
...DILEMA...
Mendengar pernyataan Hana. Sontak tubuhku tanpa sadar berdiri mendapati nya.
“Apakah kau melihat ibu jari nya terluka?'' Kata-kata ku terbata-bata panik.
“Aku tak tahu persis, kami menduga tulisan itu memakai darah... Mungkin saja itu dari tangannya, untuk lebih pastinya Riko dan Surya yang mengetahuinya.”
“Senior, ada apa? Apakah anda menemukan petunjuk?” Sambut Andi yang dari tadi diam.
‘’Ya...’’
“Saya tak ingin kasus ini di kait-kaitkan dengan hal-hal yang ada di kepalamu itu!’’ Komandan memotong pembicaraan sebelum aku sempat menjelaskan. Matanya spontan terbelalak.
“Komandan! Aku bahkan belum menjelaskan,’’ suaraku sedikit meninggi.
“Kamu itu polisi, bukan dukun atau paranormal. Lebih baik pakai kepalamu itu memecahkan teka-teki yang tertulis disini. Kasus pembunuhan-pembunuhan seperti ini sudah sering kita tangani. Jadi berhenti untuk mengaitkannya dengan ilmu gaib, catatan atau apalah itu,’’ ucap komandan gusar.
Mendengar jawaban itu membuat teori-teori di kepalaku buyar terurai bersama hembusan nafas yang menggebu sejak tadi.
“Komandan, Apakah pembahasan kita lanjutkan? Apa tidak sebaiknya kita menunggu Riko dan Surya terlebih dahulu. Agar laporan tim kami benar sempurna.’’ Hana mengangkat tangan kanannya mencoba memperbaiki keadaan.
"Baiklah, kalau begitu rapat kita tunda sebentar," lanjut komandan, "Andi, pergi copy catatan ini!’’
“Aku sudah mengcopy catatan itu komandan, tapi percuma.’’
“Percuma?" Gumam komandan. Kata-kataku tersebut sepertinya membuat suasana hatinya semakin buruk. Terlihat wajahnya ingin memarahiku.
Aku mendengus tidak peduli. “Ya, kertas itu tidak bisa dicopy! Hasilnya kertas kosong, maksudku tulisannya hilang.’’
“Sudahlah Misya, simpanlah cerita gaibmu itu, paling tidak sampai mereka datang," balas komandan sambil memaksakan senyum. "Andi cepat copy catatan ini ke ruangan C!’’
“Siap komandan.’’ Andi berdiri perlahan dari kursinya.
“Andi, kuharap kau tidak merusaknya, hanya itu barang bukti yang kita miliki,’’ ucapku sedikit jengkel.
“Baik senior.’’ Tuturnya kemudian meninggalkan kami di ruangan. Aku memainkan pena diantara jari-jari ku. Sesekali menatap komandan dan Hana yang terdiam di kursinya. Aku tahu pikiran mereka sedang kalang kabut. Tapi, mereka mencoba untuk terlihat tenang. Aku menjamin sifat itu akan sirna setelah melihat fakta yang dibawa Andi. Pasti.
Namun, kata-kata komandan sebenarnya juga melekit di hati. Kata-katanya membuat jiwa ku terasa hampa dan larut bersama hembusan angin di ruangan 110 m² ini. Sesekali mataku melirik ke arah lambang negara dan foto presiden yang terlihat gagah menempel di tembok ruangan.
Ucapannya memang ada benarnya. Bagaimana bisa aku memikirkan teori sebodoh itu tanpa menganalisis dan mengusut sesuai konsep yang sudah aku pelajari selama ini. Tapi, teori dan analisis itu sama sekali tidak bisa menjelaskan keadaan ini. Apa mungkin ada petunjuk yang terlewatkan?
Mungkin ia benar… Pasti, aku melewatkan sesuatu? Aku menempelkan kepala pada meja dan berpikir. Betapa bodoh dan naifnya diriku ini. Sungguh hati dan pikiranku gelagapan. Aku merasa tenggelam dalam kubangan air tanpa dasar.
“Misya, kamu saya rekrut dalam kasus ini karna kejelian mu dalam mengeksekusi sesuatu bahkan yang rumit sekalipun. Pikiranmu yang tajam itu lah yang membuat kamu menjadi lulusan terbaik. Saya tidak tahu hal seperti ini bisa mengecoh pemikiran cemerlang mu itu. Jadi, saya harap kamu kembali menjadi Misya yang kami kenal.’’ Pinta komandan. Tatapannya itu seolah memandang betapa menyedihkannya diriku.
Aku mengangguk menanggapi pujian atau celaan yang baru saja dikatakannya. Aku tak tahu.
Mungkin ia benar. Sebelumnya ada beberapa kasus pembunuhan yang sudah kujalani, semuanya terpecahkan dengan kepala kecilku ini. Kasus pembunuhan tingkat S yang sudah hampir sebulan tidak terpecahkan kepolisian. Namun, bagiku hanya butuh dua hari saja untuk membongkarnya. Ya benar sejak hari itu aku mendapat julukan Sherlock Holmes lokal.
__ADS_1
Aku tiba-tiba teringat saat menangani kasus 10 bulan yang lalu. Kala itu tersebar berita hilangnya tujuh anak di ibukota, Semua korbannya laki-laki. Tentu untuk memuaskan keinginannya… lalu begitu puas
dia membunuhnya.
Pelaku penculikan yang tidak diketahui identitasnya tersebut membuat warga takut. Sungguh peristiwa yang mengerikan. Namun, bagiku yang sudah lama bergelut di dunia kriminal. Pembunuhan seperti itu bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Bahkan aku merasa memang seperti itulah sifat asli manusia yaitu menindas mereka yang lemah.
Sudah hampir sebulan polisi kesulitan mencari pelakunya. Hanya karena tidak menemukan satupun petunjuk. Untukku itu bukan permasalahan. Bahkan sebelum aku dipanggil untuk mengungkapnya. Justru, aku sudah mendapatkan petunjuknya. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan kepolisian sampai tidak melihat petunjuk yang begitu jelas.
Petunjuk itu aku dapat dari surat kabar yang kubeli dari seorang anak perempuan di lampu merah.
Surat kabar itu memberitakan anak-anak yang menjadi korban dan pekerjaan orang tuanya, melihat itu membuatku menyadari sesuatu.
Korban pertama adalah anak dari seorang pembuat jam, kedua pembuat topi, ketiga pembuat perhiasan, keempat penjaga kredit mobil, kelima penjahit, keenam walaupun pekerjaan orang tuanya tidak diterangkan tetapi bocah itu bekerja sebagai pengantar pesan.
Sambil menyeruput kopi di cafe favorit wajahku tersenyum lebar saat membacanya. Bagaimana tidak? Bisa-bisanya mereka tidak menyadari titik yang akan mengantarkan siapa saja pada pelakunya. Sungguh sangat mengagumkan.
Kemudian tak beberapa lama setelahnya aku menelpon Riko partner dekatku. Akhirnya dia datang.
“Ada apa? Tidak biasanya kau memanggilku.’’ ucap Riko ketika baru sampai.
"Silahkan pesan dahulu! Ada sesuatu yang ingin aku bahas denganmu."
Riko memesan Cappucino panas lalu duduk di depanku.
“Lihat ini! apa kau sudah tahu?’’ Aku melemparkan surat kabar itu dihadapannya.
“Berita ini, ya aku sudah mengetahuinya.’’
“Entahlah, aku tidak mengusutnya. Beberapa hari belakangan aku cukup sibuk. Lagipula siapa yang peduli dengan itu...," Ia diam sejenak setelah melihat ekspresi yang ku tampilkan. "Baiklah... Bukannya mereka sudah mencarinya?’’
Riko sudah lama menjadi rekan kerjaku. Hampir setiap kasus yang kujalani, aku selalu mengajaknya. Bukan karena ia jeli melihat sesuatu. Tapi, karena ia sudah paham dengan sifat ku.
“Sudah, tapi hampir sebulan belum juga terselesaikan.’’
Wajahnya begitu tegang setelah mendengar perkataan ku. “Misya.... Jangan bilang kau ingin mengusutnya.’’
Aku mengangguk.
“Misya, itu bukan tugasmu biar saja mereka yang melakukannya.’’
“Perutku terasa mual beberapa hari ini... Sepertinya, karena tak ada kasus yang diberikan kepadaku." Aku mengangguk mantap kemudian tersenyum. "Kemarin aku sudah mengajukan diri. Dan komandan mengizinkannya."
"Oh tidak," suaranya lesu. "Lalu…"
“Kau akan membantuku!’’ Aku kembali menunjukkan senyum manis.
“Sial, dasar wanita haus misteri.’’ Dia tersenyum kemudian. “Apa kau sudah menemukan petunjuknya?'' sambungnya bertanya.
“Ya, petunjuknya ada dihadapan mu!’’ Mataku mengarah kemeja.
__ADS_1
“Surat kabar ini?’’ Ucapnya dengan wajah kebingungan.
“Lihat saja isinya... semua korban adalah anak dari pengusaha. Apa kau pernah mendengar dark joke yang belakangan sedang viral, katanya orang paling enak di dunia adalah orang buta.”
“Hah... Maksudmu?’’
“Orang tidak pernah menginginkan sesuatu yang belum pernah dilihatnya. Orang akan menginginkan sesuatu yang pernah dilihatnya.’’
“Aku belum paham maksudmu.’’
Aku menggaruk bagian kepala karena melihatnya keberatan mencerna kalimatku. “Coba lihat pekerjaan orang tua dari anak-anak yang hilang itu! Semua nya adalah jenis pekerjaan yang sering berhubungan dengan kalangan atas.’’
Dia tampak terkejut. “Maksudmu orang kaya?''
Aku mengangguk. “Saat membeli sayuran dan daging, orang kaya tidak akan mendatangi toko dan membeli nya langsung.’’
TAPI…
“Mereka akan mengunjungi toko saat membeli perhiasan, begitu juga saat membeli mobil mereka akan datang untuk memilihnya.’’ Sambung Riko yang sudah memahami maksudku.
SIP…
“Kemungkinan disanalah pelaku bertemu dengan para korban. Tidaklah aneh anak seorang pengusaha sering membantu orang tuanya sambil belajar,’’ lanjutku.
“Pelaku juga bisa bertemu dengan pengirim pesan di tempat yang biasa dikunjunginya.’’ sambungnya lagi dengan wajah kusutnya.
TEPAT…
“Dia sudah tak perlu repot untuk mencari para korbannya. Disana ia menemukan korban yang bisa memuaskan keinginan dari lingkungan di sekitarnya.’’
“Orang selalu menginginkan sesuatu yang pernah dilihatnya, cukup menarik.’’ Dia mengulang kalimatku yang sebenarnya itu kalimat sepintas yang baru saja kupikirkan.
“Ya, kalau hanya satu atau dua orang mungkin hanya kebetulan tapi kalau sudah sampai lima atau enam, ini adalah peristiwa yang terencana.’’
“Berarti…’’
“Bagaimana sudah paham garis besarnya.’’
“Luar biasa," kata-katanya terhenti saat matanya tertuju pada surat kabar. "Tapi korban yang ketujuh adalah seorang pengamen yang hidup di pinggiran jalan, lalu bagaimana dengannya?’’
“Itulah kesimpulan dari berita ini.’’
“Maksudmu?’’
“Anak dari orang kaya dan anak yang hidup di jalanan. Keduanya hidup di dunia yang sangat jauh berbeda. Kalau ingin tahu jawabannya ayo kita langsung kesana?'' Aku beranjak dari bangku untuk membayar.
“Eh, kemana? Pesananku saja bahkan belum datang, Misya!’’ Dia berdiri tergesa-gesa mengikutiku.
“Berjumpa seseorang.’’ jawabku singkat.
__ADS_1
''Siapa?''
"P-E-L-A-K-U-NYA."