SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
GAGAK HITAM


__ADS_3

“Yang benar saja, sudahi omong kosong ini. Aku harus bergerak untuk mencari Jara!’’ Aku berteriak keras padanya.


“Oh gitu…, Bukankah kau adalah Jara?’’


Aku melemparkan tatapan tajam padanya, pria ini meletakkan sebuah catatan kecil yang diambil dari tas kecilnya. Lalu tersenyum lebar menatapku setelahnya.


“Sejauh ini aku belum begitu yakin bahwa kau adalah Jara, jadi untuk kedepannya aku ingin kita bekerja sama.’’ ucapnya.


Eh mengapa dia berubah menjadi ramah? Aku menggerutu di atas bangku karena borgol yang mengikat ku dari tadi. Aku rasa ada sesuatu yang gatal di punggung, tapi aku tidak bisa menggapainya. Sial.


“Untuk itu aku akan memperkenalkan diri terlebih dahulu, sebelum kita pergi.” Pria ini kembali bersikap aneh.


“Pergi?”


“Bukannya kau ingin pergi melihat partner yang menjadi korban!’’ Sergahnya.


Aku hanya mengangguk mendengarnya yang begitu simpati.


Melihat catatan neraka milik Andi itu sungguh mengguncang kepala sampai ke ubun-ubun. Aku harus pergi melihat Andi lalu mencari Jara secepat mungkin.


Tentu, gumam ku dalam hati.


“Apa kau perna…”


“Oi, lebih baik borgol ini kau buka lebih dahulu! Sebelum kau melanjutkan dongeng mu itu, tanganku sudah berat karena kram!” Pria itu hanya membeku tak menjawab.


Aku berdiri dari bangku ingin meminta kunci kepada petugas yang diluar. Akan tetapi terdengar suara dari belakang membuat kaki ku berhenti melangkah.


“Itu tidak perlu!’’


Mataku tersorot tajam padanya. “ Oi, apa maksudmu?’’


“Sini!, aku saja yang membukanya,” ucapnya dengan nada lirih.


Aku mengulurkan tangan ke hadapannya.


Aku memperhatikannya dengan tatapan sinis, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam jaketnya.


Kemudian memasukkan benda itu dan terbuka. Benda itu bukan kunci, tapi terlihat seperti pena berukuran kecil, hanya hitungan detik dia memasukkan benda aneh yang dikeluarkan dari jaketnya, borgol yang mengikat kedua tanganku, langsung terbuka.


Dilihat dari tampang dan skill nya, pria ini memang benar-benar hebat, aku memuji dalam hati.


“Baik, kalau begitu apa yang ingin kau sampaikan tadi?” Aku kembali duduk menghempas-hempaskan tanganku ke baju seakan menghilang debu, setelah dia melepaskan borgol.


“Oh ya, tadi aku ingin memperkenalkan diri.” Sahutnya.


“Ya, silahkan saja!’’ ucap ku tersenyum.

__ADS_1


Aku menundukkan kepala ke bawah sejenak setelah dia meminta perkenalan diri. Bagaimana tidak, seorang tangan kanan dari Komisaris Jenderal, bisa-bisanya bersikap aneh seperti ini. Mataku kembali melihat sekeliling ruangan.


Apakah ruangan menyeramkan ini terlihat seperti ruangan sekolah, sehingga dia harus memperkenalkan diri.


Setelah diam sejenak Pria ini kembali berbicara. “Apa kau pernah mendengar Gagak Hitam?’’


Mendengar nama itu kedua bola mataku terbelalak terbuka, perlahan aku menelan paksa air ludah dari mulutku yang kering sampai tenggorokan.


“Dilihat dari reaksimu, sepertinya kau sangat mengetahuinya,’’ cetusnya tersenyum.


Gagak hitam adalah sebuah detasemen rahasia milik negara, tidak semua orang bisa masuk kesana. Bahkan para anggotanya adalah orang-orang pilihan dari polisi dan tentara yang sangat berkualitas.


Katanya, gosip-gosip di antara para polisi di kantor, merekalah tersebar luas di penjuru negeri untuk mencari informasi rahasia yang akan merugikan negara. 


Dalam artian Gagak Hitam adalah benteng berjalan milik negara. Mereka semua seolah bisa menghilang di kegelapan. 


Pasukan itu sudah terbentuk dari Sepuluh Tahun yang lalu, Akan tetapi baru terdengar dua tahun belakangan. Rahasia mereka terbuka sebab operasi yang tidak masuk akal terbuka ke media publik, 


Saat itu ada desas desus tetangga jiran ingin melancarkan operasi sabotase ke departemen pertahan negara, operasi itu didukung oleh negara adikuasa. Namun tetap gagal.


Sejauh yang aku dengar polisi berhasil menangkap penjahat yang ingin melakukan pemboman besar-besaran.


Gagak hitam sudah rapi menutupi jejak, tetapi media internasional yang membukanya. Dari sanalah, Nama mereka mulai dikenal, Sang Gagak Hitam Lah yang menggagalkan operasi tersebut.


Menurutku itu kesalahan teknis saja. Walaupun namanya sudah tersebar dan di ketahui publik luas, tidak satupun wajah mereka pernah terlihat, bahkan pimpinanan mereka sampai sekarang masih tidak diketahui. Sampai sekarang operasi, lokasi dan nama mereka tidak diketahui, pelan-pelan hilang seperti dongeng.


“Apakah masalah catatan neraka ini, segenting itu… Sampai mereka harus turun tangan?’’ ucap ku terbata-bata padanya.


“Kau terlalu berlebihan,” sahutnya pelan. “Aku belum menjelaskan padamu, tetapi pikiranmu sudah terbang sampai kesana” 


“Lalu…”


“Baru saja pimpinan kami mendengar kasus ini, saat kau bermain sandiwara di televisi tadi’’ tuturnya terkekeh.


Aku tidak menanggapi lelucon recehnya itu.


“Lalu aku diutusnya untuk bertemu orang yang mengaku sebagai pemburu Jara, untuk mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi?’’


“Maksudmu  menemui ku!’’ Sahut ku.


“Ya, pimpinan hanya ingin mendengar apakah ini hanya lelucon saja ataukah ini benar-benar nyata’’ tegasnya.


Dia diam sejenak membaca catatan neraka, “Di lihat dari ketiga catatan di atas meja ini, sepertinya…ada sesuatu yang menarik.”


“Lalu apa yang akan kau lakukan?’’ tanyaku.


“Sepertinya, aku akan meminta izin atasan untuk ikut bersamamu mencarinya!’’

__ADS_1


Aku tersenyum senang mendengar pernyataannya itu. Masalah ini akan terasa lebih ringan kalau dibantu oleh orang yang memiliki jaringan cukup luas.


“Jadi kau anggota dari Gagak Hitam itu?’’ Tanya ku penasaran.


“Oh ya…, aku sampai lupa melanjutkan perkenalan tadi,” Kekeh nya. “Benar, aku bagian salah satu dari mereka, tapi bukan berarti kau boleh dengan seenak jidat mengatakan ke seluruh umat manusia bahwa aku bagian dari mereka”


Dia menambahkan dengan sedikit menyeringai,


“Kalau identitas kalian harus dirahasiakan? Lalu mengapa kau membukanya padaku?’’


Dia memandangku dengan tatapan begitu tajam, sambil mengusap rahangnya.


“Bukankah Jara lebih suka yang menantang?’’


Apa maksudnya mengatakan itu?’’ Aku bertanya dalam hati sambil menerka-nerka tujuannya.


Beberapa detik kedua mata kami saling berhadapan, tidak satupun mengalah memalingkan. Sampai… aku batuk begitu keras.


“Dilihat dari tatapanmu itu, sepertinya kau masih menganggapku Jara!’’ Bentak ku.


“Tentu..’’ Kata dari mulutnya begitu santai. 


“Hahh!.. Lagi dan lagi.”


“Apa kau tidak menyadarinya?” Dia diam sejenak, 


“haruskah aku mengatakannya padamu, atau kau hanya berpura-pura bodoh di depanku.” Ketusnya menjengkelkan.


Aku menggaruk batang leherku yang tidak gatal. “Kalau begitu jelaskan!, sudah dari tadi aku begitu geram dituduh Jara.”


“Sebelum aku masuk kemari, tadi aku sempat mendengar kau mencurigai seseorang, Nay..”


“Nayla.’’ Aku memotongnya. “Apa kaitannya?’’ Lanjut ku.


“Aku menduga kau curiga pada Nayla hanya karena catatan ini bukan?’’ Ujarnya mengangkat salah satu catatan neraka.


“Tentu, walaupun ada aspek lain.’’ Jawabku.


“Coba lihat ketiga catatan ini! Milik temanmu Andi dan pria yang menyerang kepolisian, keduanya sama,” Jelasnya dengan begitu serius. “Tapi kalau kau lihat catatan Kirana ini berbeda.’’ Lanjutnya menatapku.


“Beda? Apa maksudmu!’’ Teriakku tak terima.


“Oi, yang benar saja. Bukankah kau adalah Misya.” Ledeknya.


“Apa maksudmu, apa itu merendahkanku.’’ Ketus ku.


“Hahahahaha…” Dia tertawa kelakar seakan mengguncang bumi dan seisinya.

__ADS_1


Suara tawanya yang garing seakan menusuk sampai gendang telinga. Aku menatap matanya begitu marah. Kembali Aku mengambil Catatan Neraka mencoba mencari perbedaannya.


__ADS_2