
Ryuga menunggu di depan pintu IGD mondar-mandir tidak jelas. Padahal dia juga pasien.
Rany menepuk pundaknya dan membuat Ryuga kaget bukan kepalang, "Konci, eh konci. Sialan kamu Ran."
"Ya kamu. Kenapa kamu ada disini? Siapa gadis itu? Lalu siapa yang berada di ruanganmu, hantu?" tanya Rany menelisik.
Anilika diam dan tak ikut campur. Tapi Ryuga mengalihkan pertanyaan dan pikiran liar mereka dengan berbicara pada Anilika, "Kamu sudah sehat?"
"Ryu!" Vanya kesal dan menjewer telinga kanan Ryuga.
"Ih, apa sih? Kalian gajebo!" Ryuga melepaskan tangan Vanya.
"Jangan mengalihkan perhatian!" Filza angkat bicara dan menatap tajam Ryuga. Tentu saja membuat Ryuga bergidik ngeri.
"Dia wanita yang kukenal di mall, dia pegawai restoran Baranangsiang. Aku menyelamatkannya karena dilempar oleh preman dan hampir saja menabrak tiang. Apa aku salah?" Ryuga acuh.
Ryuga masih sedikit terkontaminasi oleh Energi Zerocity milik Jester. Dyer hilang, Stevany, Aloody, dan Elov tewas pun, dia serasa dingin juga tak perduli.
Anilika yang sedari diam angkat bicara, "Ryu, maaf. Kami semua mengkhawatirkanmu. Kamu malah pergi menyelinap tanpa sepengetahuan kami. Aku merasa kamu, bukan Ryu yang kami kenal. Dyer hilang, Stevany, Aloody, dan Elov tewas demi menyelamatkanku. Kenapa kamu malah seperti ini?"
"Lalu aku bisa apa?" Ryuga kesal.
Kemudian melanjutkan dengan raut wajah marah, "Ada hal yang tak bisa kalian kekang. Aku adalah aku. Selama ini aku mendahulukan prioritas kalian semua, tapi aki juga punya hak atas prioritasku sendiri. Aku hanya ingin sendiri."
"Oh, ya. Masalah Dyer aku sudah ada titik temu. Aku yakin kalian juga takan sanggup melawannya, karena Dyer yang sekarang bukan Dyer yang kita kenal lagi. Jadi jangan cari Dyer lagi, paham!"
Sesaat Ryuga merasakan energi Zerocity dari Zaka dan Zaki. Dari sensor energi Ryuga melalui Wheel Fire eye, ia melacak jejak Dyer, kemungkinan besar 99% Zaka dan Zaki telah bertemu Dyer. Tapi pertanyaannya dimana? Karena Ryuga merasa tempat itu dekat tapi juga tak bisa dijangkau oleh siapapun kecuali mendapatkan undangan dari Dyer.
"Tapi, kenapa kamu tidak ada rasa berkabung sama sekali pada Stevany, Elov, dan Aloody? Mana empati simpati kamu pada mereka dan pada keluarganya?"
Lagi-lagi Vanya asal tuduh dan selalu menghakimi sebelum menimbang, seperti kejadian dahulu menghajar Ryuga tanpa alasan yang jelas.
__ADS_1
Ryuga benar-benar marah kali ini merasa disudutkan, "Kalian memang tidak punya otak! Kalian selalu lambat! Selalu saja cepat menilai buruk terhadap diriku. Jangan ganggu aku lagi! Makanya punya otak dipakai, silahkan hubungi kepala desa Grindelwald!"
Ryuga melenggang pergi dengan perasaan marah dan tak mau melihat mereka saat ini. Filza mengejarnya dan menarik tangannya, tapi Ryuga melepasnya dengan kasar, "Apa karena wanita itu? Kamu jadi berubah kasar Ryu?"
Ryuga langsung menatap tajam, "Tanyakan pada dirimu sendiri! Kenapa tidak percaya dengan orang yang sangat mencintaimu. Aku sudah memperlakukanmu bak Ratu. Kekuatan, kekayaan, apapun yang kamu inginkan aku berikan termasuk nyawaku."
Ryuga mengingat kembali Filza lebih percaya ancaman Lord Viktor daripada Kekuatan Ryuga bisa mengalahkan Sangakama.
Lalu melanjutkan dengan mengungkung tangan Filza dan menyudutkan tubuhnya ke dinding, "Tapi kamu apa? Seperti Rany juga Vanya, pergi meninggalkanku. Kamu memang lebih cantik dari Rany dan Vanya, tapi cantik saja tidak cukup. Apa pemberianku masih kurang sehingga kamu pergi meninggalkanku saat itu!"
Rany mendekati Ryuga dan melihatnya sudah keterlaluan pada Filza lalu menamparnya, "Cukup Ryuga! Dia meninggalkanmu karena takut kau akan dibunuh oleh Lord Viktor."
Ryuga acuh dan malas berdebat dengan mereka, lalu pergi ke ruangan perawatannya untuk mengemasi barang-barangnya. Saat ini kondisi rumah sakit sedang sepi, jadi tidak ada yang menegur pertengkaran mereka.
Filza menangis mengingat hal itu lagi dan Rany memeluknya, "Sudahlah Za. Jangan menyesali itu lagi. Biarkan Ryu sendiri saat ini, mungkin dia sedang banyak tekanan. Akhir-akhir ini dia bekerja sangat keras."
Vanya juga menghampiri Rany dan memeluk mereka berdua juga ikut menangis, "Ryu, benar. Aku salah."
Sebelum Ryuga ke Living World, dia pergi dahulu ke Grindelwald untuk memberitahukan jika Dyer hilang, Stevany, Aloody, dan Elov telah tiada, terbunuh dalam misi.
Tentu saja satu desa bersedih. Bagi mereka,
Dyer, Stevany, Aloody, dan Elov adalah pahlawan mereka yang berhasil merubah desa Grindelwald sangat maju dalam satu tahun terakhir. Para laki-laki payuh bayanya juga mulai berbenah dan berlatih meningkatkan level Divya mereka.
Tapi mereka sudah tiada sekarang, walau Ryuga memberikan kompensasi pada keluarga mereka berempat masing-masing 10 milyar dari uang kas guild. Tapi itu tak sebanding dengan jasa-jasa mereka membuat guild Storm Gravity menduduki peringkat 9 dari 1000 guild yang berada di sektor Martapura.
Ryuga menghilangkan kembaran dirinya, lalu keluar paksa. Walau penjaga ASSAT menahannya. Mereka bisa apa, jika Ryuga yang menginginkan.
Ryuga membawa kabur Gladys dengan skill Trickster ke rumah kakeknya di Indramayu. Rumah yang dibuat Devi itu masih ada dan terawat. Karena sepengetahuan Ryuga, Agito menyuruh orang untuk merawatnya.
Tapi Ryuga tahu karena waktu masih kecil sering sekali ke sini bersama Agito dan Vera.
__ADS_1
Ryuga yang sedang menggendong tubuh Gladys ala bridal style, menaruhnya di tempat tidur lantai dua. Rumah ini masih terawat sempurna, karena Saprol anak dari Kifli merawatnya. Kifli adalah anak yang Yosep sekolahkan sampai S3 walau Yosep sudah tiada, tapi Jayus tetap melakukan amanah Yosep tersebut.
Setelah Yosep tiada Kifli bekerja pada Agito untuk mengelola bisnis pertanian yang berhasil direbut oleh Agito dari dokter Yadna yaitu PT.Yoo And Ra Farm.
Saprol yang sedang berjaga malam kaget, tiba-tiba kamar Ryuga ada suara lalu membawa bat baseball mengendap-ngendap ke arah kamar Ryuga.
Ya, Saprol yang menjadi penjaga rumahnya, tapi tetap saja tak berani seenaknya pada rumah tuannya itu.
"Siapa itu?" teriak Saprol.
Ryuga langsung membuka pintu, "Baaa!" Ryuga mengagetkan Saprol membuatnya jatuh terduduk.
"Aden, mamang kira siapa?"
"Maling? Hantu?"
"Maaf, maaf mang." Ryuga menarik tangan Saprol untuk bangun lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Saprol tahu jika keluarga Yosep bukan keluarga biasa, bisa disebut sakti mandraguna. Agito juga sering kesini dan tiba-tiba muncul. Buah memang tidak jauh dari pohonnya, Yosep sakti, anaknya juga sakti-sakti dan kini cucunya juga sakti. Keluarga sakti mandraguna memang.
"Ya, sudah den. Mamang persiapkan makan malam untuk aden." Saprol pamit ke dapur, dia tahu jika tuannya sudah datang harus melakukan apa.
Nama: Ryuga Himura
Umur: 20 tahun
Level Divya: 10 Emperor
Kuasa: All Kuasa
__ADS_1
Kemampuan bersenjata: Pedang (Yamato)