
Dahulu aku pernah mendapat nasehat dari seorang kakek yang sangat tua sekali, saat itu aku sedang menjalankan penyelidikan TKP pembunuhan di daerah Tanggerang, perkiraan ku usianya 80 tahun. Kakek itu bertanya padaku 'Siapakah yang memiliki kebenaran?' Dia mengatakan padaku Tidak ada.
Setiap orang akan memiliki masing-masing pembenaran dalam dirinya. Lalu siapa yang salah kalau semua orang benar? Aku menanyakan itu padanya. 'Siapa yang tidak setuju dengan kebenaran mu maka dia akan salah di matamu'' Jawabannya itu membuatku seketika sadar akan uniknya penciptaan dunia beserta isinya.
Para penjahat dan pelaku kriminal tidak akan pernah habis bagaimanapun caranya, tentu itu karena faktor timpangnya sosial diantara manusia, dan selain itu mereka juga merasa apa yang mereka lakukan adalah benar, hanya dimata orang lain itu adalah perilaku yang salah. Hanya hukum yang menganggap perilaku mereka salah. Kakek itu melanjutkan pertanyaan yang semakin membuatku terdiam seribu bahasa. Bagaimana dengan surga? Apakah disana kita bebas melakukan segalanya? Kalau memang demikian, surga tidak terikat dengan hukum. Namun, tempat kita saat ini berbeda. Tuhan memberkati kita nafsu. Semakin tinggi kualitas manusia akan semakin salah manusia dimatanya. Itulah siklus dunia, Mungkin perputaran itu tidak berhenti sampai akhir masa.
Semua pencuri, pembunuh dan pelaku kriminal, mereka selalu bersikap sangat optimis. Mereka selalu berpikiran bahwa semua yang mereka lakukan akan lancar. Tanpa mereka sadari hanya itu kesalahan yang mereka lakukan.
Selama mampu mencari cela di balik sifat mereka itu, akan sangat mudah membongkar kejahatan yang dilakukan. Apapun jenis kejahatannya.
Begitulah caraku dalam memecahkan kasus-kasus yang aku tangani selama ini. Akan tetapi kasus Jara ini sangat berbeda. Aku sama sekali tidak bisa meraba walaupun sedikit saja.
Aku akan menuliskan apa saja yang tertulis di buku milik Amelia Earhart. Dan, apa saja yang ditulis Jara pada catatan neraka miliknya.
Semua yang aku tulis disini hanyalah yang menjadi petunjuk dalam penyelidikan saja. Tidak semuanya, hanya petunjuk yang kami anggap penting. Catatan Neraka milik Amelia Earhart sangat berbeda dengan korban Jara Sebelumnya.
__ADS_1
Catatan Neraka milik Amelia tidak ada bedanya dengan sebuah novel. Semua yang dilakukan Amelia selama empat tahun menjadi artis sudah tertulis di buku ini. Lebih tepatnya, Jara sudah menentukan semua yang dilakukan Amelia selama ini. Sangat menarik bukan.
Empat tahun ini, Jaralah yang mengatur takdir milik Amelia.
...AMELIA EARHART...
Iblis itu terus-menerus melihat saya, bahkan tanpa mengedipkan mata. Dia tersenyum lebar terlihat begitu suka dengan penampilan saya. Sungguh senyuman yang sangat indah, hati saya berdebar kencang menatapnya yang berdiri di ujung sana. Pelan-pelan dia mendekat dan memeluk diri ini. Ketenangan mengalir di sel-sel darah membuat pikiran saya terasa begitu nyaman. Belum pernah saya merasakan percaya diri setinggi ini.
Saya berteriak sekeras mungkin meminta pertolongan, tetapi tidak satupun orang mendengarnya. Tubuh hewan-hewan aneh itu semakin besar, sebesar jerapah, ular itu sudah berevolusi menjadi aneh, tumbuh kaki di tubuhnya. Semakin cepat dia memutari saya. Teriakan saya semakin kencang. Berharap seseorang datang ke kamar menolong saya.
Benar saja datang seseorang membuka pintu, harapan saya kembali naik. Akan tetapi yang datang pada malam itu bukan manusia, tak kuduga dia adalah awal dari petaka, dia adalah sosok yang tersenyum padaku saat bernyanyi. Aku berteriak meminta agar dia menolongku
Sosok itu menyerap seluruh hewan pengganggu itu. Setelah menolong saya dia kembali tersenyum, dengan cepat iblis itu masuk kedalam tubuh saya. Saya berusaha menolaknya tetapi tubuh saya tak bertenaga, dengan tenaga apa adanya saya terus melawan, tak sadar malam itu saya jatuh tertidur.
__ADS_1
Pada suatu pagi, saya terbangun dengan tubuh menggigil hingga ke tulang. Iblis itu berusaha membekukan saya sampai mati dari dalam. Saya kembali teringat pesan misterius itu? Apakah karena hanya mengiyakan pesan itu, semua ini terjadi. Sangat tidak mungkin.
Saya bergegas memaksa diri yang telah dirasuki ini, pergi menuju kantor untuk bekerja. Tujuan saya sebenarnya adalah menjadi Artis terkenal. Hanya itu. Saya ingin hidup bahagia.
Hari-hari saya mulai bersamanya. Kemanapun saya pergi ia tetap didalam tubuh saya tak pernah keluar. Seiring berjalannya waktu, saya mulai terbiasa dengannya. Saya tidak bisa membedakan kapan dia mengontrol diri ini, dan kapan saya yang mengontrol tubuh ini.
Hari-hari saya mulai tercampur dengan keinginannya. Iblis ini memang mampu memenuhi segala keinginan dan kemauan saya. Setiap saya perform dimana saja, ia mempengaruhi penonton untuk suka dan cinta kepada saya, para penggemar bertepuk riang. hanya beberapa saat ia mampu membuat saya menjadi musisi populer, bahkan tidak sedikit orang yang mengagung-agungkan saya.
Sempat suatu hari saya merasa diri ini lepas dari kontrolnya, saya menanyakan kepada seseorang bagaimana cara melepas stan yang merasuki seseorang. Dia berkata, “Untuk mengusir setan dari tubuh orang yang kerasukan, kau harus membuatnya kelaparan. Jangan beri dia apapun selain roti dan air, dan setelah itu pukuli dia tanpa ampun dengan tongkat.’’ Saya melakukannya, benar-benar melakukannya.
Dalam upaya untuk mengusir iblis dalam diri ini, saya mencoba segala hal yang bisa terpikirkan. Saya mendapatkan berbagai informasi berikut ini dalam buku lain. “Pada abad pertengahan, orang membakar dupa beraroma kuat di depan seseorang yang kerasukan.
ketika si pasien hilang kesadaran, mereka memotong kukunya, membungkusnya kedalam kain hitam yang dilumuri darah ayam hitam, dan menanamnya. Tindakan tersebut diyakini dapat menangkap setan dan akal sehat si pasien bisa pulih kembali.’’ Saya memohon kepada teman-teman saya untuk mencoba nya pada saya, tetapi mereka mencerca dan menyebut saya gila. Sepopuler apapun saya tetap saja sama, selalu di kucilkan. Saya berusaha memotong kuku saya sendiri, dan melakukan ritual itu. tetap saja Iblis itu mengendalikan saya. Hampir semuanya sudah saya sudah coba. Namun ia tetap tinggal di diri ini.
Pada masa kecil saya sendiri, saya adalah orang yang lemah akan fisik dan raga. Hari-hari saya selama ini tertekan oleh keluarga dan orang-orang di sekitar saya. Sejujurnya beberapa kali saya ingin bunuh diri, tetapi adik yang saya cintai selalu tersenyum kepada saya. Saya mengurungkan niat itu. Sungguh Hati ini tidak mampu meninggalkannya di dunia yang sangat kejam ini.
__ADS_1