
Beberapa saat kemudian, kami keluar dari hotel tempat Aiko Sarwosri bekerja dengan membawa seikat informasi yang menarik. Sebuah fakta yang mengisi puzzle yang kosong selama ini. Dengan informasi ini, membuat diriku yakin akan sosok bernama Jara ini telah menyiapkan aksinya jauh dari waktu yang lama. Bagaimana tidak rencananya terasa berat untuk dibongkar. Semua taktiknya sudah tersusun dengan rapi.
Sesampainya didalam mobil, aku duduk di samping Nayla yang sedari tadi kami tinggal di mobil. Aku sengaja untuk tidak membawanya. Tentu, karena aku belum bisa menjawab bagaimana bisa Jara tahu kalau aku berada di Bali saat itu.
''Terus apa yang akan Kita lakukan?'' tanya Riko setelah duduk. ''Apakah kita akan langsung pergi menemui dokter itu?''
''Tentu.'' Aku menatap Nayla yang terlihat penasaran di sebelahku. ''Nayla, apakah kau tahu rumah kosong yang ada di Jombang itu?''
Kemarin aku sudah menceritakan kepada Nayla fakta sebenarnya yang terjadi pada Amelia Earhart. Dia begitu terkejut dengan keputusan kepolisian yang membuat berita bohong tentang kakaknya. Sekalipun begitu, dia tidak melakukan apa-apa. Entahlah, sepertinya karena dia merasa kalau tidak bisa melakukan sesuatu untuk membantahnya atau memang dia tidak peduli dengan itu. Yang jelas dia hanya diam.
''Aku sama sekali tidak pernah tahu tentang rumah kosong itu,'' jawabnya.
''Dari informasi yang ku terima kalau rumah itu milik kakek dari ibu kandung kalian.''
''Kak Amelia tidak pernah cerita soal itu,'' Nayla hanya menatap lesu kedepan. Sama sekali tidak melihat lawan bicaranya. ''Sejak kecil kami sudah tinggal bersama Tante... sampai ayah meninggal dia juga tidak pernah peduli dengan kami,'' wajahnya terlihat semakin lesu. ''Ayah kami hanya fokus dengan istri barunya. Soal rumah yang kau maksud.... Aku tidak tahu!''
''Jadi, bagaimana?'' Riko menyela.
''Kita akan kesana memastikan rumah kosong itu. Tapi, setelah kita menemui dokter yang merawat wanita yang ditabrak Amelia! Kita harus pastikan tulisan apa yang dimaksud Aiko,'' tegasku.
''Apakah ada petunjuk baru yang kalian dapat dari asisten itu?'' tanya Nayla.
''Setidaknya... ya ada sebuah petunjuk baru yang sebenarnya sangat ku butuhkan.''
''Oh ya?'' katanya kemudian menghadap ku.
Aku langsung menjawab cepat. ''Wisnu Pradana itu sepertinya masih hidup!''
''Apa? Bukankah dia sudah mati?'' sahut Nayla begitu gaduh.
''Kau tahu itu!'' tegas ku menatap Nayla.
Dia terdiam sejenak. ''Ya, tentu, siapa yang tidak tahu berita tentang pesawat jatuh itu! Ya, ya... kejadian dua tahun yang lalu!''
''Diberita itu dia tidak diputuskan tewas... Mengapa kau berpikir seperti itu... baiklah?''
''Manusia akan mati kalau jatuh dari tempat seperti itu... apa yang salah?'' Matanya benar-benar menatapku tajam. ''Apa maksudmu? Kak Misya, mengapa kau melihatku seperti itu?''
__ADS_1
''Tidak apa-apa, aku hanya terkejut sebab kau tahu tentang dia.''
''Tentu saja aku tahu...''
Sebelum Nayla melanjutkan kalimatnya, secepat mungkin aku memotong kata-katanya. ''Riko, kita akan kekantor sebelum kita berdua ke Jombang.''
''Kak Misya, apa yang sedang kau pikirkan?'' Sanggahnya seolah tahu apa yang akan kulakukan.
''Tidak ada, aku hanya akan melaporkan hasil penyelidikan ini kepada atasan, kemudian kita kembali ke rumah.''
''Apakah ada yang harus kulakukan saat tiba disana?'' sahut Riko.
Aku mengangguk tidak berkata.
Dua puluh menit kemudian. Kami tiba di kantor.
''Silahkan turun!'' ucapku pada Nayla.
Dia menatapku sejenak, kemudian membuka pintu dengan langkah penuh kewaspadaan. ''Baiklah.''
Melihatnya yang sudah berdiri diluar. Aku pun segera menyusul.
''Ti-Tidak ada, ini hanya testimoni saja... Ya, aku akan menahan mu untuk sementara. Kau tenang saja, aku akan melepaskan mu.... Tetapi, apabila tiga atau empat hari kedepan tidak ada korban dari Jara...''
''Apa maksudmu!'' suaranya bergetar menyambar.
''...Kau akan menjadi Jara.'' tambah ku.
''Lepaskan aku! Kak Riko, beritahu kak Misya kalau ini tidak benar!'' teriakan semakin besar. Gerakannya tangannya yang berusaha melepaskan ikatan dapat ditahan oleh Riko.
Riko hanya diam tidak menanggapi teriakannya. Kemudian membawanya masuk kedalam kantor.
Setelah Riko mengurung Nayla di ruangan khusus yang sudah ku sediakan. Nayla terus berteriak menanyakan apa maksud semua ini. Tapi, kami tidak mengacuhkan teriakannya.
Sebelum kembali ke mobil, aku meminta salah seorang polisi yang berjaga untuk terus-menerus mengawasinya.
''Apa sebenarnya yang ingin kau lakukan?'' tanya Riko setelah kami sudah duduk di dalam mobil.
__ADS_1
''Tidak ada, aku hanya takut kalau meninggalkannya sendiri di rumah. Aku merasa bakal terjadi apa-apa padanya.''
''Benarkah? Mengapa sampai mengurungnya?''
''Biar saja, Dia akan lebih aman disini... Sebenarnya Nanda juga meminta ku untuk membawanya kemanapun kita pergi..., '' hembusan nafas begitu dalam. ''Aku tidak tahu mengapa Nanda memintaku melakukan itu... ya, lagipula kita tidak bisa membawanya ke Jombang.''
''Lalu kenapa sampai mengatakan dia akan menjadi Jara? Bukankah sudah terbukti kalau dia bukanlah Jara.''
''Entahlah, kalau memang bukan dia... tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jawaban pastinya akan kita dapatkan setelah menemuinya,'' mataku tersorot penuh keyakinan. ''...Dokter itu! Aku yakin Jara ada di sana pada malam itu. Dan dia pasti mengetahuinya. Apapun itu!''
''Kau baik-baik saja, Misya?'' tanya Riko setelah melihat tanganku menempel di kepala. Lagi dan lagi rasa nyeri ini muncul kembali.
''Ti-Tidak apa-apa,'' Aku mencoba tenang. ''Sakit kepala seperti ini sudah biasa.''
Pikiranku mendadak kacau. Tak tahu cara apa lagi untuk menyelesaikan masalah ini. Aku takut, lama kelamaan penyelidikan ini justru menjadi bumerang bagiku. Tak bisa kubayangkan seandainya Riko juga bakal menjadi korbannya. Entah apa yang kupikirkan. Semua seolah bercampur gado-gado di otakku.
''Apakah tidak sebaiknya diperiksa lebih dahulu...''
''Ti-Tidak, nanti juga bakal hilang dengan sendirinya.''
''Kalau begitu, istirahatlah hari ini!'' pinta Riko. ''Besok saja kita pergi menemui dokter itu, aku rasa itu karena kau terlalu berpikir berlebihan.''
''Sepertinya kau benar. Sebaiknya kita istirahat dahulu untuk hari ini, lagipula kita butuh persiapan untuk kesana.''
''Ya,'' Riko menganggukan kepala memberi tahu kalau keputusan yang kuambil sudah benar.
''Kalau kau memiliki waktu senggang... aku ingin kau mencari tahu informasi tentang rumah sakit itu!''
''Serahkan saja padaku,'' ucapnya kemudian keluar dari mobil. ''Kau pulang saja.''
Aku mengangguk. ''Riko, jangan pernah pergi sendirian... jaga dirimu baik-baik!''
''Tenang saja, kita akan menuntaskan kasus ini secepatnya,'' katanya penuh dengan keyakinan.
Keesokkan harinya, kami berangkat pukul sepuluh pagi. Hampir delapan jam kami menghabiskan waktu di perjalanan. Namun, tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Karena ia sedang melakukan riset di Malaysia dan akan kembali tiga hari lagi. Aku sempat berbicara dengannya sekalipun dari telepon. Akan tetapi, ia akan menceritakan semuanya saat pulang ke Indonesia. Dia mengatakan akan menunjukkan semua foto yang dimaksud Aiko serta keanehan yang ia rasakan sesudahnya.
Tiga hari kemudian...
__ADS_1
Teman-teman semua kasih tanggapannya dong! Terimuahhhhh kasih