
Tiga jam yang lalu...
Pukul lima lewat tiga puluh petang, aku sudah berada di bandara. Setelah menelpon Nanda di cafe aku kembali menelpon sesuai permintaannya. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dia lakukan, terdengar suara beberapa orang bersamanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyanya setelah panggilan tersambung.
''Aku tak tahu harus memulai darimana? Banyak sekali yang terjadi padaku hari ini... Aku bertemu dengan Jara..!"
"Ja-jara...Bagaimana bisa? Apa dia melakukan sesuatu padamu?"
"Tidak.. tidak, dia tidak melakukan apa-apa, katanya dia masih ingin melanjutkan permainan ini," Aku diam sejenak. "Saat di hotel seseorang memberiku catatan neraka Amelia tapi anehnya bentuknya seperti buku, maksud ku tidak seperti lembaran seperti biasa."
"Buku? Apakah dia yang memberinya?"
"Sepertinya bukan, Malah sebaliknya! Baru saja dia datang menemuiku hanya untuk mengambil Catatan itu..."
Nanda hanya diam. Aku bisa menebak dia memikirkan sesuatu. "Bagaimana menurutmu?" Lanjut ku.
"Lain waktu saja kita bahas soal itu, aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya, sebenarnya aku menelepon mu agar kau melakukan sesuatu."
''Nanda, sebenarnya aku ingin mencari dia, apakah itu terlalu penting sampai membiarkan nya lolos...''
''Sudahlah Misya, kau tidak akan bisa menangkap nya sekarang, bukankah kau katakan tadi kau sudah tertipu. Makhluk itu sangat cerdik. Pasti dia sudah membuat rencana untuk kabur. Yang penting kau harus berangkat segera, dan lakukan yang ku pinta.''
"Baiklah, apa yang kau inginkan? Apa kau sudah bertemu dengan mereka?''
"Belum, Aku masih di perjalanan menyusul mereka.'' Nanda diam sejenak mengambil nafas panjang. ''Misya! Aku ingin kau membuat Hana pingsan.."
''Apa kau sudah gila...'' Aku memotong kata-katanya.
"Terserah apa katamu, yang jelas aku tidak ingin berdebat dengan mu, ada sesuatu yang terjadi, tetapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk menjelaskannya, kau harus bergerak cepat.''
''Apa yang ingin kau lakukan?''
__ADS_1
''Baik aku akan jelaskan... Aku akan menodongkan pistol kearahnya dan aku ingin kau membuatnya pingsan, hanya itu! Atau kau ingin dia mati..''
Padahal belum sampai satu hari pergi meninggalkan mereka, tetapi begitu banyak hal yang sudah mereka lakukan. Sungguh aku tidak bisa menebak caranya berpikir, apa yang sebenarnya terjadi.
''Hei, apa kau tahu sesuatu...?" Aku bertanya setelah diam beberapa saat.
''Sudahlah, tidak ada waktu untuk menjelaskan mengapa..., yang pasti saat kau melihat aku menodongkan pistol padanya, kau harus bersandiwara mendekatinya. Lalu buat dia pingsan dengan mengincar titik vital nya."
''Tung-tungu, jangan bilang kalau... Dia sudah terkutuk?''
"Ya, tapi alasannya nanti saja, kau harus segera berangkat... Ambil jalur Surabaya, mungkin aku akan lebih dahulu sampai di lokasi, jadi segeralah berangkat!'' Pintanya.
Aku pun menutup panggilan dan bergegas membawa semua perlengkapan kedalam bandara. Selama melangkah kepalaku hanya memikirkan Apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku melewatkan sesuatu? Tidak mungkin, pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku.
Kepalaku hanya bisa memikirkan sesuatu yang disembunyikan Nanda dariku. Apakah Hana terluka saat bertemu Angga? Tidak mungkin, komandan mengatakan padaku dia tidak terluka. Apakah dia berbohong juga, tapi mengapa? Mengapa mereka menyembunyikan itu dari ku?
***
Setelah sampai di lokasi yang tertulis dalam catatan neraka milik Amelia. Aku berhenti sebentar di halaman rumah yang terlihat menyeramkan. Aku bisa mendengar suara kebisingan dari ujung sana. Mataku tiba-tiba terhenti kepada beberapa orang yang berlalu-lalang di pepohonan di sekitar rumah.
Ya pasti begitu.
Puas dengan keputusan. Aku bergegas mendatangi bangunan yang terpisah dari bangunan utama. Pelan aku membuka pintu, benar saja, Nanda langsung sigap mengeluarkan pistol colt dari balik jas dan mengarahkan pada Hana.
Tiga orang anggota Hana yang berdiri di belakang Nanda tampak sigap mengangkat senjata kepada Nanda, namun Nanda tidak terlihat begitu peduli. Atau dia tidak menyadari bahwa tiga muncung pistol sudah berjejer di belakangnya.
Hana hanya diam tidak berkata, dia hanya mengangkat kedua tangan keatas mengikuti instruksi Nanda.
''Oi, apa yang terjadi di sini?" Aku melangkahkan kaki pelan sambil mengangkat tangan.
Aku melihat Riko yang hanya berdiri tak berbicara seolah dia tidak melihat yang terjadi di depannya.
''Nanda, apa yang kau lakukan?" Tanya ku sambil berjalan perlahan mendekati mereka. "Nanda, apa yang terjadi? Aku tahu kau tidak akan menembaknya."
__ADS_1
"Itu tergantung dia, sekali dia menurunkan tangan. Aku tidak akan ragu..."
"Hei, apa kau pikir aku akan diam saja" Celetuk Riko dari sudut ruangan.
"Riko! Jangan gegabah..." Aku menoleh kearahnya, dia tidak melakukan tindakan apapun.
''Kalian yang berdiri di belakang ku...'' Kata Nanda sedikit meninggi. ''Aku tahu kalian sedang menodongkan senjata..." Nanda berhenti berkata kemudian mengeluarkan sejenis kartu dari saku celananya. ''Aku 03, salah satu pasukan dari Gagak Hitam, aku tahu Hana adalah pimpinan kalian dalam operasi ini, tetapi aku tidak peduli dengan itu, kalian tahu maksud ku, aku di perintahkan atasan kalian untuk melakukan ini, jadi, dalam hitungan tiga, kalian tidak melemparkan senjata kalian ke tanah, aku akan menganggap kalian bersekongkol dengannya!'' Tegas Nanda, matanya masih terpaku pada Hana tak bergeming sedikitpun.
Belum sempat Nanda berhitung, anggota Hana langsung membuang senjata beberapa meter kedepannya.
Aku melihat mata Nanda, dia sudah memberi sinyal kepadaku untuk melakukan permintaannya.
Setengah meter aku dari Hana, badanku langsung bergerak cepat lalu memutar tangannya yang terangkat kemudian menekan titik vital pada lehernya, lima detik kemudian Hana jatuh pingsan.
Aku menoleh kebelakang melihat Riko, dia masih terdiam tak berkutik. Tak lama kemudian Nanda memasukkan kembali senjatanya.
"Apa kau menemukan sesuatu?'' Tanya Nanda pada seseorang melalui earphonenya. "07, Bagaimana... Apakah ada jejak yang ditinggalkannya... Kalau begitu pergilah!"
Aku hanya melihat nya berbicara dengan seseorang melalui benda kecil yang menempel di telinganya. Setelah dia diam aku berkata. ''Kau harus menjelaskan ini padaku!" Bentak ku sambil memangku Hana di tanah.
"Baiklah, bawa dia ke mobil sekarang!"
Tiga anggota Hana bergegas menurutinya namun terhenti setelah Nanda berkata. ''Kalian bertiga masih berurusan dengan ku.. Riko! Bawa Hana ke tepi jalan, aku sudah memanggil dokter, pinta dia untuk memeriksa dalam perutnya, lalu kabari aku apabila ada sesuatu yang mereka temukan.''
Riko kemudian bergerak setelah mendengar perkataan Nanda. Aku berdiri setelah Riko menggendong Hana keluar dari gudang.
''Dimana jasad Amelia?'' Aku berusaha mencari dengan lampu seadanya ke sudut ruangan.
''Tanyakan saja kepada mereka bertiga!" Jawab Nanda dengan suara yang terasa jengkel.
''Senior, jasadnya ada di belakang bangunan ini.'' Jawab salah seorang terbata-bata.
Mendengar itu aku bergegas cepat keluar melihatnya.
__ADS_1
Bagaimana bisa? Aku begitu terkejut ketika melihat beberapa jasad yang hangus terbakar di dekat pohon.