
[Selamat, kuasa flash naik ke level 3 yaitu kuasa Voltra]
Aliran petir menyambar ke dinding dan meledakannya, kepulan asap menghalangi pandangan.
Dalam lorong labirin ini cukup sulit untuk bergerak bebas, karena lebar lorong hanya 5 meter.
Serangan Ryuga tak mengenai Ghoul yang masuk ke dalam dinding lagi. "Sial! Ini sulit. benar-benar sulit," kata Ryuga kesal.
"Tenang Ryu, kita harus fokus. Monster ini menembus benda padat. Tapi coba perhatikan jenis apa dinding batu logam ini."
Vanya mengamati batu logam di dinding tersebut dan mencoba menerka. Sedangkan Filza masih terus menangkis Ghoul yang selalu keluar masuk dinding dan menyerangnya.
"Kamu memang masih selalu bisa menganalisa dengan baik di saat seperti ini, Vanya," batin Ryuga kagum. "Cryptonium?! Ini akan sulit."
"Bagaimana Ryu? Apa hasil analisanya?" Filza berteriak tapi masih terus menyerang dan bertahan dari Ghoul bersama Vanya.
'Trang-trang-trang!'
"Filza lepaskan skill dari kuasa frost, Vanya pukulan sekuat mungkin begitu Filza berhasil membekukan dindingnya. Aku akan menyerang dengan kuasa Hell, merunduk!"
Vanya dan Filza melompat mundur, lalu merunduk. Ryuga melepaskan semburan api hitam, "Great Hell Anihilation!"
'Swush!'.
Api hitam memenuhi lorong dan berjarak 10 cm dari Vanya dan Filza yang merunduk. Lagi-lagi Ghoul masuk dinding, tapi itu memang yang Ryuga harapkan.
"Areal Frost Riveros!"
Filza yang masih merunduk membekukan areal lorong depannya sejauh 20 meter. Dinding terselimuti oleh lapisan es abadi berwarna ungu, bahkan seperti kristal.
Dan benar saja jika suatu benda dipanaskan dengan suhu tinggi benda itu akan memuai dan jika benda benda dalam keadaan memuai didinginkan secara cepat maka ia membentuk kaca.
Ghoul dan dindingnya membeku menjadi kaca. Vanya menyeringai dan melepaskan skill seal of eternity: Ultimate punch ke tubuh Ghoul yang menjadi kaca.
'Prang!'
Tubuh Ghoul hancur menjadi serpihan kaca halus, karena terkena getaran pukulan Vanya yang terlalu kuat.
__ADS_1
***
Piramida Adanu.
Josephine terus menghindari serangan Mega Seadramon dengan skill blink tanpa henti. Energi Vedanya semakin tipis, setelah Mega Seadramon muncul semua hawa kematian di hapuskan karena efek skill Enlightment. Sehingga Josephine tak mampu lagi menyerap hawa kematian dari monster yang telah tewas.
"Rain eterna Sword!"
Mega Seadramon melihat Josephine mulai terdesak, ia ingin cepat mengakhirinya. Dari langit muncul hujan pedang berjenis longsword dengan bilah besar berwarna putih dengan garis di tengah bilah berwarna kuning dan jumlahnya ribuan dalam radius 500 meter.
Dari permukaan tanah juga sama, keluar bilah Eterna Sword, Josephine dikepung dari atas dan bawah. Nafasnya mulai tak beraturan, 4 senjata Infernal pun tidak bisa ia keluarkan karena kehabisan energi.
Kali ini Josephine pasrah tidak ada lagi jalan keluar, jika ia sekali menggunakan teleportasi kemungkinannya pingsan kemudian mati tertusuk ribuan pedang Mega Seadramon atau langsung mati.
"Apakah hidupku akan berakhir disini? Ayah, ibu, maafkan aku," batin Josephine memejamkan mata.
'Jleb-jleb! Trang!'
***
Sektor Giwa Pranala, Starling, London.
Akira masuk ke hutan setelah diberi wewenang oleh kepala desa untuk berburu monster level iron yang membuat warga takut dengan bayaran baju dan tempat tinggal.
Lagi-lagi karena ulah Afkham, membawa Akira yang sudah berlevel 13 tanpa ia sadari masuk dalam portal memory of heaven.
Tepat ketika Josephine terpojok dan pasrah, nasibnya sudah di ujung tanduk. Afkham tidak mengetahui jika Akira adalah keturunan Yosep juga yang berhak atas Trophaeum Regalia, yaitu kekuasaan yang dibuat WorldRuler atas mandat Raiden, sang pemimpin pemerintahan dunia sebelumnya di era Agito muda.
Akira melayang keluar dari dalam portal di langit. Sontak tangannya reflek ada banyak pedang yang menghujaninya.
"Hellheaven sword style: Mode Berserker Sword!"
Ryutaiga berubah menjadi pedang Longsword sepanjang 2 meter, dengan bilah merah darah dan gagang emas.
Pedangnya diselimuti aura merah pekat dan berkobar-kobar seperti darah yang muncrat. Dalam sekali tebas semua pedang Mega Seadramon itu langsung hilang, luruh menjadi debu. Termasuk Mega Seadramon juga tubuhnya terbelah dua.
Untung saja tebasannya tidak mengenai Josephine yang berlutut satu kaki dalam keadaan lemas.
__ADS_1
Akira seperti memijak angin, lari cepat ke arah Josephine yang masih dalam keadaan memejamkan mata dan menepuk pundaknya, "Anak muda! Apakah kau tidak apa-apa?"
Josephine masih memejamkan mata, takut suara itu adalah suara dewa kematian yang menjemputnya.
Akira kembali menepuk pundaknya Josephine, "Tenang saja. Monster itu sudah aku bereskan."
Josephine langsung membuka mata dan langsung membelalak ketika menoleh ke arah Akira. "Ka-kamu ma-manusia?!"
'Bletak!'
Akira memukul kepala Josephine dan tersenyum tipis, "Itu buktinya. Masa lah iya hantu."
"Aw ...! Jangan begitu apa! Sakit tahu!" Josephine meringis kesakitan sembari mengelus-elus kepalanya.
Manik matanya berkeliling dan sudah tidak mendapati mayat Mega Seadramon, yang ia temukan dari jauh hanya emperor adanu ball, bola seukuran bola baseball bermotif logo cahaya.
"Sebenarnya ...." Josephine sudah berlari jauh dengan tenaganya yang tersisa untuk memgambil emperor adanu ball dan mengacuhkan Akira. "Sialan, kalau tidak aku membutuhkan informasi ini dimana? Sudah kubunuh dia! Hmph!"
Pintu portal menuju Bhayangkara, setelah Josephine berhasil menyimpan bola tersebut. Lalu menuju portal, karen ia tahu piramida selanjutnya adalah dimana dia bisa menyerap banyak hawa kematian.
Akira terpaksa mengikutinya masuk ke dalam portal, karena ia ingin keluar dari dalam portal laknat ini.
Mereka berdua masuk portal dan muncul di pintu masuk piramida Bhayangkara. Kilatan cahaya dan suara ledakan terdengar keras, itu akibat pertarungan tim Ryuga dan tim Kira membersihkan monster di dalam kedua lorong labirin iblis.
Josephine langsung duduk bersila untuk menyerap hawa kematian. Akira berdiri di belakangnya, untuk menunggu Josephine selesai.
"Sial, aku malah seperti pengekor. Lebih baik aku masuk saja, tapi tunggu ... kalau aku tersesat dan tak bisa pulang dari tempat ini bagaimana?"
Akira bingung dan akhirnya duduk bersila seperti Josephine tapi memeluk Ryutaiga yang sudah dalam keadaan semula.
Sedangkan Josephine dalam dirinya akan siap mengabdi pada Akira yang sudah menjadi penyelamat hidupnya. Setelah berhasil Josephine punya pemikiran untuk membawa Akira menemui ayahnya, bahkan memberikan Akira setengah saham Linuix Group.
.
"Maafkan aku, tidak menyapamu tuan ...."
Josephine mengerjapkan mata sembari berdiri, karena sudah memulihkan energi Veda dalam dirinya. Berkat hawa kematian yang pekat di dalam piramida Bhayangkara, pengisian energi Veda Josephine berjalan sangat cepat hanya dalam 10 menit penuh.
__ADS_1
"Aki ... tidak maksudku Shinji Tatsuo," jawab Akira.
"Aku tidak boleh mengumbar identitas asliku. Siapa tahu dia itu juga diam-diam komplotan Bayanaka. Bukannya aku yang memburunya malah diburu. Sebelum ayah keluar, aku harus menyembunyikan identitasku untuk mencari saudara-saudaraku yang masih hidup," batin Akira.