
''Dia tidak menemui mu!'' jawab Nanda kemudian menatap ku dengan lantang. ''Jara tidak ke Bali, dia hanya membuat ilusi didalam pikiran mu seolah itu benar terjadi....''
''Ti-Tidak, tidak mungkin?''
''Untuk apa dia harus pergi kesana kalau hanya untuk memberikan buku Amelia? Dia mampu mengendalikan mu! Kau ingat pertanyaan ku saat Amelia ditemukan?'' Nanda menunggu jawaban ku.
''Maksudmu.... apakah di buku itu ada darahnya?''
''Ya, apa kau menyadarinya atau kau hanya berpura-pura?''
''Sejujurnya, tidak. Bukan karena aku tidak melihatnya. Tetapi.... Entah mengapa aku tidak berpikir soal itu.... Padahal itu adalah sesuatu yang sangat penting.''
''Kau benar! Sebenarnya dia ingin memberi pesan untuk ku bahwa sebenarnya dia mampu mengendalikan seseorang bukan hanya dengan darah melainkan sesuatu yang lain.... asalkan berkaitan dengan tubuh korban! Buktinya, dia sengaja menampakkan catatan Hana di rumah tua itu melalui Sersan Radit... rencananya itu akan berhasil jika tidak ada yang tahu kalau Hana sebenarnya dibawah kendali buku nya!''
''Artinya catatan yang dibawa oleh Sersan Radit itu tipuan?''
''Tentu, Sersan itu tangan kanan Hana. Akan sangat mudah bagi Hana untuk menyelipkan catatan kecil itu... ya, sekalipun yang tertulis pada catatan itu sesuai dengan apa yang terjadi. Aku yakin Hana yang menaruh catatan itu pada Sersan Radit...''
''Itulah mengapa kau menelpon anggota mu untuk memeriksa cctv di kantor?''
''Itu bukanlah sesuatu yang penting! Aku sengaja mengatakannya di depanmu untuk meyakinkannya aku percaya dengan catatan yang kudapatkan itu! Ada apa?'' tanya Nanda saat aku tercengang.
Nanda bahkan melakukan akting pada malam itu, aku ingat wajahnya yang suram saat menyadari penyidikan yang dilakukannya selama ini, Nihil.
''Kau menyuruh Hana diperiksa juga bagian untuk meyakinkannya?''
''Ya, aku sengaja melakukan itu semua! Disaat dia sudah merasa diatas, aku pergi meninggalkanmu! Kau tahu mengapa?''
__ADS_1
''Agar dia tidak mendapatkan informasi tentang penyidikan ya?''
''Dia hanya mendapatkan informasi dari mu! Dan informasi rahasia lainnya melalui Hana... Aku sudah punya alasan untuk menahan Hana.... sebenarnya itu untuk menyelamatkannya! Tinggal kau jalan satu-satunya!''
''Maksudmu, sampai saat ini dia juga tidak menyadari kalau sebenarnya kau sudah tahu apa yang terjadi pada Hana itu sama denganku?''
''Ya, dia tidak menyadari itu.''
''Kenapa bisa?''
''Bukankah kau sudah mencari tahu apa yang terjadi pada Hana?'' Nanda diam sejenak sambil menyodorkan pandangan tajam. ''Kau menanyakan tentang Hana bukan?''
Aku terdiam. Aku teringat sasar pertemuan bersama komandan aku memang bertanya soal Hana pada Riko.
''Kau sengaja mengatakannya, Riko?'' Aku langsung berpaling pada Riko. Ternyata selama ini mereka bekerjasama.
''Tentu, memang hasilnya seperti itu,'' potong Nanda. ''Kalau kau berpikir aku bekerjasama dengan Riko, kau salah besar... selama penyelidikan aku sama sekali tidak menaruh kepercayaan kepada kalian semua, ya demi keamanan informasi... Jara pasti sudah tahu Hana akan ditahan. Itulah mengapa Hana tidak sadar diri sampai Jara ditemukan.''
''Kau sengaja membuat nya tidak sadarkan diri agar Jara tidak bisa membunuhnya? Maksudmu seperti itu!''
''Bukan hanya itu, karena Hana yang tidak sadarkan diri, artinya semua indranya tidak lagi berfungsi... Jara tidak bisa memanfaatkan Hana lagi. Aku khawatir dia membunuhnya. Untuk itu aku harus bergegas menemukan Jara. Aku tidak akan bisa menangkapnya jika bersama mu. Satu-satunya cara.... kita harus berpisah! Namun, aku butuh alasan yang masuk akal. Menurutku dia tidak begitu mengerti dengan kegiatan Intel dan agen negara.... Sekalipun begitu, dia tidak akan percaya begitu saja, sembari aku pergi menjalankan tugas rahasia diluar negeri aku harus membuatnya sibuk. Itulah mengapa saat pertemuan mu dengan komandan aku memberikan mu berkas-berkas itu.'' Aku teringat dengan daftar nama-nama yang sudah ku selidiki. ''Semua daftar nama-nama yang kuberikan untuk mengecoh Jara.'' Nanda diam sejenak. ''Pertama, Wisnu. Kedua, Aiko. Ketiga, bangunan itu... semua berkas itu akan membongkar teka-tekinya. Terutama, bagian Aiko. Aku yakin Aiko sudah bercerita padamu soal mayat wanita yang ditabrak oleh Amelia?''
Aku mengangguk.
''Kau sudah menemui dokter itu?''
''Belum, dia sedang berpergian keluar negeri.''
__ADS_1
''Sebuah kebetulan yang tidak kuduga, kau pergi memeriksa bangunan tua itu?''
''Ya, aku menemukan basemen di rumah itu... ruangan apa itu sebenarnya? Ada beberapa nama korban disana.''
''Rumah itu dibeli oleh Amelia sekitar tiga tahun yang lalu, Jara memanfaatkannya sebagai markas rahasia... saat dia membocorkan lokasi Amelia, dia sengaja menampakkan ruangan bawah tanah itu, bukan berarti dia meninggalkan petunjuk disana... data-data korban itu hanya memberi tahu polisi bahwa selama ini dia tinggal disitu. Dan sekarang dia sudah pergi.'' Nanda menatap kami bergantian. ''Apakah kau percaya dia pergi dari rumah itu?''
''Tentu, dia akan pergi dari sana. Polisi sudah menemukan tempat yang menjadi petunjuk... dia akan pergi jauh dari sana.''
''Kau benar, siapapun akan berpikir seperti itu. Tapi, Jara adalah manusia yang berpikir tanpa pola rasional... dia tidak akan meninggalkan rumah itu! Dia yakin polisi akan menganggap rumah itu adalah petunjuk sehingga polisi yakin Jara tidak akan kembali kerumah itu! Tujuan ku menyuruhmu untuk memeriksa bangunan itu kembali bukan untuk melihat ruangan bawah tanah itu.. tetapi, ingin menjelaskan padanya bahwa pemikirannya itu sudah benar... polisi sudah yakin dia tidak akan kembali kerumah itu....''
''Mengapa kau bisa yakin seperti itu?''
''Karena aku menemukan sesuatu di atapnya beberapa darah korban yang masih segar. Aku tidak tahu bagaimana cara dia membuat darah itu tidak berbau. Sepertinya, dia menemukan bahan kimia dari seseorang.''
''Kau menemukan petunjuk sepenting itu?''
''Ya, sebut saja... Jika aku berada diposisi nya... aku akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukannya. Dengan begitu, aku hanya menunggu waktu sampai dia datang kembali untuk mengambilnya.... Kapan waktunya?'' tanya Nanda sambil mendesah.
''Jadi, kau sudah menunggu didalam rumah itu!''
''Ya, satu-satunya cara agar dia bisa kembali kesana adalah dengan membuat keributan di kepolisian.... sebenarnya, aku sudah menebak apa yang akan terjadi pada keluarga Sersan Radit itu....''
''Nanda!'' bentak ku. ''Kau membiarkan keluarganya terbunuh!''
''Aku tidak membiarkannya.... Itu semua terjadi karena dirimu! Kau sendiri yang menyuruh Sersan itu untuk tidak membawa keluarganya. Aku tahu dari anggota Gagak Hitam yang menjemput mu di hotel. Aku menyuruh mereka untuk mencari tahu apa yang akan dilakukan oleh Jara. Kau masih ingin menyalahkan ku?''
''Aku melakukan itu tidak atas kehendak ku. Aku dikendalikan!'' tegasku.
__ADS_1
''Terserah, apapun pembelaan terhadap dirimu, memang itulah kenyataannya! Kau harus sadar, setiap hasil yang didapatkan harus ada yang dikorbankan! Tidak peduli harta, energi dan waktu... Bahkan nyawa sekalipun harus ikut serta untuk mendapatkannya,'' suaranya terdengar kasar. ''Saat polisi menyadari kematian keluarga Sersan Radit tewas sebab Jara, momen itulah dia datang... Aku tidak tahu perjalanan mu ke Jombang adalah sebuah kebetulan atau memang sudah bagian dari rencana Jara... Apapun itu, aku sudah menyiapkan semuanya. Dimulai dari Riko sampai penembak jitu. Aku yang lebih dahulu menguasai lapangan sekalipun itu teritorial miliknya.''