
Sesampainya di depan loket dapur, kertas itu di taruh lubang loket untuk diserahkan pada Mario, Kepala Chef dapur Restoran Baranangsiang.
"Kenapa Glad? Kamu sakit?" Muka Gladys agak pucat seperti orang sakit. Padahal ia sangat takut, tapi penasaran dengan Ryuga.
"Ti-tidak apa-apa, pak Mario. Mungkin kelelahan saja," jawab Gladys menyeka keringat dingin di dahinya.
"Aku tak menyangka pemuda setampan dan tergolong sangat muda sudah menjadi pejabat tinggi di pemerintahan sektor Siliwangi. Sebenarnya siapa dia? Wajahnya sungguh tak asing," batin Gladys.
Wajah Ryuga memang tak asing dan sering wara-wiri, karena dia ASSAT dan calon kandidat Sangakama menggantikan Lord Gardosen.
Mario paham kondisi Gladys, mungkin menemui pelanggan yang kasar, atau pejabat tinggi. Mario berkata pada Gladys setelah mendorong trolley berisikan banyak makanan pada Gladys untuk diserahkan pada Ryuga, "Tamu mana yang membuatmu takut? Mari aku temankan!"
Hati Gladys menjadi lega karena ditemani oleh Mario. Sementara bisa menghilangkan rasa gugup dan takut saat berhadapan dengan Ryuga yang super ramah dan super tampan.
Aneh orang tampan dan ramah tapi membuat Gladys takut.
Mario bantu mendorong ke meja biasa dan tempat biasa, bukan ruangan khusus VVIP. Tapi orang yang memesan makanan mewah dan sebanyak ini, membuat Mario penasaran. Kenapa tidak memesan di ruangan VVIP saja?
"Dimana meja pelanggannya?" tanya Mario.
"Disana, pak Mario!" Gladys menunjuk dengan dagunya, membuat Mario gemas ingin mencubit pipi Gladys saat itu juga.
Gladys karyawan yang baik, tapi di rumah mendapat perlakuan yang buruk oleh kedua orang tua dan kakakknya. Mario tahu itu, tapi ketika mau menolongnya, Gladys selalu menolak.
Begitu Mario sampai di depan Ryuga yang sedang bosan menunggu dan membaca buku list menu, dia terkejut matanya membelalak, "Tu-tuan Ryuga?!"
Sesaat Mario tersentak kaget. Kemudian melanjutkan, "Maafkan kami. Maafkan Gladys juga karena tak tahu dengan anda, tuan Ryuga." Mario membungkuk hormat dan memaksa menekan punggung Gladys juga untuk membungkuk.
Ryuga menarik nafas kasar, "Selalu saja begini. Sudah tidak apa-apa, pak." Ryuga berdiri dan menegakan badan Mario lalu Gladys.
Kemudian melanjutkan, "Aku tidak suka diperlakukan terlalu formal. Aku hanya sedang ingin menikmati hariku saja. Oh, ya mumpun restoran masih sepi, aku ingin mentraktir semua karyawan disini makan sepuasnya. Tolong, panggilkan semua karyawannya!"
__ADS_1
Mario yang kegirangan langsung pergi ke meja resepsionis dan mengumumkan lewat pengeras suara, "Teman-teman ada tamu penting, tuan Ryuga telah datang dan akan mentraktir kita makan sepuasnya. Ayo berkumpul!"
Ryuga dan Gladys menepuk jidat mereka masing-masing. Pak tua Mario menurut Gladys ternyata punya sisi kocak juga.
Gladys menghidangkan semua makanan di meja Ryuga. Setelah selesai ia bergegas untuk pergi ke meja makan lain tapi tangannya ditarik oleh Ryuga.
"Tunggu, aku ingin kamu temani makan. Tenang, aku tidak akan macam-macam denganmu. Aku hanya mengagumi kecantikanmu saja, mungkin saja dengan melihatmu nafsu makanku bertambah. Sudah satu bulan lebih, aku tak bernafsu makan," goda Ryuga.
Gladys tersipu malu dan menundukan wajah. Ryuga menarik kursi untuk Gladys duduk, "Silahkan duduk dan makanlah sepuasnya. Jangan malu-malu di depanku."
Gladys duduk masih dengan wajah tersipu malu. Baru kali ini diperlakukan oleh laki-laki sangat sopan, biasanya Gladys selalu dipukul dan disiksa oleh kedua kakak laki-lakinya yang terkenal preman kejam di wilayah Alam Sutera dan dijuluki Twin Death.
Satu minggu inu mereka berdua tidak pulang, karena sedang mengedarkan beberapa obat terlarang bernama Floux.
Jester dan Afkham memang benar-benar biadab. Mereka mencekoki generasi anak bangsa dengan narkotika modifikasi Flow dan bubuk virus Zerocity.
Bukan hanya membuat kecanduan, tapi mereka yang mengkonsumsi ketika malam datang sangat kejam dan bengis seperti psikopat.
Semua karyawan restoran Baranangsiang juga makan dengan lahap, mumpung gratis. Gladya juga makan begitu senang, dia tak menyangka Ryuga seorang pejabat tinggi begitu sangat ramah dan hangat. Tidak seperti pejabat yang lain selalu merendahkan dan menatap sampah seperti Gladys jijik.
Gladys memberikan tablet untuk transaksi pembayaran. Sesuai kualitasnya ada harga ada rupa, "Maaf, tuan. Semuanya 55 juta rupiah." Gladys tersenyum manis.
"Cukup mahal juga ya. Tapi sesuai dengan rasanya, aku sangat puas," batin Ryuga tersenyum puas dan menempelkan ibu jarinya ke tablet.
Tablet itu berbunyi, 'Transaksi berhasil'. Gladys sangat senang, kali ini dia pasti banyak komisi besar karena melayani pelanggan kakap.
Ryuga menuju tempat permainan, saat ini dia sama sekali tak mempermasalahkan uang. Walau satu cabang bisnisnya hancur gara-gara Afkham.
Dia masih punya banyak bisnis lain, salah satunya kerjasama dengan klan Kismoyo dan klan Smith. Tinggal minta, dengan sukarela mereka langsung transfer uang pada Ryuga.
Bagi mereka Ryuga adalah dewa keberuntungan. Setiap tender dari pemerintah, berkat Ryuga mereka selalu mendapatkannya dan menambah pundi-pundi rupiah mereka.
__ADS_1
Ryuga menikmati kesendiriannya di tempat permainan. Semua permainan ia coba dan tanpa sadar Mall Living World sudah hampir tutup.
Ryuga di depan penjual gorengan yang menjajakan banyak jenis gorengan di depan Mall Living World. Setelah lama bermain membuat perutnya lapar, untung saja penjual gorengan itu tidak mengenali wajahnya yang seorang pejabat tinggi. Kalau kenal bisa repot.
Gladys keluar di depan jalan dan menunggu taksi online untuk pulang. Dia sangat senang hari ini dapat uang tambahan dari bonus melayani Ryuga.
Manik mata Ryuga menatap lekat Gladys, ingin sekali mendekatinya. Entah ada perasaan aneh, cinta atau kasihan. Setiap Ryuga berada di dekat Gladys seperti ada aura kesedihan yanga sangat dalam.
Satu menit kemudian muncul mobil Ferrari California berwarna putih. Di dalamnya ada dua orang laki-laki kekar dengan kulit sawo matang dan wajahnya sama. Itu adalah kakak Gladys, Zaka Kusuma dan Zaki Kusuma.
Gladys langsung menunduk ketakutan dan badannya otomatis bergetar, Zaka keluar dari mobil. "Hai, gadis bodoh! Berikan semua uangmu! Aku tahu kamu habis mendapatkan bonus bukan? Cepat berikan atau aku pukul!" bentaknya.
Ryuga tidak melihat Gladys saat ini dan malah asyik menikmati segelas kopi serta gorengan.
Zaki juga ikut keluar, dan menarik kerah Gladys, "Aku butuh senang-senang. Cepat berikan uangnya pada kami! Kamu tahu kan konsekuensinya?" tanyanya menyeringai.
Kemudia dia melanjutkan dengan menampar pipi kiri Gladys, "Jangan diam saja. Aku sudah memasang penyadap pada tubuhmu dan mengawasu dengan ini!" tunjuknya pada robot-robot lalat yang selama ini terus mengikuti Gladys.
Nama: Gladys Kusuma
Umur: 25 tahun
Pekerjaan: Waiters
Level Divya:0
Kuasa:-
Kemampuan senjata:-
__ADS_1