
“Gagal? Bukankah dia sudah berhasil membunuh Andi?’’ Sambut Riko tidak terima seolah Nanda menganggap kematian Andi tidak masuk perhitungan.
Aku bersedekap memutar badan menatap Nanda. “Aku yang akan menyimpulkan semua yang dikatakannya tadi.” Riko mengangguk di sebelahku. “Jara menulis dua catatan untuk Angga. Catatan neraka yang pertama untuk membunuhku, tetapi karena yang datang menemuinya bukan aku melainkan Hana, sehingga catatan neraka pertama menjadi batal."Aku menatap Riko tajam berharap dia paham kata-kata ku.
"Ya, aku paham itu. Karena yang tertulis di catatan neraka pertama menjadi tidak sesuai. Itulah sebabnya dia butuh catatan kedua. Apakah karena itu kau katakan dia gagal?’’ Jawab Riko menatap Nanda.
“Ya, catatan kedua yang membuatnya mati! Jara sudah mempersiapkan itu. Dia tidak ingin wayangnya ditangkap polisi, tentu itu akan berbahaya untuknya.’’ Jelas Nanda.
“Begitu ya… Dia sangat berhati-hati.’’
“Kalau begitu Jara sudah memperkirakan kalau aksinya akan gagal?’’ Sambut Riko terlihat gelisah.
“Benar, Jara sudah memperhitungkan setiap langkahnya.”
“Jadi… Seandainya saja, Jara tidak menulis namaku di catatan neraka milik Angga. Apakah Angga mati saat ditangkap di rumah itu?’’ Aku bertanya memastikan.
“Ya, seandainya saja Jara menulis tokoh umum pada catatan itu, seperti polisi, bukan namamu. Maksudku tidak tokoh khusus. Pasti dia akan melakukan yang diperintahkan catatan pertama dan mati di sana!’’
“Lalu mengapa dia tidak menulis tokoh umum saja. Mengapa dia menjadikanku tokoh yang akan menangkap Angga?’’
“Seperti yang kukatakan, Jara sudah sangat yakin bahwa kau yang akan pergi mencari Angga. Bukan Hana. Itulah mengapa kukatakan Jara gagal!” sahutnya.
“Dia sangat yakin ya? Karena dia mengenalku?’’ Aku mendongak menghembuskan nafas.
“Ya. Dia pasti sudah tahu nama dan sifat-sifatmu! Karena itu dia sangat yakin kau yang akan datang mencari Angga.”
Aku memperbaiki duduk berputar menghadapnya. “Jara mengenalku… Siapa? Dia? Huh… Aku sependapat denganmu.”
“Aku masih tidak mengerti mengapa kalian mengatakan Jara gagal? Padahal sudah jelas Andi mati karena skenarionya ini?’’
“Baik… Aku akan meralatnya, Dia tidak sepenuhnya gagal.” Ucap Nanda mendengus.
“Apakah dia memang ingin membunuhku?’’
“Ya, tujuan dia membuat video itu, sebenarnya untuk membunuhmu!’’
“Me-mengapa?’’
“Untuk jawabannya. Belum bisa kupastikan!’’ Sahutnya.
“Apa? Kalau begitu kau sudah sedikit mengetahuinya?’’
“Walaupun tidak sepenuhnya,” Nanda diam sejenak membuat Aku dan Riko menanti jawabannya. “Lisdia Ningsih lah yang menjadi jawabannya!’’
“Maksudmu, asisten Amelia?’’
__ADS_1
“Ya, apa kau tahu catatannya dimana?’’
Aku menggeleng menjawab pertanyaannya. Kepala ku kembali mengingat semua korban. Hasil dari perbincangan kami sebelumnya hanya tinggal LN saja yang belum dipastikan catatan nerakanya dimana.
“Catatan itu tidak ada di dalam perutnya kan?’’ Andi menatapku.
“Tidak.” Sambut Riko cepat.
Nanda begitu terkejut melihat Riko. “Apa kalian sudah memeriksanya?’’
“Ya, aku yang bertugas dalam kasus itu. Hanya obat tidur yang ditemukan forensik dalam tubuhnya.”
“Obat tidur? Ya?’’
“Ya, dari hasil pemeriksaan, LN sedang mengalami insomnia berat, Mereka mengatakan sebelum mati LN terlalu stress sehingga dia butuh obat itu untuk bisa tidur.”
“Kalau begitu kejadiannya… Pagi hari?’’
“Ya, Sekitar jam 10 pagi.”
“Apakah mungkin LN membuang catatan itu di kloset sebelum dia mati?’’ Aku memecah perbincangan mereka.
Nanda menyipitkan mata melihatku. “Menurutku tidak?’’
“Mengapa? Kan bisa saja dia melakukan hal itu, seandainya di catatan nerakanya tertulis seperti itu!’’
“Jadi maksudmu? Jara ada disana?’’
“Pasti! dia ada disana…”
Anggota Gagak Hitam ini sangat cerdik, dia sampai bisa memikirkan hal begitu rumit. Seolah dia bekerja dengan Jara. Dia bisa memikirkan segala kemungkinan yang dilakukan Jara, padahal baru beberapa jam dia mengikuti kasus ini, tetapi semua petunjuk yang masuk akal datang darinya.
“Bukankah kalian sudah memeriksa semua orang yang berada di kantor SKYC itu?’’ Aku bertanya kepada Riko.
“Aku dan Surya sudah menanyakan semuanya, mereka memiliki alibi masing-masing. Saat pemeriksaan itu kami tidak memiliki petunjuk seperti ini. Jadi kami memutuskan itu hanyalah kasus bunuh diri saja.” Jawab Riko.
“Bagaimana sekarang, apakah kau masih mengingat alibi mereka semua?’’ Aku bertanya pada Riko yang duduk di bangku belakang.
“He he he…. Aku tidak mengingatnya, lagi pula Surya yang menginterogasi mereka satu-persatu.”
Sudah kuduga. Makhluk bernama Riko ini sebenarnya spesies yang tidak bisa diharapkan. Aku menggeleng-geleng melihatnya tersenyum tipis.
“Siapa Surya? Aku belum bertemu dengannya!’’
“Dia bagian dari tim kami, tetapi sebelum kasus ini muncul. Dia sedang menangani kasus gembong narkoba. Sekarang dia sedang mengejar bandar itu ke Thailand.” Jawab Riko.
__ADS_1
“Jadi, bagaimana? Apa kita pergi menemui mereka?’’
“Tentu! Tetapi kita harus mengumpulkan petunjuk lebih banyak lagi sebelum terjun kelapangan mencarinya.”
“Benar, akan menjadi bahaya kalau kita mencarinya apabila masih kekurangan informasi.”
“Baik aku akan jelaskan bagaimana kondisinya saat itu, Saat itu LN ingin mengajak pihak SKYC berkolaborasi dalam satu project. Dari keterangan mereka, LN minta diantar ke toilet sebelum mereka membicarakan project itu.”
“Siapa yang ditemuinya?’’
“Produser dan Tim Kreatif.”
“Berapa orang?’’ Tanya Nanda memastikan.
“Kalau orang yang menunggu di ruangan rapat itu, Enam orang, tetapi kalau kau menanyakan orang yang berada di kantor saat itu, sangat banyak. SKYC adalah artis populer di bawah naungan SN Entertainment. Mereka memiliki penjualan merchandise disana, jadi tempat itu bebas dikunjungi oleh siapapun. Jadi, kami hanya menginterogasi mereka berenam saja.”
“Hanya mereka?’’
“Ya, mereka semua menunggu di ruangan. Hanya satu orang yang menunjukkan toilet pada LN. Surya mengatakan padaku dia bukan pembunuhnya. Kira-kira seperti itu?’’
“Baiklah, itu akan kita periksa lain kali saja.” Ucap Nanda.
Aku mengangguk di sebelahnya.
“Bukannya tadi, kau ingin mengatakan sesuatu?’’ Nanda bertanya menatapku yang sedang berpikir.
“Oh itu… Ya, itu mengenai Angga.”
“Apa kau memikirkan skenario lain, mengapa Jara membunuh Angga?’’
Makhluk ini sungguh pintar, bahkan dia bisa menerka isi kepalaku. Gumam ku dalam hati.
Aku menggaruk batang leher karena tidak percaya diri untuk menyampaikan asumsi padanya. “Awalnya aku mengira pria bernama Angga itu bertujuan untuk menyusup diantara kita.”
“Mata-mata maksudmu?’’
“Ya, dengan melukai salah satu dari kepolisian, justru itu tidak masuk akal.”
“Apakah polisi yang kau maksud… Hana?’’
“Ya, kau bisa menebaknya ya?’’ Aku tersenyum melihatnya yang begitu serius, “tetapi dilihat dari semua aspek itu ternyata tidak mungkin.” Aku mendengus pasrah. “Dokter juga sudah mengatakan dia sama sekali tidak terluka, lagi pula Angga mati di kantor polisi, Seandainya saja Hana terluka sekalipun saat memeriksanya. Sangat tidak mungkin Jara mengambil darahnya di sana.”
“Tentu saja. Pendapatmu itu terlalu liar.” Jawabnya membalas senyumku.
“Kalau begitu, aku akan membuat laporan tentang ini juga pada komandan.’’
__ADS_1
Seperti itulah hasil penyelidikan kami di hari ketiga, nyaris tidak berguna. Walaupun kami kalah taruhan dari Jara. Akan tetapi aku menemukan sebuah petunjuk baru dari kejadian menimpa Angga ini. Petunjuk yang sangat mahal dan berharga. Mulai besok kami akan terjun ke lapangan untuk mencarinya. Dengan petunjuk sebanyak ini, kami tidak perlu khawatir lagi. Jara sebentar lagi kita pasti bertemu.