
Sembari menikmati cangkir kopi kedua, Aku melihat Nanda sedang bercakap-cakap dengan Riko mengenai kejadian pria yang menyerang polisi di halaman studio KTV. Kembali kepalaku terdorong untuk beranjak segera mencari catatan neraka milik pria itu. Apakah ini insting atau apa? Entahlah…
Sembari memikirkan, pandanganku tersorot kepada secangkir kopi. Nanda hanya meminum kopi hitam tanpa gula, sepertinya dia sangat ketakutan akan serangan diabetes.
Nanda sesekali melihatku yang sedang berpikir mengenai pendapatku tentang informasi baru ini, tetapi dia tidak menghiraukannya. Mereka masih saling bertukar informasi pribadi untuk saling mengenal, tetapi Nanda tidak memberitahu kepada Riko status dia di kepolisian.
Muncul sejenak di benakku pertanyaan. Mengapa dia menyembunyikan status anggota Gagak Hitamnya, atau hanya aku saja yang boleh mengetahuinya, tapi mengapa? Dengan cepat Aku menghilang pikiran itu. Tidak mungkin dia masih menganggap ku Jara.
“Apa benar kalian menganggap ku Jara?’’ Aku bertanya kepada Riko yang sedang asik melihatkan isi ponselnya kepada Nanda.
“Apa kau sudah mengetahuinya?’’ Jawabnya.
“Tentu!’’
Dia terlihat sungkan untuk menjawab. “Itu semenjak Hana dan Aku pergi mencari Andi kerumah mu!” Riko diam sejenak menghela nafas, “karena kami tidak menemukannya disana. Lalu Hana menyuruhku pergi melihat ke apartemennya, Hana merasa ada sesuatu yang terjadi pada Andi. Benar saja, setelah Aku sampai disana. Aku melihatnya terbaring bersimbah darah. Kondisi yang kau lihat di rumah sakit tadi, itu tidak ada apa-apanya.” Riko menutup dengan suara yang begitu kesal.
“Hana, kenapa dia tidak ikut kesana?’’
“Entahlah, katanya dia ingin berbicara dengan Nayla.”
“Apa yang mereka bicarakan?’’
“Aku belum sempat menanyakannya.” Jawab Riko sebelum melanjutkan. “Setelah itu Aku menghubungi Komandan. Dan memberitahu tentang Andi. Dia memerintahkanku untuk tidak memberitahumu soal itu!”
“Mengapa?’’
“Entahlah… Aku menanyakan itu kepada Hana. Menurutnya Kau dicurigai sebagai Jara. Hanya itu.”
“Hah!”
“Komandan mengatakan kau pergi kemarin berdua dengannya memeriksa teman Keponakan pak Yandri itu, bukannya kita disuruh mencarinya hari ini bersama? Ditambah catatan miliknya ada namamu. Mungkin saja karena hal itu, lagi pula sekarang sudah aman. Jadi kau tak perlu memikirkannya.” Jawabnya seolah tidak bersalah.
“Lalu mengapa aku dipanggil pak Bisco.”
“Itu sebab kau membuat siaran itu.’’ Kilah Nanda membuat kami menatapnya.
“Apa yang salah dengan itu!” Ketus ku tak terima.
“Oi, kau itu sedang memakai ruang lingkup publik atas nama institusi, masih kau tanyakan mengapa?’’
“Apa kau juga menganggap ku Jara?’’ Aku bertanya dengan nada lirih kepada Riko.
“Tentu tidak! Aku sudah lama mengenalmu, lagipula untuk apa kau peduli akan hal itu. Seperti tidak dirimu saja.” Sanggahnya.
“Baiklah, Aku menanyakan itu hanya untuk memperkuat kepercayaan diantara kita saja. Agar penyelidikan ini berjalan dengan lancar, tentu Aku tidak ingin diantara kita saling curiga.”
__ADS_1
Aku menghela nafas sebelum berdiri. “Kalau begitu ayo, kita cari catatan neraka milik Angga!’’
Riko tersenyum tipis mendengarnya. Akan tetapi berbeda dengan Nanda, matanya masih tersirat penuh dengan curiga.
Kami bertiga bergegas pergi menuju tempat tinggal Angga. Dia seorang mahasiswa yang tinggal di kontrakan berukuran sederhana. Angga menyewa sebuah rumah dengan seorang temannya. Jam sekarang sudah menunjukkan pukul 19.30 WIB. Kami menyusuri sebuah gang di antara kerumunan rumah, dan sesaat menemukan kedai bakso. Tak jauh dari situ seharusnya alamat yang diberikan komandan akan terlihat, benar saja kami dengan cepat kami menemukannya.
Kami meliuk-liuk di antara baju-baju yang dijemur di lorong. Jendelanya sedikit terbuka, dan kami bisa menduga Seseorang pasti ada di dalam.
Aku mengetuk pintu pelan, dan tak lama kemudian seorang pria membuka pintu. Dia memiliki postur tubuh yang kurus dan rambutnya berantakan. Dia pasti teman Angga. Wajahnya begitu terkejut melihat kedatangan kami.
“Selamat malam! Maaf mengganggu waktu anda. Kami dari kepolisian, ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan. Anda tinggal disini bersama dengan Angga. Benar begitu?’’ Aku bertanya dengan sedikit tegas.
“Ya, be-benar.” Jawab pria yang berdiri memegang daun pintu terbata-bata.
“Anda tidak perlu khawatir, Kami hanya ingin meminta izin untuk memeriksa kamar miliknya.” Jawab ku tersenyum ramah.
“Apa ada sesuatu yang terjadi padanya?’’ Pria ini bertanya sembari melihat dua orang yang berdiri di belakangku.
“Kami akan memberitahu anda setelah kami memeriksa tempat tinggalnya. Jadi, boleh kami masuk?’’
“Silahkan!” Ucapnya dengan sopan.
Kami bergegas masuk meninggalkannya menutup pintu. Ruangan tidak begitu luas, hanya memiliki dua kamar saja. Terlihat isi ruangan hanya televisi dan beberapa perabotan rumah biasa.
“Tiga hari yang lalu.’’
“Apa anda jarang bersama dengannya?’’ Tanya Nanda. Aku menatap Nanda. Aku menduga pasti dia sepemikiran denganku.
Pria ini diam sesaat seperti ingin menyembunyikan sesuatu. “Anda tidak perlu khawatir, masalah ini tidak ada kaitannya dengan yang anda pikirkan. Lihat saja pakaian kami bertiga!” Nanda mencoba menenangkannya. “Jadi anda tidak perlu menyembunyikannya.”
“Baik.”
Dilihat dari raut wajah pria ini, sepertinya, dia menganggap kami bertiga adalah Badan Anti Narkoba.
“Kami biasanya selalu bersama, tapi hari ini Aku baru saja pulang dari kampung. Sejak tadi aku belum melihatnya.’’ Pria ini menjawab dengan santai.
“Semenjak itu, Anda tidak pernah lagi bertemu dengannya?’’
“Tidak.”
“Satu pertanyaan lagi, selama di perjalanan apakah anda pernah bertemu seseorang yang datang pada anda atau selama tiga hari ini, Anda pernah terluka?’’ Nanda bertanya penuh kewas-wasan.
“Tidak. Apa yang sebenarnya terjadi?” Jawabnya sekali lagi penuh kebingungan.
“Kalau begitu. Bisa antar kami ke kamarnya!” Nanda meminta begitu sopan.
__ADS_1
Kami melangkah mengikutinya menuju kamar di sebelah kanan kami. Kamarnya tersusun rapi. terlihat beberapa buku tertata rapi di sudut ruangan.
Nanda begitu semangat mencari di setiap sudut ruangan, bahkan beberapa celah ruang tidak dilewatkannya. Aku beranjak keruangan tengah bahkan ke dapur dan kamar mandi. Hampir satu jam kami memeriksa. Nanda memberi sinyal dari wajahnya. Tidak ada.
“Hamdi? Bukankah itu nama anda?’’ Aku bertanya pada pria yang sedari tadi berdiri menggigit kuku di sebelah Riko.
Dia mengangguk. “Apa yang sebenarnya yang kalian cari?’’
“Apakah anda pernah melihat lembaran kertas yang selalu dibawa oleh Angga?’’
“Kertas? Saya tidak pernah melihatnya.”
“Apakah selama anda pergi. Kamar itu terkunci?’’ Aku menunjuk kamar yang berada di depan kamar Angga.
“Kamar saya?’’ Tanyanya memastikan.
“Ya.”
“Apakah dia tidak pernah masuk kesana?’’
“Tidak!” Jawabnya cepat.
“Oh ya? Bukankah kalian teman dekat?’’
“Benar! Akan tetapi privasi tetap privasi.” Ketusnya.
“Kalau begitu, apakah anda akan mengizinkan kami memeriksanya?’’
“Mak-maksud anda kamar saya?’’
“Ya.” Aku mengangguk. “Apakah ada sesuatu yang anda sembunyikan disana?’’
“Ti-Tidak.”
“Kalau begitu. Izinkan kami memeriksanya!’’
“Atas dasar apa anda memaksa saya!’’
“Saya akan menjamin untuk anda! Selain lembaran kertas yang kami inginkan.” Mataku menatapnya tajam. “Kami akan melupakan yang kami temukan disana? Bagaimana?’’
“Kalian tidak bisa memaksa seperti itu!” Kilah pria bernama Hamdi ini menolak.
“Kalau memang begitu, kami akan memanggil seseorang yang berhak memeriksa paksa kamar anda!” Sanggah ku keras. “Bagaimana?’’ Aku melotot padanya.
Pria itu diam menelan ludah di mulutnya.
__ADS_1