selain itu ada keluarga yang juga duduk di depan mu?''


''Ya.''


''Lalu kau menulis sebagian cerita buku Amelia Earhart sebelum dia mengambil kembali buku itu?''

__ADS_1


''Ya, ada apa? Dimana keanehannya?''


''Kau belum juga menyadari tipuannya?''


__ADS_2