SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
AMPLOP KUNING


__ADS_3

Aku masih tidak habis pikir mengapa Nanda tidak menceritakan alasan sebenarnya ia membunuh Jara. Aku hanya bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya ia sudah membaca buku kutukan ku sebelum membakarnya. Atau, ia terpaksa diam sebab itu berkaitan dengan kematian ku. Entahlah, yang jelas ia memintaku untuk memikirkan ending kutukan ku dalam buku Jara. Bicara tentang akhir dari cerita Jara, aku jadi tersadar tidak ada satupun yang normal, semuanya mati dengan tragis. Hanya satu setidaknya Lisdia Ningsih. Tidak, tidak dia bahkan menusuk batang lehernya sendiri. Memang seorang psychopat.


''Menurutmu bagaimana?'' aku bertanya pada Nayla.


''Kemungkinan kau akan mencekik lehermu sendiri atau menghantuk kan kepala sampai pecah jika membaca buku mu sendiri... atau jangan-jangan... kalau berkaca dari cerita kak Nanda, Jara kan dendam padamu sebab orang tuamu menabrak ayahnya... mungkin saja kau dikendalikan membunuh orang tuamu di Bali setelah itu kau bunuh diri.''


Kata-kata Nayla sama sekali tak terduga, dan membuatku jengkel. Bisa-bisanya dia berpikir sampai segitunya. Aku berusaha menahan raut wajah senyaman mungkin, tidak seharusnya aku jengkel sebab itu jawaban yang kupinta darinya.


''Lalu apa kaitannya dengan ucapan Nanda! Mengapa dia tidak menceritakannya saja! Lagipula kutukan itu sudah batal... atau jangan-jangan dia tidak membakarnya?''


''Entahlah, aku yakin dia masih menyembunyikan sesuatu dari kita.''

__ADS_1


Ternyata Nayla juga merasa seperti itu. Sangat aneh jika Nanda membunuh pelaku tanpa menemukan jawaban. Untuk apa dia melakukan penyelidikan jika hasilnya tidak terjawab. Tidak mungkin. Ditengah perbincangan yang kami lakukan, kami mendengar ketukan yang sangat pelan di pintu.


''Ya,'' jawab ku, tetapi si tamu tidak menjawab untuk membuka pintu. Aku menatap Nayla. Terdengar ketukan lagi.


''Silahkan masuk!'' Terdengar suara Nayla mempersilahkan di depan pintu.


Seorang pria perlahan masuk diantara celah pintu yang terbuka, bertubuh tinggi besar. Dia adalah pria yang memanggil Nanda saat di cafe.


''Oh, tidak usah, terima kasih. Saya tidak akan lama,'' tukas pria bertubuh besar itu. ''Anda benar, saya adalah salah satu anggota yang dipimpin oleh senior Nanda,'' pria itu mengeluarkan selembar amplop besar dari tasnya dan mengulurkannya kepadaku. ''Saya hanya mampir untuk memberikan ini kepada anda,'' dia melanjutkan dengan ragu-ragu. ''Saya minta maaf baru bisa memberikan kepada anda hari ini... sebenarnya senior meminta saya memberikannya secepat mungkin. Namun, saya masih menjalankan tugas beberapa hari yang lalu dan ditambah ini berkas asli... menurutku barang yang penting... dia memintaku untuk memberikannya langsung kemari sebab berkas ini tidak diberikan pada atasan.''


Aku menatapnya sembari mengambil dari tangannya. ''Ini berkas apa?''

__ADS_1


''Saya tidak tahu, saya tidak membukanya. Kalau saya menebak mungkin berkaitan dengan kasus yang baru kalian selesaikan.''


''Baiklah, terima kasih sebelumnya. Tetapi Nanda dimana? Mengapa bukan dia saja yang kemari.''


''Soal itu, dia sedang menjalankan misi. Seharusnya dia sudah mengatakannya kepada anda bukan? Kemarin itu adalah pertemuan terakhir.'' Pria itu mulai berbalik. Nayla menatap ku begitu serius. Pria itu sudah melewati pintu dan menutupnya. Tetapi kemudian dia berhenti dan perlahan membuka pintu kembali.


''Saya hampir lupa, kalau cerita anda sudah rampung tolong kabari dia. Katanya, dia masih menantikan kisahnya.''


Aku hanya bisa mengangguk. Kami berdua berdiri di depan pintu melihatnya menaiki mobil sedan berwarna hitam. Dia bersama orang lain disana.


''Apakah amplop ini berisi jawaban yang kita cari?'' Nayla menatapku yang masih menerka rekannya di mobil.

__ADS_1


Tepat seperti yang ku harapkan, amplop itu berisi surat dari Jara untuk kepolisian. Lebih tepatnya untuk yang menemukannya. Aku ingin mengakhiri kisah ini dengan mencantumkan seluruh isi surat tersebut, karena isinya melengkapi penjelasan mengenai Kemampuan Surat Kematian yang luar biasa ini.


__ADS_2