
Setelah kami memeriksa TKP salah satu korban Jara di pusat kota. Terdapat petunjuk penting dari pemeriksaan tersebut. Walaupun masih sekedar dugaan, tetapi kami akan memastikan dugaan itu benar, bahwa Jara dapat melakukan pembunuhan melalui catatan neraka ini sebab dia melakukan kontrak dengan makhluk astral. Benar kami meyakini pasti dia melakukan sebuah ritual dengan iblis.
Nanda mengatakan dia memiliki seorang teman yang sangat paham mengenai dunia Gaib. Sebelum melanjutkan investigasi kasus ini, terlebih dahulu kami harus memahami dengan akurat, bagaimana pola-pola setiap centimeter yang dilakukan oleh Jara. Tentu agar kejadian yang sama tidak terjadi lagi. Aku meneguhkan dalam hati, kematian Andi adalah yang terakhir.
“Siapa dia?’’ Aku berkata pada Nanda yang fokus menatap jalan.
“Maksudmu, yang akan kita temui?’’
“Ya, bukannya kau katakan tadi dia adalah temanmu!’’
Nanda mengangguk. “Namanya Andre, Aku mengenalnya saat memecahkan kasus pembunuhan Zodiak, Apa kau tahu kasus itu?’’
“Ya, aku pernah mendengarnya, pembunuhan 12 orang anak perempuan di bandung itu, ya? Sebenarnya, diam-diam aku mengikuti kasus tersebut.’’ Aku menjawab dengan lugas.
“Oh ya! Kasus itu sangat rumit, tetapi tidak sampai serumit ini.” Paparnya menatapku dengan serius.
"Oh ya?"
"Tentu, Kasus Zodiak itu kasus murni perbuatan manusia, tanpa campur tangan setan."
Kasus pembunuhan Zodiak yang terjadi di Bandung adalah sebuah kasus pembunuhan yang sangat unik. Sesuai dengan namanya, Zodiak.
Zodiak memiliki Tiga Belas bintang, walaupun Ophiucus, bintang terakhir yang tidak masuk kedalam daftar. Karena Bintang ketiga belas ini tidak dianggap, sehingga sekarang menjadi Dua Belas Bintang yang sangat dikenal khalayak umum. Beberapa orang meyakini bahwa setiap bintang memiliki keistimewaan masing-masing dan setiap bintang memiliki tanggal yang mereka sebut Zodiak tropikal.
Sejujurnya aku menganggap mereka yang percaya hal seperti itu adalah orang yang aneh. Tapi tidak bisa di pungkiri sangat banyak ilmuwan yang mendalami nya.
Kasus tersebut bisa terpecahkan hampir Enam bulan masa penyelidikan. Saat itu kepolisian mendapat laporan 12 anak perempuan hilang diculik. Tepat pada tanggal 17 Desember semua anak perempuan itu ditemukan membusuk di sebuah gudang.
Mereka ditemukan setelah polisi mendapat surat dari seseorang yang tidak di ketahui. Isi surat tersebut adalah kode-kode dan simbol-simbol aneh berbahasa Yunani. Setelah polisi berhasil memecahkan pesan tersebut, barulah ditemukan jasad mereka.
Setiap korban memiliki lambang Zodiak masing-masing. Dimulai dari Aries sampai bintang terakhir yaitu Pisces.
Tanggal kelahiran Dua Belas Anak perempuan yang terbunuh sesuai dengan Dua Belas bintang Zodiak mereka. Dan mereka ditemukan tepat pada tanggal Zodiak Ophiucus, Bintang Zodiak yang tidak di anggap. Tepat pada tanggal 17 Desember.
“Apakah Temanmu yang bernama Andre itu, yang memecahkan simbol-simbol tersebut?’’
“Ya.’’ Nanda mengangguk.
“Aku dengar simbol-simbol itu sangat sukar dipahami, Bagaimana dia melakukannya?”
“Entahlah.. Dia sungguh menakjubkan, bahkan dia memecahkannya hanya beberapa jam. Padahal sebelumnya kepolisian sudah membawa surat tersebut kepada ahli simbol, termasuk ahli bahasa. Mereka tidak mampu memecahkannya.” Nanda memuji temannya tersebut.
Aku kembali diam sambil memandang keluar jendela dengan dagu bersandar pada tangan. Saat ini hari masih terang membuat langit yang biru begitu indah dipandang. Bagaimana mungkin seseorang bisa diramal hanya melihat bintang. Aneh.
“Apa yang kau lihat?’’ Nanda berujar pelan.
Aku menoleh kerahnya. “Tidak ada, aku hanya mencoba melihat bintang di siang hari apakah ada?’’
“Apakah kau memikirkan Zodiak itu.”
__ADS_1
“Hahaha…, tidak, Mana mungkin aku percaya hal seperti itu.” Ketus ku tertawa.
“Lalu, seandainya kau yang menangani kasus Zodiak tersebut, apa kau bisa memecahkan simbolnya?’’
“Entahlah… Mungkin saja.”
“Oh, se percaya diri itu ya!’’ Nanda tersenyum sambil memperhatikan jalan.
“Lalu, dimana temanmu itu tinggal?’’ Aku bertanya.
“Jakarta Utara, di Kelapa Gading.” Jawabnya.
Aku melihat jam yang menempel di tanganku sudah menunjukkan pukul 14.40 WIB. Seharusnya jarak yang kami tempuh dari Jakarta Pusat menuju Kelapa Gading hanya memakan Delapan Belas menit. Akan tetapi kelebihan kota besar ini datang. Sehingga memakan waktu hampir Tiga puluh menit.
Setelah melewati jalanan macet, Nanda mendadak berhenti didepan sebuah bangunan.
“Apa ini?” Aku bertanya.
“Restoran China. Ayo kita makan.”
Saat kami makan, tidak banyak yang kami bicarakan. Kami berdua sama-sama hanyut dalam pikiran. Aku berusaha membayangkan bagaimana Andi bisa menjadi korban. Sejak kami pulang dari taman, untuk memeriksa salah satu korban Jara itu. Aku tidak merasakan ada seseorang mengikuti kami.
Kepalaku kembali mengingat orang-orang yang ikut membantu Andi membawa Korban tersebut. Sayangnya, kemarin aku tidak menduga Jara akan disana. Tentu… Jara adalah salah satu yang membantu Andi saat itu.
Kepalaku saat itu sangat pusing setelah melihat teman dari keponakan pak Yandri itu terkapar di tanah, bayangan orang-orang itu selalu terpatri di benakku. Setelah dia menyebut nama Jara seharusnya aku menyadarinya.
Tidak masalah. Kepentinganku sekarang adalah menemukan informasi yang sebanyak-banyaknya. Kejadian yang terjadi kemarin di taman adalah salah satu informasi yang penting. Ternyata Jara akan turun tangan untuk membuat strategi pembunuhan. Dia harus membutuhkan darah untuk melakukannya.
Beberapa hari ke depan dia akan mencari korban untuk memancingku kembali. Aku bergumam dalam hati.
Pasti saat kami memeriksa korban itu. Dia akan memantau kami disana.
***
Entah apa yang ada dalam pikiran Nanda.
Ketika kami akhirnya sampai di alamat Andre di Kelapa Gading, Nanda kebingungan. “Ini adalah perumahan Hoki Garden… dan itu… tetapi ada yang salah.” Ucapnya.
“Oi, apa maksudmu? Jangan bilang kau sebenarnya tidak tahu rumahnya.” Ketus ku sedikit jengkel.
“Tentu saja aku tahu.” Jawabnya menatapku. “Terakhir kali kami bertemu dua tahun yang lalu, saat menangani kasus zodiak itu.”
“Apa kau tidak punya nomor kontaknya?’’
“Aku agen rahasia, hampir setiap hari aku ganti kontak!” Bentaknya.
Aku mendengus pongah melihatnya meraba-raba jalan.
Kami melanjutkan langkah menuju kompleks apartemen di ujung jalan. Di Lantai dasar terdapat bar bernama Talang. Tak punya banyak pilihan, kami menaiki tangga sempit ke lantai dua tempat apartemen berada. Bangunan ini bukan yang paling bersih atau paling baru. Kami meneliti kotak-kotak surat di koridor; tidak ada yang bernama Andre.
__ADS_1
Nanda mulai terlihat frustasi, tetapi dengan segera dia mengumpulkan ketenangannya yang biasa saat mengetuk pintu terdekat. Tidak ada jawaban, jadi dia mencoba pintu berikutnya. Lagi-lagi tidak ada jawaban.
“Ini tidak bagus,’’ Katanya. “Mereka mungkin mengira kita peminta-minta sumbangan dari pintu ke pintu. Kita coba pintu di ujung lorong ini.”
Taktik itu berhasil. Saat kami mengetuk pintu terjauh, seorang wanita tua gemuk membukanya.
“Permisi, Nyonya, Kami bukan peminta sumbangan. Saya hanya ingin tahu apakah nyonya bisa menolong kami.” Nanda bertanya, menampilkan sikap terbaiknya. “Kami sedang mencari seorang pria bernama Andre. Apakah dia tinggal di gedung apartemen ini?’’
“Andre? Coba saya ingat dahulu… Oh, ya, dukun itu. Saya ingat dia. Dia sudah lama sekali pindah.”
“Dukun!” Aku menjerit dalam hati.
Nanda berbalik menghadap ku, seolah-olah dia sudah menduganya.
“Oh, benarkah? Apakah Anda tahu kemana dia pindah?’’ Nanda bertanya dengan sopan.
“Saya tidak tahu. Mengapa Anda tidak menanyakannya kepada manajer di bawah? Namanya Rusdi, tapi mungkin dia sedang keluar sekarang." Perempuan tua ini diam sejenak memperhatikanku. "Apakah kalian ada kaitannya dengan polisi?”
Nanda mengangguk.
“Kalau anda mau? Saya bisa memberi nomor kontak Pak Rusdi.” Jawab perempuan tua ini.
“Saya sangat berterima kasih sekali, kalau Anda memberikannya.” Ujar Nanda tersenyum.
Setelah kami mendapat nomor kontaknya dari perempuan tua itu. Kami kembali ke bawah menyusuri jalan yang sempit kembali ke lokasi mobil miliknya di parkiran.
“Apa kau ingin menghubunginya?’’ Nanda memberikan nomor ponsel yang dicatatnya tadi.
“Kenapa?’’ Aku bertanya penasaran.
“Aku tidak punya ponsel.’’ Ujarnya.
Aku mengambil kertas dari tangannya.
Aku melangkah ke mobil miliknya mengambil ponsel yang ku tinggal. Aku melihat panggilan tidak terjawab dari komandan.
“Nanda! Komandan meneleponku.’’ Aku berteriak padanya.
“Lalu…”
Aku mengurungkan menelpon Pak Rusdi– Manajer apartemen.
“Halo, Komandan!”
“Kamu dimana?’’
“Saya sedang menyelidiki lokasi Jara. Pak Bisco memerintahkannya.” Jawabku dari telepon.
“Cepat ke Rumah sakit sekarang!” Bentak nya keras.
__ADS_1
“Ada apa, Komandan?’’
“Hana!’’ Ucapnya dengan suara sedikit bergetar.