SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
KARMA


__ADS_3

Tanggal 15, hari kesepuluh.


Hari ini hari kamis tanggal 5, hari terakhir kami.


Penyelidikan yang telah ku jalani selama sepuluh hari ini hanya dapat mengumpulkan keping-kepingan puzzle yang selama ini berserakan. Namun, aku belum juga bisa memastikan sebuah gambar yang terbentuk dari potongan puzzle-puzzle itu.


Aku sangat ingin bertukar informasi dengan Nanda. Setelah itu, mungkin kami bisa mengambil kesimpulan yang bermanfaat untuk penyelidikan ini. Kenapa dia tidak juga datang sampai hari ini. Sudah lima hari aku tidak mendapat kabar dari Nanda. Petunjuk yang diberikannya sama sekali tidak memberikan jawaban dari pertanyaan yang kubutuhkan. Hanya, informasi yang membuat kepalaku semakin rabun. Entahlah, atau memang aku yang tidak bisa menganalisisnya. Entahl mengapa sampai hari ini ia juga belum kembali seperti yang dikatakannya.


Aku benar-benar tidak tahu, memang sempat terjadi perselisihan di antara kami berdua. Ia terlihat begitu marah kemudian aku pergi begitu saja. Saat terakhir kali menelpon ia hanya meninggalkan satu pesan penutup, Jangan cari aku sampai aku menelponmu. Entah apa maksudnya mengatakan itu. Saat itu aku begitu jengkel melihat perilakunya. Aku merasa dia begitu meremehkan caraku dalam memecahkan masalah ini. Saat itu kami memang benar-benar kacau. Dan sekarang aku sangat ingin mendengar pendapatnya sekalipun dari telepon.


Aku berusaha tetap berbaring, tetapi pikiranku terus berpacu. Aku bangun kemudian berpakaian tanpa bersuara dan keluar untuk berjalan-jalan. Riko masih tertidur di atas kasur ruang tamu.


Setelah kembali dari Jombang untuk menemuimu dokter waktu itu, aku meminta Riko untuk tinggal sementara di rumah. Agar kami bisa saling menjaga satu sama lain. Sudah tiga hari kami menunggu panggilan dari dokter itu dan tadi malam ia meminta kami untuk menemuinya hari ini di rumah sakit tersebut.


Aku berjalan bolak-balik menapaki rumput penuh embun di taman, pikiranku berputar. Namun, tidak juga dapat meraba gambar samar-samar dari kumpulan puzzle-puzzle itu.


Riko sudah bangun dari tidurnya, dan tepat ketika aku mendengar langkah kakinya menuruni tangga, telepon berdering. Aku melompat dan menyambar gagang telepon.


“Misya!’’ erang suara gusar di ujung sambungan. Aku butuh waktu beberapa detik untuk mengenali suaranya.


“Apakah ini anda… Pak Bisco?’’ Aku menyemburkan pertanyaan dengan suara bernada tinggi.


“Datang segera ke kantor,’’ jawabnya, suaranya meninggi. Kemudian, setelah jeda sesaat, dia berkata,” Apa yang sebenarnya sedang kalian lakukan!’’


“Pak…,” Belum sempat aku menjawab pernyataannya yang tidak aku pahami, dia memutuskan sambungan. Aku menghela nafas. Aku melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB.


"Ada apa?" tanya Riko yang sudah turun dari lantai atas. Suaranya masih terasa serak.


"Pak Bisco menyuruh kita segera menemuinya!''


Aku bergegas bersiap ke kantor. Berlari kencang seperti orang yang sedang melihat setan. Riko hanya diam menatapku tanpa kata-kata.


Dimana dia? Apakah sesuatu telah terjadi? Apakah dia dalam bahaya? Dan kemana saja dia pergi? Apakah dia sudah menemukan petunjuk penting? Kami harus bicara. Ya ampun, kami benar-benar harus bicara! Nanda, apa yang harus aku katakan pada pak Bisco.


Aku melesat keluar dari rumah dan berlari ke garasi mobil diikuti oleh Riko. Di warung sarapan yang tak jauh dari rumah kami mengisi perut sebentar. Aku sama sekali tidak tahu apa yang harus aku sampaikan pada pak Bisco. Dia kedengaran seperti orang yang melihat pencuri kabur dari rumahnya. Apakah dia marah? Apakah dia sudah menemukannya? Tidak.. tidak, tidak mungkin. Pasti ada sesuatu yang terjadi.


Setelah membayar sarapan yang baru saja ku santap. Aku bergegas pergi ke kantor tanpa menyiapkan jawaban yang jelas pada pak Bisco. Aku menyusuri jalan yang dipenuhi orang-orang yang mulai sibuk menyiapkan kebutuhan mereka. Sesekali muncul di benakku ingin menyerah dan mengalihkan kasus ini pada pihak interpol, mungkin mereka lebih bisa memecahkannya. Bagaimanapun aku sudah menuangkan segala cara dan upaya, hasilnya sama saja. Tidak ada.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, ponsel ku kembali berdering. Pak Bisco!


“Saya sedang diperjalanan menuju kantor, pak!”


“Segera datang ke kantor divisi khusus, saya tunggu kamu di sini!”


“Apa yang sebenarnya terjad…”


“Apa yang terjadi? Tidak usah banyak tanya, cepat kemari!” Tuas pak Bisco memotong kalimatku.


“Baiklah pak, saya segera kesan….’’ Pak Bisco langsung menutup telepon sebelum aku selesai berbicara.


Apakah sekarang sedang trend berbicara dengan orang lain tanpa penjelasan? Mengapa aku dipanggil kesana? Tidak.. tidak mungkin. Aku berusaha menghilangkan prasangka aneh dalam benakku, sebuah pikiran yang konyol.


Aku sama sekali tidak mengerti. Namun, aku bisa menangkap sebuah sinyal kegelisahan dari Pak Bisco. Apakah dia sedang marah? Apakah ini episode lanjutan dari tipu-tipuannya? Apakah dia ingin mempermainkanku di hari terakhir kasus ini? Kadang-kadang seorang petinggi bisa sangat mengesalkan, tetapi bagaimanapun aku telah setuju dengan keputusan menemukan Jara dalam jangka 10 hari.


Aku memutar setir mobil memutar balik arah menuju kantor divisi khusus. Melesat cepat menyisiri jalanan yang mulai padat, satu jam lebih diperjalanan akhirnya aku sampai. Segera aku tergesa-gesa berjalan menuju kantornya. Tidak ada orang di situ.


Riko yang mengikutiku tertahan di pintu masuk oleh keamanan. Aku tidak tahu mengapa ia dilarang masuk ke dalam.


Kemudian aku menyusuri lorong menuju ruang laporan dan menanyakan pada petugas yang berjaga. Tidak lama kemudian, aku melihat seorang pria berjalan gagah.


Aku menyapanya. Dia membisikkan sesuatu saat mendekatiku. Dia begitu marah, senyumnya terlihat di paksa. “Apakah kau tahu ini hari apa?’’ Dia bertanya.


Aku mengangguk berusaha menerka tujuannya mengatakan itu. “kalau begitu, saya tunggu kamu di ruangan. Saya harap kamu memiliki alasan yang bagus mengenai hari ini!” Dia bergumam, kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruang belakang.


Aku menghembuskan nafas dari ketengangan yang baru saja terjadi. Keadaan ini sangat buruk, sekalipun aku membuat alasan yang diinginkannya mengenai 10 hari ini, namun sudah berkedip tanda-tanda bahaya darinya. Sejujurnya aku lebih mengkhawatirkan Nanda yang menghilang entah kemana.


Aku berjalan pelan sambil memikirkan alasan terbaik mengenai kasus Jara ini. Kepalaku tidak menemukannya. Aku mendengus pasrah dan masuk ke ruangannya.


“Silahkan duduk!” Ucapnya.


Aku melangkah ke kursi di depan mejanya. “Coba lihat jam dinding di belakang saya, sudah menunjukkan pukul berapa?’’


“Pukul 11 pak.”


“Saya rasa kamu tidak lupa ini tanggal berapa? Ada sekitar 12 jam lagi sebelum para interpol itu datang kemari. Jadi, apapun yang ingin kamu katakan… saya akan mendengarnya besok. Tidak hari ini!”

__ADS_1


“Pak…”


“Apakah belum jelas…”


“Pak!” Aku membentak. “Apakah bapak ingin tahu? Anggota bapak  yang bernama Nanda itu, aku tidak tahu dia pergi kemana? Sudah lebih  tiga hari ini dia menghilang, aku hanya pergi mencari Jara sendiri. Jad…”


“Lalu apa saranmu? Biarkan para pembuat onar itu datang? Kau ingin aku mengizinkan mereka berkeliaran seenaknya? Hah…”


“Pak!”


“Kamu tahu keamanan publik kita mau dibawa kemana?”


Aku menelan ludah tak berkata-kata.


“Kamu ingin aku memberitahumu?" Matanya begitu tajam. "...Menjadikanmu bahan tertawaan, bukan hanya disini, ingat itu! mereka akan memberitakan kasus ini di seluruh dunia, liputan sedunia akan mengikuti sandiwara yang kau tampilkan di televisi waktu itu. Hahaha… Apa kau lupa? Dengan enteng mengatakannya di televisi itu!”


Aku masih terdiam tak mampu mengangkat kedua bibirku untuk menjawab lantang seperti biasa.


“Misya! Apakah kamu suka tampil di televisi dengan judul orang-orang bodoh di kepolisian kita tak mampu mencari pembunuh yang membunuh salah satu anggota mereka? Apakah kamu ingin membaca artikel, kepolisian negri ini tak bisa memburu pembunuh yang berkeliaran di sekitar mereka? Ya mereka tahu karena kamu sendiri yang menyebarkannya di televisi, kamu sendiri yang mengatakan Jara berada di Jakarta. Jadi, saya tidak meminta pendapatmu? Temukan dia sekarang!”


Sorot mataku langsung  berubah setelah mendengar ucapan pak Bisco. “Wah, kalau soal itu…”


“Tidak bisa, ya?” Kilah pak Bisco menghampiriku, “Silahkan keluar, sekaligus pikirkan cara kau menemukannya!’’


Aku segera berdiri setelah mendengar suaranya begitu keras. “Baik pak, aku akan menepati janjiku.” Aku melangkah memunggungi pak Bisco kemudian meninggalkannya.


"Hei, Misya! Ada pesan dari Nanda sebelum pergi untuk mu," ucap pak Bisco membuat kaki ku berhenti. Aku berbalik badan ke arahnya.


"Saat kau kebingungan cari ponselnya!"


"Dia mengatakan itu, Pak? Apa maksudnya?"


"Entahlah… hanya itu yang ia katakan. Aku tidak menanyakan apa maksudnya karena katanya kamu akan mengerti apa tujuanya."


"Kalau begitu bapak tahu dimana dia sekarang?"


"Baiklah saya akan katakan padamu dimana dia saat ini… Nanda sedang menjaga Menlu yang saat ini bernegosiasi ke Eropa soal kedatangan interpol itu apabila sampai besok kasus ini belum juga terselesaikan."

__ADS_1


"Lalu untuk apa dia mengatakan itu… aku sudah menunggu telponnya, pak."


"Kenapa tidak kamu pikirkan saja sendiri!" Ketusnya.


__ADS_2