SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
DUEL


__ADS_3

Keesokan paginya, aku tiba di kantor. Komandan memintaku untuk menemuinya tepat jam 08.00 di ruangannya. Ketika aku membuka pintu dia sedang duduk bersama dengan seorang pria yang masih muda. Ia memakai jaket hitam. Aku sama sekali belum pernah melihatnya.


"Oh, kau sudah datang," komandan menyahut saat menyadari kedatanganku. "Kalau begitu langsung saja ke ruangan biasa. Saya masih ada sedikit urusan."


Pria bersama dengan komandan itu tersenyum ramah menatapku.


"Baik komandan." Mereka kembali melanjutkan perbincangan setelah aku keluar meninggalkan mereka.


Sosok Riko terlihat menunggu di balik meja begitu aku masuk. "Pagi!" Sapanya.


"Oh, kau pagi sekali hari ini," aku tersenyum dan duduk disebelahnya. "Tidak biasanya…"


"Benarkah? Bukankah kalian saja yang biasanya datang terlalu cepat," bibirnya tersenyum tipis setelah mengucapkannya.


"Huh… sudah kuduga kau akan menjawab seperti itu," wajahku berubah menjadi serius. "Bagaimana kabar Hana?"


"Sejauh ini, dia baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan… setidaknya karena di catatan neraka miliknya tidak tertulis kematiannya."


"Lalu, bagaimana hasil pemeriksaan kertas itu? Apakah sesuai?"


"Ya, seperti yang dikatakan Nanda. Cairan yang ada pada catatan neraka itu ternyata air ludah milik Hana. Bagaimana menurutmu? Bukankah itu sesuatu yang mustahil!"


"Entahlah, aku juga merasa seperti itu. Apakah mereka tahu kapan persisnya ludah Hana diambil?"


"Mereka belum bisa memastikannya, dugaan mereka sekitar lima atau enam hari yang lalu. Mereka masih butuh waktu untuk memastikan ludah itu didapat darimana." Riko mendekatiku. "Hei Misya, coba bayangkan. Kalau saja Jara bisa memakai selain darah sebagai ritualnya. Bukankah itu berarti kita juga bisa menjadi korbannya?"


"Huhuh… aku juga berpikir seperti itu. Tapi, mengapa ia memakai darah pada korban-korban sebelumnya. Termasuk, Andi! Bukankah akan lebih mudah kalau ia melakukan hal yang sama padanya. Nyatanya, ia tetap memakai darah Andi," wajah Riko begitu serius mendengarkan.


"Jadi, menurutmu ia sedang merencanakan sesuatu, begitu?"


"Ya, kemungkinan…" suaraku terhenti karena pintu terbuka. Komandan masuk kali ini bersama dengan asistennya yang membawa amplop persegi di tangannya.

__ADS_1


"Baiklah, silahkan duduk!" Perintahnya setelah kami berdiri memberikan hormat. "Saya apresiasi kinerja kalian beberapa hari belakangan. Satu masalah akhirnya sudah terselesaikan," ucapnya.


Dahiku seketika mengkerut mendengar ucapannya. Satu masalah terselesaikan? Apa maksudnya? Apakah mereka sudah memastikan jasad itu memang benar Amelia. Tidak mungkin! Itu terlalu cepat. Aku berusaha menahan suara sampai ia memberi perintah untuk berbicara. Begitu juga dengan Riko, ia juga terlihat ingin mengatakan sesuatu.


"Misya, saya ingin mendengar laporan investigasi yang kamu lakukan kemarin?" Komandan meminta asistennya untuk mencatat hal-hal yang penting untuk menjadi laporan kepada atasan.


Aku berdiri dan menjelaskan semuanya. Dimulai dengan bagaimana aku bisa mengetahui lokasi Amelia sampai pertemuanku dengan Jara. Semuanya. Kecuali satu. Keberadaan Sersan Radit. Aku memutuskan untuk menyembunyikan keberadaannya setidaknya sampai aku memastikan kalau Nanda tidak terkutuk oleh Jara. Tingkah lakunya saat itu tidak seperti biasa. Pasti ada yang terjadi padanya.


Komandan mengangguk yakin setelah mendengar laporanku. "Baiklah, saya akan melaporkan hasilnya kepada atasan. Dengan begini kasus Amelia Earhart akan segera selesai," komandan melihat jam yang menempel di tangannya. "Jam sepuluh nanti saya akan menghadiri acara yang dibuat wartawan. Dan setelah itu kasusnya akan ditutup."


Ditutup!


"Pak!" Aku mengangkat tangan. Aku merasa ada sesuatu yang tidak baik dari rapat ini. Terlihat ia ingin menutup rapat hari ini.


"Ada apa?" Sahutnya.


"Apakah jasad itu memang benar jasad Amelia? Apakah tim forensik sudah memastikannya?"


"Mengapa tidak ditunggu saja, pak? Bukankah itu lebih baik!" Aku memotong kalimatnya.


"Agensinya meminta agar masalah ini secepatnya diputuskan…"


"Aku tidak tahu apa yang bapak bicarakan dengan perusahaan itu. Tapi pak, ini bersangkutan dengan masyarakat sipil. Bukankah lebih baik menunggu hasilnya keluar dahulu." Aku kembali memotong kalimatnya.


"Saya beritahu padamu, ini sudah menjadi keputusan dari atasan. Menurutmu apa yang harus saya lakukan?"


"Pak, apakah mereka tidak memikirkan perasaan keluarganya?"


"Keluarganya? Di catatan kontrak itu Amelia Earhart tidak mengakui kalau ia memiliki keluarga. Ia mengaku hidup sendirian… tanpa keluarga."


"Tapi, nyatanya ia punya seorang adik pak! Mereka juga tahu itu…"

__ADS_1


"Misya, kita tidak berbicara hukum di perkampungan. Perusahaan itu tidak memiliki perasaan. Mereka hanya memutuskan sesuai dengan kontrak yang tertulis....Sepertinya kau belum membaca kontrak yang disetujuinya ya? Dikontrak itu tertulis perusahaan akan bebas memutuskan sepihak apabila terjadi sesuatu yang akan merugikan perusahaan selama masa kontrak masih berjalan. Penyakit, masalah sosial termasuk kematian. Kau tahu maksudnya? Selagi mereka merasa rugi dengan apa yang terjadi pada Amelia Earhart mereka akan bebas memutuskan apapun selama itu bisa mengurangi kerugian yang mereka dapatkan. Mereka memutuskan kalau Amelia Earhart bunuh diri bukan dibunuh."


"Apa? Bukankah itu sama saja."


"Kau pikirkan sendiri saja apa perbedaannya? Satu yang perlu kau ingat! Mereka itu pebisnis bukan tokoh masyarakat. Itu keputusan mereka. Kita hanya melaksanakan sesuai dengan prosedur yang ada."


Aku tahu apa maksudnya. Perusahaan itu tidak ingin terlibat lebih dalam dengan hukum. Tentu mereka akan merasakan kerugian lebih besar apabila karyawannya ditemukan terbunuh. Bukan hanya masalah waktu mereka saja yang terbuang. Juga, nama baik. Dan itu semua bisa berdampak bagi perusahaan apabila masalah ini berlarut-larut tidak selesai. Keputusan mereka memang tepat, sekalipun aku tidak menerimanya. Akan lebih mudah urusannya apabila Amelia Earhart ditemukan bunuh diri. Mereka hanya butuh cerita karangan saja untuk barang buktinya. Bisa-bisanya ada perjanjian kontrak seperti itu.


"Pak..., aku boleh bertanya?" Celetuk Riko di tengah ketegangan. Komandan dan aku menatapnya bersamaan. "Bagaimana dengan Hana? Aku dengar ia akan dirumahkan… apa maksudnya?"


"Misya, ini titipan dari Nanda untukmu!" Komandan mengisyaratkan asistennya menyerahkan amplop coklat persegi yang menempel di tangannya. Aku mengambil dan meletakkannya tidak peduli.


"Ada apa? Kamu masih tidak terima?" Sepertinya komandan sadar ketika melihat reaksiku.


Aku hanya diam menatap matanya tajam.


"Baiklah, mengenai Hana. Benar, ia akan di bebas tugaskan selama kasus Jara masih belum terselesaikan. Tentu, itu demi keselamatannya." Komandan menatapku yang tidak memperdulikan apa yang disampaikannya, "Karena kasus Amelia Earhart akan ditutup… kamu Riko, bantu Misya menyelesaikan masalahnya."


"Aku pak? Membantu dia? Bukankah misiku sudah selesai… mengapa aku harus juga ikut mengungkap Jara?" Riko tampak terkejut dan tidak terima dengan keputusan komandan. Bagaimanapun ia tetap tidak akan bisa menolaknya.


"Nanda saat ini sedang dipanggil kembali ke divisinya. Sepertinya ia akan pergi keluar negeri. Saya tidak tahu banyak soal itu… mungkin saja ia menuliskan jawaban di dalam amplop itu! Saya belum memeriksanya." Komandan berusaha memancingku.


"Komandan, apa rencana anda? Apakah anda akan mengatakan kalau Amelia bunuh diri? Bagaimana dengan bukti-buktinya?" tanyaku.


Ia tersenyum karena merasa umpannya telah kusambar. "Ya, saya sudah menyiapkan semuanya. Kamu lihat pria yang di ruangan tadi? Dia sudah menyiapkannya? Sebenarnya saya berharap kamu yang akan menyiapkannya… saya tahu pasti kamu akan menolaknya bukan?"


"Ya, pasti komandan." sahutku tegas dan cepat.


"Kalau kamu memang ingin tahu rencananya. Lihat saja di media nanti." Ia kembali tersenyum. "Baiklah, sampai sini saja rapat hari ini. Seperti yang saya katakan tadi… Riko, bantu Misya!"


"Baik pak…" jawabnya lesu.

__ADS_1


"Ada yang ingin ditanyakan?" Aku hanya diam tidak peduli. "Baiklah, sekian dan terimakasih," tutupnya kemudian pergi bersama dengan asistennya.


__ADS_2