SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP 4: MASK OF UNIVERSE

SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP 4: MASK OF UNIVERSE
Chapter 48 Raras Anindita.


__ADS_3

Ryuga pulang ke akademi menggunakan taksi online. Para warga sudah beraktivitas normal, puing-puing, mayat-mayat warga dan monster yang bergelimpangan, sudah dibersihkan oleh para relawan, petugas damkar, anggota polisi serta TNI.


Ryuga yang berada di kursi belakang, menatap lekat kaca jendela, melihat pemandangan kota Tangerang Selatan yang sedikit hancur, akibat penyerangan monster secara tiba-tiba. "Aku harus menciptakan cabang guild di sektor Siliwangi. Atau aku menciptakan pasukan khusus tersembunyi di bawah komandoku, dan pihak akademi maupun pemerintah Sangakama sektor Siliwangi tidak ada yang boleh mengetahuinya," gumam Ryuga menyandarkan dagu di punggung tangan kirinya.


"Maaf tuan, anda seorang Divya di akademi Maung School ya?" tanya sopir taksi online, matanya tetap fokus menatap jalanan kota Tangerang Selatan yang sedikit sepi.


"Jangan panggil tuan pak, aku masih muda 17 tahun," sergah Ryuga tersenyum tipis. "Ya aku murid disana. Apakah anak bapak juga ikut tes tahun ini?"


"Ya, tapi gagal. Anak saya tidak ada levelnya, padahal dia sudah berlatih keras, mas," jawab sopir taksi online bernama Prio, raut mukanya sedih. "Putriku sekarang stres dan mengurung diri terus di kamar, ia tak mau makan sama sekali. Kadang mau makan juga dipaksa seminggu sekali."


Prio pria paruh baya dengan rambut pendek dan banyak beruban, kumisnya yang tebal juga beruban, kulitnya sawo matang, matanya terlihat sayu, guratan di wajahnya terlihat jelas.


"Kasihan juga ya pak, boleh saya bertemu dengannya?" tanya Ryuga dengan menyondongkan kepalanya dekat telinga kiri, Prio.


"Boleh saja mas. Tapi apa tidak mengganggu waktu mas? Bukannya sekarang waktu istirahat makan siang akademi sudah habis?" jawab Prio lalu bertanya balik.


"Tidak pak. Akademi diliburkan, aku bisa keluar akademi, karena ada urusan dengan Lord Gardosen di gedung Mexus," jawab Ryuga.


Prio melajukan mobilnya bukan ke arah taman tekno tapi ke arah Ciater, dimana rumahnya berada. "Sepertinya mas ini bukan kadet biasa. Setahuku hanya kadet-kadet tertentu yang bisa masuk ke gedung Mexus. Semoga saja ada harapan untuk putriku Raras," batin Prio tersenyum tipis dengan tatapan mata penuh harap.


***


30 menit kemudian.


Mobil Prio sampai di sebuah gang sempit, dan memarkirkannya di samping rumah kontrakan. Prio sendiri menjadi sopir taksi online karena terpaksa kondisi ekonominya menuntut dirinya untuk bekerja lebih, itu pun mobilnya menyewa dari perusahaan 200.000/hari. Harapan satu-satunya Prio pupus, setelah putri semata wayangnya Raras Anindita gagal menjadi Divya dan murid di akademi Maung School.


Prio menuntun Ryuga menyusuri jalanan setapak yang di apit oleh dinding-dinding rumah kontrakan. Dan sampailah Ryuga di sebuah rumah yang kondisinya sangat memprihatinkan, pagarnya hanya berdinding rajutan bambu, beratapkan asbes dan tidak ada listrik di rumah tersebut.


Hati Ryuga terenyuh melihat kondisi rumah Prio. Ryuga membayangkan masa lalunya hampir mirip seperti Prio dan Raras, hidup pas-pasan di tengah majunya dunia pemerintahan Sangakama.


Prio masuk ke rumahnya di ikuti Ryuga dan duduk di atas tikar, "Maaf rumah bapak hanya seperti ini," ucap Prio menundukan wajah seolah sangat malu dengan keadaan rumahnya. "Sebentar aku ambilkan minum buat mas!"

__ADS_1


Mata Ryuga berkeliling menatap isi rumah Prio. "Konsekuensi menjadi non Divya memang sulit. Meskipun kemungkinan kecil menjadi Divya level 1, tapi bagi pemuda atau pemudi yang masih belia, tak akan kuat jika berkeja di tambang situs gunung padang, untuk membangkitkan level Divya mereka," batin Ryuga dengan raut wajah yang murung lalu sedikit memijat keningnya.


"Tok ...!" Prio mengetuk kamar Raras, yang terbuat dari kayu triplek. "Nak! Keluarlah! Ada yang ingin bertemu denganmu, pemuda yang sangat tampan, cepatlah keluar!" panggil Prio.


"Ya pak!" Raras membuka pintu keluar dari kamarnya, kondisinya sangat memprihatinkan, rambutnya yang berwarna kuning sebahu acak-acakan, wajah cantiknya pucat pasi, kelopak matanya menghitam. "Ini siapa pak?"


[Blangtungpak blaem-blaem]


[Misi terpicu]


[Misi : Jadikan Raras Anindita pengikut juragan


Hadiah : Mythril chest, 10.000 poin skill job Leadership, dan uang Rp 50.000.000


Hukuman : Kehilangan respek Raras


Batas waktu : 7 hari


progres : 0/100%]


"Perkenalkan aku Ryuga Himura, ketua kadet akademi militer Maung School," sapa Ryuga dengan raut bibir melengkung membentuk senyuman dan menunduk hormat.


"Ada apa kamu datang kemari?" tanya Raras dengan nada ketus dan menggembungkan pipinya, wajahnya ia buang dari menghadap Ryuga.


"Raras sayang jangan begitu, mas Ryuga kemari karena keinginannya sendiri, ingin melihatmu sayang," sergah Prio mengelus lembut rambut Raras.


"Apa yang bisa dia lakukan pak? Membuat Raras menjadi Divya? Tapi itu mustahil!" ketus Raras menyeringai kesal.


"Aku bisa membuatmu menjadi Divya sesuai level keinginanmu," jawab Ryuga tersenyum tipis untuk mencairkan suasana hati Raras yang masih depresi.


"Cih, omong kosong! Pembual belaka!" decih Raras raut mukanya tambah ditekuk.

__ADS_1


"Baiklah aku berani bertaruh, jika aku tidak bisa menjadikanmu Divya minimal level 4, uang ini milikmu, di dalamnya ada 5 milyar." Ryuga mengeluarkan atm milik jason dari jam tangan penyimpanannya. Kemudian melanjutkan dengan menyeringai licik, "Tapi jika aku bisa membuatmu menjadi Divya minimal level 4, kamu harus menjadi bawahanku!"


"Baik, aku terima tantanganmu dan siapkan uang itu akan menjadi milikku," ketus Raras menunjuk atm milik Jason yang Ryuga pegang di tangan kanannya. Kemudian melanjutkan dengan menatap lekat Prio, "Pak, bolehkan?"


"Ya sayang, apapun yang kamu inginkan, bapak akan mendukungmu. Ya, sudah cepat bersihkan dirimu," jawab Prio mengelus pundak Raras.


Raras pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dan itu membuat Prio senang. Pasalnya sudah sebulan lebih Raras, tidak mau makan dan mandi karena stres gagal tes menjadi Divya.


"Pak, aku mau bayar taksi onlinenya," ucap Ryuga.


"Loh kan bapak belum mengantar mas Ryuga ke akademi. Kok sudah dibayar?" tanya Prio dengan raut muka penuh tanda tanya.


"Tidak apa-apa, bapak selesaikan saja."


Prio pun menyelesaikan perjalanan menghantar Ryuga, ongkosnya hanya 50.000 karena dekat, kurang lebih 15 km. Ryuga juga memberikan tips 1 juta pada pak Prio.


"Terima kasih mas Ryuga." Prio pun melihat pemberitahuan di handphonenya, ia mendapat tips 1 juta rupiah dari Ryuga. Kemudian melanjutkan dengan menaikan alisnya, "Tapi ini tipsnya terlalu banyak, mas."


"Tidak apa-apa pak. Aku akan memberikan lebih lagi, jika bapak bisa mencarikan informasi tempat menambang batu logam," pinta Ryuga.


"Memangnya buat apa mas?" tanya Prio menelisik.


"Aku ingin membuat toko senjata di Tangerang selatan," jawab Ryuga tersenyum tipis. "Bapak bisa mencarikan informasinya?"


"Bisa mas, nanti saya carikan informasi tempat menambang logam di Jabodetabek," balas Prio tersenyum hangat.


Raras pun selesai membersihkan diri, ia memakai jeans ketat berwarna biru, sweater rajut berwarna krem, dan daleman kaos berwarna putih. Rambutnya yang berantakan ia sisir rapi lurus, gadis yang sangat cantik dan manis, itu terpancar dari wajahnya.


"Pak, aku minta izin! Membawa Raras ke suatu tempat kurang lebih satu minggu lamanya. Aku berjanji tidak akan macam-macam sama Raras," pinta Ryuga menunduk hormat.


"Baik, bapak percaya. Hati-hati di jalan!" balas Prio tersenyum puas.

__ADS_1


"Raras, kemarikan tanganmu!" Raras memberikan tangannya pada Ryuga, lalu ia memegangnya erat. "Pejamkan mata, Trickster!"


Tubuh Raras dan Ryuga berkedip, hilang dari pandangan Prio. Dengan raut muka terpana, dan menjatuhkan rahangnya, ternyata teknik teleportasi itu ada, bukan hanya bualan belaka. Setahu Prio para Divya hanya dibekali kuasa elemen, atau peningkatan kecepatan dan kekuatan, tapi yang ia lihat sekarang bisa berteleportasi.


__ADS_2