SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
JAWABAN


__ADS_3

Aku baru saja terbangun, kepalaku masih terasa pusing, tubuhku yang mati rasa perlahan bisa bergerak. Apa yang sudah terjadi? Pertanyaan itu seketika muncul di kepala saat kedua mataku mampu merasakan kobaran api di ujung sana. Langit sudah berganti warna menjadi hitam pekat. Dimana ini? pepohonan berbaris di ujung sana. Apa yang terjadi? Mengapa aku berada di hutan?


Saat kesadaran mulai mengalir ke dalam diri. Mataku terpaku pada sosok pria yang berdiri tepat di sebelah kobaran api yang menjadi satu-satunya sumber cahaya ditempat ini. Ia berbalik menatapku dan tersenyum, “Misya… Syukurlah kau akhirnya sadar juga." Katanya.


"Nanda, apa yang sedang kau lakukan disini?" suaraku bergetar. Pikiran ku masih samar tidak begitu ingat apa yang sebenarnya terjadi. Namun, melihat Nanda yang tersenyum membuatku sadar bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Akan tetapi, ketenangan yang terpancar dari senyumnya itu seketika pudar saat satu-persatu ingatanku mulai menghampiri.


“Dimana Riko!” Aku membentaknya saat sebuah ingatan yang menakutkan muncul di kepala.


“Dia dalam keadaan kritis, saat ini rekanku masih merawatnya secara insentif, kau tidak perlu khawatir… aku yakin dia akan baik-baik saja.”


“Benarkah? Bagaimana mungkin aku bisa tenang setelah melihatnya menarik pelatuk pistolnya…” suaraku lirih berguncang.


Nanda hanya diam menatapku yang masih terduduk di tanah.


Aku yang sudah mengingat semuanya. Tanpa sadar mataku terbuka lebar dan mengeluarkan air mata yang perlahan merambat membasahi pipiku. Tidak kusangka hari ini ternyata menjadi hari terakhirku bersamanya.


“Nanda? Apa maksudnya semua ini? Mengapa aku masih hidu…’’


“Apa yang ingin kau katakan,” potongnya. “Sebaiknya tenangkan dirimu… besok aku akan menjawab pertanyaan bodoh mu itu!”


“Kau ingin aku tenang setelah mengalami semua ini!" Suaraku begitu gaduh. "Dimana wanita itu?”


Jari telunjuknya terangkat cepat. "Dibelakang mu."

__ADS_1


Aku langsung berdiri kemudian menghampirinya, Jara sudah terbujur kaku berlumuran darah. Sama seperti yang dikatakan Aiko, di wajah dan tubuhnya yang tidak tertutup pakaian lagi jelas tertulis aksara-aksara aneh memenuhi seluruh tubuhnya.


Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa tulisan aneh itu ada pada tubuhnya juga? Kalau memang benar wanita yang ditabrak Amelia juga korban dari catatan iblis itu, artinya…. Akhirnya aku bisa mengerti.


"Nanda, mengapa kau membunuhnya?"


"Apa? Aku yakin saat ini kau bisa menjawabnya bukan? Tidak seperti saat kau dibawah pengaruhnya," matanya menunggu jawaban dariku.


"Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti dengan perkataan anehmu itu."


"Seharusnya kau menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada wanita itu? Tampaknya kau tidak penasaran mengapa tubuhnya penuh dengan tulisan aneh seperti itu? Apa kau sudah mengetahuinya?"


"Ya, mungkin..." aku mengangguk. "Apakah ini karena kutukan itu?"


"Bukankah pertanyaan ku sudah jelas, mengapa kau membunuhnya! Bagaimana caranya kita membongkar trik mengerikan dibalik buku-buku kutukan miliknya?"


Matanya menatapku tajam. "Aku tidak berniat untuk melakukan itu," jawabnya santai. "Tapi…"


"Apa? Kau sudah menyiapkan seorang penembak jitu disini, kemudian kau masih mengatakan tidak berniat untuk membunuhnya?"


"Itu semua karena kau sendiri, seandainya saja kau tidak datang kemari… pasti semuanya sesuai dengan yang sudah kurencanakan. Dan aku tidak akan membunuhnya."


"Jadi begitu." Aku kemudian duduk dihadapannya. "Kalau begitu kau sudah memperkirakan kalau aku akan datang kemari."

__ADS_1


"Ya, bahkan Riko," tegasnya.


"Sejak kapan kau tahu aku sudah dalam pengaruhnya?"


"Sejak pertama kali bertemu! Ya, tepatnya saat membaca catatan wanita panti asuhan itu."


"Apa?"


"Baiklah, agar suasana sedikit lebih tenang… aku akan meluruskan isi kepala mu terlebih dahulu."


Aku hanya diam berusaha memahami kata-katanya.


"Sepertinya, kau berpikir kalau Riko sudah mati bukan?"


"Apa maksudmu?"


"Riko masih hidup. Tembakan yang keluar sebelum kau pingsan itu hanya tembakan kosong. Aku sudah bertaruh kalau itu akan terjadi."


"Sejak kapan? Aku ingat sekali dia mengatakan kalau pelurunya sama sekali belum digunakan."


"Tentu, itu karena Riko memang tidak pernah memakai peluru itu. Aparat keamanan seperti kalian tidak akan pernah menggunakannya, senjata itu hanya menjadi perhiasan yang kalian bawa kemana-mana," Nanda diam sejenak. "Aku yakin kau melihatnya ditahan saat memenuhi panggilan pak Bisco." Seketika ingatan di gerbang divisi khusus muncul di kepalaku. "Saat itulah aku menyuruh bawahan ku yang berjaga untuk menyisakan satu peluru didalamnya."


"Kalau kau tahu itu akan terjadi, mengapa kau masih menyisakan satu peluru didalamnya. Bagaimana kalau seandainya Jara menembakkan peluru itu langsung kepalanya!"

__ADS_1


"Disitulah letak taruhannya!" Nanda menghela nafas sebelum melanjutkan. "Hanya untuk berjaga-jaga. Sebenarnya, aku sama sekali tidak menduga kalau Riko juga dalam pengaruh kutukannya."


__ADS_2