
Camera… Rolling… Action
Satu hari yang lalu….
“Lalu untuk apa saya meminta kepada pihak penyiaran membuat acara khusus untukmu?’’
“Untuk mengecoh nya komandan’’ timpal ku.
“Apa maksudmu!,’’ sanggahnya.
“Aku ingin mengaku sebagai pemburu nya, ya benar, pemburu jara” Papar ku membuat mereka semua terbengong.
“Dengan begitu dia akan berambisi untuk melawanku. Entah kenapa aku merasa Jara ini adalah seseorang yang memiliki sifat ke kanak-kanakan.” Lanjut ku.
“Huh…, dengan begitu dia tidak akan mengincar kepolisian secara membabi buta, melainkan aku dan orang yang ikut bersamaku sajalah yang menjadi incarannya. Itulah sebabnya dari awal kukatakan bisa saja kita akan menjadi korbannya. Tapi dengan petunjuk dan informasi yang lebih, semua itu tidak akan terjadi. itulah tujuan dari uji coba ini, komandan.’’
“Mencari informasi ya?” Tanggapnya cepat.
Aku mengangguk. “Semua ini harus dilakukan komandan, agar kita bisa mengetahui informasi lebih banyak.”
“Darimana kau bisa seyakin itu!.” Hana menyanggah.
Seperti nya wanita satu ini meremehkan diriku, Aku tahu Hana adalah wanita yang jenius dan cerdas. Dia juga tidak mudah percaya akan sesuatu, sekalipun itu dari rekannya. Karena sifat nya itulah komandan merekrut nya.
Aku menoleh ke arahnya. “ Biar aku berikan sekali lagi kalimat bagus untukmu. Pengetahuan seseorang lah yang membuat keyakinannya semakin kuat atau lemah.’’
“Sudah… itu tidak perlu lagi diperdebatkan.” Sergah komandan. “Lalu apa yang saya lakukan di wawancara besok?’’
“Seperti biasa saja komandan,’’ sahutku membuat komandan kebingungan. “Maksudku anda jangan menyinggung perihal Jara ini, katakan saja ke awak media bahwa LN bunuh diri. sejauh ini penyebab dia melakukannya karena stres berlebihan. kalau mereka bertanya apakah hubungan asmara penyebabnya katakan saja tidak’’
“Oi,oi,oi, Misya!, kalau soal itu tidak perlu kau beri tahu, komandan juga paham hal itu.’’ gerutu Hana.
“Maaf, aku hanya terbawa suasana’’ desahku lirih.
“Setelah itu apa yang kau lakukan?” Tanya komandan.
“Baik akan aku menjelaskan rencana dan tugas masing-masing. Boleh komandan?." Komandan mengangguk mendengar permintaan ku.
"Kita akan membagi tim menjadi tiga grup. komandan bersama Hana. aku dengan Riko lalu Andi bekerja sendiri untuk mengawasi Nayla.” Semua mengangguk paham.
“Komandan akan diwawancarai media jam Sebelas WIB, Bukankah begitu komandan?’’ sambung ku.
“Ya’’ Komandan menanggapi.
Manejer Amelia Earhart, Yaitu Lisdia Ningsih. ditemukan bunuh diri di kantor SKYC empat hari yang lalu, pihak media akan menanyakan itu kepada pihak berwajib untuk menjelaskan kepada publik.
“Apakah acaranya di kantor ini?"
“Seharusnya disini” Balas Komandan
__ADS_1
“Komandan Aku ingin Acaranya dilakukan di TV Nasional." Usul ku.
“Kenapa?’’
Komandan dan yang lainnya menunjukkan wajah yang sama. Mereka semua kebingungan dengan permintaan ku.
“Akan repot kalau melakukannya disini’’
“Saya tidak paham’’
“Kita harus memilih satu Chanel tv yang pasti akan ditontonnya.’’
“Jara maksudmu?’’
Aku mengangguk. “Bisa saja rencana ku akan gagal kalau di siarkan di semua tempat berbeda.” Jelasku.
Untuk menjalankan rencana yang sudah membuat ku tidak tidur semalaman, rencana ini harus dilakukan di tv Nasional.
“Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan”
“Aku akan menjelaskannya nanti, kita bahas satu persatu dulu komandan”
Semua mengangguk.
“Kalau memilih siaran TV yang akurat terpercaya, sepertinya KTV’’ jelas Hana.
“Kalau begitu, besok kita akan kesana, saya akan menghubungi mereka,’’ timpal komandan.
Komandan dan Hana sudah paham garis besar tugas mereka. Aku kembali mendongak keatas menatap langit-langit ruangan.
Acara tv sudah tersusun dengan rapi. Terdengar suara dari depanku membuat lamunanku buyar sekejap. “Hanya itu saja tugasku’’ Tanya Andi memastikan.
Andi adalah tipe pria yang sangat serius dia terpilih dalam kasus ini juga karena spesialis dalam penyamaran. Aku ingat saat membawa nya dari Pekanbaru.
“Ya itu adalah keahlian mu, aku minta walaupun satu detik dia tidak hilang dari pandanganmu.’’ Jelas ku memposisikan tempat dudukku kembali.
“Baik." Ucap nya.
“Aku sudah memasang penyadap dan kamera tersembunyi di ruangan tengah dan kamar mandi.”
“Wow, kamar mandi.” Riko tersenyum dengan wajah mesumnya.
“Apa yang ingin kau katakan,” Mataku tersorot tajam padanya.
“Tidak ada, aku hanya ingin mengucapkan semangat untuk Andi, hanya itu saja” Jawabnya lalu terdiam.
Setelah Riko tidak melanjutkan pikiran mesumnya, aku pun melanjutkan penjelasan ku kepada Andi. “ Jadi kau tidak usah bersembunyi, cukup datang saja kesana lalu awasi dia, tapi pergerakannya jangan sampai kau bekukan. Maksudku, biar saja dia pergi kalau dia mau, lalu ikuti!. Hanya itu.”
“Aku paham.”
__ADS_1
“Apa kau lihat ini.” aku menunjukkan ibu jariku yang terluka padanya.
“Senior!, jangan-jangan kau” Bentaknya.
“Ya, aku sudah mengeluarkan darahku’’
Semua orang yang berada di ruangan melihat jariku yang terbalut perban.
“Sejak kapan dan kenapa?’’
“Huh.., aku tidak tahu mengapa, yang pasti kalau aku mati saat memprovokasi di tv nasional sudah pasti dialah pelakunya.” celetuk ku santai.
“Oi,oi,oi, apa kau tidak sayang akan nyawamu.” Riko menolak.
“Hhhh, apa maksudmu Riko?, tentu saja aku tidak membuang nyawaku begitu saja. Ini hanya luka buatan. Darah yang aku tinggalkan di rumah itu adalah darah ayam yang kuminta saat kami makan di perjalanan pulang.”
Kemarin setelah pulang dari panti asuhan. Aku dan Nayla singgah sebentar untuk mengisi perut. Aku membawanya ketempat langganan ayam geprek di dekat komplek rumah. Lalu saat di rumah aku berpura-pura terluka. Menurut ku Nayla pasti melihat nya.
“Apa dia sebodoh itu tidak menyadarinya.
“Kalau otaknya seperti mu, mungkin saja dia tak menyadarinya.” Aku tersenyum meremehkannya.
“Misya, Kau!’’ Protesnya.
“Aku bercanda. tentu saja Nayla tidak akan melakukannya. sekalipun dia adalah Jara. Menurutku dia sudah sadar kalau aku curiga padanya. Oleh karena itu, Andi! jangan bersikap terlalu mencolok didepannya.”
“Siap”
Melihat semua orang sudah paham garis besar tugas mereka, tinggal seseorang lagi yang tidak sadar seolah dia adalah bos dalam kasus ini. “Oi, otak batu!, apa kau tidak menanyakan tugasmu?’’ Cetus ku kepada Riko.
Dia tersenyum lebar mendengarnya. “Untuk apa?, kau akan menjelaskan sendiri juga nantinya’’
Aku tersenyum lebar menyaksikan sifat aneh nya itu. “ Pertama, ini yang paling penting jangan sampai terlambat!’’ dia hanya terdiam menggerutu. “Kedua, aku ingin kau menyiapkan topeng dan jubah hitam penutup tubuh” Jelas ku.
“Apa kau ingin menjadi Anonymous?’’ Tanggapnya.
“Kalau iya, kau mau apa’’
“Tidak, apa salahnya aku bertanya." celetuknya kesal.
“Huh… Dilihat dari cara dia membunuh, sangat sulit di mengerti. Jadi, Ini hanya untuk berjaga-jaga. Sekaligus menyembunyikan identitas kita.” Aku diam sejenak. "Bagaimana Otak batu! Apa kau sudah paham?’’
“Nama apa itu? Tidak bisakah kau memikirkan nama yang lebih menarik lagi.” Tutupnya membuat kami semua tertawa.
****
INFORMASI YANG TERUNGKAP :
JARA BUTUH DARAH KORBAN UNTUK MELAKUKAN RITUAL CATATAN NERAKA.
__ADS_1