SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
HITUNG MUNDUR DARI 10


__ADS_3

Jumat, tanggal 06. Hari keenam Amelia menghilang.


Aku terbangun pagi-pagi sekali, pukul lima lebih sedikit. Suara alarm yang sudah ku setel begitu mengganggu.


Aku sudah mencoba tidur paling tidak setengah jam lagi, tapi kepalaku teringat harus pergi. Dua menit berikutnya, aku menyerah, kemudian bangun, membereskan kamar lalu berjalan ke kamar mandi dan menyiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan di Bali. Setelah itu pergi ke dapur untuk menyeduh kopi.


Sewaktu aku masuk ke ruang tamu untuk menawari Nayla secangkir kopi, dia sedang menuntaskan bacaannya. Pagi buta sudah membaca, sungguh gadis maniak membaca.


“Wah, Nayla, bangun langsung membaca.” Aku berjalan mendekatinya.


Dia terlihat serius, dia merobek kertas lalu mencatat beberapa bagian dengan pulpen, lalu berkata. “Jam berapa kakak berangkat hari ini?’’


“Aku akan berangkat sebentar lagi,” Aku menunjuk jam yang terletak di atas meja tempatnya membaca. “Jam 08.30 WIB. Sekitar dua jam lagi. Mungkin aku pulang agak kemalaman, jadi jaga rumah. Jangan izinkan sembarang orang datang kemari.”


Dia mengangguk. “Kalau begitu selamat jalan. Titip salam untuk para iblis itu.” Ucapnya tertawa.


Setelah kami menikmati secangkir kopi beserta sarapan yang baru ku pesan. Aku bergegas mengambil barang-barang yang kubutuhkan selama di Bali, tak beberapa lama aku memesan taxi dan pergi ke bandara.


Kemarin aku sudah memesan tiket bersama Nanda setelah menemui temannya itu. Kami tidak sempat membicarakan panjang lebar tentang catatan neraka padanya dikarenakan Andre-Astrolog, itu harus pergi ke Jombang untuk menemui kliennya, pria itu terlihat sangat sibuk, dia meminta kami agar menemuinya disana untuk membahas catatan itu, terlihat dari raut wajahnya saat membaca catatan neraka begitu ambisius ingin terlibat dalam memecahkannya. Akan tetapi hari ini aku harus menghadiri resepsi pernikahan kakak tiri ku di Bali.


Aku menghubungi Nanda memberitahunya aku akan berangkat pagi ini, dan dia mengizinkannya. Dia memintaku untuk langsung menemuinya di kantor yang sudah di siapkannya setelah pulang.


Dia mengatakan padaku paling tidak harus sudah kembali di Jakarta jam 3 sore. Jarak Jakarta dan Bali menggunakan pesawat hanya butuh 1 jam lebih, dia sudah menghitung semuanya, hanya satu yang dilupakannya, aku adalah seorang manusia yang juga butuh waktu beristirahat.


Ketika aku sampai di Bali, aku bisa melihat di kejauhan lautan yang luas nan indah, airnya luar biasa jernih, aku berjalan menuju alamat yang diberikan padaku, mereka memintaku untuk datang ke Hotel Pangeran tempat acara akan diadakan. Aku memilih untuk berjalan menikmati senyuman orang-orang yang berlalu lalang yang dipantulkan oleh sinar matahari pagi. Aku jelas tidak dapat menemukan yang semacam ini di Jakarta.


Pulau ini paling terkenal di Indonesia. Ini adalah tempat yang mengagumkan yang menyimpan kombinasi spektakuler dari keindahan alam dan pemandangan budaya. Keindahannya menyatu dengan harmoni dengan orang-orang yang hangat dan bersahabat. Di sini kebudayaan tetap diteruskan turun-temurun dari generasi ke generasi. Wajar saja manusia datang berbondong-bondong datang dari sejumlah negara untuk menikmati karya tuhan yang menakjubkan ini.

__ADS_1


Setelah menikmati pemandangan sawah yang terhampar luas yang memberikan rasa kedamaian dan ketenangan; serta butiran pasir pantai-pantai di Bali dan keindahan lautnya yang sangat menggoda. Pulau surga ini juga memiliki tarian-tarian yang dramatis, upacara adat yang beragam, serta kesenian dan kerajinan tangan yang indah dan bagus. Sungguh tempat yang didambakan semua orang. Sepanjang jalan aku hanya tersenyum melihat kehidupan spiritual dan kuliner tradisional yang mereka banggakan.


Jam 13.30 WIB, setelah berfoto bersama, aku dan ayah punya waktu berdua untuk mengobrol sebelum dia sibuk bercengkrama dengan para tamu yang hadir.


Meski banyak hal yang ingin kuceritakan padanya, kalau sudah dalam situasi seperti ini, aku jadi gugup untuk menyampaikan rasa maaf karena tak pernah memberi kabar. Setelah beberapa saat kami berbasa-basi tidak jelas, berlawanan dengan keinginanku sebenarnya, akhirnya aku membulatkan tekad untuk pamit.


Dia menyuruhku untuk menginap di rumah beberapa hari, namun aku menolaknya karena aku sedang menjalankan penyelidikan, dia terlihat sedikit kecewa mendengarnya.


Bagaimanapun aku harus pulang untuk menyelesaikan penyelidikan dalam waktu yang sempit. Aku menceritakan padanya sedikit kasus yang sedang kujalani, dia begitu terkejut mendengar jangka waktu yang diberikan pak Bisco. Pria tua ini pasrah membiarkanku kembali ke Jakarta meninggalkannya.


Setelah pamit, aku pergi kembali ke kamar hotel untuk beristirahat sebelum pulang ke Jakarta, Resepsionis hotel tiba-tiba memanggilku, “Mbak, apa benar kamar 21A?” Dia bertanya dengan senyuman tipis dari pintu koridor.


“Ya, ada apa?’’ Balasku sambil membalas senyumnya. Aku berjalan mendatanginya.


Seorang gadis dengan seragam hitam. Roknya terlihat sampai lutut.


“Ini ada kiriman,” Dia menyerahkan semacam buku padaku.


Selagi aku bingung memeriksa barang yang diberikannya itu, dia mendekatkan wajah padaku. “Buku? Dari siapa ya?’’ Tanyaku padanya sedikit menjauh menjaga jarak.


“Kurir tadi datang kemari, dia mengatakan ini dari teman lama Anda.”


“Teman lama? Apakah dia menyebutkan nama pengirimnya?’’


“Tidak, dia hanya mengatakan ‘Tolong beri ini kepada teman saya di kamar 21A’ Saat saya bertanya dari siapa? Dia mengatakan ‘Katakan saja dari teman lama’ hanya itu.” Jawab gadis ini datar.


“Apa aku boleh tahu nama anda?’’

__ADS_1


“Tasya…” Jawabnya menunjuk papan nama yang terpampang jelas di dadanya.


Gadis itu hanya tersenyum melihat kebodohanku.


“Terimakasih mbak.’’ Aku pergi kekamar meninggalkannya.


Aku tidak teringat berjanji dengan teman SD disini, aku sengaja tidak mengabari kedatanganku pada mereka, karena kasus Jara ini.


Sudah lama mereka mengajak untuk berkumpul bersama namun selalu terhalang waktu.


"Lalu buku setebal ini datang dari siapa?"


Sampai di kamar aku langsung mulai membacanya, seperti dugaanku, ini catatan neraka.


Buku ini sama seperti catatan-catatan yang sebelumnya, namun yang membuatnya berbeda hanya halaman tulisannya. Catatan Neraka yang selama ini ditemukan hanyalah lembaran-lembaran kertas yang ditulis untuk membunuh para korban. Akan tetapi Catatan Neraka yang berbentuk buku ini tertulis lengkap kisah perjalanan korbannya.


Catatan neraka ini dirangkai seperti novel, dan yang menjadi tokoh utamanya adalah Amelia Earhart.


Catatan neraka berbentuk buku ini bagaimana mungkin bisa sampai kemari? Apakah Jara mengikutiku? Siapa kurir itu? Kalau kurir itu adalah Jara… Tidak mungkin, pasti itu adalah suruhannya. Apakah aku harus mencarinya? Atau jangan-jangan dia sudah mati. Tidak.. tidak.. tidak, apa yang harus aku lakukan?


Aku begitu panik tidak bisa mencerna keadaan lagi.


“Oh tuhan…” Ucapku saat membaca halaman pertama.


Aku melanjutkan halaman demi halaman tanpa membacanya, jatuh selembar kertas yang tertulis.


“MISYA TOLONG AKU!’’

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Aku bergegas mengambil semua barang dan perlengkapan yang kubawa, kucoba memesan tiket via online tapi terus menerus gagal, aku begitu panik saat membaca bagian akhir halaman. Disana tertulis lokasi Amelia Earhart berada.


__ADS_2