
Benar seharusnya kemarin aku tidak pergi memeriksa teman dari keponakan pak Yandri itu. Tapi aku merasa ada sebuah dorongan yang kuat dari benak terdalam pada diriku, sebuah dorongan yang meminta agar memeriksa secepatnya, aku menduga pasti kecelakaan itu terkait dengan Jara. Dan benar saja setelah kami pergi menemuinya. Aku dan Andi menyadari sesuatu.
Satu hari yang lalu… setelah rapat bersama di kantor…
Setelah selesai rapat dengan komandan Kami berempat diperintahkan untuk kembali ke ruangan masing-masing.
Setelah selesai rapat aku memutuskan kembali pulang kerumah tidak kembali ke ruangan yang sumpek itu. Aku berencana mendiskusikan catatan neraka dengan Nayla, supaya dia tidak begitu sadar bahwa aku curiga padanya. Namun langkah ku terhenti ketika melewati cafe favorit ku. Aku duduk sebentar untuk merefresh kepala dengan menikmati secangkir kopi hangat dan musik santai yang nyaman di telinga.
Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang sangkut di benakku lalu aku meminta Andi yang masih di kantor mendatangiku. Aku ingin memastikan rencana yang baru saja kupikirkan.
Tak beberapa lama menunggu akhirnya dia sampai lalu memesan minuman favoritnya.
“Apa yang sebenarnya ingin anda lakukan, senior?'' Ucap nya duduk di depan ku.
Aku melirik jam yang melekat cantik di pergelangan tangannya. Jam masih menunjukkan pukul 16:05 WIB. “Andi, entah mengapa, aku ingin sekali memastikan kecelakaan yang menimpa keluarga pak Yandri itu!’’
“Apa senior merasa itu benar-benar terkait?’’ paparnya memastikan.
“Ya.’’ Aku mengangguk.
“Bukankah komandan meminta untuk memeriksanya besok saja setelah siaran yang senior lakukan,'’ tegasnya.
“Tapi instingku dari tadi terus mendorongku untuk memeriksanya segera, aku tidak tahu mengapa?’’
“Huhhh..’’ dia mendengus resah. “Baiklah, kalau senior yang memintanya. Aku tidak akan menolak!’’ jawabnya penuh semangat.
Aku mengangguk berterima kasih.
“Lalu apa yang akan kita lakukan?’’
“Kalau begitu dengarkan dengan baik!’’ Aku menjelaskan padanya semua rencana yang telah kupikirkan, tentu dia sangat memahami semuanya. Andi adalah seorang informan yang sangat berkualitas, cerdas lagi bijak karena itulah dia dipanggil komandan bergabung dengan pasukan tim khusus kepolisian Jakarta.
Aku mengambil ponsel dari saku lalu menghubungi pak Yandri untuk meminta alamat dari teman keponakannya itu. Hanya sebentar saja kami bisa mendapatkan lokasinya yang tak jauh dari tempat kami minum. Butuh beberapa menit saja untuk kesana dengan mobil.
__ADS_1
Keponakan pak yandri dan temannya sama-sama kuliah di Bandung, mereka adalah sahabat karib. Aku bisa merasakan bagaimana sesaknya apabila sahabat dekat mati tepat di samping kita. pasti trauma yang berkepanjangan akan menimpa dan menggerogoti mental dan jiwanya.
Dengan kelihaian mencari informasi yang dimiliki Andi akhirnya kami menemuinya di sebuah taman yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Saat ini dia tinggal bersama neneknya. Kedua orang tuanya sudah lama bercerai. Kedua orang tuanya tidak ada yang ingin bertanggung jawab menanggung hidupnya sehingga neneknya lah yang menanggung semua keperluannya.
Kami berdua melihatnya duduk sendiri di bangku taman menikmati suasana sore hari yang sangat indah. Cahaya matahari sudah menguning menyorot bumi dari arah barat. Angin sepoi-sepoi berhembus pelan membuat nyaman semua orang yang berada taman.
Sepertinya kecelakaan yang menimpanya itu tidak terlalu parah, terlihat dari fisiknya semuanya dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada luka yang besar terlihat padanya. Mungkin hanya luka didalam dirinyalah yang sangat parah. Rona itu sangat jelas terlihat di wajahnya.
Aku menjulurkan tangan padanya. Dia hanya mendongak menatapku dan Andi yang berada di sampingku.
“Kalian siapa?’’ Tanyanya lirih.
Aku duduk disampingnya lalu menceritakan semuanya termasuk bahwa kami dari kepolisian yang hanya ingin menanyakan perihal kecelakaan yang menimpanya. Aku juga sempat menanyakan padanya apakah mereka bertemu dengan pesulap sesuai dengan catatan ibu panti itu. Namun dia hanya diam merengek tidak sanggup menjawab.
Melihat itu aku merasa dia masih syok dan trauma. Jadi kami meninggalkannya sendiri dan kembali pulang dengan tangan hampa, tidak membawa informasi apapun darinya.
Tapi…
Baru beberapa langkah kaki kami menjauh darinya, tiba-tiba dia berteriak mengatakan sesuatu yang membuat kami berdua terkejut.
Spontan aku dan Andi membalik badan melihatnya yang sudah berdiri tegak tepat di belakang kami.
Hanya hitungan detik sebilah pisau dapur ada di tangan kanannya. Pisau yang datang entah dari mana, melesat cepat menusuk ke batang lehernya. Orang-orang di sekitar taman yang melihat berteriak kencang dan ketakutan. Dia menusukkan pisau itu berkali-kali ke lehernya.
Tubuhnya menggigil terkokol-kokol, dari mulutnya muncrat darah hitam yang menyebar keseluruhan tubuh. Kakinya yang kokoh berdiri sejak tadi seketika tumbang berlutut. Gadis itu kembali mencabut paksa pisau yang tersangkut dilehernya. Tanpa ragu gadis itu menusuknya berulang-ulang kali.
Sebelum dia benar-benar tumbang aku melihat dia tersenyum padaku. Giginya yang bersih itu terlihat merah kehitaman seketika.
Melihat itu Andi bergegas berlari cepat menolongnya. Akan tetapi semua itu sia-sia.
Aku hanya berdiam beku, kedua kakiku terasa menancap di permukaan tanah. Aku tidak bisa bergerak. Tubuhku bergetar begitu kencang saat benar-benar melihat tubuhnya yang bermandikan darah itu tumbang tertelungkup di tanah. Gadis itu tewas bermandikan darah dengan mata terbuka.
Andi melihat ku yang berdiri menggeletar tak berkutik, sungguh kejadian yang kembali terulang. Dua kali aku menyaksikan kejadian seperti ini tepat di kedua mataku.
__ADS_1
***
Beberapa saat setelahnya, Ambulance datang membawanya kerumah sakit. Polisi setempat datang menanyakan beberapa hal. Andi telah mengurus semuanya.
Setelah semua itu selesai kami pun kembali pulang. Kepalaku tidak bisa memikirkan apa-apa lagi. Kami tidak menemukan catatan neraka darinya, tidak seperti ibu Kirana, gadis itu tidak meninggalkan catatan sebelum kematiannya. Lalu mengapa ibu Kirana ada? Dia tidak?Pertanyaan seperti itu terus muncul di kepalaku.
Itu tidak penting lagi. Yang jelas mereka berdua pasti pernah bertemu jara di suatu tempat sebelum kecelakaan menimpa mereka. Besok kami harus memastikannya.
“Senior, Aku akan melapor kepada komandan perihal kejadian ini.” Sahut Andi saat mengantarku pulang kerumah.
“Baiklah, semuanya kuserahkan padamu. Tubuh ini ingin istirahat! Kita akan melanjutkannya besok.’’ Jelas ku padanya.
Andi mengangguk pelan.
“Lalu bagaimana caramu pulang?’’ tanyaku melihat tubuhnya bersimbah darah.
“Aku akan memesan ojek online saja,’’ imbuhnya memberikan kunci mobilku.
“Baik, jangan lupa tugasmu besok.’’
“SIAP SENIOR!’’
Setelah itu aku meninggalkannya masuk ke rumah, kepalaku terasa ingin hancur setelah melihat kejadian itu. Aku berjalan tersendat-sendat seperti orang yang mabuk berat. Tubuhku sempoyongan melayang membuka pintu.
Beberapa langkah masuk aku melihat Nayla membaca buku di depan TV yang menyala.
“Adakah cerita menarik hari ini?’’ sambutnya menatapku.
“Tidak ada, pinggangku sungguh sakit hari ini.'' Aku melangkah memegang pinggang membuatnya tertawa.
“Apakah kau sudah setua itu?’’
Aku tidak memperdulikannya dan pergi masuk kedalam kamar meninggalkanya.
__ADS_1
Apa maksudnya menanyakan cerita menarik hari ini? Apakah itu ada kaitannya? Gumamku dalam hati.
Kepalaku tidak sanggup menimbangnya lagi. Aku menghempaskan tubuh ke kasur, tanpa sadar mataku terpejam pulas.