
Informasi yang Telah Terungkap :
-Lokasi Jara berada di Jakarta.
-Catatan Neraka bisa dibatalkan apabila catatannya jauh dari korban.
-Catatan Neraka harus benar sesuai tokoh dan keadaan.
-Pembunuhan Angga dan Anggita bertujuan untuk membunuh kepolisian.
***
Keesokan pagi nya, aku sarapan lalu bergegas ke Jakarta pusat, tempat kantor berada. Ketika aku tiba, Nanda dan Riko sedang berbincang-bincang di depan ruang rapat, agaknya ada yang berbeda, tidak biasanya makhluk bernama Riko ini datang tepat waktu seperti ini. Mereka saling bertukar tawa terlihat begitu akrab. Terbesit di kepalaku apa yang dibicarakan para pria selama bertemu, tidak mungkin mereka berbicara produk kecantikan.
“Pagi! Maaf mengganggu acara gosip pria…”
“Oh, kau sudang datang.” Nanda menyahut. Mereka berdua tersenyum ramah menyambut ku.
Aku tersenyum sinis menatap tajam Riko. “Oi, kenapa matamu seperti melihat hantu saja.” Ketusnya.
“Tidak, hari ini ada yang aneh saja.”
“Apa?’’ Tanya Nanda yang tidak mengerti maksud ku.
“Tidak.. tidak ada, Misya memang aneh seperti itu setiap hari, jadi tidak perlu kau tanyakan lagi.” Sahut Riko mengancam ku untuk tidak membeberkan sifat buruknya.
“Jam berapa rapat dimulai?’’ Aku melirik jam di tangan untuk memastikan. Sekarang sudah lewat pukul delapan pagi.
“Sepuluh menit lagi,’’ Nanda berkata dengan khidmat. “Kalau ingin masuk sekarang juga boleh, Komandan mu sudah menunggu di dalam.”
Aku melangkah masuk di ikuti mereka berdua, baru beberapa detik aku mencoba menikmati harumnya seisi ruangan, mataku terpaku kepada seorang wanita yang duduk anggun di sebelah komandan.
“Pagi Komandan!” Tegur ku santun.
“Pagi, Silahkan duduk!’’ Pinta komandan tersenyum.
“Baik.” Ucapnya.
Aku menarik kursi duduk tepat di seberang Hana. Riko dan Nanda ikut duduk di sebelahku.
__ADS_1
“Apa kau sudah menyiapkan semua berkas yang ku pinta kemarin?’’ Komandan memastikan.
Aku mengambil tas yang kubawa lalu menyerahkan semua berkas dan data korban, yang sudah ku siapkan setelah pulang memeriksa Angga dari rumah sakit.
“Bagaimana Hana? Apakah keadaanmu sudah baik?’’ Tanyaku setelah menyerahkan berkas yang diminta Komandan.
Dia tersenyum hangat. “Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku, Aku sudah baikan.”
“Oh, menurutku sebaiknya kau istirahat saja lebih dahulu, jangan terlalu memaksakan.”
“Tidak kok, aku hanya syok melihat korban itu kemarin. Sekarang sudah tidak apa-apa.” Terangnya tersenyum kembali.
Suasana ruangan begitu canggung, aku tidak terbiasa dengan sikap Hana yang terlalu santun seperti ini. Sesekali aku diam-diam meliriknya, pandangannya begitu sinis tidak pernah berpaling dari ku.
Belum sempat aku menegurnya karena risih, pintu masuk terbuka membuat komandan berdiri menyambut sosok yang baru hadir itu.
“Pak Bisco!” Bisik Ku kepada Nanda yang ikut berdiri menyambutnya.
Nanda tidak bergeming. Aku ikut memberi hormat setelah melihat mereka semua berdiri.
Aku begitu terkejut melihatnya hadir dalam ruangan rapat. Komandan kemarin tidak mengatakan padaku tentang ini. Dalam hati aku bertanya-tanya akan kehadiran nya. Pelan-pelan aku melirik ke arah Riko bertanya. Namun dia memberi sinyal tidak tahu.
“Silahkan duduk!’’ Ucapnya kepada kami semua.
“Baik, kita sudah sampai mana kemarin?’’ Pak Bisco bertanya pada kami, begitu dia sudah selesai mengucapkan kalimat pembuka dan sapaan hangat.
Komandan berdiri menyerahkan catatan yang sudah ku siapkan semalaman pada pak Bisco. Kami hanya memperhatikannya membaca.
“Misya,” Pak Bisco berkata begitu khidmat, “Wajahmu begitu tertekan hari ini, ada yang ingin kau sampaikan?’’ Semua mata di ruangan mengarah padaku.
Aku mengusap wajah, dengan sigap aku menjawab. “Tidak pak!’’
“Oh baiklah kalau begitu?’’ ucapnya tersenyum.
Aku merasa tidak menampilkan wajah kebingungan, tetapi dia masih bisa menerka isi kepala ku.
“Kasus mengenai pembunuh berantai yang mengaku sebagai Jara ini sudah sampai ke forum internasional.”
“Internasional?’’ Aku memotong penjelasannya tanpa sadar.
__ADS_1
Mata komandan terlihat begitu gusar kepadaku.“Maaf pak.”
“Baik, saya akan lanjutkan, ini di mulai sejak kejadian di televisi kemarin," Pak Bisco menatapku. "Saya belum tahu pasti, mengapa mereka bisa tahu masalah ini. Saya sedang menyelidiki nya, yang jelas interpol sudah menghubungi Kepala kepolisian pusat untuk menjelaskannya. Yang saya dengar interpol menganggap kasus ini terlalu sulit dan rumit… mereka menganggap kita tak akan mampu menyelesaikan nya."
Kami semua tercengang mendengar penjelasannya itu. Rasanya ingin sekali aku menyela penjelasan nya itu, banyak sekali yang ingin kutanyakan namun itu sangat tidak etis. Aku mendengus mencoba menahan sampai dia mengizinkan.
"Kepala pusat, meminta saya untuk menyelesaikan kasus ini tanpa campur tangan mereka."
"Bukankah lebih baik kalau mereka ikut membantu, pak?" Nanda menyela.
Aku begitu kagum melihat Nanda yang berani bertanya Sebelum diizinkan. Aku kembali mengurungkan pertanyaan yang menyerbu kepalaku, tentu itu karena Nanda adalah tangan kanannya.
Pak Bisco menatap Nanda begitu serius. "Seperti yang kalian tahu belakangan ini pihak Amerika dan China sedang panas merebut kendali dunia. Mereka sedang bertempur habis-habisan. Dan Amerika mencoba membuat kita untuk ikut campur dalam pertarungan itu. Menteri pertahanan sudah memberikan perintah untuk tidak terlibat, jelas saja, kita adalah negara non blok, tidak berpihak ke blok manapun, keributan mereka tidak ada kaitannya dengan kita. Jadi mereka mencoba memasukkan agen-agen untuk memancing keributan. Sudah lama mereka berusaha mencoba memasukkan agen rahasia mereka, sejauh ini pihak intelijen berhasil mencegah mereka. Akan berbeda sekarang.... Saat yang tepat kasus ini dijadikan alasan agar mereka bisa hadir di negeri ini. Jadi, sesuai negosiasi pihak pusat kepada mereka, kasus ini harus terpecahkan sampai 10 hari ke depan, kalau lebih. Pihak keamanan dunia akan memaksa untuk ikut andil dalam masalah ini."
"Silahkan, kalau ada pertanyaan?" Ujarnya Setelah panjang lebar menjelaskan alasannya hadir di ruang rapat.
"Pak, izin. Bukankah ini adalah urusan dalam negeri, mengapa mereka bisa memutuskan seperti itu?" Aku bertanya membuat komandan mengangguk-angguk.
"Sudah saya katakan, karena pemerintah menolak ikut pertarungan mereka. Lebih tepatnya pemerintah menolak halus ajakan Amerika!"
"Saya tidak paham kaitannya, pak?"
"Keamanan dunia yang disebut interpol itu, berpusat di Amerika, jelas saja mereka bisa semaunya mengendalikan untuk kepentingan mereka."
"Kepentingan?"
"Ya, Pemerintah sedang sibuk membangun infrastruktur yang bekerjasama dengan China, menurut Amerika itu adalah satu bentuk persetujuan pihak kita mendukung China yang menjadi lawan mereka. Jadi, mereka akan terus berusaha untuk menyeret kita melawan China, apapun itu. Tentu... itu karena negara kita tepat di dekat zona kawasan pertarungan mereka."
Aku teringat berita dua Minggu yang lalu tentang keributan yang terjadi di lautan. Pasti itu terkait tentang rencana mereka ini.
"Jadi, mereka memanfaatkan masalah ini untuk bisa datang tanpa harus bersembunyi-sembunyi lagi, pak?"
"Ya, selain itu mereka mengatakan di forum internasional, kepolisian kita tidak akan mampu menyelesaikan ini. Bagaimana menurutmu?" Ketus Pak Bisco mencoba membuat kami marah akan pernyataan mereka itu.
"Apakah Negara lain setuju akan keputusan itu, Senior?" Komandan bertanya pada pak Bisco.
"Hanya negara besar yang bisa menolak. Akan tetapi Hampir seluruh negara yang bergabung setuju akan hal itu, bagaimana tidak... rata- rata mereka sudah tertekan dari awal. Mereka tidak bisa menolak." Paparnya.
Kami terpaksa menerima kenyataan itu. "Jadi bagaimana? Sepuluh hari kalian wajib menangkapnya!"
__ADS_1
Sepuluh hari, Aku menelan ludah ingin menolaknya. Tapi wajah pak Bisco terlihat begitu marah sekalipun aku belum mengatakannya.
Sepuluh hari. Yang benar saja.