
Untukmu kuucapkan selamat dan terimakasih telah berhasil menemukan ku. Aku tahu, hari ini akan tiba. Hari dimana aku akan ditemukan. Sebab itulah aku menuliskan catatan ini. Jika seandainya tidak ada yang berhasil menyingkap tabir yang kubuat. Tentu, aku akan memikirkan cara agar catatan ini sampai pada kepolisian seandainya maut akan menghampiriku. Aku tidak ingin mengatakannya, sebut saja aku ingin namaku tercatat dalam sejarah kriminal yang pernah terjadi. Nama ku melekat di pikiran orang-orang dan menjadi bukti bahwa aku pernah hidup. Aku menjadi bagian sejarah dan dikenang. Hanya itu. Karena sebenarnya, sejak memiliki kemampuan ini aku percaya tidak akan ada yang akan menemukan ku selain tuhan. Ya, aku percaya dengan keberadaan tuhan. Jika pertanyaan itu terbesit dalam pikiranmu. Aku mempercayai keberadaannya. Benar-benar mempercayainya. Dengan kemampuan ini takkan ada orang yang mampu menemukan ku. Nyatanya sudah berapa banyak manusia menjadi korban sebab kemampuan ini, pihak berwajib tidak juga merasakan keanehan dari korban-korban yang kubunuh. Sungguh tidak menyenangkan bukan? Mereka menganggap kematian korban-korbanku murni perbuatan tuhan. Sungguh permainan yang membosankan. Apakah kau akan senang jika permainanmu diabaikan?
Aku percaya manusia adalah makhluk yang unik. Mereka terus-menerus mengejar sesuatu yang sebenarnya sudah mereka miliki. Mereka selalu berpikiran bahwa yang mereka lakukan masih kurang sehingga mereka tidak peduli batasan yang seharusnya tidak di tapaki. Aku tidak tahu darimana sifat itu muncul. Entahlah, mungkin manusia memang diciptakan seperti itu. Tamak, serakah dan tidak peduli. Selalu bersembunyi dibalik topeng kemunafikan. Selalu menunjukkan senyuman sekalipun mereka saling menjatuhkan. Padahal mereka saling mengejar ujung Piramida yang sama tanpa memperdulikan sekitarnya. Mereka saling memanfaatkan. Sungguh ironisnya, terlebih bagi orang yang tidak menyadari bahwa mereka dikelabui oleh dengungan kebersamaan. Sangat menjijikkan melihat mereka yang berempati tapi sama sekali tidak pernah merasakan. Kata-kata manis yang mereka ucapkan seakan dapat mengobati sayatan. Kata semangat yang penuh kebulshitan. Dulu aku berpikir hal-hal seperti itu hanya terjadi di sekitarku. Namun, seiring berjalannya waktu ternyata manusia memang seperti itu. Menciptakan rasa kebahagiaan. Tidak peduli caranya. Aku percaya tuhan tidak menciptakan parameter kebahagiaan. Ya, sebab itulah manusia menciptakan kebahagiaan versi mereka sendiri. Itu sedikit motivasi ku untuk melakukan semua ini. Kebahagiaan.
Aku akan sedikit bercerita tentang masa kecil ku. Masa dimana semuanya dimulai. Aku besar di keluarga yang sangat kaya. Ayahku seorang pengusaha hebat. Sejak kecil aku memiliki segalanya. Tidak, tidak. Tidak semuanya. Kasih sayang seorang ibu aku belum sempat merasakannya. Dibesarkan di keluarga yang berada membuat mataku terpejam tak pernah melihat dan merasakan butiran keringat. Aku tidak pernah merasakan asinnya keringat. Sampai ayahku jatuh. Benar-benar tersungkur. Perusahaan yang dibangunnya mendadak ambruk luluh lantah. Ibuku tercinta itu melarikan diri membawa semua harta yang tersisa. Sekalipun akhirnya dia mati bersama selingkuhannya. Wanita yang menjijikkan. Ayahku yang selama ini berdiri tegar, saat itu benar-benar rapuh. Bahkan ia tidak sanggup mengangkat senyuman manis di bibirnya lagi. Sungguh ironi. Semua hutang dan tunggakan ibuku harus dipertaruhkan dengan tempat dimana ayahku menyebutnya istana. Rumah, kamar dan kebahagiaanku habis direnggut tanpa tersisa. Di Usia 12 tahun aku terpaksa memikirkan semua itu. Merasakan semua itu. Aku tak tahu siapa yang merenggut itu semua dariku. Aku benar-benar tidak bisa memahaminya. Mengapa itu semua dapat terjadi?
__ADS_1
Sejak kejadian itu, aku tinggal disebuah desa dimana dulu ayahku dibesarkan. Hanya dua tahun di sana kami bisa menciptakan kebahagiaan yang sama. Kebahagiaan saja. Sebab rona di wajah ayah tidak serupa. Aku tahu dia merasa bersalah. Tubuhnya yang kering menunjukkan itu. Rambutnya yang rontok dan kulitnya yang keriput memberitahuku bahwa ayah ku sedang tidak baik-baik saja. Sempat terbit di benakku seperti inikah kehidupan.
Ayahku yang malang, memintaku untuk kembali sekolah. Ia tidak ingin anaknya terus-menerus hidup susah. Ia ingin aku berpendidikan dan dapat membangun kehidupan yang sebenarnya. Aku tahu itu. Namun, keputusannya itu akan membuat keputusasaan. Aku tidak ingin meninggalkannya sendiri. Aku menolaknya. Kau tahu, Ia ingin aku sekolah di tempat orang-orang yang memiliki harta yang mewah. Ia ingin aku bergaul dengan orang-orang seperti diriku yang manja. Aku menolaknya, itu bukanlah kebahagiaan yang sebenarnya. Sampai, ia berjanji akan menjaga kesehatan jika aku kembali sekolah. Saat itu aku menawarkan akan mengikuti kemauannya setelah menyelesaikan pendidikan SMP Negeri. Aku tidak ingin tubuhnya yang rapuh saat itu juga runtuh. Keputusan ku ternyata membuatnya begitu bahagia.
Ayahku yang malang, keinginannya tidak sesuai dengan langkah kakinya. Tahun pertama aku sekolah negeri tepat saat ulang tahunku, di hari dimana aku dilahirkan gelagatnya sangat terlihat ingin memberikan sebuah hadiah. Aku tidak ingin itu. Aku hanya meminta waktunya tertawa dan bermain bersama di taman hiburan sebagai hadiah. Tentu, aku ingin mendapatkan hadiah di hari istimewa. Tapi, hatiku tidak sanggup untuk mengutarakannya. Di hari istimewa itu, tepat jam kelahiran ku pukul 14.03 WIB kami berdua duduk ditepi jalan menghitung kendaraan yang melintas. Salah satu dari mereka yang lewat adalah penjual balon dengan kendaraannya yang dihiasi oleh bintang-bintang berwarna. Sifat usilku saat itu muncul. Setelah penjual balon hilang di balik tikungan yang tidak jauh di ujung sana, kami berdua saling menatap dan tersenyum. Terucap di mulutku menginginkan itu! Ayahku yang masih tersenyum langsung bergegas mengambil motor yang terparkir di sudut taman. Aku hanya tersenyum memperhatikannya. Ayahku mengejarnya, aku terus menatapnya sampai ayahku juga hilang di tikungan tempat penjual balon itu berbelok. Terdengar suara riuh, orang yang berada disekitar tikungan itu berlarian ke arah belokan tempat ayahku seharusnya berada. Pikiranku yang kalang kabut berusaha kuhilangkan, aku berlari melihat apa yang sebenarnya terjadi disana… Kau tahu apa yang kulihat?
__ADS_1
Sejak kejadian itu, akupun tinggal di panti asuhan. Orang yang menitipkan ku disana adalah sosok iblis yang mencabut nyawa ayahku. Ia seorang polisi, terakhir kali bertemu dengannya ia memperkenalkan ku dengan anak perempuannya bernama Misya Alexandra. Aku tidak tahu apa tujuannya memperkenalkan ku dengan perempuan itu. Setelah itu rasa benci dan dengki membara di hatiku. Kau tahu apa yang terpikirkan di benakku saat itu? Aku ingin membunuh anaknya. Sangat terlihat di matanya perempuan itu adalah permata Zamrud yang menghiasi liang hatinya. Aku ingin tahu jawabannya jika ia melihat anaknya menjadi mayat dan tidak lagi dapat melihat sekalipun masih memiliki dua bola mata. Aku ingin tahu apa yang dirasakannya jika tahu benda berharganya tidak lagi dapat berbicara dan mendengar sekalipun ia berteriak di telinganya. Aku ingin itu!
Sejak hari itu aku mulai menyusun rencana untuk mempersembahkan hadiah terbaik untuknya. Namun, semua itu tidak terlaksana. Aku hanya bisa menulis cerita dimana para iblis itu kusiksa habis-habisan dalam sebuah karya. Aku tak tahu berapa banyak cerita yang kutulis saat itu. Aku hanya bisa membalasnya melalui imajinasi saja. Sampai akhirnya aku sadar, kebencian tidak akan membuat itu menjadi nyata. Aku tahu aku tidak dapat mengalahkannya dengan fisik. Tapi di benakku masih bergumul berbagai cara untuk mewujudkannya. Dan itu terjadi saat aku berziarah ke makam ayahku yang malang itu. Sesosok wanita bertubuh pendek seukuran remaja SMP tampak berdiri tepat berada disamping kuburan kakekku. Ayahku memang beberapa kali mengajak ziarah kesana untuk memperkenalkan.
Aku tidak mengenal wanita itu, ayahku tidak pernah membicarakan keluarganya disini. Sebab ayahku hanya anak semata wayang. Kau tahu? Hanya beberapa detik aku memalingkan wajah wanita itu tumbuh menjadi wanita dewasa. Ia menatapku tersenyum. Kemudian meletakkan botol didekat kuburan kakek ku. Kemudian pergi. Tak lama setelah ia pergi. Seharusnya aku tidak penasaran untuk melihat botol itu. Seharusnya saat itu aku kembali pulang saja. Sungguh keajaiban, sebut saja keinginan tuhan. Itu hanya botol kosong. Aku membawa botol itu kembali ke panti asuhan. Pada malam harinya, wanita itu muncul di mimpiku. Benar-benar nyata. Ia menuntunku menuju sebuah pulau, pulau tanpa penghuni. Aku melihatnya berdiri dibawah pohon menunjuk sebuah botol yang tergantung di atasnya. Saat botol itu kuambil ia menyuruhku untuk mengambil darah seseorang kemudian menuliskan bagaimana kematiannya menggunakan cairan yang kudapatkan. Kau tahu itu memang terjadi.
__ADS_1
Pagi harinya, botol kosong yang kubawa dari kuburan itu berisi cairan hitam. Penuh terisi dengan cairan yang kulihat dalam mimpi. Ia menyebutnya darah tuhan. Dengan cairan itu nyawa seseorang kini digenggamanku. Aku dapat menentukan kematian seseorang. Cerita fiksi yang selama ini kutulis menjadi nyata. Sejak mengenalnya aku tahu mengapa Tuhan melakukan itu semua padaku? Sungguh perasaan yang tidak dapat dijelaskan. Aku merasa bahagia membuat orang mati sesuai keinginanku. Sekalipun begitu, aku tidak tahu apakah tuhan juga merasa bahagia saat membunuh ayah, ibu dan orang-orang disekitarmu? Entahlah, tidak ada yang tahu itu!
Kau mungkin penasaran dengan wanita yang kumaksud bukan? Wanita itu bernama Jara.