
Aku masih terdiam mencoba menyimpulkan setiap detail informasi yang dikatakannya.
''Aku tak tahu bagaimana cara kau memecahkan detail-detail informasi dari kasus-kasus yang kau tangani selama ini.... Reputasi mu sebagai detektif di kepolisian tidak begitu buruk. Aku tahu itu,'' pujinya kemudian melanjutkan setelah diam beberapa detik. ''Tapi, kalau dilihat dari caramu menyimpulkan informasi yang kuberikan, kau sepertinya begitu kesulitan.... Aku bisa memaklumi saat itu kau tidak dapat memecahkan kasus ini karena pikiran dan tubuh mu dikendalikan orang lain. Tapi, sekarang? Kau sudah bebas? Kau masih belum bisa memastikan jawabannya?''
''Jawab saja tidak usah berkilah!'' suara ku gusar.
''Biar kuberitahu metodeku dalam menganalisa sesuatu,'' Nanda mengalihkan pandangan ke Nayla. ''Bongkahan batu yang besar akan terlihat sangat keras, bukan berarti batu tersebut tidak bisa dihancurkan. Kau hanya perlu menemukan titik penting dari batu itu kemudian memukulnya...''
''Nanda, penjelasan mu semakin lama kok semakin berat,'' potong Riko.
''Kau tidak perlu memukul setiap jengkal batu tersebut, kau akan sangat kewalahan. Maksudku, detail-detail informasi yang diberikan Jara tidak perlu kau telan semuanya, kau harus menemukan satu titik penting. Cukup satu! Dengan begitu rahasia-rahasianya akan sangat jelas terlihat,'' terangnya.
''Maksudmu dengan mengetahui aku dibawah kendalinya, seharusnya dengan petunjuk itu saja bisa memecahkan semuanya?''
''Ya.''
''Bahkan kelemahannya?'' Aku menyela dengan cepat.
''Ya, dan yang paling penting cara membatalkan kutukannya. Riko, Hana dan kau masih hidup sampai saat ini karena aku tahu itu.''
''Ba-bagaimana mungkin?''
''Nayla! Apa pendapatmu tentang Nayla?'' Mata Nanda menatapku penuh pertanyaan.
''Nayla?'' Aku dan Riko menatap Nayla bersamaan.
''Aku tahu saat kau dibawah kendali Jara kau mencurigainya.... lebih tepatnya, Jara ingin membuat Nayla menjadi pelakunya. Ya, dia yang akan menjadi kambing hitam dalam kasus ini!''
''Aku akui itu benar,'' sahut ku. ''Aku memang mencurigainya. Tapi, itu sebatas asumsi, aku tidak memiliki bukti untuk menangkapnya.''
Nanda menggeleng. ''Nyaris saja Jara berhasil melakukan rencananya... Buktinya kau sudah menahan Nayla di kantor. Soal bukti Jara akan mengendalikanmu untuk membuatnya. Pasti lambat laun akan ditemukan...''
''Apa maksud mu?''
__ADS_1
''Sebelum kau menahan Nayla, apa yang kau katakan padanya? Etss,'' Nanda menahan mulutku yang sudah terbuka. ''Aku akan menebaknya! Jika tidak terjadi pembunuhan selama kau ditahan, kau akan menjadi P-E-L-A-K-U-NYA. Bukankah begitu?''
Aku hanya diam menelan ludah.
''Jika kau punya pertanyaan mengapa Nayla tidak dibunuh, itulah alasannya. Jara ingin membuat Nayla menjadi pelakunya. Atau kau punya alasan lain mengapa dia tidak membunuh Nayla?''
''Ternyata begitu. Jadi, itu juga alasan mengapa dia mengirimkan catatan ke panti asuhan. Aku akhirnya mengerti.''
''Kau belum menjawab pertanyaan ku barusan!''
''Aku menganggap Jara hanya akan membunuh orang-orang yang menghalanginya saja. Karena itulah aku tidak membawa Nayla ikut menangani kasus ini... Apa ada sesuatu yang terjadi?''
''Pantas saja, aku akhirnya mengerti mengapa kau meminta Sersan Radit untuk pergi meninggalkan keluarganya.''
''Apa maksudmu? Jangan bilang keluarganya terbunuh karena aku menyuruh Sersan itu kesana?''
''Kak Misya, apakah kau masih belum sadar? Semua pembunuhan ini terjadi karena mu!'' Mata Nayla begitu dingin. Aku ingat pertama kali melihat pandangan tajamnya itu saat dibawah hujan di panti asuhan. ''Aku tidak menuduh mu membunuh kakakku... dia memang sudah dikendalikan sebelum dirimu, dia tidak termasuk dalam kasus ini... Sekalipun begitu, kasus ini bisa berjalan karena kakak ku,'' sambungnya.
''Apa kasus ku berkaitan dengan Amelia Earhart?'' Mataku bergantian menatap Nanda dan Nayla.
''Itulah mengapa kau meminta untuk bertemu dengan Nayla ya?''
''Kau benar, aku sangat yakin Nayla pasti tahu sesuatu. Tetapi, aku harus berhati-hati agar dia tidak curiga mengapa aku ingin bertemu dengan Nayla. Itulah mengapa aku menganggap mu berbohong soal keberadaan Nayla.... ya, agar kau membawaku menemuinya. Dan benar saja, aku menemukan jawaban itu darinya.''
''Tu-tunggu, tunggu. Aku ingat saat malam di rumah tua Jara juga mengatakan kau tahu kalau apa yang kulihat dan kudengar juga diketahuinya. Maksudmu kau berhati-hati dari itu?''
''Ya, dari apa lagi?''
''Mengapa kau bisa tahu? Kau bahkan belum tahu bagaimana cara Jara mengendalikan ku!''
''Mudah saja, sudah kukatakan padamu. Semua jawabannya ada pada catatan kutukan itu! Kau masih ingat catatan neraka milik Andi?''
''Ya.'' Aku mengangguk cepat menanti jawabannya.
__ADS_1
''Disana tertulis Andi ingin berolahraga mengangkat barbel di lemarinya. Darimana dia tahu itu? Apakah Jara pernah masuk kesana?''
''Sangat tidak mungkin dia pernah kesana. Kau benar. Dia juga tahu ada tangga disana.''
''Dia bahkan tahu Andi berolahraga setiap pagi, darimana dia tahu?'' Ruangan kembali hening menanti jawabannya. ''Hana atau kau!''
''Apa? Hanya karena itu?''
''Hanya? Apa maksudmu memakai kata Hanya? Itu petunjuk penting. Sebelum menjenguk Andi aku mengajakmu ke rumahnya. Ya, untuk memastikan kalau asumsi ku itu benar! Kau berbohong padaku, kau mengatakan tidak pernah kerumahnya. Tapi, saat membuka pintu rumahnya kau langsung menarik gagang pintunya keatas... Padahal gagang pintu dimana-mana itu ditarik kebawah untuk membukanya! Artinya, kau pernah kesana, bukan, bukan hanya pernah. Kau sering berkunjung ke rumahnya. Bukankah begitu?''
''Aku tidak mengingatnya? Maksudku aku tidak ingat kalau aku berbohong.''
''Oh ya? Seandainya kau tidak pernah kesana pun, aku tetap tahu Jara mampu melihat dan mendengar orang yang dikendalikannya.''
''Maksudmu Hana?''
''Ya, Hana adalah pasangan Andi!''
''Kau tahu sampai sejauh itu.''
''Tentu, sebelum aku menemui mu, aku sudah mencari informasi kalian semua. Sekedar persiapan sebelum bekerja,'' jawabnya santai.
''Lalu bagaimana kau bisa tahu Misya tidak dikendalikan menggunakan catatan?'' tanya Riko. yang sejak tadi dia hanya diam mengangguk-angguk.
''Oh iya, sekarang kita sudah tahu, Jara mampu mengendalikan seseorang dengan dua metode. Pertama catatan dan kedua buku.'' Nanda menarik novel Sang Queen yang terletak di meja. ''Satu-satunya kesalahan Jara adalah membiarkan Nayla tetap hidup. Sekalipun dia membiarkan itu bukan tanpa alasan. Buku ini menjadi jawabannya. Kalian masih ingat video Selebgram itu?'' Kami mengangguk. ''Wanita itu menyebutkan buku-buku yang ditulis oleh kakaknya. Ada lima buku...''
''Jadi, apa yang kau katakan saat itu tipuan?''
''Oh itu? Untuk membunuhmu ya?''
''Aku sama sekali tidak menyadari kalau perkataan mu itu hanya tipuan!'' Aku menjawab kesal.
''Tentu saja, aku harus menyampaikan informasi yang masuk akal agar Jara tidak curiga padaku.'' Nanda tersenyum tipis. Aku hanya bisa diam menerima mentah-mentah sikapnya yang menjengkelkan tanpa bisa membalas.
__ADS_1
''Ini adalah karya kutukannya yang pertama!'' sambungnya.