SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
SEMULA BERMULA


__ADS_3

Aku tak bisa berkata-kata. Aku bangkit dari tanah, menegakkan badan lalu menepuk celana dua kali. Nanda hanya datar menatapku. “Baiklah, aku sama sekali tidak mengerti mengapa kau tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku, huh… aku yakin kau punya alasan dibaliknya.”


Nanda mengangguk pasti. “Kalau kau sudah mengerti, ayo ikuti aku!” Nanda mengeluarkan senter dari tas kecilnya. Kemudian melangkahkan kakinya yang terlihat begitu berat. dari belakang aku memperhatikan tas yang disandangnya. Aku menduga buku-buku yang disebutkan Jara pasti ada di dalam. Sejak pertama bertemu aku tidak melihat ia membawanya.


“Kemana?” tanyaku mengikuti langkah kecilnya. Aku dapat mendengar desisan pelan dari mulutnya menahan rasa sakit yang muncul dari sayatan di kakinya.


“Hotel,’’ jawabnya begitu kasar. Siapapun pasti sadar ketika mendengar nada bicara seperti itu. Nada bicara seseorang yang tidak mau di ajak bicara.


Aku memutuskan untuk tidak berpikir mengenai kasus itu lagi. Kalau tidak begitu, aku tidak akan bisa tenang sampai Nanda membuka mulutnya. Apa yang sebenarnya yang ia lihat di dalam buku Jara itu? Ia tampak serius ketika mengatakan kalau ia tidak bisa menceritakan isi buku itu. Sekalipun ia tidak mengatakannya langsung. Namun, aku dapat menangkap sinyal kalau ia berusaha mengatakan itu. Tapi mengapa?


Aku mendongak ke langit mencoba menikmati bintang-bintang yang sudah bermunculan. Tapi, pemandangan itu sama sekali tidak dapat menghilangkan pertanyan-pertanyan yang membombardir kepalaku. Pemandangan indah yang terlukis di langit sana berubah menjadi lukisan tinta yang membuat hatiku semakin tidak karuan.


“Aku tidak bisa seperti ini!” teriakku. aku berhenti ditengah langkah. Nanda tidak peduli dengan kata-kataku, langkahnya semakin menjauh. “...Aku ingin kau menceritakan dibalik semua ini!”


“Apa maksudmu?” Nanda berbalik menatapku yang sudah tertinggal beberapa langkah.


“Kau tampak ingin menyembunyikan sesuatu dariku,” Nanda hanya menatapku tidak bergeming. “Aku yakin kau menyimpan buku kutukanku di dalam tas itu,” Kedua mata Nanda begitu tajam menatapku. “Ada apa? Kau masih ingin beralasan sudah membakarnya?Aku tidak tahu darimana kau tahu kutukan itu akan hilang jika dibakar… Kalau memang seperti itu, tidak ada alasan kau menolak menceritakan semuanya sekarang!” Aku mendesak Nanda.


Belum sempat kata-kataku selesai Nanda langsung berbalik melanjutkan langkah dan berkata. “Aku tidak tahu kalau kau sekeras kepala ini.”


Kata-katanya itu seakan membuat waktuku berhenti. Nanda begitu acuh tidak memperdulikannya. Apakah Nanda mempermainkan aku seperti biasa? Jika benar begitu, maka personil Gagak Hitam ini masih menyembunyikan fakta sebenarnya dariku…


Atau, ia ingin mengatakan kalau inilah sifat asliku.


Aku kembali ke saat itu. Sekalipun saat ini aku tidak dibawah pengaruh kutukan itu, ingatanku sama sekali tidak mampu memberikan sebuah petunjuk. Bagaimana Nanda bisa tahu bahwa wanita itu adalah Jara? Bagaimana bisa ia sudah menunggu di tempat itu? Ia seakan tahu kalau wanita itu akan pergi kesana.


Jangan katakan kalau sebenarnya ia mengikutiku di Bali! Apakah mungkin itu sebabnya ia tidak mengangkat telponku? Ya, kami berdua hampir sampai bersamaan di bagunan itu! Tapi, kalau memang seperti itu, mengapa ia tidak langsung menangkapnya? Dan, yang lebih penting bagaimana bisa mengetahui semuanya?


Nanda dan aku, di bawah rembulan, berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan anggotanya. Aku terus memperhatikannya. Namun, Nanda sama sekali tidak tergiur untuk berbicara. Aku tak percaya dia benar-benar masih bersikeras menyembunyikan fakta si pembunuh berantai yang telah menyebabkan sensasi gaduh luar biasa.


“Kau yang mengemudinya,” ujar Nanda ketika aku membuka pintu belakang.


“Maukah kau menjelaskannya kepadaku nanti? aku mendesak Nanda kembali. Tapi, kali ini dengan nada iba.


“Tentu saja, kalau kau tertarik.”


“Kau pikir aku tidak tertarik?’’


“Tentu saja kau tertarik, tetapi kupikir kau mungkin tidak ingin mengakui kalau kau kalah. Itulah mengapa sampai saat ini kau belum menyadari semuanya,” tatapannya kali ini benar merendahkanku. “... sekalipun kau ikut andil dari awal kasus ini dimulai,” tutupnya.


Aku tidak bersuara.

__ADS_1


Keesokan paginya. Kemarin kami berdua menginap di hotel Premiere, hotel dimana Hana dan timnya seharusnya menginap saat malam Amelia ditemukan. Sampai pagi ini, tidak banyak yang dibicarakan, dia terus-menerus berkilah ketika aku memancing pembicaraan mengenai kasus ini.


Ketika kami kembali ke mobil, Nanda melakukan sambungan telpon. Sepertinya dia berbicara dengan Pak Bisco.


“Ya, kasusnya telah selesai… Maafkan aku kapten, aku akan menjelaskan semuanya… Siapa dia? saat ini bukan waktu yang tepat untuk menjelaskannya, kapten… Ya, baik, aku akan segera kesana.”


Nanda menutup telepon, kemudian menatapku yang duduk di jok sebelahnya.


“Pak Bisco…” ujarnya.


“Apakah aku terdengar mengajukan pertanyaan itu?’’


“Heh… kau kenapa? Apakah kau marah karena sampai saat ini aku masih merahasiakannya?’’


Aku bersedekap menghadap depan. Suasana ini benar menjengkelkan. Padahal dia tidak setua itu. Tapi di usianya yang masih hijau, isi kepalanya sudah seperti lelaki tua dimana-mana.


“Hei, bapak-bapak, sudah waktunya berangkat!” seru ku, menghentikan arah pembicaraan konyolnya.


“Baiklah, kalau kau sudah merasa tenang…”


Mataku langsung menghentikan kalimatnya. Lihat saja sikapnya itu! Benar-benar menjengkelkan.


Saat mobil melaju cepat bak peluru melewati ladang-ladang pedesaan yang berkilauan sebab cahaya matahari yang sudah terangkat. Aku mendesak Nanda kembali untuk bercerita. “Tidak bisakah kau memberi aku petunjuk? Itu tidak akan menyakiti, bukan?


“Mana mungkin? Kau bercanda!”


“Aku tidak pernah seserius ini. Catatan itu lebih dari sekedar kunci; dia yang membuka gerbang seluruh misteri ini.”


Aku bingung.


“Jadi, Angga dan video wanita itu…,” aku mencoba mengingat nama wanita yang tewas saat live di sosial media. “Anggita, mereka sama sekali tidak menjadi kunci dalam kasus ini?’’


“Hmm. Yah, mereka jelas berkaitan dengan kasus ini, tetapi kita tidak membutuhkan mereka.”


“Maksudmu, sekiranya kejadian yang menimpa mereka tidak terjadi, kita sudah punya semua informasi yang dibutuhkan untuk mengungkap kasus ini?’’


“Kita?” senyumnya kemudian berkata. “Ya, tentu saja sudah. Tidak ada lagi yang tersisa.”


“Tetapi, tunggu… kita…,” aku menghentikan kalimat untuk menukar kata ganti. Aku tidak ingin melihat senyuman khasnya yang menjengkelkan itu lagi. “...Maksudku, kau kan belum tahu alamat wanita itu?’’


“Oh ya, tentu aku sudah tahu,” Nanda menatapku dengan pasti. “Dari informasi yang kita miliki.”

__ADS_1


“Dari informasi yang kita miliki?’’


“Ya, aku sudah memberikan semua informasi penting itu padamu.”


“Apa? Tapi, kau pasti mendapatkan informasi baru, ya, sesuatu yang tidak kuketahui. Saat aku sibuk mondar-mandir antara Jombang dan Jakarta.”


“Sama sekali tidak. Informasi itu semuanya sudah terhidang di hadapanmu, kau saja yang tidak mau menyantapnya.”


“Apa maksudmu?’’


“Bisa saja Jara akan mengetahui apabila aku berusaha menyembunyikan sesuatu darimu.”


“Maksudmu, karena saat itu aku dibawah kendalinya?’’


“Ya. Kau pasti berpikir mengapa aku pergi disaat genting, kan?’’


“Ya, apakah itu murni dari pikiranku?’’


“Sepertinya tidak… Jaralah yang membuatmu berpikiran seperti itu, ya itu hanya kemungkinan. Sebab, aku sudah lama mengetahuimu. kau adalah tipe orang yang sama sekali tidak membutuhkan bantuan siapapun.”


“Apa maksudmu?’’


“Ya, aku sudah mencari tahu tentangmu, sudah banyak kasus yang sudah kau pecahkan sekalipun tanpa bantuan… aneh saja, tiba-tiba kau mencari tahu keberadaanku.”


“Aku tidak mencari-cari mu.”


“Benarkah? Aku yakin kau membutuhkanku?” Nanda menurunkan laju mobil kemudian menatapku. “Kenapa? Kenapa kau terus-terusan menelponku! Bukankah sudah jelas kukatakan kalau aku pergi ke luar negeri?”


Aku tercengang. “Apa?”


“Karena Jara tidak yakin kalau aku pergi!” Nanda menghentikan laju mobil. Tanpa sadar kami sudah berada di tepi jalan.


“Ada apa?’’ tanyaku saat dia membuka pintu.


“Kakiku mulai kram, kita bergantian.” ucapnya.


Saat kami sudah bertukar tempat. Belum sempat aku mengajukan pertanyaan yang baru. Nanda menguap. “Sekian dulu kilasan pertunjukan hari ini. Tapi coba pikir, mungkinkah Lisdia Ningsih bekerja sama dengannya?”


“Apa? Maksudmu catatan Lisdia Ningsih belum juga ditemukan? Sial!”


“Pikirkan saja! Demi perjalanan kita, kau tidak boleh mengantuk. Sama seperti yang telah kualami beberapa hari ini. Kau akan merasa lebih baik apabila dapat memecahkan satu masalah itu,” Nanda berkata seraya memejamkan mata dengan puas.

__ADS_1


“Apa kau sengaja ingin membuatku menderita ya?’’


“Tidak. Apa kau tidak lihat mataku terpejam.” ucapnya kemudian bibirnya benar-benar terkatup sekalipun aku berteriak untuk memaksanya bercerita.


__ADS_2