
Percakapan dengan Komandan di telpon membuatku menjatuhkan air mata. Aku tidak tahu mengapa? Apakah karena membaca kondisi yang terjadi pada catatan neraka milik Amelia atau karena putus asa.
Aku mencoba kembali menelpon Nanda. “Apa yang sebenarnya yang dilakukan si brengsek ini!” Aku menggenggam keras ponsel, ingin sekali aku meretakkan nya.
Aku menghapus bekas benih air mata yang jatuh di pipi dan melangkahkan kaki ke dalam cafe. Hana benar mengenai satu hal: Aku terlalu percaya diri dalam menangani masalah ini.
Seorang waiters– gadis muda berjalan membawa menu menghampiriku, “Selamat datang.” ucap gadis ini tersenyum saat menyerahkan secarik kertas dan menu yang dibawanya. “Maaf, saya lupa membawa alat tulis. Saya akan kembali, mohon maaf sekali lagi.” Dia berbalik badan ingin ke meja kasir.
“Tidak perlu, saya hanya memesan Lemon squash.” Kata ku membuat langkahnya berhenti.
“Cemilannya?’’
“Oh, ini saja.. pisang bakar keju susu.” Aku menunjuk salah satu gambar pada menu.
“Baik. Kalau ada yang ingin dipesan lagi, silahkan panggil saja lagi.” Gadis ini beranjak pergi ke dapur setelah mengucapkan terima kasih.
Aku menghembuskan nafas kemudian menghempaskan punggung yang terasa nyeri pada kursi. dan menengadah melihat langit-langit ruangan. Lampu-lampu kuning menerangi ruangan yang tak begitu lebar. Cafe ini didesain sangat menarik, aku merasa sedang berada di dalam gerbong kereta. tempat duduknya disusun memanjang satu arah ke depan dan di bagi menjadi dua bagian, kanan dan kiri. Persis saat di dalam kereta, orang-orang hanya bisa berjalan pada bagian tengahnya saja.
Aku menyantap pesanan yang baru saja diantarkan gadis itu hanya beberapa menit saja. Hanya satu yang terpikirkan di benakku. Menulis catatan neraka milik Amelia lalu mengcopy nya. Itu pasti akan memudahkan penyelidikan kami ke depan. Beberapa menit berlalu, aku selesai menghabiskan sajian yang kupesan.
Aku melirik Jam di pergelangan tangan. Sudah pukul Empat sore lebih, orang-orang mulai berdatangan. Saat ini cafe tidak begitu ramai hanya empat orang di meja lain di tambah satu keluarga yang duduk di depanku. Pasangan yang duduk di depanku memiliki anak sekitar berusia 2 tahun yang berbalik badan menghadap ku, ia berdiri di pangkuan ibunya. Aku mencoba menganggangunya dengan senyuman, bayi itu hanya meremas bagian bahu baju ibunya. Sedangkan dua pelanggan lain yang duduk di bagian kanan ruangan sedang santai bercakap-cakap, sesekali tertawa.
Aku berbalik melihat ke belakang, Enam meja di belakangku kosong belum terisi, ternyata hanya kami yang duduk di bagian kiri ruangan. Segera aku mengeluarkan buku milik Amelia serta bolpoin lalu mencatatnya.
Aku tiba-tiba dikagetkan oleh suara wanita yang berbisik pelan dari meja belakang. Aku meletakkan bolpoin kemudian perlahan aku memutar kepala untuk melihatnya, namun terhenti saat ia berkata. “Aku tahu kau tidak ingin membunuh wanita yang sedang duduk di depanmu.”
“Jadi, fokus lihat ke depan! Sedikit saja kau memutar kepalamu itu, bayi belia yang imut itu akan kehilangan ibunya. Kau tahu maksudku, sekali kau menoleh… itu akan membunuhnya.” Kata-katanya itu membuatku kembali menghadap depan.
“Kau siapa?’’
“Aku tidak memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaan itu!” Jawabnya spontan.
“Hah, apa yang membuatmu begitu yakin kalau aku tidak akan berbalik kemudian menangkap mu!”
__ADS_1
“Misya, Kau tahu, satu-satunya kesempatan untuk menangkap ku adalah saat ini. Inilah momen yang tepat… Jadi apa yang akan kau lakukan? Kau akan berbalik lalu mengejar ku, begitu…? Tapi Misya, keberuntungan mu saat ini hanya akan merugikan bayi itu!” Suara wanita itu menghilang sejenak. ''Hei Misya, Lihat ke depan! Bayi itu akan kehilangan ibunya selamanya… Kalau memang begitu? berbalik lah, kemudian tangkap aku!”
Aku mengepal kedua tangan di atas meja lalu menghentakkan nya begitu keras. Ibu dari bayi itu tampak terkejut berbalik kebelakang melihatku. “Maaf, saya terbawa suasana melihat Poto pacar selingkuh.” Aku mengangguk pada ibu dari bayi itu.
Dia mencabut garpu yang melekat pada bibirnya kemudian tersenyum tak berkata.
“Mbak, apa aku mengganggu anda?” Lanjut Ku bertanya.
“Tidak kok. Yang sabar ya!” Jawabnya lalu kembali menghadap ke depan melanjutkan pembicaraan dengan suaminya.
“Ow, kau sudah tahu kelemahan dari sihir ku ya? Kalau kau berpikir dengan mengubah situasi akan membatalkan ritual ini, kau salah besar. Apa kau kira aku tidak menyiapkan semuanya? Yang benar saja… Aku tidak sebodoh itu sampai datang jauh-jauh kemari.” Dia memelankan suaranya, lalu melanjutkan. “Tapi tidak ada salahnya mencoba! Berbalik, Dem!! Garpu itu akan tertancap pada lehernya. Hahh.”
Aku menelan ludah berusaha menghilangkan bayang-bayangan yang akan terjadi. “Apa mau mu? Apa kau datang untuk membunuhku?’’
“Tidak, tidak… aku tidak menginginkan itu, permainan ini sangat seru. Aku masih ingin menikmatinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan?’’
“Buku Amelia, kembalikan padaku!”
“Aku tidak memiliki kewajiban untuk menjawab itu!”
“Ternyata begitu… Apakah ada yang menggerogoti perahu dari dalam?’’
“Serahkan buku itu! Atau aku aka…”
“Hei,hei sabar… aku masih ingin berbincang denganmu.” Aku memotong kalimatnya.
“Misya, aku ingatkan kau sekali lagi! Aku datang kemari tidak berwisata atau menikmati keindahan pulau ini, Jadi, aku beri waktu satu menit untukmu, atau aku akan membunuh semua orang yang berada disini.”
“Hahaha…bagaimana bisa? Sejak kapan kau mengambil darah mereka?’’ Aku tertawa mencoba memancing emosinya.
“Pelayan yang berdiri disana, lalu bosnya itu. Menurutmu mengapa tidak datang kemari menawarkan menu?’’
__ADS_1
Aku melirik dengan cepat ke sudut depan sana. Benar mengapa mereka dari tadi tidak kemari? “Oke, sebelum kau pergi, apa yang akan terjadi kalau mereka beranjak terlebih dahulu daripada aku?”
“Aku akan menulis catatan baru sesuai dengan keinginanmu, wanita itu akan membunuh suaminya! Cepat letakkan buku itu di lantai.”
Apa yang terjadi dengan orang-orang di cafe ini? Kenapa semua orang tidak mendengar perselisihan kami? Atau yang dikatakannya memang benar? Kegaduhan mulai terjadi di kepalaku. Hanya satu yang terpikirkan sidik jari.
“Baiklah…” Aku meletakkan buku Amelia sesuai dengan permintaannya. Mataku perlahan melirik tangannya mengambil buku itu. Aku menghela nafas panjang. Dia memakai sarung tangan.
“Hei, apa kau akan langsung pergi?’’
“Apa yang terjadi pada Angga? Apa kalian sudah menangkapnya? Aku tidak melihat kabar berita tentangnya?” Sanggah wanita misterius itu tidak menanggapi pertanyaanku.
“Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu itu?’’
“Oke… Kau tak perlu menjawabnya. Bisa aku simpulkan dia sudah mati ya? Kalau begitu, kau pasti sudah menemukan catatannya kan? Aku tidak menyangka perkiraan ku itu akan meleset. Misya, mengapa bukan kau yang menangkap pria itu? Padahal aku sudah merakit sedemikian rupa pada video Selebgram bernama Anggita itu, mengapa?’’
“Aku tidak akan terpancing dengan trik bodoh seperti itu.”
“Hahaha, baiklah, kalau memang seperti itu. Karena kau sudah menangkap pria itu…Seharusnya kau sudah tahu rahasia penting dari sihir ini.” Dia diam sejenak kemudian berkata spontan. “Catatan ini harus dekat dengan si korban.”
Dia sengaja mengatakan itu, brengsek! Aku bercakap dalam hati.
“Tubuhmu sepertinya tadi bergetar sedikit, Misya, apa yang terjadi?’’ Ucapnya. Nada suaranya terdengar merendahkan.
Aku hanya diam memikirkan apa yang harus kulakukan, pasti dia akan pergi setelah mengatakan kalimat penutupnya. Aku mengepal tangan karena bisa menebak apa yang akan dilakukannya.
“Kalau begitu, sampai sini pertemuan kita kali ini. Kalau kau ingin tahu jawaban dari pertanyaanmu tadi. C-E-P-A-T-T-A-N-G-K-A-P-A-K-U.” Bisiknya dengan kata yang dipisah-pisah.
Aku mendengar suara kursi yang beradu satu sama lain, pasti dia sudah berdiri.
“Aku tahu kau sudah mengetahui apa yang sebenarnya ingin kulakukan kan? Tentu saja, tapi akan tetap kulakukan. Aku akan meninggalkan catatan wanita itu di belakangmu. Sekali kau menoleh kebelakang. Akan terjadi keributan disini. Jadi, tunggu mereka sampai pulang atau kau bisa mengusir mereka sekarang! Kalau begitu, Sampai bertemu lagi. BYE…”
___
__ADS_1
TINGGALKAN, LIKE, VOTE DAN KOMENTAR YA TEMAN-TEMAN!