
''Ada apa Sersan, wajahmu tampak begitu resah? Apa kau baik-baik saja?'' Sersan Radit menyipitkan matanya, kedua alisnya seakan bertemu. Dan menatap ku dengan ekspresi penuh tanya.
''Tidak ada apa-apa senior, saya hanya heran dengan yang anda katakan.'' ujarnya.
''Soal apa? Soal rumah kosong itu? Kau terkejut karena aku mengatakannya pada bapak ini?'' Aku bertanya.
Anak buah Hana ini hanya diam, dia terlihat ingin mengatakan sesuatu.
''Ma-maaf, saya menyesal menanyakan soal itu. Pasti ada sesuatu yang terjadi dirumah itu ya? sampai teman anda begitu khawatir. Dek Misya!'' Seketika Sersan Radit terlihat gusar. ''Maafkan saya kalau terlalu ikut campur dan bertanya sesuatu yang seharusnya tidak ditanyakan.'' Ucap supir taksi dengan nada lirih. ''Saya hanya penasaran saja, karena kalian tidak terlihat seperti tinggal di daerah sini, hanya itu!'' Sambung supir taksi itu berusaha membawa pembicaraan kearah yang lain. Aku sempat berpikir akan repot kalau dia akan ditanya macam-macam, dan itu benar suara Sersan Radit tidak lagi keluar.
''Tidak perlu minta maaf pak, tidak ada yang salah dari perkataan anda, lagipula sudah sewajarnya anda menanyakan itu. Siapa juga yang tidak penasaran dengan itu... Justru saya mengucapkan terimakasih kepada bapak sampai rela mengorbankan waktu menunggu disana.''
Dia hanya terdiam menganggukan kepala sekali.
''Kalau begitu dimana anda tinggal?'' tanya Sersan Radit. ''Bukankah anda tinggal di daerah sini?''
''Bukan, saya tinggal di Utara kota.''
''Oh seperti itu.'' Dengan ekspresi tanpa minat, Sersan Radit menyandarkan punggungnya. ''Saya bukan bermaksud apa, karena anda tadi mengatakan penginapan keluarga anda dekat di daerah sini. Hanya itu.'' Tutup Sersan Radit.
Aku masih tidak habis pikir mengapa anggota Hana ini tampak marah setelah mendengar pertanyaan dari supir taksi ini.
Setelah beberapa menit taksi yang ku tumpangi ini berjalan menyusuri kota, akhirnya kami benar-benar meninggalkan kawasan itu. Sekalipun kota ini tidak begitu besar, tetapi suasana hati ku terasa sangat nyaman dibandingkan saat melihat mayat Amelia Earhart yang sudah hangus terbakar di hutan belantara yang baru saja ku tinggalkan. Kota ini benar-benar menghilangkan rasa sesak di dadaku.
Setelah berputar-putar dijalanan mencari penginapan akhirnya kami menemukan sebuah hotel yang ramah di kantong. Sebelum kami mendapati hotel ini, aku sempat melihat dari dalam taksi Hotel Pangeran yang disebut Sersan Radit. Kami tidak berhenti untuk memeriksanya, memang benar yang dikatakan Nanda, Jara tidak akan menyembunyikan catatan itu disana. Aku sengaja melewatkan hotel itu karena faktor keuangan. Kantong ku akan menjerit begitu keras sekalipun menginap satu malam disana.
Aku tidak menyangka Hana begitu loyal pada anggotanya sampai rela memesan hotel yang begitu mewah. Dengan pemikiran yang tenang aku mencoba menghilangkan dugaan mengenai hotel mewah itu. Tidak ada yang aneh disitu!! Kalimat itu terus aku ulang dalam kepala.
Saat kami sampai didepan hotel, Sersan Radit turun dari taksi untuk memastikan apakah ada dua kamar yang kosong, aku memandangi sekeliling. Hotelnya tidak begitu mewah, hanya dua lantai. Tapi aku tidak memperdulikan itu, selagi uangku cukup dan ada tempat yang bisa membuat ku tidur nyenyak itu sudah cukup. Tidak menunggu lama akhirnya dia keluar kemudian melambaikan tangan memberi isyarat agar aku turun.
Setelah aku mengucapkan terimakasih pada sopir Akupun mendatangi Sersan Radit. "Hei Sersan, kemana kau akan pergi?''
''Apa Maksud anda? Saya kurang mengerti.''
__ADS_1
''Seperti yang kita bahas tadi... ada kemungkinan Jara Menyembunyikan catatan itu di tempat yang biasa kau kunjungi. Jadi, kau harus pergi ke tempat yang jauh dari sini? Apa kau memiliki keluarga yang jauh?''
"Aceh. Bagaimana menurut anda?''
''Ya, kurasa itu tempat yang tepat. Jara tidak mungkin sampai kesana.''
Sersan Radit mengangguk setuju. "Lalu bagaimana dengan anak dan istri saya?''
''Menurutku mereka akan baik-baik saja di Jakarta.''
''Kenapa anda begitu yakin?''
''Nayla contohnya, dia adalah adik dari Amelia Earhart, Sampai saat ini dia baik-baik saja. Menurut ku Jara tidak tertarik dengan keluarga dari sasarannya.''
''Kalau anda yang mengatakannya sepertinya itu akan benar.'' ucapnya penuh keyakinan.
''Baiklah, besok pagi kita akan berangkat. Jangan beritahu siapa-siapa soal kepergian mu ke Aceh sampai aku memastikan apa yang disembunyikan Nanda.''
''Maksud anda personil Gagak Hitam tadi?''
''Dia? Maksud anda Inspektur Nanda?Tunggu sebentar. Apa tujuan anda mengatakan itu pada saya?''
Aku menghela nafas panjang. ''Tidak ada yang tahu soal ini... aku ingin kau memberi tahu pak Bisco secara langsung apabila sesuatu terjadi padaku.''
''Pak Bisco? Maksud anda Komisaris Jenderal itu!''
''Ya. Aku ingin kau menemuinya empat mata pastikan tidak ada orang yang tahu!''
''Senior, apa anda yakin akan memeriksanya sendirian?''
''Tidak perlu khawatir. Aku hanya memastikannya saja.''
Dia mengangguk.
__ADS_1
''Jangan lupa yang kukatakan padamu tadi.'' Aku berjalan ke kamar meninggalkannya.
Sebelum jatuh dalam tidur aku sempat berpikir soal catatan neraka Sersan Radit yang belum di ketahui. Sekalipun aku sudah memutuskan untuk meyakini catatan neraka miliknya tidak mungkin ada di Hotel Pangeran, tetapi aku masih belum bisa menghilangkan dugaan terhadap Nanda. Sebuah pertanyaan yang tersangkut di kepalaku sejak berada di pesawat. BAGAIMANA BISA JARA MENGETAHUI AKU BERADA DI Bali? SEDANGKAN YANG MENGETAHUI ITU, HANYA AKU, NAYLA DAN NANDA.
Besok aku akan memperjelas semua itu. Dan dari sikapnya itu, entah mengapa aku merasa dia menyembunyikan sesuatu?.
Tapi baiklah...
Apa mungkin dia dikendalikan oleh Jara? Atau apa pun itu, aku menghargai jawabannya. Tanpa bersuara aku menyusup ke bawah selimut, memikirkan semua yang telah terjadi dan semua yang menanti di depanku. Nafasku melambat, dan aku terperosok dalam tidur pulas.
***
Hari...
Aku terbangun dan membuka mata setelah mendengar bunyi alarm. Aku mengulurkan tangan dan mengutak-atik ponsel yang diletakkan di samping bantal untuk mematikan alarm. Sontak mataku yang lesu terbuka lebar ketika melihat layar ponsel ku tertulis empat panggilan tidak terjawab dari komandan. Jam menunjukkan pukul 15.23. Ku lemparkan ponsel, dan melompat kearah jendela. Cahaya matahari yang menyengat sudah berada di ufuk barat. ku tutup gorden dengan cepat. Hari sudah sore.
Aku mengira matahari belum terbangun dari peraduannya. Ayam-ayam jago pun belum melakukan tugasnya. Namun, bunyi suara dari ponsel yang kukira alarm ternyata panggilan dari Komandan. Bagaimana bisa aku tidur begitu pulas?
Nada ponsel ku kembali berdering, ku raih ponsel itu. Benar saja teriakan begitu keras keluar dari loudspeker. ''Misya! Apa yang sebenarnya kau lakukan!!''
''Maaf komandan.''
''Beritahu aku lokasi mu? Apa kau tidak tahu apa yang sedang kita hadapi, hah!''
''Ko-komandan, aku bisa jelaskan...''
''Sudah, sudah... itu tidak perlu lagi, sekarang temui saya di kantor!'' Komandan sama sekali tidak memberikan ku sedikit kesempatan untuk menjelaskan.
Aku mencoba mengangkat suara untuk memotong pembicaraannya. ''Tapi komandan....''
''Sekarang!!'' bentaknya di ujung panggilan.
''Huh!!'' Aku mengernyit.
__ADS_1
Bagaimana mungkin aku bisa kesana sekarang? Mengapa komandan aneh itu tidak mau mendengarkan penjelasan ku dulu? Aku mencoba menenangkan diri di depan cermin berukuran satu meter yang menempel di kamar mandi. Kedua mata ku begitu bengkak. Bagaimana tidak? Aku memejamkan kedua mata hampir 14 jam.
Sambil menggosok gigi aku kembali memikirkan mengapa Jara bisa tahu kemarin aku berada di Bali. Seketika pikiran itu hilang setelah sadar bahwa aku di sini bersama orang lain. Sersan Radit, dimana dia? Apakah dia juga kesiangan?