SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
BENARKAH SEMUA INI NYATA?


__ADS_3

“Kirana? Sepertinya ibu itu tahu banyak mengenai Amelia ya?" Aku berpikir sejenak kemudian melanjutkan. "Sebelum membahas ibu panti itu aku ingin mendengar tentang Amelia ketika kau tinggal di panti? Apa ia pernah menjengukmu? Atau membawamu kemana? Apapun itu? Kita akan membongkar teka-teki ini secepatnya.’’


Nayla mengangguk semangat. "Bagaimana menurutmu soal panti itu. Apakah kau sudah memeriksanya?"


"Tidak, aku merasa tidak ada yang aneh disitu… dari laporan yang ada tempat itu sudah lama berdiri disana. Memangnya kenapa?"


"Sampai sekarang aku belum tahu mengapa aku dititipkannya disana? Karena hari itu kami langsung begitu saja pergi kesana… maksudku kak Amelia sudah menyiapkan tempat itu untuk ku."


"Ok, besok kita kesana untuk memastikannya. Lanjutkan…"


"Tempat itu sangat aneh sekali. Benar, Sejak aku datang sampai kau membawaku orang-orang disana tidak pernah berbicara padaku sama sekali, termasuk pak Berennd. Aku beberapa kali ikut berkumpul dan bertanya pada mereka tidak satu orangpun mau menjawab pertanyaan ku. Bahkan untuk makan dan kebutuhanku sehari-hari mereka memberikannya tanpa sepatah kata. Mereka hanya diam menganggapku seakan tidak ada. Sampai…" Nayla tampak mengingat-ingat. "Ya, seminggu kemudian ibu Kirana datang dan bekerja disana."


"Jadi, ibu itu awalnya bukan tinggal disana?"


"Ya, Kak Amelia yang membawanya. Katanya untuk mengawasi ku."


"Kau bilang waktu itu kau hanya boleh berbicara dengan saja kan? Kau pernah menanyakan kepadanya mengapa?"


"Seperti yang kau lihat waktu itu… perjanjian dan peraturan dari kak Amelia. Semua orang mengatakan hal yang sama kan?"


Aku mengangguk dan berpikir sejenak,"untuk apa?"


"Entahlah… ia juga tak mau menjawabnya."


"Kalau Amelia datang apa yang kalian bicarakan?"


"Kak Amelia hanya beberapa kali datang kesana… selama ini mungkin hanya lima atau enam kali… aku tidak ingat. Kalau ia datang hanya untuk melihat ku tidak ada yang lain… ia menanyakan kabar saja selain itu tidak ada."


"Hah? Kau tak pernah mengajaknya bicara atau apa?"


"Oh ya… sekitar dua tahun lalu… saat hari ulang tahunku! Ia datang memberikanku hadiah," Nayla melirik pada buku yang di atas meja. "Ia memberikan buku ini!"


Aku mengambil buku dan membuka lembar demi lembar. "Aku merasa tidak ada yang aneh dari buku ini? Bukannya kau bilang ia sering memberikan buku untukmu."


"Bagimu memang tidak aneh tapi bagiku buku itu sangat berharga sekali. Pada saat ia memberikan buku itu ia menceritakan kepergiannya dari rumah. Aku merasa hari itu ia seperti Amelia Earhart yang sebenarnya… ia memelukku dan mau berbicara padaku. Sekalipun tidak lama… sesudah itu matanya kembali dingin dan tajam. Aku tidak tahu mengapa…. Ia seperti dikendalikan oleh sesuatu. Mulai dari sifat dan tingkah lakunya… sejak hari itu aku berusaha mencari tahu apa dan mengapa itu terjadi padanya. Tapi, tidak seorangpun yang bisa membawaku keluar dari tempat itu. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku sudah bertanya pada setiap orang yang ku temui disana… tidak ada yang mau berbicara."


"Bagaimana dengan Lisdia Ningsih? Apa ada sesuatu yang menurutmu menjadi petunjuk?"

__ADS_1


"Sama seperti kak Amelia, aku hanya beberapa kali bertemu dengannya. Aku tidak ingat waktu persisnya… mungkin sekitar sebulan yang lalu… ia datang untuk memberitahuku kalau kak Amelia sebentar lagi akan berangkat ke Korea untuk menghadiri sebuah acara. Ia memintaku untuk mendoakannya. Siapa yang peduli dengan itu… aku hanya mengangguk dan meninggalkannya di ruang tamu."


"Sebelum itu? Apa kau tidak mengingatnya?"


"Seperti yang kukatakan tadi... Setiap aku menanyakan tentang kak Amelia. Ia selalu mengganti topik pembicaraan. Selalu seperti itu."


"Apa tujuannya kesana?"


"Kapan? Sebelum-sebelumnya?'' aku mengangguk. "Hanya melihat keadaanku, beberapa kali ia membelikan novel untukku."


"Lalu… dengan Wisnu dan asisten yang ditemui Amel saat di rumah sakit. Apakah mereka pernah kesana?"


"Wisnu? Yang mana?"


"Pria yang kau ceritakan mengundang Amelia saat berangkat pertama kali."


"Oh itu… Tidak, aku tidak mengenal mereka. Nama itu hanya aku tahu dari kak Amelia. Soal mereka aku sudah menanyakan kepada manajer kak Amelia… ia hanya diam dan mengganti topik pembicaraan. Benar mereka pasti mengetahui sesuatu. Jangan bilang kalau kau belum menemui mereka?"


"Ya, aku masih fokus menganalisa catatan-catatan neraka itu. Kami memutuskan untuk mencari tahu terlebih dahulu cara Jara membunuh. Dengan harapan agar selama penyelidikan semua baik-baik saja tanpa harus takut menjadi korbannya. Namun, tak kusangka langkah yang kami lakukan seakan sudah diterkanya." Aku menghempaskan tubuhku pada sofa. "...Buku? Amelia kembali normal? Pada hari ulang tahun? Apakah ada sesuatu yang ingin disampaikannya pada kita didalamnya?" Aku menunjuk buku yang berjudul Sang Queen itu.


"Ini hanya novel. Kau berharap apa dari novel?  Isinya hanya cerita romance… sedikit thriller."


"Kau baca saja. Mana tahu kau mendapatkannya…"


"Tidak, aku sangat anti dengan cerita pembunuhan seperti itu."


"Kau bekerja di bidang itu…. Tapi, soal darah kau ketakutan!"


"Bukan begitu… saat ini aku masih sibuk. Mungkin lain waktu aku akan membacanya."


"Alasan!"


"Baiklah, hari sudah larut… tidurlah! Besok kita akan ke panti asuhan mencari tahu mengapa Amelia memilih tempat itu. Kau benar. Pasti ada sesuatu disana."


''Hei, kau mau kemana? Kau belum memberitahu apa yang terjadi pada kakakku!" Dia menarik tanganku sehingga langkah ku terhenti.


''Besok saja!'' Aku melepaskan tangannya.

__ADS_1


Nayla kembali menahan ku. ''Ti-Tidak, aku ingin kau menceritakannya sekarang!'' Ketusnya terasa kasar.


"Baiklah...'' Aku memutuskan untuk memberitahunya sekalipun aku merasa masih ada sesuatu yang disembunyikannya dariku. Benar, lagipula besok atau lusa media juga akan memberitakannya. Tidak ada gunanya juga menyembunyikan fakta itu darinya.


Aku kembali duduk disebelahnya. ''Amelia sudah kami temukan...''


Matanya kembali berbinar. Kedua bibirnya bergetar terasa ingin menyuruh ku untuk tidak memberitahunya. "A-apa kakakku masih hidup?"


Aku menggeleng pelan menatap matanya. Tarikan nafasnya terasa panas terdengar dari suaranya. ''Kalau begitu dimana jasadnya?''


''Sepertinya mereka sedang memastikannya... Ya, kemungkinan mereka sedang memeriksa DNA-nya.''


''DNA? Apa maksudnya?''


''Sampai saat ini aku belum bisa memastikan jasad yang ditemukan memang benar jasadnya atau bukan. Huh...'' Aku menghempaskan nafas panjang sebelum kembali bercerita. ''Jasadnya kami temukan dalam keadaan hangus terbakar... Tidak ada sesuatu yang bisa menunjukkan bahwa itu Amelia.''


''A-apakah yang terjadi padanya sama seperti yang terjadi pada ibu Kirana?''


''Ya, ia dibunuh oleh Jara. Sama dengan pembunuh ibu Kirana dan asisten pribadi Amelia.''


''Kalau begitu... Bagaimana dengan catatan nerakanya?''


''Aku akan memberitahumu setelah aku memastikan kalau itu memang jasadnya!''


''Bagaimana kalian bisa tah....''


''Sudahlah... besok kau sendiri bakal tahu semuanya.'' Aku memotong kalimatnya. "Huh... sebenarnya aku sendiri juga tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan pada jasadnya. Kemungkinan besok mereka akan memberitahu hasilnya padaku. Setelah itu aku akan memberitahumu. Semuanya!''


''Tidak, itu tidak mungkin," sergah Nayla. "Bukankah kau ikut dalam penyelidikan ini? Aneh sekali kalau kau tidak tahu hasilnya?'' Keningnya berkerut datar. ''Jangan bilang kau menyembunyikan sesuatu?''


Aku menggaruk-garuk kepala yang terasa berat. ''Aku akan jelaskan padamu mengenai kasus ini, agar tidak ada kesalahpahaman antara kita… Penyelidikan kasus ini terbagi menjadi dua bagian. Ok! Aku bertugas mencari Jara... bagian Amelia Earhart bukan tugasku? Jadi, biarkan aku beristirahat malam ini. Besok setelah hasilnya sudah keluar aku janji akan menceritakan semuanya padamu. Semuanya!''


''Kak Misya... menurutmu apakah kak Amelia masih hidup?''


''Doakan saja. Aku tidak bisa memastikannya. Kau tahu sendiri kelakuan orang yang mengaku Jara ini seperti apa. Aku akan berusaha menangkapnya. Setidaknya ia dapat ganjaran yang setimpal dari perbuatannya.''


Kata-kataku tampak melukai perasaannya.

__ADS_1


Nayla hanya diam tidak menanggapi. Kepalanya menunduk ke lantai. Aku tahu kalau dia sedang menangis. Suaranya terisak keluar. Aku berusaha menenangkannya. Beberapa menit kemudian akhirnya ia kembali tenang dan beranjak tidur ke kamarnya.


__ADS_2