
“Oi, oi…, oi, apa maksudmu? Bukankah Nayla adalah adiknya Amel?”
Aku mengangguk kepadanya. “ Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya. Ya…, kita hanya mempunyai sedikit petunjuk, namun ada beberapa hal yang membuat aku curiga padanya”
“Apa terjadi sesuatu saat di panti itu?” Tanya komandan seakan memahami sesuatu.
"Ya komandan, tetapi ini hanya firasat saja bukan berarti dialah Jara, untuk memastikannya, itu tergantung besok! Andi yang akan mengatakan kepada kita apakah Nayla Jara atau tidak.”
“Kalau tidak bagaimana?”
“Itulah sebabnya aku meminta komandan untuk membuat acara khusus di tv besok untukku”
“Apa yang sebenarnya yang ingin kau lakukan?”
“Baik akan ku terangkan, sebelumnya kita usut tentang Nayla terlebih dahulu, supaya Andi tahu apa tugasnya besok.”
“Silahkan!” Perintah komandan.
“Sebenarnya aku curiga kepadanya karena ada beberapa hal. Ini salah satunya.” Aku memberikan catatan yang aku ambil dari tas kecil yang selalu kubawa kepada komandan.
“Apa ini?”
“Hasil perbincangan ku dengan Nayla kemarin saat dirumah.” jelas ku kepadanya.
Aku berdiri untuk membagikan catatan penting yang sudah ku siapkan kemarin malam kepada mereka. “ Ini adalah salinan yang aku berikan kepada komandan.''
“Apakah kau menelitinya seorang diri?’’ Hana bertanya spontan saat menerima catatan yang ku berikan.
“Ya, apa yang ingin kau katakan. katakan saja!” cetus ku padanya.
“Tidak…, tidak ada” Ucapnya terbata-bata.
Setelah membagikannya aku kembali ke tempat duduk. ''Kalau begitu, aku akan menjelaskannya.”
“Apakah kau butuh air sepertinya kau kehausan? Matamu saja sudah sangat dekil. Terlihat seperti panda.'' Kata Riko meledek.
Mataku tersorot tajam padanya. “Kenapa tidak kau ambil saja."
“Andi..! Bagaimana menurutmu? Ratu yang lapar akan misteri ini, sangat kehausan ternyata. Lihat saja tampangnya, Sangat menyedihkan... Sepertinya dia tidak sempat untuk tidur dan minum, menurutmu apa yang harus kita lakukan agar dia terlihat cantik kembali.” Ujar Riko santai.
“Baik aku akan ke dapur membuatnya.’’ jawab Andi kemudian beranjak dari kursi membuat minum untuk kami semua.
Aku mendongak melihat kelakuan Riko itu. Dia hanya senyum cengengesan.
“Oi, kenapa matamu melihatku seperti itu, apakah ada yang salah?’’ tuasnya.
“ Cuihh…” decak ku membuat komandan tersenyum tipis.
Sungguh sifat yang langka mungkin dari 7,753 miliar populasi manusia di muka bumi ini, hanya dia saja yang memilikinya. Lagi pula dia yang kehausan tapi dia menuaskan kepadaku agar dia bisa di buatkan minuman, Aku pasti membalas kelakuannya ini, gumam ku dalam hati.
Tidak beberapa lama setelah Andi membuat minuman untuk kami semua. Komandan meminta untuk melanjutkan penjelasan ku. “Silahkan lanjutkan!”
Aku mengeluarkan Alat perekam suara dari saku lalu meletakkannya di atas meja, “ Aku kemarin merekam semua perbincangan bagaimana Amelia bisa menjadi artis terkenal seperti sekarang, Komandan.”
__ADS_1
“Apakah Nayla tahu kau merekamnya?'' komandan menunjuk alat perekam yang kubawa.
“Tidak komandan, aku menyembunyikannya.”
“Silahkan! Kami akan mendengarkannya.”
“Baik.'' Setelah mendengar interupsinya aku menekan tombol play.
Ruangan kembali hening sepi mendengarkan rekaman perbincangan ku dengan Nayla. Mereka semua mendengarkan dengan seksama kisah perjalan Amelia Earhart menjadi seorang musisi terkenal. Ya semua berawal dari email yang dikirim oleh perusahaan agensi padanya lalu pesan misterius yang diterimanya pada malam itu.
“Hanya itu?” Tanya komandan setelah mendengarkan rekaman.
“Belum komandan, itu hanya awal saja.” Aku menghela nafas sejenak. “Komandan coba lihat catatan yang ku bagikan tadi! aku sudah mencatat beberapa hal penting.”
Semua tim membuka catatan yang ku siapkan kemarin sebelum tertidur.
“Tunggu sebentar!'' ucap Hana.
Aku menoleh kepadanya.
“Dari mana Nayla mengetahui cerita itu? Apakah Amel yang mengatakannya?” lanjutnya bertanya.
“Ya, Saat Amelia pergi dari rumah memenuhi panggilan dari produser musik itu, dia tidak memberi tahu Nayla. Seminggu setelahnya Amelia pulang ke desa untuk membawanya ke jakarta. Menurutnya sejak hari itulah Amelia tidak seperti dirinya lagi, Sifat Amelia berubah Seratus delapan puluh derajat buktinya dia menitipkan Nayla di panti asuhan itu. Beberapa kali Amelia berkunjung kesana untuk memberikan uang, lalu pada suatu hari Nayla merasa Amelia kembali seperti dirinya yang dulu. Maksudku seperti Amelia yang dikenalnya. Saat itulah Amelia menceritakannya. Huhh… Itulah yang dikatakan Nayla padaku.”
“Apa mungkin Amelia menceritakannya?” tanya Andi bimbang.
“Entahlah…, itulah sebabnya kukatakan tadi karena kita kurang petunjuk.”
“Entahlah… Aku merasa sifatnya sangat aneh, kemarin saat aku menemuinya, dia terlihat seperti mu!" Aku menatap Hana. "Perempuan yang acuh dan sangat cuek. Gadis yang tak mau berbicara sangat anti sosial, tetapi…. Hanya sekejap, sifat itu berubah setelah mendengar Amelia hilang. Dan lebih parahnya dia tahu aku bertugas dalam kasus ini. Kemudian meminta untuk bergabung dalam penyelidikan ini.''
“Apa yang aneh dari situ. Bukankah itu hal yang wajar, lagipula dia sudah mengenalmu.”
“Maksudku dia seperti merencanakan sesuatu. Itu yang pertama.”
Semua orang masih tertegun mendengar penjelasan ku.
Aku menyapu poni rambutku ke atas “ Saat aku berbincang mengenai catatan ini, aku sempat menanyakan padanya apakah dia mengenal LN? Ternyata dia sangat mengenalnya, bahkan dia mengatakan, LN selalu datang menjenguk dan membelikan novel untuknya. Selang beberapa saat, aku memberitahunya bahwa LN sudah mati.” Terangku kepada Hana.
"Terus…"
“Apakah kau akan berwajah batu saat mendengar orang yang baik kepadamu telah mati.’’
Hana menggeleng.
“Dia tidak meresponnya, kau tahu apa yang dikatakannya?’’
Hana tertegun mendengarkan.
“Aku rasa itu ulahnya Jara!” Aku mencoba meniru suara Nayla.
“Dia mengatakan itu?’’
Aku mengangguk. “Lalu yang sangat membuatku curiga padanya adalah, semua yang menjadi korban adalah orang-orang yang pernah bertemu dengannya.” Tutupku membuat komandan was-was.
__ADS_1
“Lalu, apa yang akan aku lakukan besok di rumahmu?” Tanya Andi.
“Mengawasinya.” Jelasku.
Andi mengangguk paham.
“Tulisan penjelasan pak Yandri ini, maksudnya apa?” Komandan menanyakan catatanku yang di pegangnya.
“Komandan, sebelum pulang dari sana aku sempat menanyakan beberapa hal padanya, seperti yang kukatakan tadi, dia adalah keamanan disana. Coba komandan lihat catatan neraka itu kembali!” Pintaku.
Komandan bergegas mengambilnya.
“Bagian saat dia mengantar ibu Kirana berbelanja ke pasar! Dia tidak menunggunya bukan?’’
Komandan mengangguk memberi sinyal dia melihatnya.
“Pak Yandri memberitahukan kepadaku sebab dia tidak menunggunya pada hari itu.”
“Oh ya…”
“Hari itu keponakannya kecelakaan, lalu di hari itu juga ibu panti bertemu dengan Jara, Apakah ini hanya kebetulan?" Tanya ku padanya.
“Apakah menurutmu keponakannya kecelakaan disebabkan oleh Jara ini juga?''
“Entahlah…, yang jelas Nayla pernah bertemu dengannya di panti.”
“Semakin menarik” Ujar Riko.
“Untuk memastikannya... setelah siaran besok, saya ingin kalian pergi mencari informasi penyebab kematian keponakan si Yandri keamanan panti ini!” perintah komandan. "Jangan singgung catatan neraka ini pada mereka."
Aku memahami mengapa komandan tidak ingin polisi lain mengetahui masalah kasus ini.
“Siap komandan” Jawab kami serempak.
“Baiklah untuk sementara ini kita putuskan Nayla adalah sosok asli Jara” jelas komandan.
“Bukankah itu terlalu berlebihan komandan.Kita belum memiliki buktinya loh.'' Hana menyela.
“Itulah sebabnya Aku ingin Andi besok pergi membuktikannya.” Bantahku.
“Baik senior!” Jawab Andi dengan semangat.
“Komandan, Anda tidak lupa permintaanku kan?”
“ Ya” Jawabnya.
“Kalau begitu, Riko besok kau ikut bersamaku. Hana, kau temani komandan saja. Pastikan setetespun darah kita semua tidak keluar dalam menyelidiki kasus ini.”
“ Baik” Ucapnya.
“Kalau semua sudah paham tugasnya masing-masing, kita tutup perbincangan hari ini.”
“Siap komandan.” Teriak tim didalam ruangan.
__ADS_1