
Setelah kami pergi meninggalkan kantor. Aku rasa saat itulah Nanda mulai mencurahkan seluruh energinya untuk kasus ini. Begitu sudah membuat keputusan, dia bertindak sangat cepat, kadang hanya mengikut dorongan hati, seperti sambaran kilat. Kami turun dari mobilnya setelah beberapa menit diperjalanan menuju rumahku.
“Apakah kau membeli rumah ini sendiri?’’ Tanyanya setelah turun.
“Kenapa? Apa kau kira aku tak sanggup membelinya?’’
“Tidak, aneh saja kau membiarkan orang luar tinggal di rumahmu.”
“Dia bukan orang luar, Nayla adalah adik dari temanku.”
“Kalau begitu, aku semakin penasaran dengannya.”
Aku melangkah menaiki beberapa anak tangga yang sengaja didesain sebagai hiasan sebelum teras rumah. Apa yang sebenarnya ingin dicarinya. Pertanyaan itu muncul di benakku.
Aku memegang gagang pintu lalu mendorongnya. “Masuk!”
Pintunya ternyata terkunci. Apakah Nayla pergi dari rumah.
“Kenapa? Apakah dengan berpura-pura tidak tahu bahwa pintu itu terkunci, aku akan menganggap Nayla pergi dari sini?’’
Aku tersenyum kesal melihatnya. “Yang benar saja, kau memikirkan itu.”
Dia tidak bergeming menatapku. “Lalu apa yang kau lakukan?’’
Aku mengambil kunci di saku dan membuka pintu. “Kita tunggu dia di dalam.”
“Apakah kau memberinya izin untuk keluar?’’ Tanyanya setelah duduk di tempat Nayla membaca novel-novelnya.
“Kau tunggu saja di situ tak perlu banyak tanya.” Aku pergi kedapur membuat minum.
“Nah, minum dulu sebelum dia datang sekaligus baca catatan neraka ini sebelum dia datang.”
“Apa kau tidak punya air yang berwarna.”
“Jangan banyak tingkah, minum yang ada saja.” Aku mengeluarkan berkas dari tas dan meletakkannya di atas meja.
“Kau kemana?’’ Tanyanya.
“Mandi, hari ini sangat gerah.”
Aku pergi ke kamar mandi meninggalnya seorang di ruang tamu. Setelah selesai mandi dan mengganti seragam polisi dengan pakaian biasa, aku melihat dari jauh Nanda berbincang-bincang serius dengan Nayla. Aku tidak bisa melihat bagaimana ekspresi wajahnya setelah tahu bahwa dugaannya tentang Nayla itu bukan omong kosong. Ingin sekali aku mendepak kepalanya.
“Bagaimana?’’ Tanyaku pada Nanda dengan nada remeh.
“Apa yang bagaimana?’’ Sahutnya seakan tidak terima akan kenyataan.
Nayla berhenti tersenyum-senyum meleleh pada Nanda setelah aku memotong pembicaraan mereka.
__ADS_1
“Kau dari mana?’’ Tanya ku pada Nayla yang berusaha menjauh dari Nanda.
“Aku pergi membeli novel yang baru saja keluar, lagi pula aku bosan kau kurung di rumah ini.” Jawabnya.
“Aku tidak ingat membuat persyaratan seperti itu padamu.”
Nanda hanya diam tidak ikut campur dengan urusan kami berdua.
“Maaf…” Nayla terdiam sebentar, lalu berbicara terus terang. “Oh ya, kak Misya, pagi tadi ada seseorang yang datang sekitar jam 9.”
“Orang? Siapa?’’
“I- irawan. Ya, Irawan. Apa kau mengenalnya?’’
“Apakah dia datang dengan seseorang?’’ Aku bertanya untuk memastikan orang yang ku benci dalam hidup.
“Ya, aku melihat wanita di mobil yang dibawanya.”
“Cuih… apa yang diinginkannya? Apa dia mengatakan sesuatu?’’
“Siapa Irawan ini?’’ Timpal Nanda bertanya penasaran.
“Kau tak perlu tahu, ini tidak ada kaitannya dengan kasus!’’ Aku menatap Nayla memintanya untuk menjelaskan tujuan wanita itu datang.
“Oh, Dia mengatakan kau harus hadir ke pernikahan kakakmu di Bali, Besok!”
“Tidak… Pria itu… Apakah wanita itu ibumu?’’ Tanya Nayla penuh penasaran setelah melihat reaksiku.
“Tidak, dia istri kedua ayahku.” Suara ku keluar begitu kesal.
“Tampaknya kau sangat membencinya, Ya?’’ Sahut Nanda bertanya.
“Sudah kukatakan ini tidak ada kaitannya.” Aku melangkah duduk di sebelah Nayla. “Maaf, aku terbawa emosi.”
Nanda mengangguk memahami apa yang ku rasakan.
“Pria bernama Irawan itu adalah sopir kesayangan ayahku, ya benar, wanita itu adalah ibu tiri ku, dia istri kedua ayahku, terakhir aku bertemu dengan ibu kandungku saat kelas enam SD. Kau tadi bertanya apa aku membencinya? Sangat, aku sangat membencinya. Hari-hari ku bersama wanita itu, amatlah sulit. Wirda, ibu tiri ku, dan putrinya sangat kejam kepadaku. Ayahku, mendepak ibuku, aku awalnya tidak tahu mengapa? tetapi setelah beberapa minggu, ayahku membawa wanita iblis itu lalu menikahinya.”
“Kak Misya, kalau kau tidak ingin menceritakannya tidak apa-apa kok, kak.”
Aku menatap Nayla dengan mata berkaca-kaca. “Tidak, aku akan melanjutkan.” Entah mengapa aku terbawa suasana ingin menceritakan masa lalu.
Aku menghela nafas. “Wirda memperlakukanku dengan penuh kedengkian. Dia tidak pernah membelikan apapun untukku dan selalu membatasi uang saku. Semua pakaian, buku dan kebutuhan ku adalah bekas dari anak kandungnya. Apakah ayahku tidak tahu soal itu? kalau kalian ingin bertanya tapi takut melukaiku, itu tidak perlu. Ayahku tidak tahu atau pura-pura tidak tahu.”
“Mengapa? Bukankah kau anak pak Yasio Mantan kepala Ibukota?’’
“Entahlah… itulah sebabnya kukatakan wanita itu adalah iblis, dia seolah mampu menghilangkan hati ayahku.” Aku diam sejenak menghirup nafas panjang, “tetapi aku tidak membencinya, ayah tak berguna itu begitu baik padaku setelah jatuh sakit, aku begitu kasihan padanya. Dia selalu memintaku untuk bertugas di Bali saja, dia selalu memanfaatkan bekas jabatannya itu untuk memutasi ku kesana, tetapi aku selalu menolaknya. Aku tidak ingin tinggal bersama mereka.”
__ADS_1
“Lalu apa kau ingin tetap pergi kesana?’’ Tanya Nanda.
“Kalau kau memberi izin padaku sampai jam siang saja?’’
“Pergi saja, selesaikan urusanmu itu!” Cetusnya.
Bukannya dia menganggap ku Jara, lalu mengapa sekarang rasa itu sudah hilang. Apa yang direncanakannya.
“Kalau begitu, aku akan pergi sebentar menghadiri pernikahannya. Kalau tidak, aku akan dibenci tokoh adat disana, aku tidak ingin membuat masalah seperti itu.” Aku menatap Nayla yang masih mendengarkan kami.
“Nayla, kau disini saja. kau tak perlu iku melihat para iblis itu berpesta.” Aku melanjutkan.
“Hah… itu terserah mu, asal kau tetap memberi ku uang untuk makan.” Bibirnya tersenyum tipis mendengar kataku.
“Kapan kau akan pergi?’’ Tanya Nanda.
“Besok,” kataku cepat. “ Lalu apa yang kita lakukan sekarang? atau masih ada yang ingin kau bicarakan pada Nayla?’’
“Tidak ada.” Sahutnya.
Aku menatap Nayla yang ingin mengatakan sesuatu. “Bagaimana kak Misya, apakah ada kabar tentang Amel?’’
Aku menggaruk kepala mendengar pertanyaan itu, “Masih belum.”
“Oh, apa aku masih tidak boleh ikut mencarinya?’’ Nayla menatap Nanda berharap diajak olehnya.
“Untuk apa? Lebih baik kau disini saja, baca buku-buku itu semua!”
“Baiklah kalau begitu,” Nanda berdiri. “Kita akan bertemu dengan temanku.”
“Temanmu? Dukun itu?’’
“Sudah kukatakan dia Astrolog, bukan dukun.”
“Apa kau sudah menemukan alamatnya?’’
“Ya, dia tinggal di jakarta utara, Kelapa gading.”
“Hah.. bukannya itu tempat kemarin?’’
“Ya, dia hanya pindah di belakang apartemen itu. Dia mengontrak rumah disana.” Jawabnya tersenyum seakan sadar akan kebodohannya.
“Yang benar saja,” Aku tersenyum menyadari anggota Gagak Hitam ini juga bisa keliru. “Atau jangan-jangan kau ingin mengajaknya ikut dalam kasus ini?’’ Sambut ku cepat.
“Ya, itu kalau dia bersedia.”
“Kita tidak punya waktu banyak. Kalau begitu, ayo! ” Aku berjalan ke sebelahnya. Dan pergi meninggalkan Nayla.
__ADS_1