SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP 4: MASK OF UNIVERSE

SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP 4: MASK OF UNIVERSE
New Chapter 168 Main Mata


__ADS_3

Rumah sakit Omni Internasional, Alam Sutera, sektor Siliwangi.


Anilika dan Geminu yang sudah berpecah menjadi Gemusha dan Inusha sedang di rawat dalam ruangan VVIP.


Meski sudah pulih luka-lukanya, mereka berdua masih butuh perawatan. Ryuga juga dalam ruangan perawatan, meski dia sebenarnya tidak mau.


Sudah 8 jam sejak datang, Ryuga hanya duduk bersila, bersemedi di ruang perawatannya. Alasanya, biar keempat wanita yang mencintainya tidak mengganggunya saat ini.


Siapa keempat wanita itu? Tentu saja Filza, Rany, Vanya, dan terakhir Anilika. Ya, sekarang juga terjadi, begitu tahu Anilika berada di rumah sakit sektor Siliwangi karena diberitahu suster. Dia langsung bergegas ke resepsionis tanpa pikir panjang, "Sus, apa anda tahu alamat Ryuga Himura?"


"Ryuga Himura siapa? Pasien?" Suster itu malah bingun dan balik bertanya.


Anilika masih dibutakan cintanya, dia pikir resepsionis itu seperti mbah google yang bisa menjawab apapun termasuk alamat rumah Ryuga.


"Tunggu, sus. Memang ada pasien atas nama Ryuga Himura?" Anilika malah kembali bertanya.


"Ada, diruang VVIP 01 dan dijaga satuan tentara khusus. Kalau tidak salah, tuan Ryuga itu ASSAT sektor Siliwangi. Kami juga diberi pesan untuk tidak menggangu beliau kecuali dokter-dokter yang telah diizinkan," jelas suster.


"Terima kasih, sus. Aku sahabatnya, meski aku juga pasien disini di kamar VVIP 07. Sekali lagi terima kasih atas informasinya." Anilika berlari ke lift, padahal kondisinya masih kurang sehat.


Suster di resepsionis itu mengejarnya, tapi tak sengaja Anilika menabrak Verel yang sedang membawa secangkir kopi.


'Brak!'


"Aw ...!" Verel memekik karena kopi yang masih panas itu mengenai bagian dadanya. Verel menghela nafas panjang, hanya sedikit kesal setelah melihat yang menabrak adalah Anilika.

__ADS_1


"Maaf, tuan. Sekali lagi aku minta maaf." Anilika mencoba membersihkan baju Verel yang basah dengan tangannya.


"Perempuan yang sangat cantik dan seksi," batin Verel terpana melihat Anilika.


"Tidak perlu, nona Anilika. Aku tidak apa-apa. Nanti aku akan mengganti baju saja di toilet," sergah Verel lembut.


"Kamu tahu namaku?" Anilika bingung karena pria tampan itu tahu tentangnya, tapi dirinya sendiri tidak tahu tentang Verel.


"Ya, aku tahu dari Ryuga. Anda walikota Diamond Frost bukan? Aku turut berduka cita atas hancurnya kota Diamond Frost. Perkenalkan, aku Verel Smith anggota guild Storm Gravity cabang sektor Siliwangi." Verel menyodorkan tangan sambil tersenyum ramah ke arah Anilika.


"Oh, pantas aku tidak tahu tentang anda, tuan Verel. Kalau semua anggota guild Storm Gravity cabang sektor Majapahit aku kenal semua." Anilika menyambut tangan kekar Verel dan sesaat lupa tentang Ryuga.


"Kenapa nona keluar dari kamar? Bukankah masih dalam perawatan? Jika nona Anilika ada keperluan, katakan saja. Biar aku yang penuhi." Verel mulai menunjukan jati dirinya sang raja tindakan gombal.


"Aku hanya ingin menjenguk Ryuga. Tapi kata resepsionis Ryuga dijaga ketat," jawab Anilika dengan raut muka murung. Setelah sadar ia semakin bersedih karena sudah tak bisa menggapai Ryuga lagi.


"Oh, ya. Ryuga bukan Divya biasa, makanya dijaga ketat. Ya, begitulah jika menjadi ASSAT dan kandidat Sangakama. Apalagi Ryuga itu anak emas Lord Gardosen." Verel berbicara dengan tatapan malas.


Anilika diam dan langsung pergi menuju ruang perawatannya. Verel merasa diacuhkan, lalu berjalan di belakang Anilika tanpa disadari oleh Anilika.


Sementara itu, Ryuga sebenarnya sedang bersantai di Food Court atas Mall Living World. Kembaran Ryuga menggantikannya sedang bersemedi di ruang perawatan, tentu saja untuk mengecoh para penjaga dan keempat wanita yang sedang tak ingin Ryuga temui. Dia hanya ingin punya waktu sendiri saat ini.


Ryuga melambaikan tangan untuk memanggil pelayan, "Mas, aku mau pesan!" teriaknya.


Yang datang malah pelayan wanita, memakai kemeja putih dan rok hitam selutut. Wajahnya sangat imut seperti anak kecil tapi tubuhnya cukup tinggi 175 cm, dan kulitnya putih. Matanya imut menggemaskan dan bibirnya merah muda mungil.

__ADS_1


Ryuga terpana melihatnya, wanita itu tetap profesional meski yang dilayani lelaki super tampan, "Ada yang bisa dibanting tuan? Eh dibanting, dibantu tuan, maaf." Gladys tersenyum ramah.


"Banting saja hatiku nona." Ryuga merespon sekenanya karena tidak sadar. Entah, kali ini matanya terbius bukan karena kecantikan tapi keimutan. Kalau masalah cantik dan seksi, Filza, Vanya, dan Rany, bahkan Anilika bukan tandingan Gladys.


Tapi keimutan Gladys seperti ada magnet khusus, untuk Ryuga tiba-tiba tertarik padanya.


"Maaf, maaf nona. Aku sedang tidak fokus. Aku pesan makanan yang paling enak dan paling rekomended di restoran ini. Bawa saja semuanya, tapi bisa kan bayar pakai ini!" Ryuga mengacungkan jempol.


Gladys tersentak kaget dan mundur satu langkah, yang dia tahu karena Gladys sudah bekerja di restoran Baranangsiang selama 5 tahun. Hanya Lord Gardosen yang pernah makan disini dan minta pembayaran dengan ibu jari.


Setahu Gladys, hanya ASSAT, Sangakama dan 10 orang kaya di sektor Siliwangi saja yang bisa membayar, cukup dengan ibu jari. Ibu jari mereka telah terkoneksi dengan sistem perbankan di seluruh dunia.


Ryuga tambah bingung, dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Apa tidak bisa? Aku sedang tidak membawa Smartphone, dan kartu atm. Kalau tidak bisa juga, bagaimana dengan pemindaian wajah dan retina?"


Gladys malah tambah kaget dan menjatuhkan rahang, pasalnya hanya ASSAT, Sangakama, Regalia King dan Regalia Queen saja yang mampu membayar dengan sistem pembayaran pindai wajah dan retina.


"B-b-b-b-bisa. M-m-m-maaf, t-t-tuan." Gladys langsung membungkuk hormat takut menyinggung Ryuga yang ia anggap ASSAT atau Prince karena bisa melakukan pembayaran dengan pindai ibu jari, pindau wajah dan pindai retina.


Ryuga bangkit dan mendekati Gladys yang masih membungkuk hormat dengan tubuh gemetar, lalu memeriksa dengan menegakan tubuh Gladys, "Kamu sakit? Kalau sakit aku akan minta pelayan yang lain."


Wajah Ryuga dan wajah Gladys sangat dekat, "Sangat tampan kalau dilihat lebih dekat. Kenapa aku jadi jatuh cinta pada pandangan pertama," batin Gladys terpana.


Ryuga memberanikan diri memegang dahi Gladys, takut ia benar-benar sakit. Karena setelah didekati dan dipegang, wajah Gladys tambah memerah, "Kamu tidak demam. Tapi kenapa memerah? Kalau kamu sakit, aku hantar ke rumah sakit. Tenang saja, Dokter dirumah sakit Omni Internasional sahabatku kok. Pasti gratis untukmu."


"*-*-*-tidak apa-apa tuan. A-a-a-aku hanya kelelahan saja. Cukup aku istirahat pasti aku sembuh. Aku akan segera menyiapkan pesanan tuan." Gladys buru-buru pergi ke dapur untuk menghantarkan kertas berisikan pesanan Ryuga.

__ADS_1


__ADS_2