SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
SYUTING


__ADS_3

...Syuting...


Apakah kau melihat KTV tadi siang…


Ya apa yang sebenarnya terjadi…


Kenapa mereka mengancam penjahat dari siaran langsung.


Mereka itu siapa?,  kenapa mereka memburu penjahat melalui tv.


Entahlah.. tapi dia mengaku pasukan khusus pemburu Jara.


Jara… siapa dia?...


Pokoknya jangan menyebut kata itu lagi!, kata kakakku dilarang menyebut nama itu...


Kenapa?.


Dia bisa saja membunuhmu. Ya.. nama itu sudah banyak membunuh orang-orang melalui internet,  sampai sekarang polisi belum juga menangkapnya.


Jangan bercanda…


Ya kau tidak melihat di instagram kemarin? Wanita yang bunuh diri?


Bunuh diri?, Aku tidak tahu itu, kepo dong?...


Dia adalah salah satu selebgram cukup populer, siapa ya… aku lupa namanya. Saat siaran langsung di instagramnya dia menyayat-nyayat tubuhnya dan menyebut-nyebut JARA sampai dia mati.


Maksudmu saat live… Apakah kamu serius.


Ya… lihat saja di twitter!. Mereka masih membahasnya. Mereka katakan selebgram itu mati setelah mengaku bahwa dia adik dari nama terlarang itu. Pokoknya jangan sebut-sebut nama itu.


JARA… maksudmu?.


Oi!. Bukankah sudah kukatakan jangan menyebutnya!.


...*...


...*...


...*...


...*...


Nada-nada ceria dari burung-burung yang berkicau dan bunyi-bunyian mengganggu mengalir masuk ke telinga dari para pekerja bangunan di seberang kantor. Hari ini aku bekerja dengan Riko sesuai dengan rencana yang kami rancang kemarin.


Jam sudah menunjuk pukul Sepuluh lewat Tiga puluh Lima menit, tapi dia belum kunjung tiba. Sungguh kelakuan tak bisa dimaafkan selalu terlambat tidak pernah tepat waktu.


Setelah menunggu cukup lama. Sosok manusia membuka pintu kantor akhirnya datang orang yang ku tunggu-tunggu.


“ Tidak bisakah sekali saja kau tidak terlambat” keluh ku pada Riko.

__ADS_1


“ Hhhh, setiap manusia sudah dianugerahi oleh tuhan kelebihan masing-masing, apa kau ingin mengecamnya” Jelasnya.


“ Maksudmu, Kebiasaan terlambat itu adalah anugrah dari tuhan?’’


“Ya’’ sahutnya.


“ Oi, yang benar saja, untuk seonggok manusia yang menghabiskan usianya di bar mabuk-mabukan dan selalu merusak para wanita yang ditemuinya. Oi, kenapa kalimat tuhan bisa keluar dari mulutmu itu."


Riko tertawa nyeleneh. “ Apakah mereka sudah pergi kekantor KTV?.” Tanya nya menyodorkan Air.


“ Apa ini?’’ Tanyaku dengan kewaspadaan.


“ Air mineral, tenang saja!”


“ Komandan dan Hana sudah pergi. Andi juga sudah bergerak mengawasi Nayla. hanya tinggal kita saja yang belum bergerak sesuai yang kita rencanakan kemarin.” jelas ku dan mengambil Air yang ditawarkannya.


Aku tidak menyangka bakal terlambat untuk menjalan rencana ini. Kemarin aku sudah menyiapkan satu perangkap untuk yang mengaku jara ini. Komandan dan Andi sudah menjalankan tugas mereka, tapi aku harus terlambat untuk melakukannya hanya gara-gara Riko yang mabuk berat tadi malam.


“ Lalu apa yang akan kita lakukan?’’ cetusnya.


“ Aku tidak tahu, Kita pergi saja ke kantor KTV. disana saja kita melakukannya’’


“Baik kalau kau yang mengatakannya.”


Demikianlah, nyaris tanpa rencana apapun di benak, kami menaiki mobil.


Di tengah perjalanan, Riko, yang sejak tadi terlihat serius tanpa suara, mendadak buka suara. “ Misya, Apa kau yakin dengan mengancamnya, akan mengetahui lokasinya” ucapnya dengan raut wajah bimbang.


“ Ok, tapi kenapa kau begitu yakin?’’


“Apa kau lupa, siapa yang kau ajak bicara ini’’ Sergah ku menggoyang kaki.


“ Ow, masih bisa sombong ternyata”


Tidak beberapa lama Aku dan Riko akhirnya sampai di kantor KTV. Halamannya cukup luas, beberapa polisi terlihat berbaris santai di depannya. komandan menyiapkan itu untuk mencegah Jara melakukan sesuatu yang mengkhawatirkan, yang paling aku takutkan dia mengutuk orang yang entah dari mana lalu membom kantor ini sampai lulantah. Jalanan di depannya tidak terlalu ramai, hari ini cuaca cukup indah. membuatku semakin semangat untuk bertemu dengannya.


“ Jam Sebelas Wib, pasti acaranya sudah dimulai. Kalau begitu ayo keatas menemuinya!.” Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku.


Kantornya cukup artistik, di dalam terasa nyaman beberapa karyawan yang kami lewati menyapa kami dengan senyum ramah. 


Ketika jam sudah menunjukkan hampir pukul Sebelas lewat Lima Belas, terdengar suara seorang wanita dari dalam ruangan live yang di siapkan untukku. Suara itu adalah suara Hana.


“Komandan sedang menjelaskan kepada media, bahwa LN bunuh diri, sejauh ini belum ada tanda-tanda dari Jara” ujar Hana.


“ Tentu, semua pasti sesuai yang kita prediksi” ucapku membuatnya mengangguk.


“Lalu apa yang aku lakukan’’ Tanya Riko.


“ Kalau ada apa-apa yang terjadi di luar aku ingin kau menjelaskannya untukku” 


“ Hanya itu,” 

__ADS_1


Aku mengangguk. 


“Baik’’


“ Kalau begitu, pakai ini!” Hana memberikan dua earphone. “Aku akan memberitahumu kalau komandan selesai wawancara, bukankah begitu rencananya?’’ 


“ Ya” 


“ Kalau begitu, aku pergi’’ ucap Hana


Kami berdua mengangguk.


Setelah Hana meninggalkan kami berdua. Aku duduk di bangku yang tersedia ruangan memikirkan kalimat provokasi agar Jara ke triger dan melakukan aksinya kepadaku. 


“ Apa kau yakin dia tidak bisa membunuhmu?’’ Tanya Riko yang duduk di sebelahku.


“Ya, itu pasti!, aku tidak berencana mati sebelum menangkapnya’’


“Percaya diri sekali” tuturnya.


“Itulah sebabnya aku menyuruhmu membawa peralatan itu, apakah kau membawanya?’’


“Ya.” Riko mengambil tas yang disandang nya. “Apa kau ingin memakainya sekarang’’


“Ya keluarkan.” Pintaku. “Aku tidak peduli dia memiliki kekuatan bisa membunuh atau apapun itu. Pastinya dia akan menyesal karena menjadi lawanku.”


“ Itu pasti’’ jawabnya terkekeh.


Kemarin aku menyuruh Riko untuk menyiapkan beberapa peralatan yaitu jaket hitam yang bisa menutup seluruh tubuh  dan topeng penutup wajah. Dengan begitu dia tidak akan tahu siapa lawannya. Mungkin saja Jara bisa membunuh dengan melihat wajah. Ini semua aku lakukan karena kekurangan petunjuk. Hanya inilah yang paling aman.


 Tidak beberapa lama setelah Hana pergi. Beberapa kru tv masuk kedalam ruangan. Mereka semua mengatur posisi kamera, peletakan komputer serta switcher.


“ Dua menit lagi wawancara komandan akan selesai, bersiaplah!’’ ucap hana dari earphone yang disiapkannya.


“ Baik”


Ini adalah pengalaman pertamaku tampil di televisi, sejujurnya aku cukup gugup ketika produser menyampaikan simulasi kepadaku. Itu semua seketika hilang dan lenyap melihat senyuman Riko yang menjijikkan itu.


Tak lama setelah Hana memberikan sinyal untuk memulainya aku segera memakai topeng dan seragam hitam panjang untuk menutup seluruh tubuhku. “Bisa bahaya kalau dia melihat dadaku yang menonjol ini. Dia akan tahu kalau aku perempuan’’ gumamku dalam hati.


Setelah briefing singkat beberapa  kamera menyorot ke arahku. “ Apakah bisa kita mulai” ucap salah satu kru tv.


Aku mengangguk.


“Saya akan memberi aba-aba sekitar satu menit lagi.” Ucapnya.


“Baik’’ Aku tersenyum di balik topeng  menanggapinya sekalipun dia tak melihatnya.


Beberapa orang terlihat sibuk berlalu lalang di depanku. Semua kru terlihat tanggap serta sigap dan terlihat  memiliki kemampuan sistem broadcasting. Beberapa kamera beserta kameramen dan asistennya sudah sigap berdiri di atas kabel-kabel yang menjalar di lantai. 


“ Baik…, Kamera… Rolling… Action’’

__ADS_1


__ADS_2