SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
ILUSI


__ADS_3

Aku memejamkan mata memikirkan apa yang harus dilakukan, Aku masih dapat mendengar langkahnya berjalan. Aku harus melakukan sesuatu sebelum terlambat. Detik-detik waktu memburu, detak nafasku meninggi seakan menerobos tenggorokan. Dengan penuh kebimbangan aku memutuskan untuk membiarkannya pergi.


“Sial!” Teriakku sambil menampar meja.


“Apa kamu baik-baik saja?’’ Terdengar suara bertanya dari depanku.


Aku mengangkat kepala melihat wanita yang bertanya. “Ya, saya tidak apa-apa.”


“Sepertinya kamu kelihatan begitu gelisah, kalau ada yang bisa kami bantu sampaikan saja. tidak apa-apa.”


Aku menghela nafas dan tersenyum padanya. “Terima kasih.”


“Tadi kamu mengatakan pacarmu selingkuh ya? Yang sabar ya.” Ucap ibu dari bayi itu prihatin.


Aku teringat tadi mengatakan itu padanya. Aku sengaja melakukan itu agar dia melihat wanita misterius yang berbicara denganku tadi. Aku memancarkan wajah ceria dan berkata. “Tidak… tidak, saya tidak peduli dengan itu.”


“Baguslah, kamu tak perlu terbebani dengan masalah seperti itu,” Celetuknya sambil tersenyum pada suaminya. “Masih banyak orang lain di luar sana, iya kan sayang?’’


“Itu benar.” Jawab suaminya.


“Mba, tadi saat aku menepuk meja ini pertama kali, apakah kamu melihat wanita di belakangku?’’


“Oh mereka… tentu.”


“Mereka? Apa maksudmu? Bukankah hanya satu orang?’’


“Tidak, orang yang duduk di meja belakangmu itu, ada dua orang, bukankah mereka temanmu? Tadi aku mendengar kalian berbisik-bisik.” Sambut suaminya.


Mereka? Sudah kuduga. Sebelum Jara pergi aku sempat mendengar kursi beradu satu sama lain, tidak mungkin itu satu orang. Aku harus membuat pasangan ini pulang lalu pergi mengejarnya.


“Apa kau melihat wajah mereka?’’


“Tidak, mereka memakai topeng, apa terjadi sesuatu?’’


Topeng? Dua orang? Aku berusaha menghilangkan pikiran tentang itu. Aku harus mencari informasi dari mereka.


Aku menghela nafas panjang. “Perkenalkan saya Misya Alexandra, saya adalah polisi, yang sedang mencari pelaku pembunuhan. Kalau kalian tidak keberatan, bisa bantu saya mendapat informasi.” Terlihat wajah mereka langsung berubah 180 derajat, setelah aku mengeluarkan kartu pengenal. “Tidak. Ini tidak ada kaitannya dengan kalian, tenang saja! Kalian tak perlu khawatir, saya hanya ingin bertanya saja. Apakah kalian pernah bertemu dengan mereka?”

__ADS_1


“Maksudmu mereka itu pembunuh?” Tanya wanita itu dengan penuh kecemasan.


“Sepertinya…, tetapi anda tidak perlu khawatir, apakah kalian pernah bertemu sebelumnya?”


“Ya.” Sambut suaminya dan berkata. “Mengapa kau tidak menangkap mereka langsung?”


“Aku sengaja mengulur waktu, jadi, kalian tidak perlu khawatir, kalian akan baik-baik saja. Aku sudah menghubungi rekanku untuk mengejar mereka,” Aku berbohong untuk menenangkan istrinya yang terlihat pucat.


“Kalau begitu, kami akan segera pergi.”


“Tunggu sebentar! Anda tadi mengatakan pernah bertemu mereka? Dimana?’’


“Tadi siang, mereka melakukan atraksi sulap di Taman.”


“Apakah salah satu dari kalian menjadi suka relawannya?’’


“Tidak, tetapi pria bertopeng yang berbisik denganmu tadi… Dia memanggil seorang gadis menjadi suka relawannya.”


“Maksud anda? Dia laki-laki?’’


“Ya, aku tadi sempat melirik saat kalian berbisik-bisik, pesulap yang aku maksud hanya diam di sebelah satunya. Kamu hanya berbicara dengan temannya.”


“Tentu saja, kami sempat menontonnya. Dimana tempatnya tadi sayang?”


“Kaca mayang.’’ Jawab istrinya.


Tiba-tiba nada dering ponsel berbunyi. Aku melihat itu panggilan dari Nanda. ini bukan waktu yang tepat aku menolak panggilan dengan harapan dia memahaminya.


“Ya… Taman Kaca Mayang.” Jawabnya terdiam sejenak saat mendengar suara ponselku. “Mengapa tidak diangkat?’’


“Oh, itu hanya sebuah kode.” Aku tersenyum menjawab untuk menenangkan mereka. “Baiklah kalian tidak perlu khawatir, satu pertanyaan lagi sebelum aku pergi. Apakah salah satu dari kalian ada yang terluka sesudah menonton atraksi sulap yang mereka lakukan?’’


“Tidak, kami baik-baik saja.”


Apa yang sebenarnya terjadi, perasaanku menjadi lebih buruk daripada tadi. ini bukan sesuatu yang baik. Aku sudah menduga pasangan ini bukanlah warga lokal, mereka pasti wisatawan. Tidak banyak yang mereka tahu termasuk tempat Jara melakukan atraksi. Aku harus menyuruh mereka pulang lalu mengambil catatan neraka di belakangku sebelum orang lain mengambilnya.


“Kalau begitu, aku meminta kalian segera pulang dan berhati-hati apabila bertemu mereka lagi. Terimakasih atas informasinya, sebelum hari semakin gelap sebaiknya kalian pergi sekarang!”

__ADS_1


“Baiklah.” Ucap suaminya.


Hanya beberapa menit setelah mereka keluar dari cafe, aku langsung berbalik untuk mengambil catatan neraka yang ditinggalkan Jara. “Tidak ada…”


Aku merunduk ke bawah meja mengambil kertas yang dijepit pada kaki kursi.


Lain kali pakai otakmu supaya tidak mudah tertipu.


“Brengsek…” Aku mengeluarkan kata kasar saat membacanya.


Aku meremas kertas tipuan yang ditinggalkannya itu.


Ketika Jara mengatakan akan meninggalkan catatan neraka wanita itu. Sejujurnya aku sudah menduga dia akan melakukan seperti ini. Akan tetapi hatiku bimbang untuk memutuskan apakah dia meninggalkan catatan neraka wanita itu atau tidak. Aku memutuskan untuk tidak gegabah dan menunggu pasangan itu keluar. Dan benar saja catatan neraka yang ditinggalkannya, hanyalah tipuan.


Aku segera menelpon Nanda kembali, “Halo… Kau dimana?’’


“Apa yang sebenarnya yang kau lakukan? Apa kau tidak melihat sudah berapa banyak panggilan di ponselmu!” Aku berkata jengkel.


“Sudahlah maafkan aku, aku mendengar dari Riko kau mengetahui lokasi Amelia, bagaimana bisa?”


Aku menceritakan padanya apa yang terjadi hari ini. Nanda memintaku untuk langsung terbang ke lokasi Amelia di Jombang. Dia mengatakan sedang di perjalanan menyusul Hana dan timnya kesana.


Mendengar perintahnya aku langsung bergegas ke bandara memesan tiket untuk terbang ke Surabaya.


Aku melihat jam di pergelangan tangan, sudah pukul Lima lebih, hampir jam Enam. Aku memperkirakan akan sampai di lokasi paling tidak pada pukul 09 malam, Aku mengeluarkan catatan saat menunggu di ruang check in, Jakarta ke Surabaya butuh satu jam lebih lalu menghabiskan satu jam lagi menuju Jombang. Sedangkan aku yang berangkat dari Bali juga menghabiskan waktu yang sama.


Aku rasa Hana dan timnya sedang di perjalanan, seharusnya mereka menggunakan pesawat juga, jadi paling tidaknya aku masih sempat mengejar mereka. Aku meninggalkan Bali penuh keyakinan. Hari ini kami semua akan lembur.


Seratus lima puluh menit kemudian, aku sampai dan turun dari dalam taxi. Aku melihat jam di tangan sudah menunjukkan pukul Delapan lebih, tidak seperti perkiraan ku, ternyata aku sampai lebih cepat.


Aku berlari menyusuri rumput-rumput yang sangat panjang. Jalan Nya begitu semak, pelan-pelan aku mengikuti bekas jalur mereka. Hari yang sudah gelap membuat sirine mobil polisi terlihat terang di ujung sana. Melihat itu aku bergegas berlari di antara rerumputan, terlihat bangunan tua yang sudah lama tidak dipakai.


Aku berhenti di dekat salah satu mobil polisi. Terdengar suara kebisingan dari belakang bangunan. “Pasti mereka disana..” Aku menghela nafas sebelum melangkah.


Ada sebuah bangunan kecil yang terpisah dari bangunan utama. Suara mereka semakin jelas terdengar. Aku membuka pintu gudang dan masuk.


“Oi, apa yang terjadi di sini?’’ Aku begitu terkejut melihat Nanda menodongkan pistolnya ke wajah Hana.

__ADS_1


“Nanda apa yang sedang kau lakukan?’’


__ADS_2