
Yang benar saja. Aku rasa Komisaris Jenderal bintang tiga ini sudah gila, bagaimana mungkin dia ingin kami mencarinya dalam jangka waktu sepuluh hari sedangkan sejauh ini kami belum punya satupun tersangka. Sungguh mustahil. Hari ini Kamis, tanggal 5, jadi dia ingin kami membawa pembunuh bernama Jara ini hari Minggu minggu depan tanggal 15, sebelum para agen rahasia itu berkeliaran mendapat izin di negeri ini. Mataku terpaku melihat komandan yang begitu berpikir keras, begitu juga dengan Nanda. Aura kebingungan mulai menyerap kenyamanan ruangan rapat.
“Kapten, saya ingin anda membagi orang-orang yang didalam ruangan ini menjadi dua tim.” Ucap Nanda memecah keheningan ruangan.
“Bagaimana maksudmu? Apa kau ingin tugas ini dibagi menjadi dua kelompok?’’
“Ya, biarkan aku mencari Jara bersama Misya. Sedangkan Pak Santoso dan anggota yang lain mencari Amelia.’’
Pak Bisco diam sejenak mendengar permintaan yang tidak masuk akal dari Nanda itu. “Apa kau yakin?’’
“Saya akan memecahkan kasus ini sebelum waktu yang ditetapkan, tentu… saya bisa meyakinkan anda kami bisa menyelesaikannya paling tidak sampai tanggal 15.”
“Oi, apa kau sudah gila ya?” aku berkata pada Nanda. “Kau benar-benar yakin bisa mengetahui semua jawabannya sepuluh hari kedepan?’’
Dia tidak mengatakan apa-apa, yang membuatku semakin gelisah. Terkadang keyakinan diri berlebihan membuat seseorang kehilangan akal sehat.
“Apa kau ingin mereka yang pergi mencarinya?” Ucap Hana menatapku yang sedang panik.
Aku mengurungkan emosi menjawab pertanyaan Hana, bukan saat yang tepat untuk berdebat dengannya. “Tentu tidak! Hanya orang bodoh yang membiarkan negaranya diobrak-abrik orang lain,” Aku berkata pelan agar komandan tidak perlu menegurku.
“Lalu, kenapa kau bersikeras untuk ragu, bukannya kemarin dari mulutmu itu keluar ‘Sekalipun semua orang mengundurkan diri dalam kasus ini, aku akan pergi sendiri mencarinya’ Apakah itu hanya omong kosong saja,” Hana diam sejenak. “Ya, pasti itu omong kosong… sama seperti menjamin keselamatan Andi!”
“Apa yang kau pikirkan, Hana! Katakan saja, jangan kau pendam!” Suaraku terangkat begitu keras.
“Sudah!” Bentak komandan.
“Bagaimana, apa kau yakin seperti itu?’’ Tanya Pak Bisco pada Nanda setelah Aku dan Hana terdiam.
“Ya, saya berani mengatakan itu, karena saya adalah orang-orang pilihan!’’ Teriak Nanda membuat kami semua di dalam ruangan tercengang.
“Baiklah, tidak ada lagi keributan, mulai sekarang… kalian akan bekerja terpisah, tim pencari Amelia yang di pimpin pak Santoso dan tim pencari Jara yang di pimpin oleh… Siapa namamu?’’ Tanya pak Bisco kepada Nanda. Aku melihat komandan, Riko dan Hana penuh aura kebingungan.
“Nanda Kapten!’’ Sahutnya.
__ADS_1
Jelas saja mereka kebingungan. Bagaimana mungkin seorang kapten tidak mengenal utusannya dalam menyelesaikan misi. Akan tetapi kebingungan mereka reda setelah pak Bisco membuat penjelasan yang masuk akal. Sekalipun itu tidak benar. Komisaris Jenderal itu masih menyembunyikan identitas Nanda dari mereka.
“Kalau begitu, pergunakan waktu dan fasilitas yang ada! Kalian saya beri izin untuk menggunakannya atas nama petinggi pusat.” Ucap pak Bisco sebelum meninggalkan ruangan.
Ruangan kembali menampakkan suasana sepi seperti hutan di kalimantan, hening tanpa suara. Aku melihat komandan yang belum bersuara setelah pak Bisco meninggalkan ruangan. Komandan yang bernama Santoso itu hanya mengamati berkas dan data yang telah kusiapkan kemarin.
“Baiklah, seperti yang kalian dengar. Kasus ini akan dibagi menjadi dua bagian. Kasus Amelia Earhart dan kasus Jara si pembunuh. Mulai sekarang Misya, kamu akan bekerja di bawah pimpinan Nanda, ya, walaupun begitu bukan berarti kita tidak saling bertukar informasi. jadi, saya ingin kita tetap bekerja sama sekalipun terpisah. Sekian isi rapat kali ini, kalau ada ingin bertanya silahkan!” Ucap komandan.
“Nanda, apa kau yakin kita terbagi seperti ini?’’ Tanya Riko yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.
Kami semua terlihat ingin mendengar keputusannya itu. “Ya, aku ingin kita fokus dalam satu hal saja.”
“Maksudmu, kau menganggap dua kasus ini tidak berkaitan?’’ Tanya komandan memastikan.
“Bukan berarti begitu pak, aku hanya merasa kalau satu dari dua kasus ini terpecahkan itu akan membuka jalan pada kasus kedua. Jadi, sebaiknya kita mencarinya terpisah.”
“Baiklah, kalau begitu kita tidak perlu lagi membuang waktu. Hana kumpulkan nama orang-orang yang selama ini dekat dengan Amelia!” Perintah komandan.
“Pak, catatan itu akan kami bawa, saya merasa isi catatan itu tidak ada kaitannya dengan Amelia.” Nanda berkata sopan pada komandan.
“Silahkan!” Ucap komandan.
Aku beranjak dari bangku mengambilnya. “Hati-hati.” Ucap komandan.
“Baik Komandan.” Ucap ku sebelum meninggalkan mereka di ruang rapat. Riko tersenyum memberi semangat berbeda dengan Hana tatapan sinisnya tetap terpancar. Aku tersenyum ramah membalasnya. Aku dan Nanda pergi meninggalkan mereka.
Hari kamis, tanggal Lima. Hari ini adalah hari keempat sejak kasus di mulai dan Lima hari setelah hilangnya Amelia. Tidak banyak yang kami tahu tentang Jara, sejauh ini kami hanya mencari rahasia dari catatan neraka yang digunakannya untuk membunuh. Dengan petunjuk yang terkumpulkan Aku sangat percaya diri untuk bisa menemukannya.
“Apa yang kau pikirkan?’’ Aku bertanya pada Nanda saat sampai di parkiran mobil.
“Kenapa? Apa kau meragukan kemampuanku?”
“Tentu tidak, mengapa kau bisa seyakin itu?”
__ADS_1
“Mengapa? Karena sebenarnya aku tidak jauh darinya.” Jawabnya memutar badan menghadapku.
“Apa maksudmu?’’ Aku bertanya memastikan dugaan yang dari kemarin sudah berusaha kuhilangkan.
“Apakah adik Amelia bernama Nayla itu benar-benar ada?’’ Jawabnya dengan mata menyipit. Luka di wajahnya tampak bergabung dengan alisnya.
Benar saja dia masih berpikir menganggapku Jara.“Maksudmu, aku berbohong soal itu?’’
“Entahlah, aku sudah menanyakan pada Riko, dia mengatakan tidak pernah bertemu dengannya, bagaimana, sangat aneh bukan? Padahal dia adalah orang yang kau curigai tapi kau tak pernah menunjukkannya kepada mereka, apa maksudnya?’’
“Yang benar saja kau masih berpikiran seperti itu…’’
“Kalau begitu, pertemukan aku dengannya. Selama ini kau hanya mengatakan Nayla dan Nayla tapi tidak pernah membawanya, aku tidak tahu mengapa mereka bisa tidak penasaran dengan orang yang bernama Nayla ini. Bisa saja kau hanya membuat tokoh buatan.”
“Hah… mengapa?’’
“Mengapa?’’ Jawabnya dengan cepat.
Wajahnya begitu serius menatapku, dia menggigit ujung bibirnya seakan memberi ancaman. “Baiklah kalau begitu, kalau kau ingin bertemu dengannya. Aku tidak keberatan dengan omonganmu yang kocak itu.”
“Terserah, bawa aku kesana!”
Begitu dia berbalik memunggungiku, diambilnya sesuatu dari saku lalu melangkah meninggalkan yang berdiri membeku menenteng tas.
Setelah perbincangan di parkiran kami pergi menaiki mobilnya untuk bertemu dengan Nayla di rumahku. Selama di perjalanan tidak banyak yang kami bahas, hanya soal kedekatan Nayla dan Amelia saja. Selebihnya hanya membaca ketiga catatan neraka untuk lebih memahaminya. Matanya sesekali melirik, terlihat ingin memastikan sesuatu. Aku tidak memperdulikannya.
Tak lama kami sampai di rumah ku.
“Masuk!” Ucapku ketika memegang gagang pintu berusaha membukanya.
“Terkunci?”
“ Sepertinya kau menganggap pintu itu tidak di kunci, Ya?’’ Celetuknya dengan Pandangan penuh curiga.
__ADS_1