
Aku yang selesai mendengarkan pengakuan Nanda terkejut karena tidak menyangka dengan ucapannya itu. "Berjaga? Maksudmu, kau mengharapkan peluru yang Riko bawa itu untuk keadaan darurat?''
''Ya, karena aku sangat yakin kalau kau akan mengajaknya kemari, itulah mengapa aku sengaja menyisakan satu peluru didalamnya... ya, untuk mengancam Jara saat kita berdua dalam keadaan terdesak, kau lihat sendiri Jara meminta untuk membuang senjata ku kan?''
Aku mengangguk terus berusaha memahami kata-katanya. Aku masih belum mampu mencerna maksud dari perkataannya.
Nanda menatap langit sejenak sebelum kembali melanjutkan. ''Aku sengaja mengeluarkan pistol saat kami masih berdua didalam rumah itu... padahal itu yang menjadi satu-satunya alat tawar untuk mengancamnya... Kau tahu mengapa?''
Aku hanya diam kembali mencoba memahami arah perkataannya. ''Untuk mesugestinya, aku ingin ia berpikir kalau ia dalam keadaan menang, lihat saja,'' Nanda tersenyum sinis. ''Heh, wajar saja ia merasa tenang saat kami berdua didalam bangunan itu...''
''Karena Riko maksudmu?''
''Ya, dia tahu kalau kau tidak membawa senjata. Tapi, karena kau dalam pengaruh buku itu akhirnya dia tahu kalau Riko membawanya. Aku yang sedari awal mengharapkan senjata yang dibawa Riko yang akan menjadi kunci, ternyata ia yang justru memanfaatkannya... tak kusangka sebab itulah dia bersikap tenang sedari awal kami berjumpa!''
''Itu sama sekali tidak menjelaskan mengapa kau membunuhnya!'' tegasku.
''Itu karena aku belum bisa memastikan apakah Riko dalam pengaruh kutukannya atau tidak. Untuk berjaga-jaga... akan berbahaya kalau senjatanya terisi penuh.''
''Aku tahu itu, karena kau masih ragu dengan Riko. Jadi, kau menyisakan satu peluru didalamnya. Bukan itu yang kutanyakan,'' kilah ku.
''Seandainya saja Riko tidak dalam pengaruhnya, bisa saja aku menangkap Jara tanpa harus membunuhnya. Namun, taruhan yang kubuat itu ternyata kalah total.'' Nanda sedikit terkekeh. Aku tahu itu karena ia tidak menyangka kalau akan kalah dengan Jara. ''...ternyata Riko dalam pengaruh kutukan itu... Itulah mengapa aku menyiapkan rencana B,'' Nanda menatap kearah pepohonan yang rimbun di ujung sana. ''Sniper itu!'' tegasnya.
Aku menelan ludah saat kepala ku membayangkan apa yang akan terjadi pada kami semua sekiranya sniper itu tidak ada. Nanda benar-benar menyiapkan semua langkahnya begitu tertata. Sekalipun ia merasa kesal karena rencananya A gagal. Namun dengan begitu rencananya itu benar-benar berhasil membuat Jara merasa diatas angin, sehingga Jara tidak memikirkan kemungkinan yang lain. Siapa juga yang akan menyangka kalau akan ada sniper yang sedang menunggu ditempat seperti ini. Artinya Nanda sudah tahu kalau Jara akan datang kemari. Aku kembali dari lamunan ku.
''Aku yakin Jara akan membunuhku saat ini juga!'' sambungnya.
Buru-buru aku mengangguk setuju dengan perkataannya. Sekalipun Jara mengatakan akan mengunakan darah Nanda untuk buku keenamnya. Aku yakin ia tidak sebodoh itu, ia akan benar tertangkap apabila membiarkan Nanda tetap hidup.
''Bagaimana caranya kau menangkapnya jika seandainya Riko tidak dalam pengaruhnya? Bukankah itu sama saja... Jara tetap bisa mengancam akan membunuhku sekalipun kalian terus menekannya?'' tanyaku setelah diam sejenak.
Nanda menggeleng yakin. ''Aku akan menyuruh Riko untuk menembakkan peluru satu-satunya kepadamu,'' tutupnya dengan senyuman menjengkelkan.
''Apa? Kau berencana membunuhku!''
''Menurutmu, apakah ada pilihan lain untuk menyelamatkanmu,'' jedanya. ''Kau akan mati disebabkan buku itu atau kau harus suka rela menyerahkan nyawamu kepada kami, kau tahu sendiri efek buku itu tidak akan pernah hilang sekalipun kau terpisah darinya. Kau harus tahu, nyawamu saat ini benar-benar sudah ditangannya,'' ucapnya begitu santai.
''Kau benar gila!''
__ADS_1
''Tidak. Tidak begitu.... Setelah Riko menembak bagian tanganmu, kau akan meringis kesakitan, saat itu terjadi akan sangat mudah membuatmu jatuh pingsan... sama seperti yang kau lakukan pada Hana. Sehingga pengaruh buku itu akan gagal walaupun hanya sebentar setidaknya aku bisa memanfaatkan sniper yang sudah ku siapkan untuk mengancamnya.''
''Jadi begitu, itulah sebabnya kau mengatakan taruhan itu gagal?''
Nanda mengangguk kemudian melanjutkan. ''Ya, itu hanya bisa dilakukan apabila Riko tidak dalam kendalinya. Seandainya saja aku membuatmu pingsan... Jara tetap bisa memanfaatkan Riko untuk mengancamku,'' jelasnya.
''Jadi kau memang berencana untuk melukaiku ya?'' suara ku keluar begitu tinggi.
''Aku yakin kau akan memakluminya...''
''Apa maksudmu?'' Aku memotong kalimatnya.
''Itu lebih baik daripada harus kehilangan nyawa!'' ucapnya datar sambil menatap perapian yang dibuatnya.
''Kalau begitu, mengapa aku masih hidup? Kan, tadi kau mengatakan, efek dari kutukan buku itu tidak akan bisa hilang. Nyatanya aku sekarang baik-baik saja. Apakah tebakan mu salah?''
Nanda kembali menatap perapian yang sudah mengecil. ''Atau sebenarnya yang dikatakan Jara tadi hanyalah kebohongan,'' lanjut ku bertanya. Kedua mataku mencari buku yang disebutkan Jara tadi.
''Aku sudah membakarnya!''
''Kau membakarnya?'' Aku langsung berdiri karena terkejut dengan tindakannya itu. Apakah personil Gagak Hitam ini benar-benar bijak? Bagaimana mungkin ia memutuskan untuk membakar buku yang akan menjadi jawaban dari semua pertanyaan yang selama ini merusak hari-hari ku.
''Apa!''
''Saat ini aku tidak ingin menjelaskannya padamu,'' ucapnya cepat sebelum aku melontarkan beberapa pertanyaan. Nanda seakan-akan tahu apa yang akan kutanyakan.
''Kau harus memberitahu semuanya malam ini juga!''
''Aku tegaskan sekali lagi, ini bukan saat yang tepat!'' tatapannya begitu serius. ''Aku berjanji akan menjelaskan semuanya. Tapi, tidak saat ini.''
''Apa maksudmu? Kau tidak bisa menjelaskan soal buku itu padaku, begitu?''
''Ya, kuharap kau mengerti maksudku,'' ujarnya.
Apa yang sebenarnya yang disembunyikannya. Ataukah ini karena buku itu? Sebelum jatuh pingsan aku sempat melihatnya memegang buku itu, apakah akan ada yang terjadi padaku jika seandainya aku tahu isi buku itu? Tapi, ia tadi mengatakan kalau efek dari kutukan itu akan hilang apabila dibakar? Apa yang sebenarnya terjadi? Pertanyaan demi pertanyaan satu-persatu muncul di kepala ku tak berhenti.
''Apakah aku boleh menanyakan hal lain selain buku itu?'' ucapku penuh kehati-hatian.
__ADS_1
Nanda menganggukan kepalanya. Tanpa diberi tahu pun, aku langsung menangkap sinyal kalau buku itu tidak benar dibakarnya.
''Jadi, semua yang kau katakan sebelumnya itu adalah kebohongan?''
''Yang mana? Soal pergi keluar negri itu?'' tebaknya.
''Ya. Bahkan pak Bisco mengatakan kalau kau pergi mengawal menteri luar negeri untuk negosiasi soal kasus ini kepada kepala Interpol.''
''Benar, itu semua hanya setingan yang sudah ku siapkan. Termasuk Komandan yang memprovokasimu,'' Nanda tersenyum tipis melihat reaksiku yang terkejut dengan perkataan yang baru saja ia lontarkan. ''Baiklah, aku tahu begitu banyak yang ingin kau tanyakan. Tapi, saat ini bukanlah waktu yang tepat. Lihat saja hari sudah semakin gelap,'' lanjutnya.
Saat aku ingin menyanggahnya tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari pepohonan. Aku langsung bersigap melihatnya.
''Itu rekanku,'' kata Nanda.
Seorang wanita berambut panjang ditemani dua orang pria yang berjalan dibelakangnya. Wanita itu menghampiri Nanda. Mereka semua memakai setelan jas berwarna hitam. Wanita yang sudah berdiri dihadapan ku sama sekali tidak memperdulikan keberadaan ku yang masih duduk di tanah. Sedangkan dua temannya mengangkat jasad Jara yang sudah tidak bisa melakukan apa-apa.
''Aku sudah menyiapkan kendaraan untuk kalian berdua,'' ucapnya. Wanita itu menatap ku begitu sinis.
Aku hanya membalasnya dengan tatapan sinis tanpa berkata.
''Kami akan segera kesana,'' balas Nanda. ''Masih ada sesuatu yang ingin aku katakan saat ini padanya,'' Nanda menatap ku yang masih duduk disebelahnya. ''Kalian pergi saja terlebih dahulu dan laporkan semua hasilnya pada pak Bisco. Kemungkinan besok aku akan kembali ke Jakarta. Jadi, aku ingin kau yang bertanggung jawab untuk semuanya.''
''Baiklah kalau begitu,'' ucap wanita kemudian pergi setelah menyerahkan sebuah kunci mobil kepada Nanda.
''Kita akan pergi setelah kau menjawab semua pertanyaan-pertanyaan ku!'' Aku langsung angkat suara setelah wanita bersama rekannya itu menghilang dibalik pepohonan bersama dengan senter yang dibawanya.
''Tidakkah sebaiknya kau tanyakan siapa dan mengapa wanita itu bisa ada disini? Aku yakin kau penasaran dengan kedatangan mereka?''
''Siapa yang peduli dengan itu!''
''Atau kau tidak penasaran dengan keadaan Riko?'' sambungnya.
''Kau sudah mengatakan kalau dia akan baik-baik saja, apa yang harus dikhawatirkan lagi!'' tegasku.
''Oh, ternyata kau sudah sepercaya itu dengan ku.''
Aku hanya diam tidak menanggapi nyinyiran nya.
__ADS_1
''Baiklah, Aku akan menjelaskan semuanya, tapi tidak hari ini,'' Nanda menunjukkan betisnya yang sudah terbalut. "Kita butuh istirahat, setidaknya untuk malam ini saja.''