SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
JARA


__ADS_3

''Kau masih penasaran mengapa aku membunuhnya? Baiklah, aku akan menjelaskannya setelah kau menjawab pertanyaan ku?'' Nanda diam sejenak sampai aku mempersilakan. ''Apa yang akan kau lakukan setelah mengetahui ini semua?''


Aku menghela nafas, apa yang sebenarnya ingin dikatakannya? Daritadi ia terus mempertanyakan sesuatu yang tidak ada hubungan dengannya. Aku berdesis pelan pasrah mengikuti kemauannya. ''Aku akan menuliskan semua kejadian dan kegiatan selama dibawah pengaruhnya. Kau membakarnya bukan? Aku akan menuliskan seperti novel yang dibuatnya. Sekarang jawab pertanyaan ku!''


Nanda terkesiap, sedotan yang menempel di bibirnya terangkat menempel di giginya. ''Oh... Lelucon yang aneh, Misya! Apakah aku masuk dalam cerita itu?''


''Jangan larikan pembicaraan lagi...'' suaraku terputus saat melihat pria bertubuh tinggi berjalan dari anak tangga mendatangi kami. Kami semua terpaku menatapnya berdiri dihadapan Nanda. Aku sama sekali belum melihatnya. Namun, posturnya sudah menjawab dirinya adalah rekan Nanda.


''Anda dipanggil ke resto!'' ucapnya.


Nanda hanya mengangguk kemudian pria itu pergi tanpa sepatah kata.


''Baiklah, waktuku ternyata tidak banyak lagi... aku akan mulai dari...''


''Kau sendiri yang membuang-buang waktu!'' bentak ku.


''Kau memang tidak mengenal Jara?'' ucapnya tiba-tiba.


''Jara? Sudah kukatakan aku sempat bertemu dengannya di Bali! Bukannya kau bilang itu hanya ilusi!''


''Ya itu adalah ilusi, maksudku saat kau masih remaja atau saat masih sekolah. Kau tidak mengingatnya?''

__ADS_1


''Apa maksudmu? Jangan bilang ini untuk mengalihkan pertanyaan ku?''


''Kau pernah bertemu dengannya di panti asuhan di Jombang! Ayahmu yang memperkenalkan kalian... belum juga mengingatnya?''


Mataku membelalak terbuka. Apa maksudnya? Aku pernah bertemu dengan wanita itu? Di Jombang saat masih sekolah? Ingatan panti asuhan beberapa tahun yang lalu muncul di kepalaku. Ingatan saat masih SMA bersama Amelia. Aku ingat pertama kali diajak berkunjung ke panti asuhan untuk bertemu dengan anak korban yang ditabrak ayahku. Aku mengingatnya!


''Maksudmu panti Bunda Meizan?''


''Oh itu nama pantinya. Ya, kau bertemu dengannya disana bukan? Apakah parasnya berbeda?''


''Bagaimana mungkin.... Wanita itu adalah Jara... Bagaimana bisa?''


''Justru aku memanggilmu kemari ingin mendengar jawaban itu! Dia adalah Jara! Bukan, nama aslinya adalah Shanum... Shanum Putri Aulia. Aulia nama ayahnya yang ditabrak oleh orang tuamu, ayahnya adalah pengusaha terkenal sebelum pindah kesana. Keluarga Shanum bangkrut...aku tidak akan menceritakan kisah keluarganya, ya... lagipula itu tidak perlu. Aku bisa katakan, semua ini terjadi untuk membalaskan dendam itu! Kau adalah target utamanya, tadi sudah kukatakan kalau kemampuannya berasal dari makhluk astral.. sebut saja jin atau apalah. Untuk pertanyaan mu... aku membunuhnya karena memang keputusannya... sejujurnya aku kesal mengetahuinya. Dia sudah tahu kematiannya sudah dekat sebab itulah dia muncul dan mati sesuai keinginannya.


''Entahlah, yang pasti kemampuannya itu memiliki resiko. Dan itu sudah kita bahas saat penyelidikan... Lembaran dan Novel miliknya memiliki resiko yang berbeda. Aku yakin kehidupannya yang menjadi taruhan. Mungkin saja makhluk itu yang membunuhnya.'' jawab Nanda santai.


Kami semua masih membisu kebingungan. Aku tahu yang barusan dikatakannya adalah kebohongan. Namun, pikiran itu kesana lagi. Mataku masih menangkap rasa balas dendam Jara. Tapi, mengapa Jara mengorbankan orang lain kalau hanya ingin membunuh ku?


''Lalu Amelia? Mengapa kakak ku ikut menjadi korban?'' Nayla tiba-tiba memotong dengan suara bergetar. Suasana hati Nayla tampaknya sedang buruk, jadi aku memutuskan untuk diam menanti penjelasan dari Nanda sekalipun aku tahu kejadian yang sebenarnya.


''Soal itu... Kau ingin aku menjawab apa? Apa yang sebenarnya terjadi sepertinya berkaitan... Bukankah begitu?'' Nanda menatapku. Aku tahu itu memaksaku untuk memberi jawaban.

__ADS_1


Perlahan aku menatap Nayla. Menunjukkan rasa bersalah yang tidak terhingga. Aku mengingat semuanya. Pada saat kejadian itu, aku dan Amelia Earhart sedang mengikuti kompetisi tari tradisional. Mobil yang kami kendarai melaju cukup kencang. Sejujurnya aku tidak begitu ingat mengapa insiden itu bisa terjadi. Yang jelas kami pergi meninggalkan ayahku. Kami tidak ikut ke rumah sakit.


''Nayla, saat kejadian itu kami berdua berada di mobil. Aku ingat kakak mu turun menghampiri ayahku mengangkat tubuh pria tua kedalam mobil. Aku tidak tahu kalau pria itu punya anak... sejujurnya saat berkenalanpun aku tidak begitu peduli. Tetapi yang kuingat saat kejadian Jara tidak ada disana? Seharusnya dia tidak tahu kakakmu atau jangan-jangan dia disana, Nanda?''


''Ya, dia berada disana!'' Nanda memotong kalimatnya.


''Hei kau mau kemana?'' tanyaku seketika. Nanda berdiri dari tempat duduknya.


''Kemana? Kau ingin aku menjawab apa? Bukankah kau lihat rekanku sudah datang memanggilku, itu tidak biasa sepertinya ada hal yang penting. Misya, aku sudah menjelaskan yang kutahu, semuanya! Tidak ada lagi yang bisa kujawab, semua jawabannya ada padamu.''


Aku masih kebingungan, aku tidak mengatakan apa-apa lagi.


''Baiklah, mungkin ini pertemuan kita terakhir kali... sejujurnya aku sangat senang dapat menyelesaikan misi ini bersama kalian. Untuk novel mu itu aku harap aku berada disana, bisakah kau membuat nama ku ''Nanda'' Nama yang tidak begitu populer.'' Seketika Nanda tersenyum kemudian melanjutkan. ''Nama itu adalah nama orang tua yang mengasuh saat aku kecil... kuharap saat membaca karyamu nanti... bukan, saat novel mu best seller dan terkenal orang-orang menyebut namanya sebagai tokoh penting dalam cerita itu!'' tutupnya kemudian terkekeh geli.


''Baiklah, tidak usah terlalu percaya diri!'' ucap ku sekalipun yang dikatakannya benar. Dia adalah aktor penting dalam penyelidikan, itu tidak bisa dipungkiri. Aku hanya tidak ingin ia meninggalkan kami begitu saja. Apalagi ia belum meminta maaf karena terus-terusan merendahkan ku.


''Riko, see good bye!'' Itulah ucapan terakhir Nanda sebelum beranjak meninggalkan kami.


Nanda tidak juga mengungkapkan alasan mengapa ia membunuh Jara. Agaknya dia yakin kami percaya dia membunuhnya disebabkan dirinya terancam. Setiap kali aku mencoba mengetahui apa yang ada dalam kepalanya, dia langsung mengelak.


***

__ADS_1


''Pikirkan ending kematian mu didalam novel kematian Jara? Apa maksud kak Nanda mengatakan itu?'' tanya Nayla ketika kami berdua duduk bersama di ruang tamu.


Tiga hari setelah mendengarkan cerita Nanda aku sudah memulai menulis Novel yang dirancang oleh Jara selama mengendalikan ku. Sekalipun tidak serupa, aku yakin semua tingkah lakuku saat penyelidikan adalah kenyataannya. Pikirkan ending kematian ku? Apa yang sebenarnya ingin ia katakan? Dan apakah itu jawaban mengapa dia membunuh Jara?


__ADS_2