
...Terungkap...
Aku menghela nafas sejenak. komandan yang cerewet itu akhirnya percaya saat sudah terpojok. Meski begitu, apabila omongan kami sebelumnya memang berkaitan dengan hal gaib. Dan akibatnya, sekali lagi, tersangka yang mengaku Jara ini pasti sangat sulit ditemukan. Tentu saja dia bisa membunuh dari mana saja. Ini benar-benar membuat frustasi.
“Belum pernah menghadapi kasus sebrengsek dan serumit ini!” sergah komandan. “Dikarenakan semua sudah berkumpul disini saya ingin kalian jelaskan apa yang terjadi sebenarnya?, dimulai tim satu. Apakah kematian LN sudah dipastikan”
“Ya sudah komandan,” sahut Riko. “ Tim forensik mengatakan penyebabnya pisau di leher korban, mereka juga mendeteksi sejenis obat tidur dalam tubuhnya, tetapi dosisnya tidak mematikan”
“Apa yang sebenarnya terjadi di kantor itu?”
“Baik komandan, kami sudah memeriksa toilet, tapi belum berhasil menemukan apapun. Tidak ada jejak orang lain yang datang ke toilet saat itu. Jadi kami memutuskan itu memang bunuh diri, karena tidak ada bukti yang pasti kalau itu pembunuhan”
“Lalu bagaimana dengan langit-langitnya?’’ tanya Hana.
“Soal itu juga sama. Hanya langit-langit biasa. kami juga sudah memeriksanya, tidak ada satupun yang bisa menjadi petunjuk disana” Jelas Riko.
“Bagaimana dengan tulisan Jara itu” sahutku bertanya.
“Tulisan itu ya, aku merasa tidak ada yang aneh. My name is Jara, Tim juga sudah memastikan darah yang di gunakan itu miliknya, itu adalah tulisan dari LN sendiri dia menulisnya memakai jempolnya di dinding toilet,”
Aku melemparkan catatan neraka kepadanya.
“Apa ini?”
“Baca saja kau akan paham sendiri nantinya” Cetus ku santai.
Suasana ruangan kembali hening tanpa suara menunggu Riko selesai membaca Catatan Neraka itu.
“Dari mana catatan ini didapatkan?,” sahutnya kebingungan, melihat catatan yang dibacanya.
“Apa kau sudah membaca di balik lembar terakhir”
“Jara…,” Ucapnya dengan wajah kebingungan.
Aku tersenyum lebar. “ Bagaimana?, menarik bukan?’’
“Misya, Ceritakan semuanya tentang catatan itu, pasti kau sudah menanyakannya kepada Nayla bukan?’’ pinta komandan.
Aku kembali menghela nafas. “ Hmm. Aku rasa kita harus sepakat terlebih dahulu kalau kasus ini berkaitan dengan hal gaib seperti yang aku ceritakan tadi”
__ADS_1
Komandan, Hana dan Andi mengangguk.
“Gaib…, hal mistis maksudmu?.’’ Riko sepertinya tidak setuju.
“Wajar kau tidak menerimanya, Aku akan menjelaskan singkat untukmu, Catatan yang kau pegang itu kemarin aku dapat kan dari adiknya Amelia yang berada di panti asuhan. semua tulisan di catatan yang kau baca tadi, itu benar-benar terjadi tanpa meleset sedikitpun. Kematian penjaga panti itu persis dengan yang tertulis disitu,’’Riko kembali menampilkan wajah ragu-ragu.
“ Apa kau tidak percaya juga?, kalau begitu semua kejadian yang tertulis tepat di depan kedua bola mataku ini” Ujarku menunjuk kedua mata.
Dia menelan ludah seketika. “ Baik, kalau kau yang mengatakannya aku pasti percaya”
“ Baiklah kalau begitu, aku akan menjelaskan semuanya.
“ Silahkan!” ujar komandan.
“Setelah aku membawa Nayla pulang ke rumah, aku langsung bertanya tentang catatan neraka yang dimaksudnya. Seperti yang kukatakan tadi, catatan itu dia dapat kan seminggu sebelumnya, hari itu Nayla memesan makanan di rumah makan yang tak jauh dari pantinya, kemudian saat dia ingin menyantap pesanan itu ada lembaran kertas didalamnya terselip.”
“Apakah dia mengenal drivernya” Tanya Andi.
“Tentu tidak, tapi drivernya sudah mati kecelakaan saat menyebrang di tabrak mobil.’’
“Mati…, apa ini terkait juga.”
“Saya juga menganggap anda gila” Sahut komandan membuat suasana ruangan penuh gelak tawa.
“Lanjutkan!” pinta komandan yang masih tersenyum.
“Coba lihat catatan itu!, waktu Nayla meminta izin untuk bertemu denganku, Nayla mengatakan, padahal saat itu dia menunjukkan kertas itu kepada bu kirana, anehnya tidak tertulis disana. Apa kau melihatnya?’’ Aku bertanya kepada Riko sedang meneliti kalimat yang kumaksud.
“Ya, aku melihatnya.” Sahutnya.
“Menurutnya, orang yang sudah tertulis dalam catatan ini tidak seperti dirinya lagi. Maksudku seperti dikutuk,” sambungku menjelaskan.
“Dikutuk…?’’ Komandan menyahut bimbang.
“Ya komandan, seperti konsep takdir. Singkatnya, kalau kau sudah tertulis disitu apapun itu pasti akan kau lakukan.” jelasku membuat seisi ruangan cemas.
“Hah…., bagaimana bisa hal begitu bisa terjadi?” Sahut Riko bertanya.
Hal seperti ini tentu sangat wajar kami rasakan, menolak untuk percaya. Karena kami dibentuk dan dibangun dengan pemikiran yang rasional dan nyata. Tapi kami harus menerimanya agar kasus ini cepat terungkap.
__ADS_1
Aku menggaruk kepala. “Entahlah, tapi kertas ini sungguh ajaib, kami sudah mengcopynya beberapa kali tapi tulisannya hilang, seolah kertas ini kosong.’’ Jelasku.
“Kalau kita ingin menolak cerita Nayla yang sungguh aneh itu, faktanya kertas ini memang benar ajaib.”
“ Senior, Kalau konsepnya kutukan pasti ada ritual yang harus dilakukan nya bukan?”
“O, sepertinya kau sangat paham soal ritual ya…’’ Ujarku kepada Andi.
“Ritual? apa lagi itu, Sungguh kepalaku ingin pecah” Riko menyahut panik.
“Ayolah Riko, Ritual adalah sebuah budaya dan kegiatan masyarakat, yang merupakan sebentuk rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh manusia untuk tujuan dan maksud tertentu. Biasanya, ritual sendiri terangkai dalam berbagai bentuk simbolis di dalam pelaksanaannya dan juga memiliki stratifikasi sifat kesakralan/keseriusan dalam pengertian di dalam kelompok tertentu. Ya setidaknya itulah penjelasan dari google,” jelasku tersenyum.
“Lalu apa Adik Amel itu tahu apa ritualnya?” Andi kembali bertanya seperti sudah memikirkan sesuatu.
“Aku sudah menanyakannya. Dia tidak tahu, tapi saat aku menilik kertas itu, ada sesuatu yang aneh, coba lihat bagian tengahnya. aku menduga itulah ritualnya.”
Riko kembali mengambil kertas yang sudah diletakkan di meja. “Apakah ini darah?’’ Jelas Riko membuat semua orang di ruangan terkejut.
“Sepertinya, tapi untuk memastikannya…, aku berharap Surya yang akan memeriksanya. Karena dia tidak disini. Bisakah kau memeriksanya untukku, Andi,’’ pintaku.
“Tentu senior.” Tegasnya.
“ Lalu periksa juga benda ini” Aku mengeluarkan barang yang kubawa dari panti.
“Apa itu?.” Tanya Hana penasaran.
“Darah dari ibu penjaga panti” Sahut ku cepat. “ Seandainya darah ini sesuai dengan yang di kertas itu, bisa kupastikan inilah syarat untuk menjalankan ritualnya.” Jelasku.
“Dari Mana darah itu kau ambil?.’’ Riko bertanya.
“Kemarin saat aku membantu membersihkan lumuran darahnya yang berserakan di lantai aku menyimpannya, karena dari awal kedatanganku banyak sekali hal-hal yang kupahami dan aku merasa ada sesuatu yang aneh.”
“Sungguh cepat seperti biasa,” pungkasnya memuji.
Aku tersenyum. “ Pergilah! periksa dahulu”
Andi mengambil kedua bukti kasus itu dan pergi mengantarnya ke ruangan forensik untuk memastikannya.
“Aku sudah dekat denganmu Jara’’ Gumamku dalam hati
__ADS_1