
Yang benar saja, kedua bola matanya berbinar seakan menunjukkan iba setelah menyebut nama ku.
“Baik, maaf… tadi itu aku hanya bercanda.” Sambung nya setelah tertawa lepas.
“Lalu apa beda catatan ini?’’ pintaku padanya menjelaskan.
“Kalau begitu coba jelaskan padaku semuanya secara singkat mengapa kau curiga pada Nayla?’’
Setelah dia meminta penjelasan itu. Aku menghela nafas sebentar, lalu menceritakan dengan detail dan cepat. Dia hanya diam mendengarkan tanpa menyela sedikitpun.
“Baiklah…, Aku sudah paham garis besarnya.” Ketusnya berdiri melangkah ke sudut ruangan, mengeluarkan ponsel dari saku celananya, sepertinya dia mengetik sesuatu pada ponselnya.
Aku menatap mengikuti gerak nya. “Oi, bukankah sebaiknya kita pergi dari sini, setidaknya mencari udara. Tenggorokan sudah tak sanggup menghirup udara di sini.’’
“Apa kau tidak ingin tahu lagi mengapa mereka menganggap mu Jara!” Dia melangkah kembali duduk di bangku.
“Mereka?” ucap ku kaget.
“Ya, komandan dan tim mu, mereka semua yang melaporkan kau!’’
“Oi, yang benar saja’’
“Oi, lalu dari mana kapten Bisco bisa tahu semuanya kalau tidak dari mereka,”
Aku mengusap dagu memikirkan sesuatu. “Apa Andi melaporkan sesuatu kepada komandan sampai mereka menganggap ku jara. Sepertinya tidak… mungki…” Aku berbicara-bicara dalam hati.
Pria itu hanya tersenyum-senyum tidak jelas melihatku yang depresi kebingungan.
“Apa karena Kejadian Andi ini?’’ Aku menatap penasaran.
“Sepertinya otakmu tidak berfungsi hari ini ya?’’
Aku hanya menatapnya menunggu jawaban.
“Baiklah, aku akan menjelaskan, Coba bandingkan ketiga catatan itu!” Pinta nya melemparkan catatan neraka kehadapan ku.
Aku menggapai ketiga catatan yang dilemparkannya lalu membacanya kembali. Setelah membacanya kembali beberapa saat, justru aku tidak merasakan perbedaannya.
“Ahh… terlalu lama.” Ketusnya.
“Coba lihat catatan ibu Kirana itu!” Bentaknya.
Aku kembali mengambil catatan yang baru saja ku letakkan di atas meja.
“Kau katakan tadi, catatan neraka seperti kutukan bukan?’’
“Ya, objek yang disasar harus diambil darah jari jempolnya dahulu, tidak.. tidak..sepertinya bukan darah dari jempol saja. Apa itu tipuan?” Papar ku kebingungan.
“Kalau dilihat dari catatan Kirana ini, jelas itu tipuan.”
"Apa maksudmu?’’
"Kapan Kirana ini di ambil darahnya?’’
Aku mengambil catatan ibu Kirana, “Saat berjumpa dengan pesulap jalanan, bukan?’’
__ADS_1
"Bukan!”
Aku tidak bisa mencerna jawabannya.
Lihat catatan Andi dan pria yang menyerang kepolisian, Apa kau tahu sejak kapan darah mereka diambil?’’
"Entahlah aku tidak tahu. Di catatan mereka tidak tertulis!"
“Apa kau belum sadar juga?
Aku menggeleng tidak tahu.
Dia menghela nafas. "Mereka semua bisa dikendalikan sejak darah mereka didapatkan.”
“Maksudmu, Ibu Kirana sudah dikendalikan sebelum bertemu pesulap itu?’’
"Tentu!, Sejak paragraf pertama lah dia dikendalikan, bagaimana darah dia didapatkan, sama dengan Andi dan Pria yang menyerang kepolisian itu. Aku tidak tahu dimana dan bagaimana Jara mendapatkan nya.”
Aku mengangguk paham mengapa mereka menganggap ku Jara.
“Ow, sepertinya kau sudah mengerti mengapa kau di curigai Jara.”
“Ya, mereka menganggap ku Jara karena.. sebelum kematian Andi, selain aku selalu membuatnya sendiri. Lalu pada paragraf pertama dari catatan neraka miliknya itu Tertulis. Setelah membantu senior.” Wajahku mendongak padanya.
“Dan di catatan neraka yang pertama, kau juga masuk dalam cerita itu!, Bisa dikatakan, Jara adalah kau atau orang yang sangat dekat denganmu.’’
“Oi, apa maksudmu?’’
“Apakah menurutmu Jara mengetahui bahwa Andi memanggilmu Senior.”
“Apa kau bisa menjelaskannya?”
“Jangan-jangan saat di taman!” Tangkas ku cepat.
“Apa maksudmu?’’
“Aku ingat saat Andi menolong anak di taman itu, ada beberapa orang juga ikut menolong, apakah salah satu dari mereka?. Benar saat itu Andi berteriak padaku yang terdiam agar menelpon Ambulance.”
“Ow, Apakah itu pembelaan diri.” kilahnya.
“Oi, tim Forensik mengatakan apa?, maksudku dari mana Andi mendapatkan luka?” Aku sudah memahami sesuatu.” Bentak ku.
Pria itu diam sejenak menatapku yang begitu panik, dia seperti memikirkan sesuatu.
“Tim forensik sudah memberitahuku barusan. Lukanya dari sayatan pisau. menurut mereka luka itu didapat saat pulang dari kantor,” Jelasnya.
Aku menghela nafas. “Lalu mengapa aku masih dianggap Jara?’’ Ketus ku menatapnya.
“Tidak, aku hanya bergurau saja.’’ Jawabnya tersenyum.
Akhirnya aku paham mengapa mereka menganggap ku Jara. Itu semua karena kekurangan informasi mengenai catatan neraka ini.
Catatan neraka ini dimulai ketika darah si korban sudah didapatkan. Setidaknya itulah kesimpulan dari perbincangan ku dengan anggota Gagak Hitam ini.
Menurut tim Forensik Andi mendapat luka setelah pulang dari kantor sekitar jam 10.00 kurang lebih. Walaupun kami belum mengetahui dimana dan kapan dia mendapatkan luka itu.
__ADS_1
Yang pasti aku telah digiring oleh Jara untuk melakukan keinginannya. Jelas saja pembunuhan yang dilakukannya benar-benar teratur.
Pembunuhan LN adalah pembuka yang di sengaja nya. Setelahnya dia menculik Amel, kalau dilihat dari kondisi seperti ini, sudah jelas Amel sudah ikut menjadi korbannya.
Seperti dugaan ku, polisi akan mencari informasi mengenai Amel, lalu dia memberikan catatan kepada adiknya Amel.
Lalu merakit skenario yang begitu menarik.
Bagaimana tidak? dia mengecoh ku dengan begitu rapi.
Pertama dia mencari orang-orang terdekat di daerah panti asuhan itu. Dan dia menemukan keponakan Pak Yandri lalu membuatnya terbunuh lebih dahulu, untuk membuat cerita lebih dramatis.
Ibu kirana yang sebenarnya sudah terkutuk jauh sebelum kejadian di pasar.
Dirangkai sedemikian rupa dalam catatan neraka seolah pada hari bertemu pesulap itulah dia terkutuk.
Lalu… sejak hari itulah, sifat ibu Kirana diubah total olehnya, dan akhirnya membuat orang-orang di sekitar panti merasakan kejanggalan.
Karena saat itu aku menduga kejanggalan-kejanggalan yang dirasakan orang-orang panti dimulai saat kejadian pesulap itu, dan di hari yang sama kecelakaan keluarga pak Yandri juga terjadi.
Membuatku berpikir seolah kejadiannya terhubung dan berkaitan.
Hebatnya makhluk biadab ini membuat salah satu dari mereka selamat. Tentu itu untuk mendorongku agar datang menyelidikinya.
Benar saja orang yang diselamatkannya itu adalah corong untuk mengetahui apakah polisi sudah tergiur dengan rangkaian ceritanya.
Cerita akan lebih mempesona kalau dia membunuh satu anggota polisi sehingga membuat perpecahan di dalam kepolisian.
Sekalipun itu membongkar Rahasianya. Sepertinya dia tidak peduli akan hal itu. Yang jelas…
Jadilah sebuah cerita yang sangat menarik.
“Bagaimana menurutmu?’’ Tanya ku kepada anggota Gagak Hitam yang senantiasa mendengarkan dongeng singkat ku.
“Tak ku sangka ternyata… Misya Alexandra sebodoh itu!” Ketusnya lalu tertawa dengan riang.
Aku memandang muka Pria yang baru saja ku kenal itu dengan pandangan marah.
“Lalu pria yang menyerang kepolisian saat siaran tv untuk apa?’’ Aku bertanya padanya berharap dia memahami sesuatu.
Pria tak bernama itu membungkuk mengambil sesuatu dari dalam tasnya lalu mengeluarkan lembaran kertas seukuran catatan neraka mengangkatnya tepat di depan wajahnya.
“Korban itu memberi pesan khusus untukmu sepertinya!’’ Cetusnya.
“Pesan?’’
“Ya, tapi itu nanti saja kita bahas.” Ucapnya pelan sedikit konyol, “Aku ingin pergi melihat temanmu itu! apa kau tidak mau ikut.” Sambungnya mengajak.
“Aku juga cukup muak dengan Jara ini, baiklah aku ikut denganmu.’’
Setelah pertemuan di ruangan interogasi kami pun beranjak pergi meninggalkan kantor divisi khusus.
“Oi, bukannya kau katakan tadi, ingin pergi melihat Andi ke rumah sakit?’’ Hardik ku padanya yang sedang menyetir.
“Kita akan ke rumah sakit setelah mendatangi rumahnya terlebih dahulu, ada sesuatu yang ingin aku lihat disana’’ Ketus nya.
__ADS_1