
Aiko Sarwosri, Hotel Hoki Purnama. 11.25. Selasa, tanggal 10. Lima hari sebelum batas waktu.
''Selamat siang,'' sapaku pada Aiko yang berdiri anggun di belakang meja resepsionis.
''Siang...,'' kedua matanya memperhatikan begitu tajam. ''Ada yang bisa saya bantu?''
''Kami dari kepolisian,'' Aku mengeluarkan KTA(Kartu Tanda Anggota). ''Bisa minta waktu anda sebentar!''
''Ya... tentu,'' ia mengangguk perlahan.
Aiko Sarwosri. Aku meminta Riko untuk memanggilnya. Saat ini aku dan Riko sedang menunggunya di ruang khusus yang tersedia di hotel. Wajahnya begitu pucat setelah melihat kartu identitas yang ku tunjukan. Hanya satu yang terbit dibenak pikiran ku. Ia sudah tahu kalau kepolisian akan menemuinya.
''Baiklah..., Aiko! Saya Misya Alexandra, ini rekan saya Riko. Kami sedang menyelidiki kematian Amelia Earhart." Dia menatapku kemudian tersenyum. "Salam kenal!" ucapnya begitu yakin.
Wanita berambut panjang itu menyusul kami duduk. Dengan pandangan serius aku menatap matanya. "Aiko, informan memberi tahu kami bahwa kau sangat dekat dengan Amelia. Kalau tidak salah kau yang membawanya kemari?"
"Untuk pertanyaan yang kedua aku akan menjawab. Ya!" Katanya simpel.
"Baiklah, kalau begitu bagaimana caranya kau membawanya kemari kalau kau tidak mengenalnya."
"Simpel saja, Itu tugas ku.... Ya, mencari calon artis berbakat. Kalau soal dekat atau kenal dengannya, aku sama sekali. Tidak."
"Baiklah, kami ingin mendengar bagaimana kau bisa menemukannya pertama kali?"
''Aku tidak mengerti maksud anda...''
''Bagian mana yang kurang jelas?''
''Bu-bukan begitu! Bukankah Amelia bunuh diri? Apa kaitannya dengan pertemuan kami?''
Aku menatap jam yang melingkar indah pada pergelangan tangannya. ''Tidak apa, sekarang jam masih 12.00. kami punya banyak waktu untuk mendengarkan cerita versi mu!''
''Apa? Versi ku? Apa maksudnya?''
''Silahkan ceritakan dahulu. Aku janji akan menjawab pertanyaan itu setelahnya.''
Aiko memandang ku penuh dengan kewaspadaan. Sesekali ia mencuri pandang pada Riko yang berdiri dibelakang ku.
''Cerita apa yang ingin kau dengar?'' sahutnya setelah diam beberapa saat.
''Kau tadi mengatakan tugasmu adalah mencari calon artis berbakat. Kalau begitu darimana kau tahu Amelia Earhart bakal bisa menjadi musisi hebat?''
''Untuk Amelia Earhart... bukan aku yang menyarankannya!''
''Lalu siapa? Apakah produser itu?''
__ADS_1
''Ya, pak Wisnu Pradana yang menemukannya.''
''Coba ceritakan bagaimana bisa ia menemukannya?''
'Aiko menggeleng dan berkata datar. ''Aku tidak tahu...''
''Bukankah anda asistennya?''
''Kesimpulan macam itu!'' suaranya sedikit meninggi kemudian menatap Riko. ''Apakah rekan kerja mu itu tahu semuanya yang kau kerjakan?''
''Kalau ia selingkuhan ku. Ya, mungkin saja dia akan menceritakan semuanya padaku.''
Kedua matanya terbelalak mendengar kata-kata ku. ''Apa tujuan kalian sebenarnya? Apa kalian ingin memeras ku, ha!''
''Tidak, tidak begitu. Bukankah sudah kukatakan sedari awal... kami ingin menyelidiki kematian Amelia Earhart?'' terpancar kekesalan dari matanya. ''Dan kau pernah bekerjasama dengannya. Bukankah sudah sewajarnya kami datang menemui mu?''
"Sudah kukatakan, aku hanya jembatan dari agensi itu. Apa kau ingin menyelidiki orang yang sudah dua tahun berhenti dari sana?"
"Aku tidak tahu mengapa kau menghindari pertanyaan itu. Hei Aiko, apakah ada sesuatu yang terjadi pada malam itu?''
''Malam kapan?''
''Malam saat kau menemuinya di Rumah sakit Tugu Tiga?'' Sambut Riko begitu cepat.
''Itu sudah lama sekali,'' jawabnya santai.
''Lagi dan lagi kau tidak mau menjawabnya ya!'' Aku menarik nafas dalam-dalam kemudian menghempaskan pundak pada sandaran kursi. ''...Jangan sampai kami jadi salah paham terhadapmu. Kami kemari hanya ingin bertanya bukan untuk membawamu.''
''Atas dasar apa kalian bisa membawaku. Aku sama sekali tidak ada kaitannya dengan bunuh diri Amelia. Jadi, jangan harap kalian bisa membawaku tanpa ada bukti,'' ucapnya begitu percaya diri. ''Saat ini aku sedang sibuk dengan pekerjaan.''
''Benar juga... Tapi, kita tidak tahu... dua atau tiga menit kemudian. Apakah kami bisa membawamu atau tidak.''
Matanya menyorot tajam pada Riko tak berkedip. "Hei, ada apa?'' Aku berbalik badan melihat Riko yang memegang selembar kertas yang bertuliskan. EKI APRILIA.
''Aiko, ada apa? Mengapa kau terdiam saat melihat nama itu! Ah, apa mungkin kau kenal dengan ibunya?''
Aiko masih terdiam tak berkata.
''Halo,'' aku melambaikan telapak tangan tepat di depan wajahnya.
''Penjelasan apa yang ingin kalian dengar?'' sahutnya tanpa ragu.
Aku tersenyum tipis dan berkata. ''Baiklah.... dimulai dari...., ya darimana kalian tahu kalau Amelia akan datang ke rumah sakit itu?''
''Aku akan menceritakan semuanya padamu dari awal... Tapi, dari mana kalian tahu tentang nama itu!''
__ADS_1
''Hmm, bukankah sudah kukatakan... semuanya akan terjawab setelah pertanyaanku selesai!''
''Baiklah,'' ucapnya pasrah. ''Malam itu... aku dan Mas Wisnu sedang menghadiri acara pernikahan temannya. Entah mengapa saat kami ingin menginap di hotel mobil perusahaan berada disana. Ya, melihat itu mas Wisnu langsung menghampirinya..''
''Bukankah kalian tahu kalau Amelia berada disana?''
''Ti-Tidak, aku sama sekali tidak tahu. Tapi, mas Wisnu... seperti yang kukatakan tadi. kalau ia memang sudah tahu kalau Amelia Earhart akan datang pada malam itu. Menurut ku ia juga tidak tahu kalau mobil perusahaan itu ada disana...''
''Bukankah ia mencoba menghubungi Amelia?''
''Mungkin saja, aku tidak tahu soal itu, karena memang keputusannya sendiri yang mengajak Amelia Earhart untuk bergabung.''
''Itu tidak menjawab pertanyaan ku!''
''Apa? pertanyaan yang mana?''
''Darimana kalian tahu kalau mobil yang dikendarai Amelia akan kesana!''
''Aku sama sekali tidak tahu!'' Suaranya sedikit keras, ''Itu hanya kebetulan saja!''
''Setelah itu... apa yang terjadi? Soal wanita yang ditabraknya?''
''Kalau kau tahu sampai seperti itu... mengapa tidak kau tanyakan langsung pada dokternya?''
''Jawab saja!''
''Wanita yang ditabraknya itu mati saat dirawat. Padahal pada malam itu, lukanya tidak begitu parah... kami juga sempat berbicara dengannya.''
''Mati? Apakah ada yang aneh dengan kematiannya?''
Aiko seketika terdiam. Matanya menyipit begitu kecil. ''Ada apa?'' sahut ku penasaran.
Aiko mengeluarkan ponsel dari sakunya. ''Dulu aku sempat memotret mayat wanita itu... tapi, aku sudah menghapusnya... darimana kau tahu soal itu? kami sama sekali tidak mengatakannya pada siapapun?''
''Apa yang terjadi pada mayatnya?'' Kepala ku seketika berdenging. Perlahan mulai terasa berat.
''Ada apa? Apa kau baik-baik saja?'' sahutnya
Aku mengangguk. ''Lanjutkan!''
''Pagi harinya, saat itu dokter kembali menghubungi mas Wisnu... saat kami datang seluruh tubuhnya bertuliskan aksara-aksara aneh. Dokter sama sekali tidak tahu apa maksudnya!''
''Lalu apa yang kalian lakukan pada mayatnya?'' Aku masih berusaha menahan rasa nyeri di kepala.
''Mas Wisnu menyerahkan sepenuhnya kepada pihak rumah sakit. Hari itu kami harus segera pergi ke Jakarta untuk mengurus berkas dan data Amelia. Karena hari itu kami benar-benar terlambat.''
__ADS_1