
Karena Catatan Neraka ini tidak bisa di copy. Aku menuliskan secara khusus ketiga catatan yang kami dapat pada jasad korban di buku penting milikku ini.
Semoga kalian yang menemukan catatan ku, aku harap dapat menemukan misteri dari tulisan Jara ini. Sungguh aku tidak dapat memahaminya lagi.
Seperti yang kalian tahu, di catatan ku yang sebelumnya, Jara menggunakan darah milik si korban untuk melakukan ritualnya. Darah itu terletak di bagian bawah dan tengah setiap catatan. Darah itu menutupi sedikit tulisannya.
Makhluk biadab ini memiliki kekuatan yang di luar nalar manusia. Semoga dengan catatan khusus ini kalian mudah memahaminya.
***
Pertama.
...Catatan Neraka Milik Kirana...
Pada suatu pagi di hari yang begitu suram aku mencoba mengingat kembali mimpiku tadi malam. Sungguh mimpi yang menakutkan. Tetapi tak kunjung mengingat nya
Setelah menyiapkan kebutuhan anak-anak panti, saya disuruh pak berend berbelanja sayuran di pasar untuk bekal makan anak-anak panti minggu ini. Pagi itu langit tidak begitu cerah, Yandri hanya mengantarku sampai pasar setelahnya dia pulang tidak menunggu ku.
Setelah selesai berbelanja hendak pulang di halte angkutan umum ada seseorang yang mengaku pesulap jalanan ingin membuat konten video dan meminta tolong kepada ku untuk menjadi objek atraksi sulapnya.
Aku mengangguk memenuhi permintaannya.
Kemudian dia memintaku untuk melakukan sesuatu gerakan agar sulapnya berjalan. Hari ini langit begitu gelap dan suram, seakan memberitakan sebentar lagi akan turun hujan.
Orang orang di sekitar halte yang penasaran satu-persatu berkumpul untuk melihat pertunjukan sulap yang akan ditampilkan nya. Trik sulap pun mulai dilakukannya.
Ada sebuah gelas tipis, sebuah alat pemukul dan selembar kain berwarna merah di tangan nya .
Dia menyuruhku untuk meletakkan tanganku di dalam kotak kecil yang sudah disiapkannya, lalu pesulap itu meletakkan gelas tipis itu di atas telapak tangan ku, dengan perlahan dia menutup nya dengan kain merah dan secara tiba-tiba memukul gelas itu.
Sontak pukulan itu membuat aku dan penonton berteriak terkejut mendengar suara pecahan gelas yang dipukulnya.
Aku tidak merasakan sesuatu terjadi pada tanganku hanya pecahan kaca sepertinya menyentuh kulit di telapak tangan ku.
"Bagaimana Menurutmu apakah gelas yang aku letakkan di atas tanganmu itu pecah?" tanya pesulap jalanan ini.
" Ya, tentu saja" Aku menjawab tegas dan cepat.
Wajah orang-orang di sekitar pun menunjukkan bahwa mereka sependapat denganku.Tak beberapa lama, pesulap itu mengambil alat pemukul itu kembali dan meremukkan kaca yang ia ambil dari sakunya lalu memasukkannya ke dalam kotak di hadapan ku, terasa di atas telapak tangan ku jatuh beberapa serpihan kaca.
Setelah itu dia mengeluarkan kembali dari sakunya secarik kain berwarna merah, pesulap itu meminta ku untuk menutup mata dengan kain yang sudah disiapkannya itu.
Karena mataku tertutup oleh kain aku hanya bisa menerka apa yang dilakukannya, sepertinya dia memukul-mukul kotak di hadapan ku begitu keras. Sampai terdengar bunyi kaca yang dilumat di kotak itu, tapi aku tidak merasakan apa-apa.
Beberapa saat setelah ia selesai memecahkan kaca diatas tangan kiri ku yang berada dalam kotak itu.
Terdengar sekilas kotak itu terbuka.
Suara teriakan- teriakan penonton terasa begitu keras sungguh teriakan histeris, seakan mereka melihat kecelakaan yang begitu dahsyat didepan mereka.
Mendengar teriakan histeris mereka, aku ikut panik di tambah penonton di sebelah ku mengatakan" Lihat tangannya ikut hancur dengan gelas itu!" Akan tetapi aku tidak merasakan sesuatu yang menyakitkan, ingin sekali aku melihatnya tetapi kain ini menutup kedua mataku.
Penonton seketika hening setelah pesulap menenangkan mereka.
Setelah penonton diam terdengar cekikikan kembali pintu kotak itu ditutup kembali." Apa kamu penasaran apa yang dilihat penonton?" pesulap ini bertanya padaku.
Aku hanya mengangguk.
" Baik kita akan membuka kain penutup mata mbak cantik ini, dan bertanya apa yang dirasakan nya. Tepuk tangan dulu dong!." ucap pesulap ini.
Suara tepuk tangan tangan pun terdengar riuh di sekitarku. Setelah pesulap membuka kain yang menutup mata ku ia bertanya " Boleh perkenalkan nama mbak siapa?"
" Kirana" Saut ku mengucek kedua mataku.
" Baik mbak Kirana, tadi penonton melihat gelas dan tanganmu hancur berlumuran darah di dalam kotak ini"
Aku hanya membuat ekspresi kaget untuk membuat penonton semakin tegang. " Dalam hitungan mundur kita akan membuka kotak ini. Saya akan menunjukkan langsung ke mbak Kirana yang cantik ini apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan tangannya. Ucap nya membuat ku tersenyum.
__ADS_1
Apa anda sudah siap? " tanya nya.
Aku mengangguk.
Tiga, Dua, Satu. suara penonton ikut dan membuat suasana Semakin menarik.
**Demmm**... Kotak hitam terbuka.
Tepuk tangan penonton kembali terdengar menggelegar kompak di sekelilingku.
Kotak kecil yang berisi tanganku beserta gelas yang hancur itu, semuanya masih utuh tanpa goresan sedikitpun, sebuah ilusi yang fantastis.
Pesulap itu memegang tangan ku dan membantuku mengeluarkan nya*.
“ Boleh tunjukkan tangan anda ke arah penonton!.’’
Aku Pun mengikuti perintahnya.
“Bisa dilihat, Tangan mbak Kirana masih utuh dan baik-baik saja– terima kasih" ucap nya menunduk dan menyebar toples kosong untuk penonton yang ingin menyumbang.
Tepuk tangan penonton kembali terdengar. Tak beberapa Setelah menunjukkan hasil dari atraksi nya, angkutan umum yang aku tunggu pun, akhirnya datang.
Pesulap jalanan dan beberapa penonton tadi ikut masuk ke angkutan umum.
Aku memilih tempat yang luas berada bagian dibelakang.
Pesulap itu duduk di samping ku. Selama di perjalanan dia hanya mengucapkan terimakasih dan bertanya sesuatu yang tidak penting tentang ku.
Setelah sampai di panti meletakkan barang belanjaan di dapur. Kebiasaan ku adalah membasuh tangan sebelum melakukan aktivitas lainnya. Air yang mengalir perlahan di tanganku, terasa perih di bagian ibu jari, seperti nya percikan kaca itu benar melukaiku.
Beberapa Minggu setelahnya. Anak-anak panti akan pergi wisata tahunan ke Bandung tahun ini mereka menginap beberapa malam di sana. Dua hari sebelum mereka berangkat aku kembali ke pasar untuk menyiapkan beberapa bekal yang disuruh pak berend. Pada hari itu aku tidak melihat pesulap itu lagi melakukan atraksi nya disana. Mungkin saja dia pindah lapak.
Hari yang sudah di tentukan pun tiba. Pak berend dan anak-anak panti pun berangkat dengan senyum hangat mereka mengucapkan selamat tinggal. Aku tidak bisa ikut dengan mereka karena harus menjaga Nayla.
Nayla adalah gadis yang baik entah kenapa kakak nya tidak mengizinkannya untuk keluar dari panti ini.
Hari ini aku sangat bersyukur Nayla masih ingin berbicara dengan orang lain selain aku. karena selama ini dia dilarang oleh kakak nya berbicara dengan orang selain aku. " Dari siapa kamu tahu dia akan datang" tanyaku kepada nya.
Dia hanya tersenyum tak mau menjawab.
Sore hari yang tidak baik, hujan yang begitu lebat. Lampu sorot mobil terpancar dari gerbang sana. Aku melihat mobil ingin masuk tapi di hadang oleh Yandri.
Aku teringat yang di katakan Nayla bahwa teman kakak nya dari kepolisian akan datang menjenguk nya.
Setelah aku mengizinkan. Yandri pun membiarkannya masuk. Seorang gadis cantik berambut terurai panjang, bertubuh langsing tinggi ,memiliki kulit putih dan wajah tirus keluar dari mobil berlari kecil ke arahku lalu menjulurkan tangannya memperkenalkan.
Setelah selesai memperkenalkan dan memberi tahu tujuannya, aku menyuruh nya masuk untuk menunggu di ruang tamu karena Nayla sedang di lantai atas. Seperti nya gadis cantik ini adalah orang baik terlihat dari mimik wajah Nayla kemarin menunjukkan bahwa gadis ini akan menolongnya.
Karena gadis ini adalah orang spesial bagi Nayla akupun mempersiapkan makanan dan minuman hangat untuk nya di dapur atas.
Hari ini hujan pun belum juga kunjung berhenti.
Saat aku menyiapkan cappucino panas untuk mereka, ternyata stok gula pasir sudah habis di dapur, sehingga membuat ku harus pergi mengambilnya di gudang panti yang terpisah di luar sana.
Aku pun mengambil payung di sudut pintu dan turun kebawah untuk mengambil gula di gudang panti yang terpisah di luar panti.
Aku berjalan santai melihat mereka berdua berbincang hangat di ruang tamu sampai mereka tidak sadar aku lewat di sebelah mereka.
Ya biar sajalah kenapa juga harus menegur mereka.
Di bawah langit hitam yang menurunkan hujan, aku berjalan perlahan ke gudang, Sekilas aku menatap kearah gerbang, Aku melihat Yandri masih berdiam santai dengan rokok di tangannya.
Dia melihat kearah ku seperti nya mengucapkan sesuatu tapi aku tidak mendengarnya karena tiba-tiba angin begitu kencang berhembus ke arah timur, membuat rok yang aku tarik ke atas jadi basah. Yandri di gerbang sana hanya tersenyum melihat ku.
Setelah selesai mengambil gula aku kembali ke panti. ketika aku tepat di bibir pintu sontak aku terkejut mendengar suara polisi wanita itu ingin membuat sesuatu yang terlarang bagi Nayla.
Tubuhku refleks masuk menjatuhkan payung di pintu lalu melarangnya mengajak Nayla untuk pergi.
Gadis itu mengajak Nayla keluar dari panti. Itu adalah larangan dari kakak nya. karena itu adalah aturan yang berlaku untuk Nayla.
__ADS_1
Gadis dari kepolisian itu hanya tersenyum setelah aku memperingatkan nya.
Setelah aku memberi tahu mereka telah menyiapkan sajian aku kembali ke pintu masuk mengambil payung yang aku jatuhkan tadi.
Saat menutup payung, kepalaku terasa pusing, tubuhku terasa bergetar.
Akupun bergegas berjalan meninggalkan mereka di bawah. Saat aku berjalan di atas anak tangga, tiba-tiba kepala terasa dipukul begitu keras di bagian belakang, tangan kiri ku sontak memegang pinggir tangga, membuat kantong gula itu jatuh,
Melihat kantong plastik yang terlepas itu, tanganku pun secara reflek meraihnya namun tangan kiri ku tidak menjangkau nya.
Tanpa sadar posisi ku yang ditahan oleh topangan payung terpeleset, membuat payung terlempar ke bawah di susul oleh tubuh ku yang tersungkur di anak tangga.
Payung ku terbuka secara tiba-tiba di bawah sana tak sempat menghindar sekilas muncul di kepala ku inilah…
AJALKU...
--------------------------------------------------------------------------
***
Kedua.
...Catatan Neraka Milik Jaka...
Seharusnya pagi ini Aku pergi memantau bangunan yang sedang aku awasi. Akan tetapi dorongan dari dalam hati ku begitu keras dan kuat. Aku berusaha menolaknya, tetapi hatiku meminta agar aku pergi ke Studio Stasiun KTV. Entah mengapa.
Aku membawa pisau dapur dari rumah, lalu pergi berangkat kesana. Kemarin seseorang memberitahu padaku bahwa orang-orang belakangan ini sangat menyukai atraksi sulap. Entah mengapa.
Dari dalam batinku, sangat ingin sekali menunjukkan atraksi itu.
“Benar, Aku akan melakukannya di studio KTV.”
Aku dengan sigap masuk kedalam mobil dan melaju cepat sampai di lokasi. Beberapa penonton berpakaian polisi sudah menunggu pertunjukan yang akan ditampilkan. Mereka sangat antusias melihatku. Sungguh betapa bahagianya hatiku.
Dengan sigap dan cepat aku menusukkan pisau yang kubawa ke perutku, Mereka semua berteriak kagum melihat atraksi sulap yang Aku tunjukkan.
Penuh semangat, Pisau ini terus berulang-ulang aku tusuk berkali-kali, sungguh tidak kuduga, trik sulap yang diajarkan olehnya sangat ampuh… pisau tajam ini tidak mampu melukaiku.
Mendengar teriakan penonton yang semakin histeris, Aku mencabut pisau dari perutku. kemudian kutusuk batang leherku yang kecil dan berakhirlah atraksi. ---------------------------------------------------------------------------
***
Ketiga.
...Catatan Neraka Milik Andi...
Setelah pulang membantu Senior, aku pergi melaporkan semuanya pada komandan. Semua yang aku temukan hari ini. Entah mengapa kepalaku pusing tak menentu, aku pun pergi ke minimarket membeli obat kepala.
Setelah semua laporan dan kegiatan selesai aku beranjak pulang kerumah.
Jam Sembilan aku selesai mandi lalu makanan malam. Aku harus istirahat secepatnya untuk persiapan besok. Tanpa sadar setelah minum obat yang ku bawa, aku tertidur pulas di depan televisi. Saat bangun kepalaku terasa begitu sakit seperti ditusuk-tusuk oleh benda tajam. Entah mengapa di kepalaku seperti ada sesuatu yang berjalan-jalan begitu sakit menusuk.
Aku berjalan pelan menuju kamar mandi, mataku menyorot barbel sepuluh KG yang ada di sudut lemari.
“Tidak Hari ini, sepertinya tidak harus olahraga.’’ Gumamku dalam hati.
Kepalaku yang sakit tak kunjung hilang, Dari dalam hati ada dorongan untuk mengambil barbel itu. Aku Pun pergi mengambil barbel itu lalu memukul kepalaku dengan begitu keras.
Entah mengapa rasa nyeri dan menusuk itu sedikit hilang. Sungguh ajaib, kepalaku begitu keras. berulang-ulang kali aku memukulkannya ke kepala sampai rasa nyeri itu benar-benar hilang.
Aku teringat harus mengabari senior, aku memberitahunya akan pergi langsung ke rumahnya tanpa harus ke kantor lagi. Dia Pun setuju dan mengiyakan.
Ketika bersiap untuk memakai pakaian, mataku terarah kepada lemari. Aku melihat dasi begitu cantik lalu mengikatkan dasi itu pada leher, lalu menarik sekeras mungkin. Sungguh terasa nikmat.
Tiba-tiba muncul satu sensasi di kepalaku. Kalau dasi yang terlilit di leher ini ditambah pukulan barbel ke kepala pasti akan sangat nikmat.
Aku duduk santai di tangga mengantukkan-antukkan kepala kedinding, sesekali aku memukulkan barbel sepuluh KG itu dengan keras, Sungguh nikmat. Tanpa sadar aku tertidur,,, ---------------------------------------------------------------------------
Untuk korban selain mereka, Sejauh ini.... Kami tidak menemukan catatan pada jasad mereka.
__ADS_1