SURAT KEMATIAN

SURAT KEMATIAN
DITEMUKAN


__ADS_3

Setelah mendengar pernyataan Nanda tentang catatan neraka yang mungkin ditelan oleh korban, Riko membantah seakan tidak terima. “Bagaimana mungkin dia menelan catatan itu? Dia bukan tikus bisa memakan apa saja.’’


Nanda tak bergeming sesaat, lalu berpura-pura berpikir. Namun, dengan cepat dia menjawab, “Kau masih ingin memakai logika dalam masalah ini? Yang benar saja! Tiga hari sejak kasus ini dimulai, hampir tidak ada yang bisa digiling oleh akal! Kita harus memikirkan berbagai kemungkinan untuk memecahkannya!’’ Ketus Nanda sedikit gusar.


“Lagipula, Kita tidak akan mati kalau hanya menelan kertas.” Celetukku. Menatap Riko yang begitu jengkel di belakang.


“Oh ya? Kertas selebar catatan neraka itu masuk kedalam pencernaan tidak mati?’’ Tanya Riko. Wajah menyebalkannya itu masih tidak terima. “Yang benar saja!’’


“Ya. Menurut dokter bagaimana?’’ Aku bertanya pada Nanda yang menaikkan kecepatan mobil.


“Aku sudah menelpon mereka, setelah kita memeriksa rumah Angga, tetapi sampai sekarang belum ada juga kabar dari mereka.”


Ya benar, Aku tadi melihatnya menelpon saat meninggalkan pria bernama Hamdi itu. Akan tetapi satu hal yang mengganggu kepalaku. Bukannya tadi siang, Saat kami mencari teman Ahli Astrologinya itu, dia mengatakan kepadaku tidak memiliki ponsel? Lalu mengapa…? Apa tujuan makhluk misterius ini sebenarnya? Dengan cepat Aku menghilangkan pikiran-pikiran aneh itu lagi.


“Kalau begitu kita tanyakan langsung saja pada mereka di rumah sakit.” Cetus ku.


Nanda mengangguk. Dia menginjak pedal gas menambah kecepatan.


Nyaris saja. Tidak terpikirkan oleh manusia biasa. Kalau saja dokter menyatakan ada kertas didalam perut koban. Bisa dipastikan Jara adalah seorang maniak pembunuh yang sangat jeli. Semua pergerakan yang dilakukannya nyaris tak tertebak. Mataku terpaku pada sebuah papan reklame yang terpampang di lampu merah. Seorang gadis cantik berpose duduk sambil tersenyum di samping kulkas, rambutnya berkibar tertiup angin. Billboard milik Amelia. Dia tersenyum bahagia.


Mengingatnya saja sudah cukup membuatku pusing. Mungkinkah ini semacam pesan dari Amelia? Aku tiba-tiba ingat semua korban yang mati di depan mataku… Sudah tiga hari lebih Amelia hilang apa yang sudah terjadi padanya. Aku menggoyang kepala menghilangkan pikiran buruk yang mungkin terjadi padanya.


Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Mobil yang kami kendarai melaju semakin cepat. Saat aku berpikir tanpa tujuan seperti orang yang terjebak didalam labirin luas terus menerus melangkah di lorong yang sama.


Terdengar suara ponsel berdering dari sebelahku. Aku menatap Nanda yang berusaha mengambil ponsel dari sakunya. Nanda begitu serius. Dia hanya mengiyakan semua pertanyaan dari seorang dibalik telepon itu.


Rasanya aku tidak perlu memeriksa siapa yang menghubunginya. Kepalaku dengan cepat memberitahu bahwa itu dari Rumah sakit.


“Bagaimana?’’ aku menatapnya penasaran.


“Dugaan kita benar!” Jawabnya.


“Tidak kusangka!” Sanggah Riko.


Benar saja, Nanda dihubungi pihak Rumah Sakit. Mereka memberitahu menemukan kertas di dalam perut korban. Kertas itu benar hancur berkeping-keping.

__ADS_1


Tak beberapa lama kami sampai di rumah sakit tempat Angga di otopsi. Bergegas kami berlari menuju kamar korban diperiksa, seorang dokter bedah menunggu kami disana. Dia menceritakan semuanya. Aku juga sudah menanyakan pada dokter pertanyaan Riko tadi.


Dokter mengatakan Manusia tidak akan mati apabila menelan kertas. Dia menerangkan kertas merupakan senyawa organik yang dapat dicerna oleh asam lambung sehingga orang yang menelannya tidak perlu khawatir akan bahaya. Tubuh manusia akan mencerna dan memecahnya menjadi senyawa sederhana. Senyawa ini tidak dapat diserap oleh usus halus dan usus besar sehingga nantinya dibuang bersamaan dengan tinja.


Dia menjelaskan secara detail dan lengkap. Kesimpulan yang kami ambil adalah catatan itu bakal hancur di dalam pencernaan. Setelah mendapat informasi itu. Kami beranjak pergi.


Tim forensik menduga catatan itu sudah sehari di dalam perut korban. Seandainya saja, dia tidak diperiksa Hana pada siang tadi, mungkin catatan itu akan keluar bersama kotorannya. Mereka menduga catatan itu akan benar-benar hancur di dalam perutnya malam ini. Sungguh keberuntungan Jara.


Dugaanku pasti benar. Jara pasti bertaruh dengan kepolisian. Dia sudah menebak bahwa kami akan memeriksa pria bernama Angga itu. Paling tidak dia sudah menduga kami akan menangkap pria itu sebelum catatan itu keluar dari perutnya. Bisa dipastikan kepolisian kalah bertaruh dengannya.


Jelas saja taruhannya akan gagal apabila Hana tidak menemukan pria bernama Angga itu. Catatan neraka miliknya akan keluar dari perut malam ini. Dan dia akan selamat dari ritual yang mengerikan itu.


“Jara, Sungguh pembunuh yang sangat unik.” Ucap Riko kagum sambil berjalan menuju mobil.


Aku berbalik badan melihatnya yang tertinggal di belakang. “Ya, Aku setuju denganmu.’’


Riko berjalan cepat melomba kami. “Apakah dia seorang dokter?’’


“Jara maksudmu?’’ Nanda bertanya.


“Entahlah… Sebenarnya ada pertanyaan yang lebih penting dan terus mengganjal dari tadi di kepalaku… Untuk apa dia membunuh pria itu?’’ Aku menatap Nanda penuh harapan dia menjawabnya.


“Bagaimana mungkin aku tahu!’’ Bentaknya.


Menjadi tanda tanya besar di kepalaku mengapa dia membunuh pria bernama Angga itu. Akan tetapi yang lebih penting sebenarnya adalah mengapa Jara melakukan kesalahan seperti itu?


Aku bersedekap menatap Riko dan Nanda. “Apakah menurut kalian Jara menyangka kita akan tahu catatan neraka itu di dalam perut korban?’’


“Menurutku… Tidak! Emang kenapa?’’


“Kenapa?...Kau yakin dia tidak menyangka kita akan menemukan catatan neraka itu ada di dalam perut Angga!’’


“Tentu, dengan ditemukan catatan itu. dia memberi petunjuk pada kita. Seperti yang dokter katakan. Seandainya Hana tidak memeriksa pria itu. Catatan neraka itu akan hancur dan mungkin saja ritual yang mengikat Angga akan gagal. Apakah Jara sebodoh itu memberi kita petunjuk berharga seperti itu?’’


“Ya, Aku juga memikirkan hal yang sama. tapi…”

__ADS_1


“Maksud kalian apa, Oi?’’ Riko terlihat jengkel menatap kami.


“Kau tidak paham? Jara takut catatan neraka itu hancur!’’ Ketus Nanda pada Riko.


Aku mengangguk memahami sesuatu.


“Apa yang terjadi kalau catatan itu hancur?’’ Nanda bertanya untuk memancing Riko menjawab.


“Maksudmu, cara membatalkan catatan neraka ini dengan menghancurkannya.’’ Jawab Riko.


“Mungkin… Kalau dilihat dari pola yang dilakukannya. Bagaimana kalau kita mencobanya?’’


“Hah.. maksudmu, kita membunuh seseorang pakai catatan ini!”


“Ya. Kita coba saja.”


“Tidak, itu terlalu gila!’’ Aku membentaknya.


“Kenapa? Sebelum korban uji coba mati kita hancurkan catatan ini!’’ Dengan santai dia menjawab begitu yakin.


“Kalau gagal.’’ Aku memotong kalimatnya.


Nanda diam sejenak.


“Lupakan ide gila itu!’’ Ketusku.


Kami bertiga diam sebentar memikirkan apa tujuan Jara sebenarnya.


“Kalau saja dia tahu kita akan menemukan catatan di dalam perut korban, Aku merasa ada sesuatu yang ingin dilakukannya?’’ Sahutku bertanya memecah keheningan.


“Menurutmu apa?’’


Aku menarik nafas panjang sebelum menjawabnya.


LIKES NYA YA TEMAN-TEMAN!

__ADS_1


__ADS_2