
“Untuk seorang yang hanya bisa memecahkan kasus apabila bekerja dengan tim. Kasus sulit seperti ini sangat tidak cocok untuk mu!’’ Sanggah nya angkuh.
“Oooo. Bukankah anda sudah tahu nama saya? tapi mengapa anda masih merendahkan saya, pak!”
Pria bernama Fatah ini mengangkat kedua tangannya di pinggang. “Kasus ini tidak membutuhkan orang seperti anda.” Dia menunduk menurunkan suaranya rendah, “Karena korbannya adalah bawahan ku.’’
Mendengar pernyataannya itu membuat aku dan Riko terkejut.
Kami bertiga menghampiri jasad wanita yang baru saja diangkat dari sungai, beberapa anggota polisi mengangkatnya ke atas plastik berukuran besar yang terbentang.
Wanita yang sungguh cantik tewas di usia muda, Dia memiliki rambut panjang yang harusnya terurai rapi, tapi kini dia terbaring membeku di atas tanah.
Aku menatap Riko, dia terlihat serius melihat wanita itu. sepertinya dia memikirkan sesuatu.
Korban memakai baju biasa tanpa riasan, hanya jam yang melingkar di tangannya. Menurutku jam yang dipakainya itu, tergolong mahal. Kalau dipikir-pikir mengapa seorang polisi tidak memakai atributnya?. Gumam ku dalam hati.
Wanita yang terbaring di hadapanku ini, terlihat sangat pucat, Aku memperkirakan dia sudah tenggelam hampir satu harian, kalau dilihat dari kondisi fisiknya.
Pada bagian dadanya terdapat tiga bekas tembakan, darahnya masih melekat, tidak pudar pada bajunya.
Aku dan Riko menundukkan kepala sejenak menghormatinya.
“Pagi tadi korban ditemukan mengapung di sungai’’ Ucap salah satu seorang polisi di sampingku.
“Ada tiga bekas tembakan di dadanya. Tidak diketahui kapan dan dimana tewasnya. pelurunya tidak ditemukan.” Lanjut pak Fatah menjelaskan dengan tangan bersandar di dagu.
“Bagaimana dengan petunjuk pelaku?’’ Cetus ku.
“Tidak tahu!’’ Bentaknya. “Sejauh yang kami tahu, dia tidak memiliki hubungan apapun dengan orang lain.”
“Itu artinya…” Aku melipat kedua lengan ku di bawah dada. “Anda tidak memiliki petunjuk apapun?’’ Lanjut ku menyorot ke arah pak Fatah.
“Justru karena itu, detektif amatir seperti anda, tidak boleh ikut menangani kasus ini.” Sahut nya tersenyum lebar.
Aku menoleh melihat seorang polisi yang dari tadi berdiri di sampingku.. “Apakah anda Andi Purnama?’’
“Tidak.” katanya pelan.
Aku menoleh melihat sekeliling ku mencarinya. Pandangan ku terhenti saat melihat seorang pria bertubuh tinggi berdiri di tepi sungai. “Lalu dimana dia?’’
“Dia, ada disana!” Polisi yang bernama Reno ini, mengarahkan telunjuknya ke arah pria yang kulihat berdiri di tepi sungai itu.
Hanya beberapa detik setelah kami membicarakannya, Andi melangkah berlari kecil kerah kami. “Sejauh ini, Saya belum menemukan apa-apa, pak.” Ucap Andi.
Aku memperhatikan dia melapor pada pimpinannya. “Apakah kamu Andi?’’ Tutur Ku.
“Siap!, Saya Andi Purnama.” Ujarnya, menatapku kebingungan.
“Saya Misya Alexandra.” Ucap ku memperkenalkan.
“Anda…” Andi begitu terkejut ketika mendengar namaku. “Saya sangat mengagumi anda, saya sudah mendengar anda sangat banyak memecahkan kasus-kasus selama ini, Jujur! saya sangat merasa terhormat bisa berjumpa dengan anda.’’ Ujarnya menunduk sopan.
Aku tersenyum menatap kedua bola matanya.
__ADS_1
“Kalau begitu kasus ini akan semakin mudah dipecahkan kalau anda ikut andil menanganinya.’’ Sahut nya dengan nada berharap.
“Omong-omong saat ini, aku belum mengambil alih kasus ini.”
Andi terheran menatapku. “ Eh, Kenapa?”
“Tanya saja orang itu!” Aku menunjuk Pak Fatah yang berdiri di sampingnya.
“Orang luar yang hanya bisa mengoceh tidak diperlukan dalam masalah ini,” jawabnya cepat. “Selain itu, semua bawahan ku lebih hebat dari orang tidak punya sopan ini’’
“Oh…”
Aku spontan membalik badan menunjuk polisi yang berdiri di sampingku. “Kamu…, Siapa namamu?’’
Dengan wajah terkejut dia spontan cepat tanggap menatapku.
“Eh…Saya Sersan Reno. Juniornya Reva, yang menjadi korban pembunuhan.’’ Sahut nya.
“Baiklah, Reno!’’ Aku melangkah memegang pundaknya.
“Pecahkan kasus ini dalam waktu enam puluh detik.”
Dia terlonjak kaget mendengar permintaanku, seakan ingin melompat dari depanku.
Aku mendekatkan wajahku padanya. “Kalau aku bisa memecahkannya kurang dari satu menit, loh..,”
Aku diam sejenak menoleh ke arah pak fatah. “Kalau sampai di bilang hebat oleh pimpinannya, harusnya, sih, bisa.”
Pak Fatah terlihat sangat kesal mendengar perkataan ku yang bernada merendahkannya.
“Eh…., mau bagaimanapun, enam puluh detik terlalu singkat.’’
Aku mengeluarkan Ponsel dari saku. “Ayo, Lima puluh detik lagi, lo!’’
“Oi, Misya buang sifat konyol mu itu” sahut Riko.
Aku tidak menanggapi yang dikatakan Riko. “Reno, Ayo!”
“Oh iya, Belakangan ini senior Reva sedang menangani kasus korupsi, dan menyelidiki salah satu gembong mafia.
Polisi muda ini menggenggam tangan di depan wajahnya. Dengan wajah panik dia melanjutkan.“Kalau tidak salah, pembunuhan ini mirip kasus pembalasan dendam mafia. Mungkin dia terbunuh oleh mafia saat sedang menyelidiki…”
“Salah.” Potong Andi cepat.
Mata kami semua bergeser cepat menatapnya.
“Pembalasan dendam mafia sama seperti identitas, bisa diketahui karena sangat spesifik. Pertama si korban di paksa menggigit jalan trotoar, lalu kepalanya ditendang hingga rahangnya hancur.” Jelasnya dengan begitu serius.
Aku mulai paham mengapa komandan tertarik padanya.
Dengan nada pelan dia melanjutkan. “Korban yang menjerit kesakitan, di balikkan tubuhnya, dor, dor, dor… lalu dadanya ditembak tiga kali.
Aku melihat reaksi mereka satu persatu hanya Riko yang terkejut mendengarnya.
__ADS_1
“Kalau kasus ini dibandingkan, memang benar sih” Tanggap Reno menerima pasrah penjelasan Andi.
“Kasus ini memang mirip dengan metode mafia, tapi bukan ulah mafia. dengan kata lain…”
Si pelaku berusaha menutupi aksinya?’’ Pak Fatah memotong kalimatnya.
“Sampai ditembak lagi dua kali hanya untuk itu? Kejam…” Sambut Reno begitu rintih.
Aku mendorongnya cepat dan menepuk pundaknya. “Baiklah, waktu habis. Payah, ah, kau belum bisa melampaui detektif rendah seperti ku.” Aku menatap pada pak Fatah. “ Paling tidak, ini membuktikan kalau bawahanmu tidak sehebat diriku.” Sambung ku geram.
“Jangan bercanda.” Kilahnya. “Sejak tadi kuperhatikan, kau cuma banyak mengoceh tentang kehebatanmu sebagai detektif. Terlalu banyak membaca cerita fiksi.” Dia menunduk menggeleng kepala. “Kasus bisa terpecahkan dengan adanya penyelidikan, mencari saksi, dan menganalisis semua barang bukti.”
“Hahh…” Aku mendekat ke arah pak Fatah.
“Masih belum paham juga? Detektif hebat itu tidak butuh penyelidikan, kepala ku ini bisa mengetahui pelakunya, dan bagaimana cara korban dibunuh dalam sekejap, lo.” Ucap ku tersenyum sedikit nada angkuh. “Selain itu, Aku bisa membuat si pelaku mengakui kesalahannya, sebagai bonus untuk anda, aku bisa mengetahui pelaku saat berbohong.”
“Soalnya aku ini adalah orang yang spesial di kepolisian bukan?”
“Kalau ada orang seperti itu, lalu apa gunanya polisi seperti kami.” Ketusnya tak terima.
“Oh… memang tepat sekali, Akhirnya Anda sadar juga.”
Mendengar kalimat dari mulut ku yang merendahkannya dia terlihat begitu gusar. “Kurang ajar!”
Riko bergegas melangkah menghadangnya. “Maaf, sudahlah, pak pimpinan, Misya memang selalu seperti ini.”
Pak Fatah menghela nafas setelah dihadang Riko. “Kalau seyakin itu, silahkan perlihatkan kemampuanmu itu!”
“Wah.. jadi boleh aku ambil alih, nih?. Padahal tinggal bilang saja sejak awal.”
“Hahaha…’’ Tawanya sangat keras coba meremehkan. “Tidak menemukan bukti apapun, tapi sudah percaya diri sekali. Mau dihitung enam puluh detik, tidak?’’Lanjutnya.
Aku menyeringai memandangnya. “Tidak butuh selama itu.”
Semua orang memandangku.
Seorang polisi wanita berpakaian biasa mati tertembak, lalu ditemukan hanyut di sungai. Tentu saja…
“Jadi begitu.’’ Sahut ku setelah memikirkan nya.
“Apanya yang, jadi begitu?’’ Kekeh pak Fatah. “Mau bilang kalau pelakunya sudah ketemu?’’
“Tentu saja.” Cemooh ku padanya.
“Hah…..” Pak Fatah seakan tidak menerima.
“Pelakunya… Aku mengangkat telunjuk.
Aku membalik badan perlahan, mata tajam ku tersorot kepada anggota polisi yang sejak tadi ikut dalam perbincangan yang aku lakukan.
“ Benar pelakunya adalah kau, Sersan Reno!"
“Hah…” Seru Reno tidak terima.
__ADS_1
“Oi, Misya’’ bentak Riko.