SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
KERINGAT YANG MEMBUAT BINGUNG


__ADS_3

Apa yang sebenarnya terjadi? Pertanyaan itu terus berputar di pikiran. Ada sebuah pohon besar tepat di belakang gudang. Tidak ada apa-apa di sekitarnya. Hembusan angin malam begitu terasa berhembus pelan seakan menyayat kulitku.


Aku hanya melihat bekas terbakar ditempat yang mereka katakan.


Aku mendekati tempat bakaran itu kemudian meraba bekasnya. "Busuk!'' Aku menjauh menutup hidung. Ini adalah bekas mayat yang di bakar dengan air keras.


Aku berdiri dengan tangan di pinggang. Kalau dilihat dari bekas bakarannya, terjadi sekitar satu jam yang lalu. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku mengingat akhir dari catatan neraka Amelia Earhart. Di catatan itu tidak tertulis dia mati terbakar, melainkan tubuhnya di potong-potong menjadi beberapa bagian. Aku kembali meraba bekasnya tidak terlihat lagi jasad dari Amelia Earhart sama sekali. Jasadnya sudah habis terbakar.


Jangan-jangan Hana yang membakar jasad Amelia...


Aku kembali masuk ke gudang setelah terbesit sebuah pikiran yang menggangu.


''Nanda, aku tidak melihat jasad Amelia... Mengapa ada bekas bakaran di sana?'' Tanyaku padanya saat sampai di gudang.


Nanda hanya diam dengan memonyongkan bibirnya kearah anggota Hana.


''Apa Hana yang membakarnya?''


''...Kami yang membakar jasad itu, Senior, tapi kami melakukannya sebab kapten Hana yang memerintahkannya." Jawab seorang yang menunduk.


"Hah! Apa kalian sudah memastikan itu jasad siapa?''


"Tidak, Menurut Kapten Hana itu adalah jasad... itu sudah pasti jasad Amelia. Karena itu dia memerintahkan kami untuk membakarnya langsung!''


''Hah... Kenapa dia membakarnya? Bagaimana mungkin kalian bisa disebut polisi!'' Aku membentak mereka bertiga.


''Sebenarnya ada masalah yang tidak kau ketahui,'' Ujar Nanda. ''Pihak agensi ingin Amelia ditemukan bunuh diri... Mereka sudah menyiapkan cerita untuk itu.. lalu mereka meminta untuk mengubur nya langsung.''


''Hah! Apa maksudmu... Bukankah itu melanggar aturan yang ada.''


''Terserah kau mau mengatakan apa, yang jelas itu perintah langsung dari atasan. Selagi belum terbuka di ruang publik apa salahnya mereka menyembunyikan fakta Amelia Earhart adalah salah satu korban pembunuhan. Kau seperti anggota baru saja, tidak tahu hal seperti itu.''


Aku diam sejenak memikirkan kata-katanya, ternyata mereka sudah membicarakan ini ketika aku masih di Bali. ''Cuih... demi menjaga saham dari perusahaan mereka berani Menyembunyikan fakta warga sipil. Nanda, itu adalah suatu tindakan yang sangat menjijikkan.''


''Itu bukan urusan ku!'' Sanggahnya.


''Lalu mengapa Hana langsung membakarnya? Apa salahnya jasad itu diperiksa lebih dahulu!''


''Kau mau tahu jawabannya.'' Nanda menjepit sebuah kertas diantara jarinya. ''Lihat ini!''


''Apa itu catatan neraka milik Ha-Hana...''


''Ya, mau membacanya...''

__ADS_1


Aku menghampiri Nanda kemudian membacanya.


...Catatan Neraka Hana...


Saat aku menemukan jasad yang diduga Amelia Earhart. Apapun yang terjadi aku akan membakarnya. Aku tidak peduli itu melanggar hukum atau tidak. Aku hanya ingin jasad itu dibakar.


Catatan Neraka milik Hana ditulis pada kertas dua lembar yang dilipat menjadi dua bagian. Tidak banyak yang tertulis disana. Dan lebih anehnya, pada bagian akhir catatan tidak tertulis kematian Hana.


Dari semua catatan neraka yang didapatkan semuanya berakhir kematian. Namun Hana berbeda dan pada bagian kertasnya tidak ada bekas darah sebagai syarat melakukan ritual.


Belum terjawab pertanyaan-pertanyaan yang menumpuk di kepalaku.


Pertanyaan baru kembali memburu di kepalaku. Apakah ini tipuan. Hanya itu yang terbesit di kepalaku.


Bagaimana bisa dari semua korban, cuma Hana satu-satunya yang masih hidup setelah menjadi boneka Jara. Aku tidak tahu mengapa. Ini bukan sesuatu yang baik...


Setelah membaca catatan itu aku menatap Nanda dengan mata yang penuh kebingungan. ''Apa maksudnya ini? Di-dimana kau dapat catatan ini?''


Nanda terlihat tidak begitu peduli dengan pertanyaan yang ku lontarkan. Dia terlihat ingin menerkam pria yang berdiri di depannya. ''Bagaimana bisa catatan ini ada di saku mu?'' Tanya Nanda pada salah satu anggota Hana.


Saku? Selama aku pergi ke belakang gudang ternyata dia memeriksa ketiga anggota Hana. Sangat tidak terduga cara dia berpikir.


''Saya tidak tahu inspektur!'' Jawab pria yang ditanya Nanda.


''Catatan yang kau pegang itu, aku dapat darinya...'' Akhirnya Nanda menjawabnya. Dia menunjuk salah satu anggota Hana lalu menoleh melihat dua orang lain. ''Aku ingin kalian berdua menunggu di luar!''


''Baik inspektur!'' Jawab mereka dan pergi meninggalkan kami bertiga.


Aku hanya diam melihat seorang pria yang tinggal. Seorang pria bertubuh tinggi, rambutnya dipotong habis nyaris tidak ada lagi. Dia tidak memakai seragam sehingga aku tidak bisa menebak pangkatnya, yang jelas kalau dia memanggil Hana senior, pasti pangkatnya jauh di bawahku.


Di ruangan kumuh yang hanya disinari lampu seadanya Nanda terlihat begitu serius, dia seakan mengeluarkan aura kemarahan. Baru kali ini aku melihat mata merah padam seperti itu. Ini bukan sesuatu yang baik. ''Nanda, apa yang ingin kau lakukan? Jangan bilang kau ingin menyik...''


''Aku tidak sebodoh itu!'' Potongnya dengan suara keras, namun pandangan tidak beralih dari pria itu.


Sebenarnya aku tahu tahu dia tidak sebodoh itu untuk mendapatkan informasi dari anggota Hana, tapi sehebat apapun dia dalam mengontrol diri, aku tidak ingin dia lepas kendali di malam yang menikam ini.


Setelah diam sejenak Nanda mengeluarkan ponsel dan berkata. ''09 kau ada dimana? Kalau begitu pergi dan periksa cctv di kepolisian tempat Hana bekerja, aku ingin kau memeriksa rekaman dalam waktu tiga hari yang lalu,'' Nanda menatap anggota Hana. ''siapa namamu?''


''Sersan Radit Mulya, inspektur!'' Jawab anggota Hana.


''Periksa siapa saja yang datang melapor pada polisi yang bernama Radit Mulya, pasti dia datang untuk menyelipkan catatan ini!'' Nanda mengakhiri panggilan dengan seseorang.


Aku hanya diam, tidak memberikan respon apapun.

__ADS_1


Nanda mengusap rambutnya, bekas goresan luka di wajah putihnya tertekuk, ''Kau benar tidak tahu bagaimana catatan neraka itu ada padamu, Sersan Radit?''


''Saya tidak berbohong Inspektur.'' Jawabnya tegas dan cepat.


''Seberapa dekat kau dengan Hana?'' Tanya Nanda.


''Aku selalu bekerja di bawah perintahnya, diantara kami bertiga... Akulah yang paling sering bersama kapten Hana. Inspektur, mungkin saja itulah sebabnya Jara menyelipkan catatan itu pada saya.'' Jawabnya.


Aku melihat Nanda yang berpikir keras, tangannya bersandar di dagu.


''Nanda, jangan-jangan dia...?'' Sahut ku setelah membaca catatan neraka Hana kedua kalinya.


Dia menoleh menatapku. ''Sepertinya... Sersan kau sudah tahu mengenai kekuatan gaib ini kan?''


Sersan itu mengangguk.


''Kalau kau memang tidak tahu mengapa catatan itu ada padamu, aku bisa memastikan kau juga sudah menjadi bonekanya. Aku tidak tahu kau akan mati kapan... Sersan, yang jelas kalau aku menjadi Jara, pasti aku akan membunuhmu. Jadi, apa yang akan kau lakukan?''


Sersan Radit hanya diam tidak mampu berkata.


''Bukankah kita bisa menyelamatkannya!'' Aku memecah perbincangan diantara mereka. ''Sersan, kau harus pergi jauh dari sini!'' Sambungku.


Nanda benar, Jara pasti akan membunuhnya. Aku memutar kepala menebak dimana Jara menyembunyikan catatan neraka milik Sersan Radit. Perut? Tidak mungkin... Rumah? Mobil? Dimana?


Ya pasti begitu


''Sersan! Bisa saja dia menyembunyikan catatan itu di rumahmu ataupun dimana saja, kita tidak tahu. Benar kau harus pergi ke tempat-tempat yang tidak dia tahu!!'' Sambung ku setelah berpikir sejenak.


''Inspektur, saya dengar dari rapat di kantor tadi, bukankah Jara membutuhkan darah dari si korban untuk melakukan ritualnya? Aku merasa tidak pernah terluka dalam sebulan ini, bisa saja dia tidak mengincar ku kan?'' Kilah Sersan Radit.


''Kalau kau tidak dikendalikannya, pasti kau tahu kapan catatan ini padamu, tetapi kau bilang kau tidak tahu kan? Bagaimana?'' Nanda diam menghela nafas panjang. Wajahnya terlihat begitu pasrah. ''Asumsi darah itu sepertinya tidak berlaku lagi.'' Sambungnya setelah diam sebentar.


Aku mengangguk setuju dengan pendapatnya.


''Apa maksudmu inspektur? Bukannya di rapat tadi, darah adalah satu-satunya cara dia mengontrol korban!''


''Coba lihat kertas ini!'' Sahut ku.


Sersan dan Nanda melihat ku yang memegang catatan neraka milik Hana. ''Catatan neraka yang ini... Tidak ada darahnya. Aku sudah mencium lembaran ini, ada sesuatu yang janggal. Kita butuh tim forensik untuk memastikannya.''


''Seperti itulah... Catatan Neraka itu tidak ada darahnya, Mungkin Hana dikendalikan menggunakan keringat, pasti... tanpa tim forensik aku sudah tahu itu.'' Jawab Nanda percaya diri.


''Bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya terjadi? Nanda, apakah Riko sudah memberi kabar tentang Hana, bisa jadi catatan itu ada di dalam perutnya.''

__ADS_1


''Kau ingin mengatakan catatan yang kau pegang itu hanya tipuan... Yang benar saja, dia tidak sebodoh itu, Misya.'' Jawab Nanda tersenyum. Senyuman itu nampak seperti orang yang sangat frustasi. ''Jadi Misya, Tidak perlu menunggu kabar dari Riko, catatan itu tidak akan ada di sana, tetapi coba lihat bagian tengah catatannya, kertas itu tertekuk seperti basah oleh sesuatu. Ya, pasti itu keringat, kalau tidak keringat... mungkin itu ludah, yang pasti itu bekas benda cair...'' Jawab Nanda.


__ADS_2