
Setelah permainan tebak-tebakan itu berlangsung beberapa detik, Nanda, yang secara ajaib terlelap dalam tidurnya. Aku hanya bisa berdesis kesal melihat jalanan yang tiba-tiba berkelok.
Langit dipenuhi cahaya matahari yang semakin tinggi terangkat, sinarnya memberitakan kepada siapa saja yang melihatnya kalau saat ini sudah menunjukkan pukul 10.00. Aku memikirkan hari-hari terakhirku. Tempat-tempat yang berbeda, orang-orang berbeda, begitu banyak yang berbeda. Aku mendesah panjang menatap jalan yang lurus. Sekalipun Nanda sudah memberikan beberapa petunjuk. Namun belum juga bisa memberikan jawaban mengapa bisa aku dalam pengaruh buku kutukan itu. Sepanjang jalan aku tersenyum sendiri karena memikirkan diriku yang begitu naif, bagaimana tidak? Jerih payah yang sudah kulakukan ternyata dalam kendalinya.
Sementara mobil yang kukemudikan terus melesat kembali ke Jakarta, aku hanya bisa termenung dan memikirkan Jara. Bagaimana dia mendapatkan kekuatan aneh seperti itu? Siapa dia sebenarnya? Kalau memang dia memiliki kekuatan mistis seperti itu, apakah kutukan ini akan berhenti setelah kematiannya?
Sesampainya di Jakarta hanya satu jawaban pasti yang sudah kusadari; Aku terlalu yakin dengan kebodohanku.
Pagi-pagi sekali hari Minggu tanggal 8, tiga hari setelah kasus ditutup. Akhirnya kasus yang menghebohkan jagat media itu berhasil terungkap ke permukaan. Sekalipun, fakta yang diterima masyarakat sudah dimanipulasi oleh kepolisian. Kepolisian menerangkan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang yang bernama Jara itu tidak ada kaitannya dengan sihir atau kekuatan mistis seperti yang selama ini dikait-kaitkan oleh masyarakat umum di media sosial. Kepolisian menegaskan tindak kriminal yang dilakukan Jara murni dari hasil pemikiran yang sudah direncanakannya selama bertahun-tahun.
Kepolisian mati-matian menyembunyikan fakta yang sudah beredar luas. Dan, mengait-ngaitkan sesuatu yang terjadi pada korban hanyalah gangguan psikologis saja. Walaupun begitu, tentunya masih ada masyarakat yang masih membongkar dan menggiring masalah itu ke arah konspirasi-konspirasi untuk bahan konten sosial media mereka. Siapa yang peduli dengan itu. Aku sama sekali tidak peduli.
Aku dan Nayla turun dari mobil di Jakarta pusat. Segalanya masih terasa hening, meskipun jauh di ujung kantor begitu riuh dan sesak dengan kegiatan-kegiatan manusia. Aku tidak bisa tidur nyenyak sejak malam-malam sebelumnya, sekalipun Nayla sudah bersamaku. Kehadirannya sama sekali tidak membantu untuk menjawab pertanyaan yang masih terus-terusan membentur kepalaku. Entahlah, atau dia masih marah karena beberapa hari yang lalu aku menahannya di penjara. Mungkin saja. Aku hanya bisa pasrah menunggu sampai dia mau memaafkan.
Sekembalinya dari Jombang, Nanda memintaku untuk membawa Nayla dan kembali pulang. Katanya, demi kebaikanku. Awalnya aku tidak begitu mengerti apa maksudnya. Tapi, satu hari setelahnya. Pihak atasan memanggilku untuk memberi penjelasan mengenai kasus ini. Dan hasilnya, mereka memutuskan kematian stiap korban merupakan tanggung jawabku. Mereka menganggap para korban tidak akan mati jika aku tidak melakukan apa-apa. Aku tidak tahu apa yang dilakukan Nanda sehingga aku lepas dari jeratan hukum yang akan dijatuhkan padaku. Sekalipun bayarannya cukup mahal; Aku dipecat.
Hari ini aku diminta untuk datang ke kantor menemui komandan, awalnya aku mengira panggilannya hanya untuk mengucapkan selamat tinggal atau mengucapkan terimakasih karena selama ini sudah banyak membantunya. Namun tidak kusangka dia memintaku untuk menyelidiki sebuah kasus pembunuhan. Sekalipun tidak dibawah otorian kepolisian. Aku sudah bertekad untuk beristirahat dari pekerjaan yang tidak ada habisnya ini. Setelah diputuskan keluar dari kepolisian aku berniat menulis ulang catatan neraka milikku, sedetail mungkin. Seperti yang dikatakan Nanda, catatan neraka milikku sudah hangus terbakar. Aku tidak tahu apa dan bagaimana akhir dari buku itu. Apakah aku akan mati seperti korban-korban yang lain. Entahlah, sampai saat ini Nanda belum juga memberitahunya.
Nada dering ponselku berdering beberapa saat setelah tengah hari. Nanda memintaku untuk datang ke cafe favoritku pada pukul 15.00. Dia berbicara sekejap dengan Nayla. Aku hanya bisa menerka perbincangan yang mereka lakukan melalui ponsel itu. Apapun itu, pasti berkaitan dengan kasus yang masih dirahasiakan Nanda sampai saat ini.
“Apa maunya?’’ tanyaku setelah panggilan Nanda terputus.
Nayla menyodorkan ponsel dan berkata. “Tidak ada. Dia ingin aku membawa novel yang ada di rumah.”
“Novel? Untuk apa?’’
“Percuma saja aku menjelaskannya padamu, aku tidak tahu apa-apa.”
“Aku hanya menanyakan novel yang dimaksudnya, bukan yang lain.’’
“Awalnya…” kata Nayla berhenti sejenak. “Kemudian kau akan melanjutkan pertanyaan berikutnya kan? Apa salahnya aku menegaskan dari awal… Aku tidak tahu apa-apa,” tutupnya.
“Baiklah kalau kau menganggap seperti itu,” aku mengambil ponsel dari tangannya. “Apakah novel yang dimaksudnya, Sang Queen itu?’’
“Ya,” Nayla menganguk kemudian menunduk setelahnya.
“Ada apa? Kau masih marah denganku?’’
__ADS_1
“Tidak, aku sama sekali tidak marah padamu. Aku malah bersyukur kakak baik-baik saja sampai sekarang,”
Aku terkesiap sejenak memikirkan kata-katanya. Beberapa hari yang lalu aku sudah bertanya padanya, apakah dia juga tahu sejak awal yang terjadi padaku. Dan perkataannya barusan sama sekali tidak mencerminkan jawabannya saat itu. Dia juga sudah tahu kalau aku dibawah pengaruh buku kutan itu…
“Kenapa juga aku harus marah padamu,” lanjutnya.
“Oh ya? Dua hari ini kau terus-menerus menghindar dariku?”
Nayla hanya diam tidak berkata.
“Baiklah, setelah makan siang kita akan ke rumah mengambil buku itu. Kau sudah lapar?’’
“Ya. Ya…” Nayla mengangguk semangat.
Senyumku terpancar setelah melihat reaksinya. “Kalau soal makan… Kau!”
“Tentu,” balasnya kemudian tersenyum.
Pukul 15.00. Sesuai dengan perkataan Nanda kami berdua datang ke cafe favoritku. Sudah lama sekali aku tidak menikmati suasana ini, benar-benar menenangkan. Mulai dari harum ruangan sampai musik yang disuguhkan. Ketenanganku seketika pudar saat Nayla berkata. “Kak, aku tidak melihat rekanmu? Apa dia terlambat?’’
“Tidak mungkin,’’ jawabku. Mataku memperhatikan setiap meja yang sudah di duduki.
“Samuel? Lama tidak bertemu.” Aku menjabat tangannya yang sudah terangkat.
“Ya, aku baru juga kembali dari Amerika. Bagaimana pekerjaanmu? Apakah ada cerita baru di balik julukan mu itu?"
"Apa maksudmu?" Mataku masih berkeliaran menunggu Nanda.
"Kalian mencari seseorang ya?’’
Aku mengangguk.
“Kau sudah mencarinya ke atas?’’
“Belum.”
“Baru saja… beberapa menit yang lalu aku melihat pria naik… oh, pacarmu ya?"
__ADS_1
"Bukan," aku menarik pergelangan Nayla. "Maaf, nanti kita lanjutkan pembicaraannya… saat ini aku sedang terburu-buru," Samuel hanya mengangguk, seperti tidak menduga jawaban itu keluar dariku.
"Dia siapa?" Bisik Nayla ketika kami sudah berdampingan di anak tangga.
"Tidak penting. Hanya pemilik cafe ini."
"Oh."
Saat kami sudah sampai di lantai dua, aku melihat Nanda sudah duduk dihadapan meja yang melingkar. Dia duduk santai dengan rokok yang terjepit di antara jari telunjuknya.
"Terlambat tujuh menit ya?" sapanya tanpa melihat kebelakang. Dia sudah tahu kalau yang datang Aku.
Aku menarik kursi di seberangnya disusul Nayla duduk disebelahku.
"Aku yakin teman-temanmu belum pernah mengajaknya mu nongkrong ya?"
"Oh ya, apa ada yang salah?"
"Tidak. Tidak ada. Lagipula itu tidak begitu penting untuk dibahas."
''Nanda, aku peringatkan sekali lagi, aku tidak ingin dipermainkan lagi. Kami datang kemari tidak ingin bersenda gurau,'' ucapku.
Nanda hanya diam tidak peduli. Matanya memandang begitu datar.
''Baik, aku akui aku kalah, dan terimakasih sudah membebaskan ku dari jeratan hukum aneh itu.'' Aku menarik nafas berusaha tenang. ''Riko dan Hana bagaimana kabar mereka?''
"Kau membawa buku itu?" Tanya Nanda pada Nayla yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. Nanda sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan ku.
"Ini," Nayla mengeluarkan novel yang tertulis jelas Sang Queen di covernya.
"Aku dengar kau diberhentikan dari kepolisian, kalau kau mau aku bisa membantu…"
"Tidak, aku tidak berniat untuk kembali kesana," sanggah ku cepat.
"Apa kau yakin? Kalau begitu apa yang akan kau lakukan setelah aku memberitahu teka-teki yang hampir membuatmu mati penasaran?"
"Terimakasih banyak atas empati mu. Aku akan memikirkannya nanti," mataku tersorot pada buku yang sudah bergeser di hadapan Nanda. "...Untuk apa kau menyuruh Nayla membawa novel itu?"
__ADS_1
"Sabar, masih ada satu orang yang harus kita tunggu," imbuhnya.
Kata-katanya itu membuatku paham mengapa tersedia satu kursi kosong di balik meja bundar yang kami duduki. Tapi siapa?