
Tanpa pikir panjang aku mendatangi pria yang duduk santai menikmati suasana hari dengan kopi hangat serta rokok yang menempel pada jarinya di dekat jendela.
Sorotan cahaya matahari sore yang menerangi bumi hari ini, sangat cocok untuk dinikmati dengan secangkir kopi.
“Tuan Carlos Kasim, senang bertemu dengan anda, apa anda mengenal saya?” Aku menyapanya tersenyum.
Dia mendongak keatas melihat ku dari atas kepala sampai kaki. Matanya mendekat seakan menebak-nebak siapa lawan bicaranya.
“Maaf, saya tidak mengenal anda.’’ Jawabnya pelan. ‘Apa anda perlu dengan saya?’’ Lanjutnya.
“Ah, tidak, sebenarnya tidak ada.”
“Kalau begitu saya tida…’’
“Anda terlihat sedikit bosan saja, jadi saya ingin mengobrol dengan anda.’’ Aku memotong kalimat nya.
Dia hanya terperangah dan terdiam menatapku.
“ Saya melihat dari ujung sana, jas yang anda pakai sangat menarik menurut saya, apa pembuatnya Suhaimi Taylor?." Aku menarik kursi untuk duduk. “ Cincin emas itu sepertinya..., ukirannya sangat sulit untuk dibuat..., sepertinya anda memesannya di Toko Perhiasan Mulia Indah." Ucapku tersenyum.
Dia melirik kearah cincin yang melekat di jari manisnya itu. “ Tebakan yang tepat, seperti detektif saja’’ Ucapnya memuji.
Aku tersenyum lebar membalas senyuman ramahnya.
“Apa perlu saya tebak lagi, Tuan. Anda tidak begitu suka dengan jam tangan, sehingga anda memesan jam khusus sesuai keinginan anda, jam itu di gantung di balik jas itu, hebat nya anda tahu tempat yang berkualitas, Toko Poppy Jam bukan?.”
“ Bagaimana bisa anda menebaknya padahal ini tertutup lho.’’ Dia tersenyum kagum. Lalu menunjukkan jam itu sedikit padaku.
“Dan... topi yang anda kenakan itu di buat di Toko Fahri?.’’ Tegas ku dan membalas senyumnya.
Sontak senyumnya yang lebar sejak tadi itu menyusut, dahinya yang lebar itu mengkerut seakan kedua alisnya bertemu. Lalu dia memalingkan wajah nya ke jendela dan berdiri kemudian.
" Tuan, apakah aku menyinggung anda?. Kenapa anda ingin pergi…?. Tuan Carlos, Kalau mau, saya bisa mengantar anda pulang?” Matanya yang tajam itu tersorot menusuk ke arahku.
“ Maksud saya , karena mobil mahal yang anda beli di Arjuna Mobil tidak terlihat di parkiran. Apakah anda berencana naik ojek online’’ Kalimatku membuat dia terperangah batuk pelan seakan memberi sinyal pada seseorang.
“ Saya harus segera pulang karen…’’
__ADS_1
“ Tuan Carlos Kasim, Apakah anda ingin pergi begitu saja?’’ Ucapku membuat langkahnya berhenti.
“ Apa yang sebenarnya yang anda inginkan?” Tegasnya gusar.
“ Yang saya inginkan…, ya, saya ingin anda melihat sebentar keluar jendela!”
Dia Hanya berdiri membatu tak bergerak. Seakan kedua kakinya terpaku begitu kuat kedalam lantai.
“ Sebenarnya kedatangan saya kemari ingin menanyakan satu hal,” sorot mataku beringas kearahnya. “ Kenapa anda tertarik juga dengan pengamen?” Ucapku lantang padanya membuat dia spontan pergi melangkah.
“Saya permisi…”
“Tuan kasim, Anda belum menjawabnya, Mengapa anda begitu suka dengan daging muda?. Apa rasanya berbeda?.
“Saya teringat ada urusan penting,” ucapnya melangkah.
Apa yang membuat anda berani pergi meninggalkan saya?,” cetus ku membuatnya berbalik badan. “Tuan Kasim, satu hal lagi. Sepertinya Anda tidak mahir bermain kartu. Isi pikiran anda terlihat sangat jelas dari raut wajah anda.” Mendengar kalimatku membuatnya membelalakkan mata terbuka lebar, gigi gerahamnya berbunyi begitu keras karena ditekan, menunjukkan kemarahan yang ditahan.
“Saya harus pergi!” Ucapnya meninggalkanku.
Dia pergi bersama dua algojo yang mengawalnya di pintu masuk.
Hati ku bertanya-tanya apakah itu Andi?
Seharusnya tidak. Andi seharusnya pergi mengikuti pembunuh itu, siapa dia?. Langkahnya begitu terburu-buru.
Menyadari hal itu membuatku berjalan lebih cepat dan sembunyi di antara gang.
Benar saja seorang pria bertubuh tinggi besar muncul di depanku. Pakaian terlihat sempit disebabkan otot dari seluruh tubuhnya begitu besar.
“Buntuti dan cari tahu siapa dia.” Ucapku kepada pria yang bertubuh tinggi besar dan kekar, berdiri gagah di hadapanku. “ Atau kamu diperintahkan untuk langsung menghabisi ku?”
Dia hanya diam tak berkata. Namun Kata-kataku itu Membuatnya geram dan mengambil ancang-ancang. “ Sepertinya kamu terbiasa menggunakan kekerasan, tapi seharusnya kamu sedikit menggunakan isi kepalamu, karena ini berbeda dengan menculik anak-anak tidak berdaya itu.” Tutur ku membuatnya terkejut. “Sama seperti tuan mu, kamu tidak pandai menyembunyikan ekspresi.” Celotehku santai.
Tubuh nya yang besar itu melangkah perlahan dengan tangan terkepal. Raut wajahnya yang sedari awal begitu menyeramkan. Menjadi merah urat tumbuh entah dari mana datang pada wajahnya. Gawat!...
Sebelum algojo itu sempat melangkah mendekati ku. Di Balik tubuhnya yang besar itu muncul seseorang menodongkan senjata ke arah punggungnya, lalu mengapit leher algojo itu dengan lengannya.
__ADS_1
Algojo itu terkunci tidak bisa bergerak.
“ Ternyata kau melihat kode yang kuberikan” Ucap ku kepada Riko.
Algojo dari tuan Carlos Kasim itu membeku tak bergerak ditahan oleh kekangan tangan Riko yang justru bertubuh lebih besar darinya, lalu ditambah kepala tembak pistol sudah menempel di kepalanya.
Kalau dia melawan, pasti Riko tidak akan segan menarik pelatuk nya. Sekuat apapun dia apabila dalam kondisi seperti ini pasti tidak akan berkutik.
“ Banyak yang ingin kutanyakan padamu, jadi bisa ikut sebentar dengan ku?” Ucapku Tersenyum.
Aku dan Riko membawanya pergi kekantor polisi atas laporan penculikan anak-anak.
Pria bertubuh kekar itu tidak berkutik seakan menerima pasrah semua yang akan terjadi padanya.
Setelah itu polisi menginterogasi algojo itu, tak beberapa lama, Carlos Kasim pun dipanggil untuk menjalani pemeriksaan yang berujung menjadi tersangka.
Aku tidak tahu bagaimana polisi yang bertugas dalam kasus itu memeriksanya, mungkin pengawalnya disiksa habis-habisan untuk mengakuinya.
Entahlah, aku tidak peduli akan hal itu yang pasti kasus penculikan yang meresahkan itu akhirnya terungkap ke permukaan.
Tersebar lah di sosial media maupun media massa. Pengungkapan sebuah kasus kriminal yang meresahkan masyarakat hampir sebulan lamanya.
Kasus penculikan dan pembunuhan tujuh anak di ibukota akhirnya terungkap. Pelakunya adalah seorang pengusaha terkenal Yaitu Carlos Kasim.
Sejak hari itu….
Hari itu…, benar sejak hari itu aku mendapat julukan Sherlock Holmes Lokal.
***
...Diskusi...
Ruangan rapat hening seketika tanpa suara bagaikan kuburan di malam hari hanya suara detik jam yang terdengar keras bertedak memecah keheningan di ruang rapat. Aku menatap pintu menunggu ekspresi seperti apa yang akan terlihat di wajah Andi, Setelah tahu bahwa catatan itu sungguh tidak masuk akal.
Sesekali aku melirik kepada Komandan, namun pria itu tak lagi berbicara setelah merendahkan sekaligus menyepelekan opini yang panjang lebar ku sampaikan.
Kami bertiga duduk membeku tak satupun berbicara sampai terdengar suara pintu terbuka dari ujung sana.
__ADS_1
Langkah kaki seseorang masuk dengan wajah yang begitu murung, depresi serta kebingungan, ekspresi itu menunjukkan seseorang yang baru melihat sesuatu yang mustahil terjadi di depan matanya.
Tentu saja...