
Keesokan pagi di training field lake.
Ryuga pagi-pagi sekali latihan untuk menyelesaikan misi harian. Setelah itu Ryuga langsung menuju training field lake, hari ini akademi diliburkan selama 3 hari ke depan.
[Selamat juragan berhasil mendapatkan 100 poin exprience karena berhasil menyelesaikan misi harian]
"Fire burst!"
"Fire ball!"
Ryuga menyemburkan api dari dalam mulutnya sejauh 5 meter, di atas permukaan air di danau. Kemudian melanjutkan menembakan bola api dari mulutnya.
'Boom!'
[Selamat juragan mendapatkan 50 poin experience kuasa fire, karena menggunakan salah satu skill dari kuasa fire. Perolehan skill poin experience dikalikan dua karena menggunakan skill boosted gear secara otomatis, menjadi 100 poin poin experience kuasa fire]x2.
"Kurang kuat semburan apiku, aku harus terus melatihnya. Biar nanti aku mengeluarkan skill great fire anihilation lebih panas dan kuat membakar monster-mosnter bedebah itu." Ryuga mengambil ancang-ancang, dan menyemburkan fire burst sampai panjangnya sudah mencapai 7 meter.
"Hai Bejo! Pagi-pagi sudah latihan, rajin sekali kau jo!" Josephine menatap sinis, jari kelingkingnya ia masukan ke dalam lubang hidung sebelah kanan dan bergerilya mengorek upil di dalam hidungnya.
"Hai kampret! Mana yang lain? Bukannya pada latihan malah santai-santai saja. Kita ini mau mengikuti battle arena, katanya mau naik level tapi semangatmu terkalahkan oleh tiang tegakmu yang masih semangat 45." Ryuga melempar batu kecil ke arah Josephine. "Apa jangan-jangan kau menyelinap lagi ke kamar Angelina? Dan bermantap-mantap dengannya?"
"Bejo! Kau paling yang semalam menyelinap ke kamar Vanya lalu membawanya ke dormitorimu." Josephine menunjuk tepat di hidung Ryuga. Kemudiab melanjutkan, "Hei jangan terlalu sering. Jika Vanya hamil, mau dikasih makan apa anakmu? Makan makanan bebek?"
__ADS_1
"Berisik! Lebih baik kau pergi sana latihan! Aku sedang latihan, malah ada kampret sepertimu menggangu telingaku." Ryuga mengibaskan tangan kanannya.
"Oh jadi kau mengusirku? Baiklah, awas saja kalau kau minta traktir padaku. Aku tak sudi, hmph!" Josephine menggembungkan pipinya lalu membuang muka.
"Silahkan saja, memangnya aku berteman denganmu hanya sebatas ingin ditraktir denganmu. Cih! Isi rekeningmu juga mana mampu menyamai isi rekeningku sekarang." Ryuga berdecih, tubuhnya membelakangi Josephine.
'Bletak!' Rany memukul kepala Josephine dan Ryuga, "Kenapa kalian setiap bertemu selalu bertengkar? Sebenarnya ada apa sih? Aku melihat kalian berdua seperti kedua orang yang bukan ku kenal selama ini." Cairan bening di sudut kelopak mata Rany mengalir.
"Ran maafkan aku!"
"Aku juga! Maafkan jika aku membuatmu bersedih. Aku seperti ini karena aku tak tega padamu Ran, Ryuga telah menjalin cinta dengan Vanya. Aku harap kata-kataku tidak menyinggungmu. Aku bertengkar terus dengan Ryuga hari ini, karena aku harus jujur padamu, aku memergoki Ryuga menyelinap ke kamar Vanya lalu membawanya ke dormitorinya." Josephine dengan berat hati mengatakannya, wajahnya ia tundukan di depan Rany.
"Apa benar itu Ryu?" tanya Rany sambil menyeka air matanya.
"Kalau iya memang kenapa? Bukankah sedari awal kita tidak ada komitmen apapun. Aku tidak pernah mengatakan suka padamu, dan kamu juga tidak mengatakannya jika kamu suka padaku. Lalu apakah aku salah jika aku menyukai Vanya?" Ryuga menatap lekat Rany dan memegang kedua bahunya, ia hanya ingin Rany sadar atas ilusi cintanya pada Ryuga.
Ryuga menyeka air mata Rany dan berkata, "Maafkan aku jika pilihanku menyakitimu. Biarlah waktu yang menjawab, kita tidak akan pernah tahu takdir sang maha pencipta bagaimana nanti ke depannya. Tubuh ini milik semua orang tapi hati ini hanya milik satu orang, dan pemiliknya ini entah aku belum mengetahuinya."
"Maafkan aku Ryu!" Josephine memeluk Ryuga.
"Maafkan aku juga Josephine. Selamanya kita sahabat terbaik." Ryuga menepuk-nepuk punggung Josephine.
Rany sudah lega, meskipun sekarang tak memiliki Ryuga, di masa depan Rany masih punya kesempatan untuk memiliki Ryuga. "Sekarang tepati janjimu Ryu! Untuk menaikan level Divya kita berdua." Rany menaruh tangan kanannya di bahu Ryuga sambil bergelayut manja.
__ADS_1
"Tunggu! Kita tunggu Vanya dahulu. Dia harus membayar uangku yang aku habiskan untuk membeli 1500 mayat monster gold dan 50 mayat monster mythril. Aku beli mayat monster gold itu dari Raras 100.000/monster gold, aku sudah rugi 175 juta gara-gara Vanya, hmph!" Ryuga menggembungkan pipinya. Jika masalah untung rugi pasti membuat Ryuga kesal, meskipun itu Vanya, pacar Ryuga sendiri
Ryuga sudah membuat daftar harga mayat monster jika ada yang ingin menjual padanya. Monster level gold 100.000/mayat, monster level diamond 250.000/mayat, monster level platinum 400.000/mayat, monster level mythril 500.000/mayat, monster level paladium 600.000/mayat, monster level carbonadium 700.000/mayat, monster level adamantium 850.000/mayat, monster level titanium 1.000.000/mayat.
"Hah?! 175 juta?!" Rany dan Josephine menjatuhkan rahangnya. Mereka pikir Ryuga sudah gak waras, sampai menghabiskan uang 175 juta, hanya untuk membeli mayat monster. Meskipun hanya 150 juta yang Ryuga gelontorkan untuk membeli monster dari Raras.
"Ini daftar harga mayat monster. Jika butuh uang, jual mayat monster itu padaku, dijamin cuan dan cepat kaya raya, hehehe." Ryuga tertawa ringan dan menunjukan proyeksi daftar harga dari jam tangan penyimpanan miliknya.
"Baiklah Ryu, nanti aku akan berburu monster. Tapi dimana? Di sektor Siliwangi sendiri sudah jarang ada monster, atau bisa dibilang tidak ada. Itu pun satu bulan yang lalu ketika ada portal dadakan muncul." Rany mengerucutkan bibirnya, harapannya mendapatkan uang banyak sia-sia.
"Kita ke sektor Majapahit saja," celetuk Josephine. "Disana kan banyak monster."
"Josephine, teman-temanku disana memberi informasi kalau portal monster di sana sudah hampir tidak ada. Monster sudah banyak di bantai, ekonomi di sana juga sudah meningkat. Mereka sudah hidup aman dan nyaman sekarang, dasar kuper!" ungkap Ryuga mendorong kepala Josephine.
"Oh benarkah? Aku banya ketinggalan informasi, hehehe." Josephine menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan raut muka bodoh. "Mana si Rambut helm? Lama banget, kampret!"
Vanya berlari, nafasnya terengah-engah. "Tung-tunggu! Jangan tinggal-tinggalkan aku!"
"Ayo Ryu! Kita berangkat!" ajak Josephine. "Kan sudah datang si rambut helm, mau menunggu apa lagi?"
"Ya, tapi kita mau mencari monster ke sektor mana? Aku tak punya informasi tentang sektor lain yang banyak portal monster." Ryuga mengangkat bahunya.
"Ryu! Lihat ini!" Rany memberikan smartphone miliknya pada Ryuga. "Sektor Martapura banyak muncul portal monster, baru-baru ini. Pemerintah Sangakama di sektor Martapura sedang menyelidikinya, apa yang membuat portal itu terus bermunculan."
__ADS_1
"Baik, sudah diputuskan. Kita akan berburu di sana!" Ryuga melompat senang.
"Tapi disana banyak hutan dan pegunungan, suhunya juga cukup dingin. Kita kan tahu jika sektor Martapura itu Uni Eropa dulunya," tolak Vanya, ia sangat trauma jika masuk hutan belantara yang dingin.