SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
BANDARA


__ADS_3

Setelah selesai membereskan semua barang-barang yang dibutuhkan aku segera keluar dari kamar mencari Sersan Radit. Aku sudah mencari ke kamarnya, tetapi dia tidak disana. Sambil mengerang, aku menggaruk area di antara kedua alis dengan ujung jari, kemudian mendesah, ''Kemana sebenarnya dia pergi?''


Kembali aku melirik jam sudah hampir pukul lima. Aku harus segera pergi, bisa-bisa komandan akan marah kalau aku tidak segera datang menghadapnya.


''Maaf...'' Ucap seorang pria ketika aku hendak bertanya kepada resepsionis hotel. Tubuhnya jangkung dan kurus, rambut ikal alami dengan panjang sepundak, dan cambang tipis yang terkesan tidak rapi. Ia mengenakan jaket hitam yang terlihat lumayan butut.


Aku menatapnya dengan penuh kewaspadaan ''Siapa ya?''


''Perkenalkan. Saya bawahan dari komandan Nanda.'' tuturnya sopan.


Nanda? Mengapa anggotanya ada di sini? Aku memperhatikan sekeliling menerka dari mana ia datang. Pria ini sepertinya sendirian tidak ada tanda-tanda orang lain bersamanya. "Ada perlu apa? Apakah terjadi sesuatu?''


Pria ini menggeleng kemudian melanjutkan. "Saya diperintahkan oleh komandan untuk membawa anda ke Jakarta menggunakan jet pribadi."


"Saya rasa itu tidak perlu, saya akan pergi memesan tiket sebentar lagi. Lagi pula saya disini tidak sendirian. Sekarang saya sedang mencarinya."


"Sersan Radit maksud anda? Ia sudah pergi." Jawabnya.


"Pergi? Dia tidak mengatakan apa-apa padaku?"


"Soal itu saya tidak tahu? Tetapi ia sempat mengatakan akan pergi ketempat yang anda perintahkan."


"Dia mengatakan itu!"


"Ya, kemana sebenarnya dia pergi?" Matanya menunjukkan rona penasaran.


"Saya rasa anda tidak perlu mengetahuinya. Lagi pula itu tidak ada kaitannya dengan tugas mu bukan?" Dia tersenyum mendengar jawaban ku.


''Baiklah kalau memang seperti itu, anda ada benarnya. Jadi, apakah kita bisa berangkat sekarang?''


Aku hanya diam sejenak menatapnya. Beberapa detik kemudian dia berkata. ''Jangan salah paham dahulu. Kebetulan saja saya selesai bertugas di Surabaya dan akan kembali ke Jakarta hari ini!''


''Bagaimana dengan Nanda apakah kita akan pergi bersamanya?''


''Tidak. Komandan bersama dengan timnya sudah  berangkat ke Jakarta tadi malam. Kemungkinan saat ini mereka sedang menemui Pak Bisco. Sepertinya...''


"Baiklah kalau ternyata Nanda mengatakan seperti itu. Tetapi, setelah saya menghubungi mereka.'' Pria di hadapan ku ini mengangguk. Aku mengeluarkan ponsel dari tas kecil menggeser layar mencari kontak Nanda. Namun, dua panggilan ku ditolaknya.


''Kalau begitu anda bukan salah satu anggota Gagak Hitam yang bertugas tadi malam?''


''Ya, seperti yang saya katakan tadi. Saya memiliki tugas tersendiri disini. Kenapa? Seperti nya anda meragukan saya?  Apakah ada yang anda khawatirkan?''

__ADS_1


''Tentu saj...'' Aku mengurungkan menjelaskan kasus Jara padanya, ''Kalau kau salah satu anggota Gagak Hitam, pasti kau tahu kode nama Nanda!''


''03!'' Jawabnya cepat.


''Huh..., maafkan saya terlalu mencurigaimu… anda tahu kasus yang sedang kami selidiki, bukan?''


''Ya, sekalipun tidak sepenuhnya. Lalu apakah sudah ada perkembangan mengenai pelakunya?''


''Entahlah... siapa yang memberitahumu aku menginap disini?''


''Komandan!''


''Sejak kapan?''


''Waktu pastinya saya tidak tahu, tetapi komandan menyuruh saya kemari jam 12.00 tadi.''


''Dua belas! Jadi, kau sudah menunggu disini sejak tadi?''


''Ya.'' Anggota Gagak Hitam menjawab dengan senyuman tipis.


''Maafkan saya.’’ Aku membalas senyumannya. “Darimana dia tahu kami menginap di hotel ini?'' Suara ku berbisik pelan.


''Hmn, pasti dari rekannya ya?'' Aku teringat dua teman Sersan Radit yang diusir Nanda keluar dari gudang kosong.


''Saya tidak tahu pasti soal itu. Lagi pula itu tidak begitu penting.'' Ucapnya terkekeh.


Aku tersenyum tipis membalasnya. “Ti-tidak… aku hanya tidak bisa memahami cara berpikir komandanmu itu… Padahal tadi malam…” Aku menghentikan kalimatku.


Pria ini menyipitkan matanya menatapku kemudian berkata setelah beberapa detik. ''Kalau memang tidak ada lagi yang ditunggu sebaiknya kita pergi sekarang. Sebenarnya saya kemari bukan untuk mendengarkan cerita anda!"


Aku mengangguk berusaha bersikap kooperatif. Pria berjaket lusuh itu berbalik setelah melihat jam di tangannya kemudian menginstruksikan agar aku mengikutinya.


***


Mobil taksi yang kukendarai meluncur di jalanan padat, gesit melintas di sela-sela mobil lain.


Aku tidak tahu bagaimana pria ini bisa memakai  taksi umum. Hanya satu yang terpikirkan ku. Dia adalah agen rahasia. Banyak sekali yang sebenarnya masyarakat tidak ketahui  tentang mereka, yang lebih hebatnya mereka mampu berkamuflase bahkan di antara para lawannya.


Tiba di bandara pukul lima tiga puluh.


“Yup, kita sudah sampai.’’ Aku bergegas turun mengikutinya dari belakang. 

__ADS_1


“Maaf aku terlambat, Sky.’’ Ucapnya setelah kami masuk ke dalam pesawat jet pribadi.


“Tidak masalah, lagipula tugas kita sudah selesai.” Seseorang dengan seragam pilot sudah menunggu, dia sedang asik dengan ponsel, segera ia meletakkan ponsel ketika aku menjulurkan tangan bersalaman.


“Saya Misya salah satu anggota kepolisian. Saya juga bertugas dibawah komandan kalian.”


“Oh, nama anda terdengar tidak asing. Panggil saja Sky. Tentu itu bukan nama asli saya.” Balasnya tersenyum.


“Tidak kau beritahu pun dia pasti tau itu!” Sahut pria berjaket lusuh.


“Ayolah Star, aku tahu dia paham itu. Ini hanya basa-basi saja.”


“Star?’’ Aku menatap pria berjaket hitam lusuh yang berdiri lugu menatap kami bergantian.


“Ow, jangan bilang dia belum mengatakan namanya padamu.” Wajahnya tersirat ingin tersenyum, “Misya, pria ini memang rada aneh. Maklumi saja ya.” Bisiknya berdiri dari tempat duduknya menghampiriku.


Aku tersenyum menanggapinya.


Star membalas Sky dengan tatapan sinis. Siapapun tahu kalau tatapannya itu memberi sinyal untuk segera menghentikan basa-basi lalu bersiap untuk berangkat.


“Lihat saja sikapnya itu. Aku tidak tahu mengapa atasan membuat kami menjadi rekan. Huh… entahlah.” Ucap Sky mengeluh sambil berjalan ke depan menuju bangku kemudi.


“Silahkan duduk, saya akan ke depan membantu Sky dan kala…” Suaranya terhenti karena teriakan dari kursi pilot.


“Semua sudah siap?’’ Star hanya diam tidak menanggapi sahutan dari rekannya.


“Kalau butuh sesuatu katakan saja padaku.” Lanjutnya kemudian meninggalkan ku sendiri di kursi penumpang.


Aku mengangguk. Satu menit setelah tuas digerakkan. Pesawat jet bergerak anggun menuju runway, mesin jet mengaung bertenaga, membuat pesawat jet pribadi meluncur cepat di atas aspal.


***


Star di ruang kokpit memberitahuku pesawat akan segera mendarat. Aku memasang sabuk pengaman, meluruskan kaki sambil menatap daratan gemerlap kota Jakarta di luar jendela. Satu jam empat puluh menit pesawat jet tiba di Jakarta.


Setiba di parkiran bandara pesawat pribadi, dua orang yang mengantarku mengucapkan salam perpisahan. Tepat sepuluh menit setelah Sky memintaku untuk menyampaikan pesan pada Nanda, pesawat pribadi itu sudah kembali mengangkasa.


“Bukannya Star tadi mengatakan kalau mereka ingin ke Jakarta juga? Ahk… lagipula itu bukan urusanku.’’ Aku menggeleng kepala sedikit mencoba fokus pada masalah sendiri. Dan melanjutkan langkah kaki keluar dari bandara mencari mobil yang bisa ditumpangi. Sebuah taksi di ujung sana melihatku.


Pukul 20.30 aku tiba di kantor. Ruangan sudah sepi, hanya beberapa polisi yang bertugas di malam hari yang tersisa. Aku keluar dari kantor setelah mencari komandan di ruangannya. “Kemana dia pergi? Huh... padahal tadi dia seperti serigala kelaparan menyuruh ku kemari."  Aku mengeluarkan ponsel untuk menelponnya.


“Besok saja!” celetuknya tanpa memberikanku waktu dan ruang untuk menjawab.

__ADS_1


__ADS_2